MENCARI & MENYELAMATKAN
Wisatawan itu menulis tentang Parapat: “…amat sangat perlu perubahan mindset. Pedagang masih berpikir laba jangka pendek, dan pelayanan hotel masih jauh dari orientasi kepuasan pelanggan.” Teman kita menambahkan: “Aku juga pernah makan di Parapat. Satu porsi saksang 40 ribu, ikan jair bakar kecil 40 ribu; yang paling lucu adalah pernyataan pemilik kedai—“binege do par kode manghatai, lok ma songoni, ai par sahalian do halakhon ro tuson.”—yang artinya kira-kira seperti ini : “Apapun yang mereka bicarakan biarkan saja, toh orang-orang ini hanya datang sekali saja ke sini.” Alamak! Sedih…jika itu gambaran wajah pariwisata Toba menyongsong destinasi unggulan.
Firman Tuhan hari minggu ini dari Luk 19:1-10 bercerita tentang Zakheus – pemungut pajak yang pendek – sampai memanjat untuk bisa melihat Yesus yang melewati kotanya, Yerikho. Semangatnya menggebu. Yesus melihatnya dan berhenti, memanggilnya turun, dan mengatakan akan singgah makan dirumahnya. Heboh…kok Yesus makan di rumah pendosa? Kasih Yesus mengalahkan segalanya.
Penjual makanan di Parapat itu juga “berdosa” ketika berpikir aji mumpung, serakah, _parsahalian_. Pelayan hotel itu juga “berdosa” ketika tamu yang ingin bergembira dengan membayar, harus menerima egoisme dan sikap ketus jauh dari ramah. Kemudian kita semua berpendapat perlu diubah _mindset_ mereka. Persoalannya, merubah _mindset_ harus dengan pertobatan dan ajaran, sebagaimana Zakheus. Mat 7:20 mengatakan “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Ini buah dari ajaran atau _mindset_ yang salah, jika dilihat konteks nas tersebut. Di nas lain juga ditambahkan: “Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur” (Luk 6:44).
Zakheus bertobat karena mendengar ajaran Yesus dan menerima kasihNya. Pertobatan dan kasih yang membuat Zakheus memberi setengah hartanya pada orang miskin sebagai buah dari ajaran Yesus. Ajaran dan pemahaman yang baik tentu berbuahkan yg baik. Perubahan di dalam hati menjadi perubahan dalam tindakan _(inward change into outward change)_. Pertanyaannya: siapa yang dapat mengubah _mindset_ pedagang dan pelayan itu? Atau, kita berharap pada siapa? Jawabannya: tetap berharap pada Yesus. Zakheus bertobat, maka penjual dan pelayan itu juga pasti bisa bertobat. Caranya, ada yang memberikan ajaran dan menyatakan kasih pada mereka.
Pedagang dan pelayan ini kemungkinan besar adalah warga gereja. Maka harapan kita ada pada gereja sebagai pemberi ajaran. Dengan ajaran dan kasih, seperti firman Tuhan tuliskan: … engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku… (2Tim 3:10). Kalau begitu, itu urusan gerejalah.
Sebagai kumpulan orang percaya, kita yang terhimpun dalam PGTS mungkin perlu berpikir juga sebagai “gereja” yang bertindak, sehingga melalui kita, banyak “Zakheus-Zakheus” Toba yang bertobat dan diselamatkan. Selamat hari Minggu dan beribadah. Tuhan memberkati. Amin. Pdt (Em) Ramles MS – Ketum PGTS. _Kabar dari Bukit merupakan cuplikan refleksi/laporan Pengurus PGTS kepada anggota melalui medsos yang dipadu dengan renungan firman Tuhan.