Perbaikan Bandara Sibisa Ditargetkan Mulai 2017

TEMPO.COJakarta – Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menargetkan perbaikan Bandar Udara Sibisa di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, dimulai pada kuartal keempat 2017.

“Saat ini pemerintah sedang mengejar target dengan terus mengimplementasikan sejumlah program pembangunan sarana dan prasarana, seperti pembangunan dan perbaikan bandara,” ujar Luhut melalui siaran pers di Jakarta, Senin, 26 Desember 2016.

Menurut dia, pemerintah sedang melakukan berbagai pembangunan infrastruktur setelah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu dari sepuluh wilayah kunjungan wisata andalan di Indonesia. Luhut menekankan pentingnya peran Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), atau Gereja Kristen Masyarakat Batak, untuk terus mencerdaskan masyarakat Sumatera Utara pada umumnya, guna bersiap menghadapi sejumlah wisatawan yang datang ke Danau Toba.

Luhut menuturkan, salah satu yang terpenting saat ini adalah pembangunan sumber daya manusia di kawasan tersebut. Pemerintah menargetkan kunjungan 20 juta orang turis asing pada 2019. Karena itu, pemerintah memerlukan kerja sama seluruh masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan daerah-daerah pariwisata di Indonesia.

Luhut juga meminta masyarakat tidak termakan isu yang disebarkan di media sosial akhir-ahir ini, seperti isu yang mengatakan orang-orang Cina berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk melakukan infiltrasi.

Ia berkisah, dalam kunjungan kerja ke Jepang beberapa waktu lalu, Negeri Sakura yang terkenal tidak menyukai Cina, justru menarik 40 juta wisatawan Negeri Tirai Bambu ke sana. Alasannya, turis Cina menghabiskan pengeluaran yang paling banyak sehingga dapat mendorong perekonomian kawasan wisata Jepang.

“Kami tahu apa yang harus kami lakukan, sehingga itu tidak akan pernah terjadi,” katanya menepis isu terkait tenaga kerja ilegal asal Cina yang datang ke Indonesia.

Luhut mengajak semua elemen masyarakat berperan aktif mengawasi hal tersebut. Ia juga meminta gereja berperan aktif mengawasi orang asing yang masuk ke Indonesia.

Selain itu, Luhut berpesan masyarakat lokal bisa lebih berperan dalam bidang pariwisata, disiplin, dan bekerja keras.

ANTARA

Kabar dari Bukit (Edisi Natal 2016)

Selamat Hari Natal

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal *(Yoh 3:16)*

Hari ini bersama dengan semua saudara seiman kita memperingati peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Memperingati  berarti kita menghadirkan peristiwa masa lalu pada kehidupan di masa kini, tidak sekedar mengingat atau mengenang peristiwa besar 2000 tahun yang lalu itu.

Kita merayakan KASIH KARUNIA ALLAH tersebut yang sudah nyata dalam kehidupan kita. Anugerah tersebut bukan hanya menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal, tetapi juga mendidik kita untuk berhikmat, memberi pengharapan penuh untuk kemuliaan, dan membebaskan kita dari yang jahat sekaligus menguduskan *(Tit. 2:11-14)*

Kasih karunia itu nyata berarti Allah itu hadir dan beserta kita. Allah datang ke dunia dan ada dalam dunia bersatu dengan kita manusia. Imanuel. Kita tidak perlu lagi mencari Dia yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Kasih Allah  juga diberikan kepada kita orang-orang percaya alumni ITB Batak dengan bersatu dan bersekutu dalam Perkumpulan Gaja Toba Semesta (PGTS), sebagai wujud kepercayaanNya untuk pelayanan bersama di kampung halaman kita Kawasan Danau Toba.

Dengan demikian Natal membawa sukacita bagi kita semua yang percaya kepadaNYA dan sekaligus memberi kekuatan baru bagi kita untuk membagikan sukacita itu kepada semua orang khususnya melalui PGTS di KDT.

*Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (Luk 2:11)*

Joy to the World, the Lord is come!
Let earth receive her King;
Let every heart prepare Him room,
And Heaven and nature sing…..

Selamat HARI NATAL dan selamat merayakan NATAL untuk semua keluarga PGTS !

Tuhan memberkati. Amin.

BPH PGTS
Ramles Silalahi – Ketum
Hot Asi Simamora – Sekum

Perayaan Natal Nasional 2016 di Humbahas

Perayaan Natal Nasional di Humbahas Berlangsung Khidmat

Perayaan Natal Nasional di Humbahas.

(rel/rzp)

Selasa, 27 Desember 2016 | 07:49

Analisadaily (Dolok Sanggul) – Puncak perayaan Natal Nasional 2016 yang dilaksanakan Komplek Kantor Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas), Bukit Inspirasi, Dolok Sanggul, Senin (26/12) kemarin berlangsung khidmat.

Perayaan Natal Nasional tersebut dihadiri Menko Kemaritiman, Luhut Pandjaitan, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita yang juga Ketua Umum Perayaan Natal Nasional, Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi, Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor, Ketua Pelaksana Natal Nasional Dumoli F Pardede, serta ribuan jemaat kristiani dari berbagai daerah di Sumatera Utara.

Gubernur dalam kesempatan itu mengajak umat kristiani untuk berjuang mengupayakan dan mempertahankan suasana damai, aman dan penuh persaudaraan. Karena suasana damai dan aman adalah modal yang sangat penting dalam membangun dan memajukan kehidupan bangsa, khususnya Sumatera Utara.

“Saya percaya perayaan Natal yang kita lakukan pada hari ini bukan hanya sebuah tradisi yang setiap tahunnya harus dilaksanakan, tetapi lebih dari itu, harus ada makna yang bisa dipetik dalam kegiatan spiritual untuk bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Erry.

Erry menyebutkan, esensi Natal adalah bagaimana mewujudkan kasih terhadap sesama melalui aktualisasi kesederhanaan dalam semua aspek kehidupan, guna tetap tegaknya NKRI.

Pada kesempatan perayaan Natal Nasional itu, Menko Kemaritiman, Luhut Pandjaitan, didampingi Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, dan Gubsu Tengku Erry Nuradi menyerahkan 1.000 sertifikat tanah program strategis Kementerian Agraria dan Tata Ruang tahun 2016.

Baca Juga :

Enggartiasto Lukita Tinjau Persiapan Perayaan Natal Nasional di Humbahas

Selain itu, juga dilakukan penyerahan 64 unit hand traktor kepada tiga perwakilan kelompok tani di Humbahas. Pada kesempatan itu, dilaksanakan juga peresmian dan penandatanganan prasasti PLTA PT Energi Sakti Sentosa Pakkat, serta pemberian aksi sosial nasional kepada Madrasah Tsanawiyah Negeri Dolok Sanggul berupa sajadah, sarung, mukena dan buku Islami.

Luhut Pandjaitan mengatakan, bahwa baru kali ini dalam sejarah Indonesia dilakukan pembagian sertifikat tanah sebanyak dan secepat itu kepada masyarakat.

“Presiden Jokowi minggu yang lalu, sudah memerintahkan untuk melakukan pemerataan kepemilikan tanah yaitu 9 juta hektare tanah kepada rakyat. Supaya rakyat juga menikmati pembangunan negeri ini. Baru pertama dalam sejarah Indonesia pembagian sertifikat lebih cepat. Sekarang kami punya mimpi, bahwa sertifikasi tanah ini akan diberikan lebih banyak lagi,” tandasnya.

Sebelumnya Bupati Humbahas, Dosmar Banjarnarhor, dalam laporannya menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Humbahas sangat mendukung program yang telah ditetapkan oleh Pemerintah pusat serta menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945, menjaga stabilitas keamanan, toleransi antar umat beragama dan Bhinneka Tunggal Ika, penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan yang berkeadilan dalam bingkai NKRI.

“Kami telah berupa sekuat tenaga untuk melaksanakan program sesuai dengan program yang telah digariskan Pemerintah. Namun demikian, kami yakin masih banyak kekurangan di berbagai sektor. Untuk itu, kami mohon arahan dan bimbingan dari Pemerintah pusat agar kami dapat meningkatkan kinerja, termasuk dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik demi kemajuan Indonesia,” pungkas Dosmar.

(rel/rzp)

Kabar dari Bukit (Edisi 18 Desember 2016)

Menjadi Milik Kristus

“Arrrooa…Ai pintor ise ibana. Au pe …..”

Mungkin terdengar uangkapan seperti itu pada orang Batak. Artinya kurang lebih: “Apa rupanya….memangnya dia siapa? aku juga …..” Sikap pede yang sedikit berisi nada sombong. Sikap itu kadang muncul saat membaca SMS, postingan di WA, email, dsb. Isinya langsung “nyaplak”, tanpa “basa-basi” salam, seperti menyebut Syalom, Selamat Pagi, Horas, Maaf, Semoga sehat-sehat, atau ditutup dengan Tks.

Read more

“Universitas Negeri Danau Toba” untuk Membangun SDM di Kawasan Danau Toba

JAKARTA – Masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT) masih tergolong rendah SDMnya. Tidak mengherankan jika tingkat kemiskinan di KDT tinggi, padahal kekayaan alam di KDT melimpah. Salah satu strategi untuk meningkatkan SDM di KDT adalah dengan membangun “Universitas Negeri” di KDT sebagaimana disampaikan dalam paparan makalah yang ditulis Andaru Satnyoto dan Jhohannes Marbun.
Kamisan 2016-05-12 b
Keterdesakan membangun “Universitas Negeri” di KDT menjadi topik diskusi dalam Diskusi Kamisan yang rutin dilaksanakan oleh Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) pada Kamis (12/5/2016) di Sekretariat YPDT. Salah satu problem pokok kawasan ini adalah masih minimnya kajian–kajian kawasan, dan lemahnya SDM pariwisata dan berbagai bidang yang terkait dengan teknik, gunung api, geologi dan pertanian-perkebunan, kehutanan, dan limnologi. Namun hingga saat ini belum ada perguruan tinggi negeri yang secara berkelanjutan ada dan dikembangkan di kawasan Danau Toba.

Read more

Membangun Budaya Hospitality Masyarakat Sekitar Danau Toba

SPORTOURISM — Ada satu kata yang diucap dua kali oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pidatonya saat berkunjung ke Danau Toba, Juli 2016 lalu, yaitu; Senyum.
Hiramsyah S. Thaib, ketua Tim Percepatan Pembangunan Destinasi Prioritas Kementerian Pariwisata (Kemenpar), menegaskan; “Membangun budaya hospitality masyarakat sekitar Danau Toba juga penting agar tercipta keramah-tamahan dan servis yang berkelas.”

Dalam salah satu artikel tentang Danau Toba, Jurnal Asia menulis; “Bila perlu, mulai saat ini dilakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pelaku jasa pariwisata, agar mereka memiliki kompetensi untuk mendukung pengembangan wisata Danau Toba di masa mendatang.”

Tiga pernyataan di atas mungkin lebih dari cukup untuk menyimpukan betapa mengubah Danau Toba menjadi destinasi internasional tidak sekadar membangun infrastruktur, amenitas, dan membersihkan danau vulkanik terbesar di dunia itu dari keramba jaring apung (KJA), tapi juga mengubah mental masyarakatnya agar siap menjadi pelaku industri pariwisata.

Banyak diskusi tentang hal ini. Tidak sedikit artikel dan opini di media cetak dan online yang secara khusus membahas betapa pentingnya pembangunan mental masyarakat Danau Toba sebelum kawasan itu disulap menjadi Monaco of Asia. Gagasan membangun Danau Toba telah ada sejak lama, tapi hanya menjadi wacana diskusi. Danau Toba dibiarkan berkembang secara alami, dengan tujuh kabupaten sebagai pengelola. Pariwisata Danau Toba sempat tumbuh, dan mendapat kunjungan banyak wisman awal 1990-an, tapi merosot setelah krisis moneter dan kerusuhan 1998. Pada saat bersamaan masyarakat beramai-ramai membuka budi daya ikan dengan media keramba jaring apung (KJA).

Sejumlah perusahaan, terutama produsen bubur kertas, membuang limbah ke Danau Toba. Pencemaran Danau Toba berada pada titik kritis, dan menibulkan keprihatian semua pihak.

Di era SBY, muncul gagasan membangun Danau Toba dengan membentuk Badan Otorita. Namun, banyak pihak menanggapi gagasan itu dengan hati-hati.

Di era Presiden Joko Widodo, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan Danau Toba sebagai satu dari 10 Top Destinasi Prioritas, untuk mendukung target 20 juta wisman pada tahun 2019. Lima kementerian ditugaskan membangun Danau Toba. Terakir, Presiden Joko Widodo membentuk Badan Otorita Danau Toba, yang didukung tujuh bupati.

Pembangunan infrastruktur telah dimulai. KJA di Danau Toba dibersihkan. Bandara Silangit dibenahi agar siap didarati pesawat berbedan besar dari Jakarta dan kota-kota lain di Asia Tenggara. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menargetkan satu juta wisatawan ke Danau Toba pada tahun 2019, atau empat kali lipat dibanding saat ini. Terlebih, tahun ini UESCO akan menjadikan Danau Toba sebagai Global Geopark Network (GGN). Pembangunan Danau Toba, lanjut Menpar Arief Yahya, juga akan menyertakan masyarakat sekitar. Saat ini, Kemenpar dan Kemen PUPR telah bekerjasama dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk, yang akan memberikan kredit pembangunan homestay kepada masyarakat. Namun, masyarakat di setiap destinasi prioritas memiliki karakteristik masing-masing. Ada yang siap menghadapi industri pariwisata, dan ada masyarakat yang harus dipersiapkan menjadi pelaku industri pariwisata.

Masyarakat Danau Toba masuk kategori yang kedua. Pertanyaanya, sejak kapan program mempersiapkann masyarakat itu dilakukan?

S Thaib mengatakan; “Setelah pembenahan mental warga, barulah perbaikan infrastruktur pendukung di sepanjang bantaran Danau Toba bisa efektif.” Lainnya berpendapat pembenahan mental warga dilakukan sejalan dengan pembangunan infrastruktur.

Yang pasti, diperlukan gerakan masif untuk mempersiapkan masyarakat Danau Toba menyongsong industri pariwisata. Penggerak bisa siapa saja; pemerintah tujuh kabupaten di Danau Toba, LSM, pemuka adat, tokoh-tokoh agama, serta sekolah-sekolah pariwsata di Medan. Gerakan didasari asumsi bawa masyarakat Danau Toba, dengan segala adat-istiadat dan budayanya, adalah menjadi kekuatan penggerak kemajuan pariwisata. Masyarakat diberi pemahaman bahwa membangun Danau Toba dimulai dengan mengubah karakter setiap individu di dalam masyarakat, bahwa keramahan individu adalah kunci sukses industri pariwisata di masa depan. Pemahaman harus diberikan secara berkelanjutan dan untuk jangka panjang.
Danau Toba adalah anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk Sumatera Utara. Danau Toba harus terbangun agar berpotensi menyejahterakan, dan masyarakatnya harus berubah.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 11 Desember 2016)

Sabar Menabur dalam Derita

Selasa sore itu seluruh WAG memposting kejadiannya. Perayaan KKR di Sabuga diganggu sekelompok saudara kita beraliran keras. Alasannya, membela keyakinannya, meski dengan kekerasan. Tidak jelas mengapa Allah yang Maha Kuasa itu perlu dibela dengan kekerasan. Nuansa di WAG kita pun bernada heran, bertanya, dan sebagian besar merespon dengan kasih. Tetapi ada juga yang emosi dan meminta PGTS perlu bersikap membuat pernyataan. Amangoi….

Read more

Potensi Pertanian Kawasan Danau Toba

Jpeg

GajaToba – Selain di sektor pariwisata, Kawasan Danau Toba khususnya Kabupaten Samosir, memiliki potensi pertanian yang amat besar. Betapa tidak, di sana tumbuh berbagai komoditi pertanian yaitu padi, bawang, kopi, mangga, cabai, jagung, kemiri, durian, dsb. Sayangnya, potensi pertanian di Samosir belum digarap secara serius. Sudah saatnya potensi besar ini dioptimalkan oleh semua para pemangku kepentingan demi kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya, Kab. Samosir mampu menerapkan pertanian modern dan menjadi lumbung pangan Sumatera Utara.

Jpeg
Lahan tanaman jagung

Berikut ini kondisi di lapangan:

  • Pada umumnya petani di KDT belum menerapkan teknologi modern. Hal itu ditandai dengan kegiatan pengeringaan kakao, jagung, bawang, dll masih menggunakan panas matahari.
  • Harga jagung di Samosir di tingkat petani Rp 3.100-Rp 3.500/kg.
  • Pedagang pengumpul datang ke petani sekali dalam seminggu.
  • Pedagang menjual jagung ke konsumen akhir sebesar Rp 4.500 – Rp 5.000 per kg
  • Cara beternak ayam kampung juga masih konvensional dengan ciri-ciri:
  1. Kandang terbuat dari bambu dan jaring
  2. Bibit inbreeding (kawin sedarah).
  3. Produktivitas rendah.
  4. Pembuatan pakan tidak sehat (banyak lalat).
  5. Tidak menerapkan prinsip good farming practice yang ideal.
  • Harga ayam kampung relatif mahal yaitu Rp 60.000- Rp 90.000 per kg.
  • Peluang bisnis peternakan ayam kampung terbuka karena ada dua perusahaan besar di Tapanuli Utara.
  • Sebaian besar hotel di KDT yang tidak menyediakan ayam sebagai menu utama. Hal ini dapat dipastikan karena ayam kampung atau ayam negeri di sana relatif mahal.
  • Hampir semua komoditi ternak (babi, ayam kampung, kuda) di impor dari luar daerah. Kondisi demikian juga terjadi di sejumlah daerah seperti Samosir, Balige, Tarutung, Dairi, dll. Hal ini merupakan peluang besar PGT untuk membangun peternakan yang modern mulai dari pembibitan, pembesaran, pemotongan, pengolahan, serta pabrik pakan. (FP)

Gastronomi Sebagai Identitas dalam Mengembangkan Wisata : Potensi Naniura dan Kidu di KDT

Gastronomi – Dengan semakin meningkatnya persaingan pariwisata antar negara, maka semakin penting bagi pengelola destinasi wisata untuk menampilkan produk budaya lokal baru sebagai sumber kegiatan dalam menarik lebih banyak kunjungan wisatawan. Selama ini andalan utama pariwisata negara-negara berkembang adalah ketersediaan akan keindahan alam, peninggalan budaya arsitektur kuno, seni kerajinan tangan, seni pakaian tradisional, maupun acara-acara adat lengkap dengan seni tarian tradisionalnya.

Ada produk lokal lainnya yang jarang disentuh, salah satunya adalah budaya gastronomi. Produk ini mempunyai peran sangat signifikan dan strategis, tidak hanya karena makanan memberi pengalaman sensorik bagi wisatawan, tetapi juga karena seni keahlian memasak telah menjadi sumber penting dari pembentukan identitas masyarakat postmodern.

Semakin banyak pengalaman ‘we are what we eat’, semakin mendalam ketajaman mengetahui seni masakan, bukan hanya dalam arti fisik, tetapi juga karena mampu mengidentifikasi jenis tertentu dari makanan yang dinikmati. Di negara barat gastronomi telah berkembang menjadi pilihan utama wisatawan yang memotivasi perjalanan ke suatu negara.

Di bawah ini akan disampaikan hubungan antara  seni budaya lokal gastronomi dengan perilaku pariwisata hasil pembicaraan dalam konferensi ATLAS Tourism and Gastronomy Group di Lisbon, Portugal bulan September 2015.

Bagi wisatawan dari negara-negara Skandinavia, Belanda, Jerman dan Inggris, menikmati seni masakan lokal ala gastronomi adalah acara liburan yang paling penting kedua setelah menikmati keindahan alam. Di negara seperti Portugal seni masakan ala gastronomi jauh lebih bermakna dibanding obyek wisata lainnya, dimana lebih dari 40% wisatawan asing mengatakan sensorik gastronomi merupakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan sama sekali. Angka ini lebih rendah dibanding pariwisata di Perancis, Spanyol dan Italia yang masih di atas 45% untuk semua jenis wisatawan.

Minat wisatawan barat terhadap masakan lokal ala gastronomi tampaknya semakin tinggi dan umumnya hasrat itu terpulang dari kelompok usia wisatawan yang datang. Wisatawan yang berusia 50 atau lebih tua memiliki tingkat tertinggi terhadap masakan lokal ala gastronomi. Angka itu berkisar di 52%, apalagi bagi mereka khususnya yang datang tanpa membawa sanak keluarga. Sedangkan bagi wisatawan yang berusia 30 – 48 tahun berkisar di angka 32%. Bagi anak-anak, masakan lokal masih belum menjadi pilihan utama dan angka itu masih berkisar 16%.

Data ini didapat dari hasil random acak dengan tidak melihat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan atau status. Namun yang pasti semakin tinggi keekonomian kelompok wisatawan semakin besar minat mereka mendapatkan pelayanan yang baik terhadap kenikmatan masakan lokal ala gastronomi. Disini terlihat adanya hubungan erat antara budaya dan masakan lokal.

Selain mendapatkan kenikmatan sensorik masakan lokal ala gastronomi, ada potensi lainnya yang turut memberi sumbangan kedatangan wisatawan ke suatu negara, yakni ketersediaan produk souvenir khas gastronomi. Penelitian yang dilakukan EUROTEX dalam proyek kerajinan pariwisata di Yunani, Finlandia dan Portugal (Richards, 1999) menunjukkan bahwa 84% wisatawan asing membeli souvenir makanan atau minuman untuk dibawa pulang.

Produk souvenir ini sangat penting sebagai cendera buah tangan karena relatif murah dan mudah untuk dibawa. EUROTEX  menyatakan souvenir khas gastronomi memiliki nilai yang sangat tinggi dimana 45% wisatawan menyatakan souvenir yang mereka beli sangat berguna.

Dengan demikian, masakan lokal ala gastronomi merupakan pilihan utama bagi masyarakat barat dalam melakukan wisata. Gastronomi menjadi pilihan dari liburan mereka dalam mencari kemewahan dan kenyamanan ke suatu destinasi. Tidak heran, “gastronomic tourism” selalu didengungkan negara-negara di Eropa dan Amerika dalam paket promosi kepariwisataan mereka.

Bagi masyarakat barat, daya tarik gastronomi memberi nuansa kenikmatan terhadap seni masakan lokal dari perjalanan yang dilakukan. Disini terlihat ada korelasi yang kuat antara keahlian memasak dengan mereka yang mencari kemewahan dalam kenyamanan berlibur. Untuk itu, negara-negara barat sudah mampu mempromosikan keahlian memasak ala gastronomi sebagai identitas wisata dari negara mereka.

INDONESIA
Sekarang bagaimana dengan Indonesia ? Apakah sudah ada pemasaran wisata gastronomi ?
Apakah negeri ini sudah mampu mengetengahkan masakan lokal ala gastronomi ?

Tapi yang terpenting adalah pertanyaan :

Apakah sudah ada penelitian sejauh mana daya tarik makanan lokal memberi sumbangan terhadap pariwisata seperti yang dilakukan ATLAS & EUROTEX?

Khusus di Kawasan Danau Toba, ada beberapa makanan yang berpotensi memperkayah khazanah kekayaan pengetahuan di bidang gastronomi, dua diaantaranya adalah : Naniura dari Batak Toba, yaitu sajian ikan yang tidak dimasak dan hanya diberikan asam. Kendati disajikan mentah, menu bernama Naniura ini tidak memiliki aroma amis khas ikan. Bahkan sensasinya mirip salad ikan yang segar. Ketua Akademi Gastronomi Indonesia, Vita Datau Messakh menyebut naniura adalah masakan khas Batak yang bisa disandingkan dengan ceviche dari Peru.
“Kalau Peru punya ceviche, Tapanuli punya naniura,” kata Vita, dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (23/8).
Dia menjelaskan, naniura disajikan dengan cara disiram bumbu halus berwarna kuning. Adapun daging ikan dimatangkan dengan merendamnya dalam cairan asam jungga, dari perasan jeruk limau.
“Menu ini adalah salah satu makanan khas Tapanuli Utara, yang bisa ditemui di Danau Toba, Medan dan Pematang Siantar,” papar Vita.
Image result for naniura adalah
Selain Naniura dari Tapanuli, Kidu dari Kabupaten Karo juga menjadi alternatif pilihan gastronomi bernuansa ekstrem. Kidu kidu adalah masakan yang berupa pengolahan ulat dari pohon enau. Kidu atau ulat sagu sangat langka maka dibuat makanan yang bentuknya serupa kidu dari daging.
Image result for kidu karoKidu-Kidu, Sumber : http://soraouji.com/Detail/TanahKaroProject/BCNtQcBQ2Qy

Kembali ke pertanyaan awal yang menjadi pembuka artikel ini, Apakah wisatawan asing atau lokal datang ke suatu destinasi kota wisata karena obyek makanan atau non-makanan ? Alangkah eloknya jika keduanya bisa ada di dalam suatu kota.

Tabik.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 4 Desember 2017)

“Taruk Baru Terbit”

Nasihatnya bijak: Ya begitulah orang Batak. Ngomongnya suka keras dan bahkan kadang kasar. Sering susah menerima perbedaan pendapat. Kadang, berbeda diartikan menjauh, berpisah. Tidak berhikmat. Padahal, kebenaran itu datangnya dari hikmat; hikmat dalam Kasih Kristus.

Firman Tuhan hari minggu ini dari Rm. 15:4-13 berbicara tentang kebangkitan baru melalui Taruk Pangkal Isai. Ada empat pesan nas ini: Pertama, dasar semuanya adalah kitab PL, yakni dengan tiga alasan: 1). Kitab PL adalah dasar dari segala janji keselamatan; 2). Kitab PL berisi banyak sejarah jatuh bangunnya pribadi, pemimpin, kelompok dan bangsa-bangsa yang menjadi pelajaran penting bagi pembacanya; 3). Kitab PL berisi hukum moral dan hikmat yang menuntun orang percaya dalam bertindak. Oleh karena itu, nas minggu ini berpesan: kita dapat belajar tentang pengharapan, ketekunan dan penghiburan dengan membaca kitab PL.
Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!