KABAR DARI BUKIT (Edisi 28 Mei 2017)

Membangun Padang Gurun

Be ready. Fight for the best, ready for the worst. (Selalu siap. Berjuang untuk yang terbaik, siap dengan yang terburuk). Itulah prinsip yang selalu saya coba ambil dalam menjalani kehidupan ini. Dengan begitu, saya berharap tidak mengalami hal-hal yang mengagetkan dalam kehidupan, berusaha untuk berhitung setiap resiko (terburuk) yang mungkin ada. Semoga.

Firman Tuhan di Minggu Paskah VII ini 1Pet 4:12-14, 5:6-11 berbicara tentang penderitaan dan kekuatiran. Murid-murid Yesus saat dipanggil dan diteguhkan, dibekali dengan hal itu dan dimotivasi: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11). Mereka dipilih-Nya untuk mengambil bagian dalam perjuangan perubahan umat Israel pada saat itu. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 21 Mei 2017)

Sabar Menderita

“Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih,” kata peribahasa yang maknanya: nasib buruk tidak dapat dihindarkan, akan tetapi nasib baik juga tak dapat dicari-cari. Kehidupan yang ada di depan kita semua adalah rahasia Tuhan; kemalangan atau keuntungan bisa datang secara tidak terduga tanpa disangka-sangka.

Firman Tuhan di Minggu Paskah V hari ini dari 1Pet 3:13-18a berbicara tentang menderita dengan sabar. Kemalangan sering diasosiasikan dengan penderitaan yang tidak seharusnya dia tanggung. Ini bisa berasal dari tiga sumber: Pertama, bagian dari kemanusiaan kita (human nature), bahwa kita bisa sakit2an renta karena faktor usia. Kedua, karena ulah kita sendiri. Seseorang yang boros, keuangan lebih besar pasak dari tiang, maka suatu saat ia pasti menderita karena hutang. Seseorang yang tidak banyak beraktifitas fisik atau berolah-raga tetapi makan banyak yang tidak sehat, maka jangan heran suatu saat ia akan sakit jantung atau stroke. Semua itu ada sebab akibat, ada causalitasnya, yang kadang muncul casus belli atau pemicu sehingga proses penderitaan itu terjadi lebih cepat. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 14 Mei 2017)

WAG YANG RAJANI

HR itu biad.b…. JK itu bang..t, AB itu bung..n, dan sebagainya….. Itulah kata-kata atau foto/meme yang tidak layak kadang muncul dalam WA Group beberapa minggu terakhir. Hati pun miris. Sedikit pun tidak ada rasa senang.

Firman Tuhan hari Minggu Paskah V ini dari 1Pet 2:2-10 berpesan tentang Yesus Kristus batu penjuru serta penekanan kita adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah sendiri. Dalam konteks Perjanjian Baru, kumpulan atau persekutuan orang percaya adalah sebuah gereja. Namun, gereja dalam hal ini bukanlah bangunan atau susunan batu-batu. Kata church dalam bahasa Inggris (yang berarti gereja atau jemaat dalam bahasa Indonesia) berasal dari kata kuriakon (bahasa Yunani) yang berarti milik Allah. Alkitab menggunakan banyak metafora untuk kata gereja atau jemaat, kadang disebut Tubuh Kristus (Ef 1:22-23; Rm 12:5; 1Kor 12:12; 1Pet 4:10); Kawanan (Mzm 23; Luk 15:3-7; Yoh 10:1-18; 1Pet 5:1-2); Nama lainnya adalah Ranting Pohon Anggur (Mat 13:1-43; Yoh 15:1-17; Rm 11:16-24), Keluarga Allah (Luk 1:29-33; Gal 3:28; 2Kor 6:16-18; Ibr 2:10-18; 3:1-6) dan Mempelai Kristus (Hos 3:1-3; Mat 9:14-15; 25:1-13; 2Kor 11:2-4; Ef 5:21-33; Why 19:7-9; 22:12-21). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 7 Mei 2017)

Pemelihara Jiwa

Menurut KBBI sesat berarti tidak melalui jalan yang benar; salah jalan; berbuat tidak senonoh atau menyimpang dari kebenaran agama.

Firman Tuhan hari Minggu Paskah IV ini dari 1Pet 2:19-25 berbicara tentang Yesus Pemelihara Jiwa agar kita tidak sesat. Nas ini ditujukan bagi umat Kristiani yang umumnya budak, saat itu menerima perlakuan tidak baik dari penguasa dan umat Yahudi, bahkan tidak sedikit yang lari mengungsi.

Kita juga pasti pernah menderita dengan berbagai alasan: karena dosa-dosa, kelalaian, kebodohan, atau hal-hal lainnya. Tetapi yang penting jangan sampai kita menderita karena tidak tidak taat atau mencari-cari penderitaan itu sendiri mengikuti keinginan daging dan nafsu. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 30 April 2017)

Benih yang Tidak Fana

Presiden Sukarno pernah ditanya: kenapa tidak mau membubarkan PKI? Konon jawabnya: karena gagasan atau ideologi tidak dapat dibunuh. Paham Sosialisme akan tetap hidup. Maka Alkitab benar mengatakan: “jangan takut kepada yang membunuh tubuh, ….tetapi takutlah kepada yang dapat membinasakan jiwa” (Mat. 10:28).

Firman Tuhan sesuai leksionari minggu ini dari 1Pet 1:17-23 berbicara tentang benih yang fana dan benih yang tidak fana. Allah memberikan kepercayaan kepada Adam dan Hawa untuk hidup sesuai dengan rencana dan konsep-Nya, tetapi mereka jatuh. Manusia meminta lebih, bahkan kemudian menyombongkan diri melalui menara Babel (Kej. 11:1-9). Manusia terus bertumbuh melalui fase-fase sejarah Israel yang panjang, namun gagal mewujudkan umat pilihan Allah yang kudus. Manusia takluk. Allah kemudian menyesal, dalam pengertian, mengapa manusia harus kalah?

Allah bukan bereksperimen, sebab manusia sendiri yang kalah terhadap dirinya dan iblis. Namun Allah kita tetaplah Allah yang Mahakasih. Ia tidak sekedar menyesal, juga bertindak. Jalan yang ditempuh-Nya adalah jalan yang dapat masuk ke dalam akal pikiran manusia: Firman itu menjadi manusia. Kita kemudian ditebusNya dari cara hidup yang sia-sia, yang telah diwarisi turun-temurun, yakni mengandalkan kekuatan manusia, pikiran dunia, keinginan daging dan nafsu. Syukur kepada Allah, kini kita dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana.

Maka, melawan atau membendung gagasan atau pikiran dunia, sesuatu yang fana, janganlah melakukan kesalahan umat seperti Yahudi yang buta akan rencana Allah. Sosialisme dan komunisme, atau gagasan khilafah, atau menjalankan syariat tertentu di tanah air tercinta ini, lawanlah dengan benih yang tidak fana, yakni firman Allah, yang hidup dan yang kekal. Firman Allah itu dalam nas ini dikatakan dengan mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, yakni bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati. Membenci dan melecehkan, memusuhi, itu cara pikiran manusia, pikiran iblis, yang akhirnya akan kalah.

“Maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan”, perintah-Nya dalam nas ini. Sikap takut yang berangkat dari rasa hormat ( reverent fear) adalah sikap respek yang sehat dari orang percaya terhadap Allah. Allah adalah pencipta, penguasa, dan hakim bagi seluruh bumi dan isinya (Why. 14:7; 15:4). Tetaplah berpegang dan mengandalkan Dia. Dengan demikian, iman dan pengharapan kita selalu tertuju kepada Allah yang dalam wujud KASIH. Kasihilah musuhmu. Itulah paradigma baru, melihat keberadaan kita ke depan sesuai maksud dan tujuan Allah. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 23 April 2017)

Iman dan Pengharapan

“Jadi, … Pak Basuki-Djarot kalah, menurut pendapat saya, bukan dikehendaki Tuhan, melainkan diijinkan Tuhan. Karena berbagai hal yang kita tidak tahu, Tuhan mengijinkan anak-Nya kalah.” Demikian postingan minggu lalu komentar hasil pilkada DKI. Di dalam hati, saya ingat firman Tuhan: “…. siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?” (Rm 11:34).

Firman Tuhan hari Minggu Paskah II ini dari 1Pet 1:3-9 berbicara tentang iman, pengharapan dan kasih. Surat 1Petrus ini ditulis pada saat orang Kristen di wilayah Roma mendapat perlakuan buruk dari kekuasaan Nero. Sebagian besar umat Kristen di saat itu berasal dari agama Yahudi, tetapi perlakuan buruk mereka terima juga dari sesama orang Yahudi. Mereka menderita, diperlakukan tidak adil bahkan kadang disiksa hingga mati. Akibatnya banyak pengikut Kristus yang ketakutan oleh perlakuan tersebut. Surat Rasul Petrus ini memberikan kekuatan dan penghiburan, agar iman mereka tetap kuat di tengah-tengah penderitaan yang mereka alami.

Kekalahan Ahok mungkin menjadi kesedihan mendalam bagi banyak orang. Banyak analisis yang menyebutkan itu karena pihak “sana” tidak adil, jahat, menggunakan agama sebagai peluru mematikan dan lainnya. Sebagian (kecil) berpikir itu memang salah dia sendiri, begini begono dst. Maklum, orang Batak, jago pollung dan berdebat yang membuat banyak menjadi pengacara sukses.

Tetapi firman Tuhan hari ini mengatakan, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (ayat 6-7). Jadi, di setiap ada pergumulan tidak perlu berputus asa. Kita harus merespon dengan sikap positip, yakni: (1) Penuh keyakinan Allah tahu, merencanakan, dan mengarahkan hidup kita akan sesuatu yang baik (Rm 8:28). Kadang itu susah masuk akal, akan tetapi Allah selalu menyediakan kasih dan kuasa-Nya untuk memimpin kita ke masa depan yang lebih baik. (2) Bertekun dan bersabarlah ketika menghadapi segala sikap kesedihan atau rasa sakit (Yak 1:2-3; 1Pet 4:12). Kita dapat mengekspresikan kesedihan, tetapi jangan menjadikan itu sebagai kemarahan, caci maki, kambing hitam, dan putus asa. (3) Tetap penuh keberanian, sebab Yesus adalah Sahabat dan Penyelamat, dan kita tidak perlu takut. Dia yang sudah menderita bagi kita tidak akan pernah meninggalkan kita, justru Dia akan membawa kita melewati segalanya dengan penuh kemenangan.

Dosa dan ketidaktaatan umat Yahudi membuat janji tanah Kanaan saat itu hanya tinggal sebagai kenangan yang terus meredup. Akan tetapi kita orang Kristen, memiliki janji yang berbeda: bukan berupa tempat di bumi ini yang bisa hilang atau rusak, melainkan sebuah tempat abadi kota Allah yang tidak dinodai oleh dosa-dosa; tidak lekang oleh waktu. Bahkan, semestinya, di masa kini kita sudah bisa merasakannya, dalam wujud keyakinan dan sukacita damai sejahtera menghadapi semua perjalanan hidup dan dalam berkarya. Inilah pegangan kita hingga nanti kelak Tuhan memanggil, iman itu telah menyelamatkan jiwa kita. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!