Iman dan Pengharapan
“Jadi, … Pak Basuki-Djarot kalah, menurut pendapat saya, bukan dikehendaki Tuhan, melainkan diijinkan Tuhan. Karena berbagai hal yang kita tidak tahu, Tuhan mengijinkan anak-Nya kalah.” Demikian postingan minggu lalu komentar hasil pilkada DKI. Di dalam hati, saya ingat firman Tuhan: “…. siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?” (Rm 11:34).
Firman Tuhan hari Minggu Paskah II ini dari 1Pet 1:3-9 berbicara tentang iman, pengharapan dan kasih. Surat 1Petrus ini ditulis pada saat orang Kristen di wilayah Roma mendapat perlakuan buruk dari kekuasaan Nero. Sebagian besar umat Kristen di saat itu berasal dari agama Yahudi, tetapi perlakuan buruk mereka terima juga dari sesama orang Yahudi. Mereka menderita, diperlakukan tidak adil bahkan kadang disiksa hingga mati. Akibatnya banyak pengikut Kristus yang ketakutan oleh perlakuan tersebut. Surat Rasul Petrus ini memberikan kekuatan dan penghiburan, agar iman mereka tetap kuat di tengah-tengah penderitaan yang mereka alami.
Kekalahan Ahok mungkin menjadi kesedihan mendalam bagi banyak orang. Banyak analisis yang menyebutkan itu karena pihak “sana” tidak adil, jahat, menggunakan agama sebagai peluru mematikan dan lainnya. Sebagian (kecil) berpikir itu memang salah dia sendiri, begini begono dst. Maklum, orang Batak, jago pollung dan berdebat yang membuat banyak menjadi pengacara sukses.
Tetapi firman Tuhan hari ini mengatakan, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (ayat 6-7). Jadi, di setiap ada pergumulan tidak perlu berputus asa. Kita harus merespon dengan sikap positip, yakni: (1) Penuh keyakinan Allah tahu, merencanakan, dan mengarahkan hidup kita akan sesuatu yang baik (Rm 8:28). Kadang itu susah masuk akal, akan tetapi Allah selalu menyediakan kasih dan kuasa-Nya untuk memimpin kita ke masa depan yang lebih baik. (2) Bertekun dan bersabarlah ketika menghadapi segala sikap kesedihan atau rasa sakit (Yak 1:2-3; 1Pet 4:12). Kita dapat mengekspresikan kesedihan, tetapi jangan menjadikan itu sebagai kemarahan, caci maki, kambing hitam, dan putus asa. (3) Tetap penuh keberanian, sebab Yesus adalah Sahabat dan Penyelamat, dan kita tidak perlu takut. Dia yang sudah menderita bagi kita tidak akan pernah meninggalkan kita, justru Dia akan membawa kita melewati segalanya dengan penuh kemenangan.
Dosa dan ketidaktaatan umat Yahudi membuat janji tanah Kanaan saat itu hanya tinggal sebagai kenangan yang terus meredup. Akan tetapi kita orang Kristen, memiliki janji yang berbeda: bukan berupa tempat di bumi ini yang bisa hilang atau rusak, melainkan sebuah tempat abadi kota Allah yang tidak dinodai oleh dosa-dosa; tidak lekang oleh waktu. Bahkan, semestinya, di masa kini kita sudah bisa merasakannya, dalam wujud keyakinan dan sukacita damai sejahtera menghadapi semua perjalanan hidup dan dalam berkarya. Inilah pegangan kita hingga nanti kelak Tuhan memanggil, iman itu telah menyelamatkan jiwa kita. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, amin.
Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.
KABAR DARI BUKIT (Edisi 23 April 2017) May 5th, 2017roy