Dosa dan Iuran
Diskusi di grup Pollung Agama Gaja Toba kadang seru, khususnya terhadap beberapa topik yang dilontarkan. Salah satu pertanyaannya yakni: apakah makan darah (dan merokok) adalah dosa? Saya tidak mengulasnya di sini, tetapi justru mengutip sebuah pernyatan dari Martin Luther: “Be a sinner, and let your sins be strong (or sin boldly), but let your trust in Christ be stronger, and rejoice in Christ who is the victor over sin, death, and the world.”
Firman Tuhan hari Minggu ini sesuai leksionari dari Rm. 6:1-11 berbicara tentang Mati dan bangkit dengan Kristus. Pernyataan Martin Luther dalam suratnya kepada Melanchthon di atas merupakan penjelasan Rm 5:20: “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Ini ditegaskan kembali di ayat 1 nas minggu ini. Artinya, kita tidak boleh lagi hidup di dalam dosa, apalagi bermegah, tetapi justru tetap dalam rasa takut dan gentar. Kata yang dipakai mati merupakan sebuah penggambaran perhentian, putus. Keberdosaan kita telah mati dikuburkan bersama kematian Yesus.
Natur keberdosaan kita memang tidak bisa hilang selagi kita hidup, dan perjuangan melawannya merupakan tantangan yang harus dihadapi agar hidup berkemenangan dalam Kristus. Natur dosa ini alamiah sebagaimana halnya natur seekor kucing yang menyebabkannya mengeong. Manusia tidak dapat menghilangkan kecendrungan dan berhenti berdosa dengan kemampuannya sendiri, oleh sebab itu Allah memberi anugerah kepada orang percaya yang memampukan kita untuk berhenti berdosa atau menjadi orang yang tidak berdosa. Ini bagaikan membuat garis lurus dengan tangan bebas, dan lebih mudahnya adalah dengan bantuan penggaris. Tujuannya agar kita tidak lagi bertekun atau hidup dalam kuasa dosa, sebab dengan baptisan (dan sidi) kita adalah manusia baru, jika tetap percaya Yesus sebagai Juruselamat dan mati bagi dosa-dosa kita.
Kunci pegangannya pada ayat 10: “Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya….” Ini parallel dengan Ibr 10:10 yang menegaskan: “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.”
Namun bagi kita yang telah mati bagi dosa, kita juga harus hidup dengan Dia dan satu dengan kebangkitanNya, serta “kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah,” sebagai lanjutan ayat 10 tadi.
Artinya, tidak membuat kekudusan sebagai keterpisahan semata, tetapi juga diminta hidup tetap berbuah bagi Allah dalam Kristus Yesus.
Diskusi dosa selalu menarik tetapi lebih enak melihatnya dalam hal yang mudah. Kita juga tahu dalam dosa tidak ada dosa kecil dan dosa besar. FirmanNya mengatakan: Jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak. 4:17). Dan, pertanyaannya, bila kita dalam sebuah persekutuan, kumpulan, sebuah WA Group, apakah kita sudah cukup berkontribusi demi kebaikan bersama? Memberi simpati, doa, gagasan, membayar iuran dan lainnya. Sudahkan saya melakukannya? Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.
Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.