KABAR DARI BUKIT (Edisi 16 Juli 2017)

Not Guilty!!!

Seseorang yang disidang pengadilan pasti mengharapkan kata-kata yang singkat dari hakim: “Tidak Bersalah. Bebas”. Demikian juga pengharapan kita semua tatkala nanti di akhir zaman, saat pengadilan Allah dilaksanakan, kita berharap kata-kata itu yang diberikan sehingga kita bebas, selamat tidak masuk ke dalam penghukuman.

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm 8:1-11 berpesan tentang Hidup oleh Roh. Nas ini menggolongkan secara sederhana dua tipe manusia: yang didominasi oleh sifat-sifat berbuat dosa, dan yang dipimpin oleh Roh Kudus. Yang pertama, yakni manusia daging berkecendrungan dan senang berbuat dosa, termasuk meremehkan dosa dan kesombongan. Keinginan kedagingan ini lebih jahat saat bersatu dengan roh iblis, dengan tujuan melawan dan menjadi seteru Allah. Kalau kita melihat Gal 5:19-21, daftar dosa ini sungguh amat panjang.

Pilihan kedua yakni dipimpin Roh Allah, Roh yang memerdekakan, Pribadi penuh kuasa yang membuat orang percaya menjadi lahir baru, melalui sidi maupun pertobatan. Kuasa ini diberikan kepada kita orang percaya untuk mampu hidup seturut dengan kehendak-Nya (band. Yoh 3:6; Kis 1:3-5). Tidak ada alasan untuk berkelit tetap berkubang dalam dosa. Allah berinkarnasi menjadi manusia Yesus, salah satunya bertujuan memperlihatkan manusia Yesus bisa hidup tidak berdosa. Kehidupan Yesus dalam perbuatan dan sikap digambarkan sedemikian jelas, termasuk mengembangkan intelektualitas-Nya dengan rajin belajar tentang Taurat dan tradisi Yahudi. Itu semua bagian kemanusiaan-Nya. Dan yang paling diperlihatkan melalui kehidupan Yesus adalah kerendahan hati-Nya (Flp 2:7), sikap taat dan berserah dalam melewati pencobaan, serta berpuncak dengan berkorban dan mengutamakan tugas dari Allah Bapa.

Seorang Kristen sejati perlu bertanya pada diri sendiri: “Apa yang Yesus ingin saya lakukan?” Apakah yang saya lakukan ini menyenangkan hati Allah? Lihat petunjukNya (Yoh 16:13-15; 2Tim 3:16-17). Apabila pemahaman dan buah itu tidak tampak, maka kita perlu mengkoreksi diri dan bertanya: apakah saya seorang Kristen sejati? Melalui pimpinan Roh, kita memperoleh kekuatan dan hidup baru yang memungkinkan mampu mengatasi dosa. Iman, ketaatan dan penyerahan diri menjadi syarat mutlak dalam memperoleh Roh yang memerdekakan itu untuk mendapatkan kemenangan. Roh itu mampu membangkitkan dan menghidupkan kita dari setiap keterpurukan di dunia ini.

Kehidupan manusia tidak berakhir hanya dengan masa yang pendek ini saja. Tak dapat dihindari, manusia harus mati karena dosa. Oleh karena itu, ketika seseorang jatuh dikuasai oleh kedagingan dan iblis, segeralah berpaling, bertobat, hidup oleh Roh. Maka dasar pertimbangan Allah kelak dalam pengadilanNya adalah pemberian anugerah kasih karunia yang membuat kita dinyatakan: “Tidak bersalah. Bebas.” Haleluya. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin. Pdt (Em) Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

PROGRAM PELATIHAN PETANI DAN PEMBIBITAN NILAM DI PAKPAK BHARAT

 

NILAM GAJA TOBA – Perkumpulan Gaja Toba Semesta telah melaksanakan Program Pelatihan dan Pembibitan Nilam di Pakpak Bharat pada tanggal 9-10 Juli 2017 di lahan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) Sidikalang seluas 1 hektar. Program ini merupakan kerjasama PGTS dengan PT Givaudan Indonesia dan GKPPD.

Maksud dan tujuan dari program ini adalah:

  1. Meningkatkan mutu minyak Nilam hasil industri petani agar memenuhi persyaratan ekspor, sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi;
  2. Meningkatkan penghasilan para petani agar bisa hidup layak, dengan adanya peningkatan mutu dan hasil rendemennya yang baik;
  3. Menambah dan meningkatkan pengetahuan petani mengenai budidaya tanaman Nilam dan pengetahuan proses penyulingan (destilasi) daun Nilam yang baik;
  4. Menambah pendapatan perkapita masyarakat di kawasan Kaldera Danau Toba;
  5. Menciptakan lapangan kerja baru;
  6. Mencetak calon-calon tenaga terampil dari kalangan masyarakat petani di bidang pertanian.

 

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PGTS Bulan Juni – Juli 2017

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA

Bulan Juni – Juli 2017.

Syalom. Horas. Mejuah-juah. Njuah-juah.

Program dalam progres dan ke depan kita PGTS sbb:

1. Persiapan Program Internet Gajah Toba(IGT) Tahap 3 dan Seminar Motivasi;

2. Program Pembibitan dan penanaman Tanaman Produktif Kaliandra seluas 100 Ha di Kab. Samosir, kerjasama dgn Keuskupan Agung Medan (KAM);

3. Program pembibitan Nilam di Pakpak dan Dairi kerjasama dengan Sinode GKPPD dan Givaudan;

4. Program Patung Tuhan Yesus yang saat ini sedang tahapan sayembara desain.

5. Program Beasiswa 2017-2018 yang saat ini sedang tahap seleksi permohanan beasiswa dan mencari donate (permohonan yg masuk 135 orang).

6. Diskusi Eko Wisata dengan Zukri Saad tgl 11 Juli 2017.

7. Survey hidrogeologi kerjasama dgn Pemkab Samosir yang sudah dan sedang berjalan.

8. Program Listrik masuk dusun di Samosir yang masih sedang tahap survey.

9. Persiapan pelatihan Mandor Bangunan dan Sertifikasi.

10. Persiapan Turnamen Golf kedua Minggu, 1 Oktober 2017.

Terima kasih untuk semua dukungannya.

Laporan Keuangan dpt dilihat di www.gajatoba.org. Kami berharap setiap kita memberi yg terbaik utk KDT.

Semoga pelayanan kita berkenan kepadaNya. Amin.

Jakarta 7 Juli 2017.

A.n BPH PGTS
Ramles M Silalahi – Ketum
Hot Asi Simamora – Sekum

KABAR DARI BUKIT (Edisi 9 Juli 2017)

Melawan Dosa

Dosa tetap dosa kalau itu sudah terjadi dan bila tidak dibereskan akan menjadi Boss dalam kehidupan kita – meski kita tidak suka. Bisa terjadi kegamangan dalam diri, seperti Rasul Paulus yang merasa memiliki pribadi ganda: satu yang asli dengan keinginan baik dan batin yang tenang; dan ada pribadi lain pribadi palsu yang ingin mengendalikan hidupnya.

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm 7:15-25a berbicara tentang perjuangan melawan dosa. Rasul Paulus seolah melayangkan jeritan hatinya yang putus asa, yang berjuang melawan dosa dengan berusaha menyenangkan hati Allah melalui ketaatan pada aturan-aturan legalistik. Betul, hukum Taurat itu baik dan bersifat kudus, memperlihatkan keinginan Allah agar manusia kudus, gambaran rupa Allah.

Tetapi dosa dan kuasanya telah mengelabui dengan memutar balikkan aturan yang ada. Di Taman Eden, ular menipu Hawa dengan menantang kebebasannya. Hawa digoda iblis penipu licik dan berhasil. Oleh karena itu Rasul Paulus berbagi tiga hal dalam perjuangan melawan dosa: Pertama, kesadarannya bahwa pengetahuan akan hukum dan aturan bukanlah sebuah jaminan akan ketaatan. Misal saja, saat ini banyak hakim, polisi, jaksa, pengacara, akhirnya tersangka dan dihukum. Rasul Paulus mengatakan, ia merasa lebih nyaman apabila ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh hukum. Ia tahu hukum Taurat itu baik tapi ia sendiri tidak mampu melaksanakannya. Tetapi sebaliknya, ketika ia belajar tentang kebenaran, anugerah, ia tahu bahwa dirinya sudah diselamatkan.

Kedua, keyakinan diri yakni perjuangan dengan kekuatan diri sendiri pasti tidak berhasil. Rasul Paulus menemukan dirinya berdosa dengan jalan yang sebenarnya tidak menarik hatinya, bahkan membenci tindakan-tindakannya yang bertentangan dengan hukum itu (ayat 15). Ketiga, manusia lahiriah kita terus dihadapkan dengan manusia batiniah yang dilengkapi oleh akal budi, sebagai wujud hukum Allah. Tubuh dan kedagingan kita menjadi ajang pertempuran. Apabila kita merasa takluk dalam pertentangan itu, maka jawabannya hanya kembali kepada dasar kehidupan kerohanian kita, yakni penyesalan dan keyakinan dosa-dosa kita telah dibebaskan melalui hukum kasih karunia (band. 2Kor 4:16). Ini yang membebaskan rasa bersalah itu.

Kita tidak bisa mengkambing-hitamkan Adam atau dosa asal atau dosa warisan. Ada satu titik dalam hidup, ketika kita sadar akan keinginan berdosa dari diri kita sendiri. Pada saat itu, kita harus menolak natur dosa dan bertobat. Sebaliknya, apabila kita “menyetujui” natur berdosa, mengikuti dan menikmati keberdosaan tersebut, maka kita sebenarnya menyatakan sepakat dengan perbuatan Adam dan Hawa di Taman Eden.

Rasul Paulus kemudian merendah, menyebutnya manusia celaka (ayat 24) – dan itu juga yang baik kita lakukan, yakni mengatakan tidak ada sesuatu yang baik di dalam dirinya. Ia mengulangi penegasan bahwa itu merupakan pergumulan yang hebat baginya. Ia merasa dirinya tidak berhasil melakukan yang terbaik bagi Tuhan yang memberinya begitu banyak. Justru ia merasa terlalu sedikit melakukan hal baik yang membuat batinnya bergejolak tidak puas. Bila pun ada hal baik yang ia lakukan, itu sikap rasa syukur atas apa yang diperolehnya dari Tuhan, sehingga itu tidak layak dibanggakan. Sementara itu, ia merasa terlalu banyak melakukan hal yang jahat dan itu semua disadarinya, semua oleh kuasa dosa di dalam dirinya.

Perjuangan melawan dosa berlangsung terus menerus. Utamanya, daripada mencoba melawan dosa dengan kemampuan diri sendiri, lebih baik kita berpegang pada kuasa yang luar biasa dari Kristus yang tersedia bagi kita. Kuasa pemeliharaan Allah untuk menjamin kemenangan, yakni dengan Roh Kudus. Ketika kita jatuh, kasih-Nya akan menggapai untuk menolong kita bangkit kembali. Syukur kepadaNya. Terpujilah Dia. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 2 Juli 2017)

Dua Macam Perhambaan

Tidak ada seorang pun yang mau disebut sebagai budak sesuatu, apalagi budak dosa. Tapi merokok bisa jadi perbuatan dosa, bila perokok telah menjadi budak rokok, sampai merugikan keluarga dan pihak lain, seperti merokok sambil gendong bayi, di ruang tertutup ber-AC, atau bahkan sudah merasuk ke narkoba.

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm 6:12-23 berbicara tentang dua macam perhambaan: hamba dosa dan hamba kebenaran. Seseorang menjadi hamba atau budak dosa terjadi karena kelemahannya, baik dari mengikuti keinginan tubuh, nafsu dan kesombongan, maupun karena tidak kuatnya dasar yang teguh kokoh sehingga terjerat godaan si jahat. Alkitab berkata semua manusia telah berbuat dosa. Manusia tidak bisa terlepas dari kecenderungan berbuat dosa atau “dosa asal”. Itu sesuatu yang tidak terbantahkan. Adanya godaan dan keinginan tubuh serta naluri kesombongan yang dieksploitir oleh setan, bisa membuat manusia terus berbuat dosa dan tidak mudah lepas dari jeratnya. Jadilah ia sebagai hamba kecemaran dan kedurhakaan (ayat 19) dan jauh dari kebenaran (ayat 20). Buah yang dipetik dari semua itu adalah rasa malu, maut dan kematian (ayat 21, 23a).

Ketika dosa berkuasa memang yang paling sulit adalah ingin lepas darinya. CR Lewis mengatakan, “But one of the worst results of being a slave and being forced to do things is that when there is no one to force you any more you find you have almost lost the power of forcing yourself.” Artinya, saat yang menyedihkan ketika kita tidak punya kekuatan lagi untuk melepaskan diri dan hanya bisa menangis meratapi diri. Seperti dikatakan oleh Alkitab, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Rm 7:15).

Menjadi manusia baru yang menerima anugerah penebusan, dosa sudah dikalahkan, dimerdekakan. Oleh karena itu, kita senantiasa harus menentang usaha dosa untuk berkuasa kembali. Dosa akan terus berusaha memerintah terutama melalui keinginan-keinginan tubuh dan hati yang jauh dari kehendak Tuhan. Untuk itu kita perlu memiliki kesadaran penuh akan akibat dosa berupa kematian dan penderitaan kekal. Ini hanya dapat dilawan dengan iman kepada Kristus, penyerahan total seluruh tubuh dan anggota-anggotanya kepada kebenaran dan kehendak Tuhan.

Kadang kala kalah dan jatuh. Ya natur “dosa asal” masih ada. Roh kecil kita pasti tidak akan mampu melawan roh jahat, iblis, setan. Pertobatan. Berbalik. Kembali meminta pertolongan Roh Allah. Itu hakekatnya. Menjadi hamba kebenaran atau hamba Allah. Itu artinya, menggunakan tubuh dan jiwa kita kepada hal-hal yang positip bagi diri sendiri dan terutama bagi orang lain. Buahnya adalah kekudusan dan kesudahannya adalah hidup yang kekal. Itu semua wujud dari dua kasih utama, kepada Tuhan dan sesama (Mat 22:37-40; Ul 6:5; Im 19:18).

Bebas dari hamba dosa masuk menjadi hamba kebenaran? Sama2 hamba. Jelas tidak sama. Bedanya, menjadi hamba kebenaran tidak ada pemaksaan, tidak ada keharusan legalistik, semua karena kesadaran. Sukacita dan kerelaan. Kasih. Beri. Ayo memberi yang terbaik dengan kesadaran dan sukacita untuk diri sendiri, dan orang lain yang membutuhkan: di keluarga (besar)mu, gereja dan di kumpulanmu? Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!