KABAR DARI BUKIT (Edisi 24 September 2017)

Mati atau Berbuah

Prinsip hidup: ketika Tuhan memberi kehidupan, maka kita harus mengisinya dengan memberi buah. Tidak ada alasan untuk berkelit, pesimis, berleha-leha, atau menunda seolah-olah belum waktunya melayaniNya. Setiap orang lahir ke dunia bukan untuk dirinya sendiri.

Firman Tuhan di Minggu XVI setelah pentakosta ini, Flp 1:21-30, berbicara tentang Hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan. Kadang ada joke, semua orang ingin ke sorga, tetapi yang mau duluan, pasti tidak ada. Tetapi Rasul Paulus melihatnya berbeda. Keyakinan imannya ia ingin bersama Kristus dan itu jelas lebih baik. Tetapi tinggal di dunia tentu ada maksud Tuhan, yakni menjadi berkat: membuat orang lain lebih baik dan bersukacita. Baginya, itu jalan membuktikan Kristus hidup!!

Rasul Paulus ketika menulis surat ini sedang di penjara Filipi. Ia tidak mengetahui situasi pasti masa depannya. Gambaran di dalam benaknya: ia dibebaskan; atau dihukum mati. Akan tetapi dalam menanti keputusan itu, ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Kristus bekerja dalam hidupnya untuk kebaikannya. Hidup baginya bukan lagi semata-mata kekosongan, tanpa arah dan makna. Ia selalu berjalan dengan iman, bukan dengan pikiran.

Ini teladan dari Rasul Paulus. Perlu ada dorongan dan pengharapan hidup agar kita berbuah bagi orang lain. Dengan itu, kita akan memiliki semangat dan roh yang kuat untuk menjalani hidup dengan optimisme. Semua ini akan lebih dahsyat ketika Roh Allah ikut bekerja di dalam hati kita. Kisah seorang ayah atau ibu yang berjuang keras bahkan hidup mati demi anak-anaknya, merupakan kisah yang sering kita dengar dalam kehidupan ini.

Kedewasaan dan cara melihat tantangan, perjuangan dan bahkan penderitaan, itu sangat terkait dengan iman, yakni iman yang bertumbuh semakin besar berupa ketergantungan dan penyerahan hidup dalam tangan pimpinan Tuhan.

Musuh bersama kita saat ini adalah masih banyaknya kemiskinan dan perlunya penginjilan ke berbagai wilayah. Injil menekankan pentingnya saling mendukung dalam persekutuan orang percaya. Rasul Paulus mendorong untuk bersatu, berdiri kokoh dalam satu Roh, dan berjuang sebagai satu kesatuan untuk membangun iman bersama (band. Ef 4:1-3). Prinsip bersatu teguh dan bercerai runtuh, serta bergabung seperti sapu lidi tetap berlaku dalam membangun kekuatan iman. Allah bekerja di dalam kesatuan hati dan bukan di dalam perpecahan. Sungguh sangat menyedihkan apabila melihat begitu besar energi dan potensi yang terbuang sia-sia apabila orang percaya hanya penonton atau tidak saling mendukung melawan musuh bersama yang nyata itu.

Kini, kita yang percaya kepada Allah dan sorga, kehidupan ini jangan lepas mengalir tanpa arah dan komando; hidup harus diisi menjadi berkat, berbuah bagi orang lain. Kini pertanyaannya: Apakah itu yang menjadi prinsip hidupmu? Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS.

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA Bulan Agustus – September 2017

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA
Bulan Agustus – September 2017

Syalom. Horas. Mejuah-juah. Njuah-juah.

Program kita PGTS dalam progres dan ke depan sbb:

1. Persiapan Program Bantuan Komputer dan Internet Gajah Toba(IGT) Tahap 3 untuk 60 SMA dan Seminar Motivasi di Kab. Karo dan Kab. Samosir 27-28 Okt 2017;

2. Persiapan Bimbingan Belajar di empat kota di KDT kerjasama dengan Ganesha Operation;

3. Seleksi dan fundraising program beasiswa Gaja Toba. Puji Tuhan dana sudah terkumpul utk 9 mahasiswa. Info www.beasiswa.gajatoba.org;

4. Program Pembibitan dan penanaman Tanaman Produktif Kaliandra seluas 100 Ha di Kab. Samosir, kerjasama dgn Keuskupan Agung Medan (KAM). Info lengkap www.kaliandra.gajatoba.org. Tahap fundraising;

5. Pembibitan Nilam di Pakpak dan Dairi kerjasama dengan Sinode GKPPD dan Givaudan. Tahap monitoring bulan ke-2;

6. Program Pembangunan Patung Yesus Memberkati KDT – tahap sayembara disain telah selesai dan masuk ke tahap pembangunan. Panitia Pembangunan telah terbentuk;

7. Survey hidrogeologi, kerjasama dgn Pemkab Samosir. Tahap laporan akhir;

8. Persiapan pelatihan Mandor Bangunan dan Sertifikasi di KDT; Persiapan pelaksanaan;

9. Program Listrik masuk dusun dan Sopo Pintar (pilot di Samosir). Tahap survey dan seleksi;

10. Seminar Ketahanan Budaya Kristiani di KDT; Tahap pencarian mitra;

11. Turnamen Golf kedua Minggu, 1 Oktober 2017 di Rainbow Hills Sentul; tahap sponsorship dan pelaksanaan;

12. Program pariwisata: website www.amazingtoba.com; Rencana studi banding dengan kabupaten lain yg unggul; dan Pengembangan Desa Eko Wisata di KDT.

Terima kasih untuk semua dukungannya.

Laporan Keuangan bulan Agustus 2017 dpt dilihat di www.gajatoba.org/laporan

Senior dan kawan2 Gaja Toba semua. Ada kecendrungan menurunnya semangat untuk membayar iuran tahunan PGTS kita yg Rp. 500.000 per tahun. Kami berharap kita dapat memberi yg terbaik utk KDT.

Semoga pelayanan kita berkenan kepadaNya. Amin.

Jakarta 18 September 2017.

A.n BPH PGTS
Ramles M Silalahi – Ketum
Hot Asi Simamora – Sekum

KABAR DARI BUKIT (Edisi 17 September 2017)

Jangan Menghakimi

Sambil berondok kita mendekati sesajian di Tepekong itu. Air liur sudah menetes kencang melihat seonggok babi besar kemerahan yang sudah siap santap. Begitu mereka selesai ritualnya, kita pun nyerbu, makan… Eh, memang enak. Demikianlah masa kanak-kanak saya yang tinggal dekat Tepekong. Kadang kalau ketahuan, kita diusir. Tetapi namanya anak-anak, ya kita tetap saja mengulanginya.

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm 14:1-12 berbicara tentang Jangan Menghakimi. Beberapa hal tentang menghakimi disebutkan, terkait makan daging dan darah, apalagi daging bekas persembahan pagan; juga soal merayakan hari-hari kebesaran pagan yang dijadikan hari kebesaran Kristiani. Ada jemaat yang melarang tidak boleh, berpegang pada aturan legalistik PL. Tetapi sebagaimana dalam renungan minggu lalu, KASIH adalah kegenapan hukum taurat. Rasul Paulus mengatakan: boleh, silahkan, sepanjang dengan rasa syukur, dan tidak perlu sok pamer itu halal (Ayat 6; 1Kor. 8 dan 10). Yang penting, ada keyakinan iman, tidak terombang-ambing, yang dapat menjadi dosa (band. Yak 1:6-8).

Justru poin yang lebih penting disampaikan dalam nas minggu ini adalah kita tidak hidup untuk diri sendiri. Saat mati pun, kita bukan untuk diri sendiri. Dengan kita hidup ditebus dan diselamatkan, maka kita milik Tuhan sebagai Penebus. Ketika kita mati, maka Tuhan pun sebagai pemilik, akan meminta pertanggungjawaban (ayat 9 dan 12).

Rasul Paulus menasihatkan kepada yang lemah dan kuat dalam iman, tentang perbedaan budaya dan kebiasaan, melihat tidak memakan makanan tertentu itu lebih kepada pilihan, bukan persoalan moral. Namun, pandangan dan sikap dalam soal makanan bisa menjadi masalah moral, ketika mereka menghakimi orang lain dengan tidak bijak dan benar. Pun, menghakimi sangat mengganggu kesatuan jemaat dan damai sejahtera yang menjadi inti kehidupan orang Kristen. Setiap orang tidak dipanggil untuk menjadi hakim bagi orang lain. Prinsip orang percaya dalam bersekutu dan berjemaat haruslah: dalam hal penting, kesatuan; dalam hal tidak penting, kebebasan; dalam segala hal, KASIH. Yang utama, berpegang pada prinsip, Allah berkuasa atas diri kita semua.

Rasul Paulus tidak hidup di dalam kehidupan menara gading. Ia menerapkan teologi ke dalam kehidupan sehari-hari yang nyata. Surat Roma yang begitu indah dan dalam, justru ditulis dengan maksud untuk mengumpulkan dana bagi korban kelaparan dan kekerasan yang terjadi di Yerusalem (Rm 15:25-27). Inilah wujud hidup bukan untuk diri kita sendiri. Berbagi. Kasih. Segala “kelebihan” yang kita miliki diperuntukkan untuk menutup “kekurangan” orang lain (band. 2Kor 8:13-15).

Ketika kita berdiri di hadapan Yesus dalam pengadilan akhir zaman, kita juga tidak diperlukan mengurusi yang dilakukan orang lain, semuanya hanya tentang diri kita sendiri (2Kor 5:10). Kita tidak perlu mencari kemenangan atas pendapat dan keunggulan rohani untuk dipuji, sebab mengutamakan menang dan kalah dalam kehidupan persekutuan, tidak sesuai dengan sifat kasih. Ini justru memperlihatkan iman yang lemah. Allah berkuasa dan siap sedia membimbing semua anak-anak-Nya. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu?” Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 10 September 2017)

Kasih dan Taurat

Kasih terhadap sesama itu dimulai kasih kepada diri sendiri. Mengasihi diri sendiri tidak salah, sepanjang berarti memberi respek dan apresiasi terhadap karunia rohani dari Allah di dalam diri kita. Itu sikap yang baik, mengembangkan pikiran, tubuh, dan potensi diri, seluruh karunia rohani untuk tujuan yang baik bagi Tuhan. Hal yang ditolak Tuhan adalah mencintai diri sendiri berlebihan, narsis, fokus di diri, yang sering menjadi tanpa ujung, tak habis-habisnya.

Firman Tuhan hari Minggu ini dari Rm 13:8-14 berbicara tentang kasih sebagai kegenapan hukum Taurat. Disebut kegenapan, maka jelaslah bahwa kasih adalah inti dan mahkotanya. Makanya saya agak sering kasihan pada orang yang suka berdebat tentang ayat-ayat atau nas Perjanjian Lama. Mereka mempersoalkan arti, hermenetika, makna, membahas bahasa Ibraninya, dan lainnya. Bagi saya semua itu tidak lagi terlalu penting: ditafsir, dibahas, diulek; sebab hakekatnya adalah KASIH. Pertanyaan ujungnya: sudahkah saya dan kita mengasihi Allah dan sesama dengan maksimal dan terbaik?

Dalam ayat 9 disebut: perbuatan berzinah, membunuh, mencuri, mengingini dan bahkan firman lain manapun juga, semua sudah tersimpul: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Di ayat 10 lebih jelas: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” Kasih di dalam bahasa Indonesia berarti BERI. Kasih artinya memberi. Memberi artinya berkorban, tidak menuntut bagian dan kepentingan kita semata.

Hukum Taurat adalah ekspresi Allah dalam bentuk perintah positip dan perintah larangan/negative (band. Kej 2:17; 1Kor 13:4-6). Perjanjian baru mengatakan Allah adalah kasih (1Yoh 4:8). Kehidupan Kristiani harus mengikuti hukum kasih yang melampaui hukum moral, adat dan negara. Tuhan Yesus menetapkan kasih dan tidak meninggalkan celah kelemahan dalam hukum kasih itu. Saat kasih dibutuhkan, kita harus bisa melewati persyaratan hukum- legalistik dunia dan meniru kasih Allah (band. Yak 2:8,9; 4:11; 1Pet 2:16,17). Tujuan hukum hanya dua, yakni: ketertiban dan keadilan. Oleh karena hukum Allah hakekatnya adalah kasih, maka hukum Taurat pada dasarnya untuk tujuan ketertiban/keberaturan dan keadilan yang berdasarkan kasih.

Rasul Paulus memahami kehidupan di dunia melawan kegelapan bukanlah hal yang mudah. Keinginan tubuh dan daging dan kemampuan iblis menggoda membuat setiap manusia mudah terjerat. Surat Efesus menuliskan, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” Senjata terang, senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah…. (2Kor 10:3-4; band. Gal 3:27). Itu adalah firman Allah. Bacalah renungan pagi, bertekun dalam segala doa dan permohonan (Ef 6:11-17).

Poin lainnya, pemakaian senjata terang itu hanya efektip bekerja apabila kita meninggalkan perbuatan kegelapan. Ada roh pertobatan dan kerinduan kembali ke jalan Tuhan. Waktu sudah sangat sempit, jangan terlena dan terlelap. Bangun dan sigaplah. Ini seperti Doa Bapa Kami: “datanglah kerajaan-Mu”. Oleh karenanya diingatkan melalui firmanNya, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh 3:18). Maka, wujudkanlah kasih (Yoh 13:34; Kol 3:14) dan itu sudah menjalankan hukum Taurat. Berilah, berkorbanlah, dan bukan (hanya) minta, dan meminta. Selamat beribadah Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS – Gaja Toba

KABAR DARI BUKIT (Edisi 3 September 2017)

Hidup Dalam Kasih

Saya suka negor hingga marah pada orang yang merokok di ruangan ber-AC. Kepedulian kita adalah wujud kasih termasuk pada mereka yang lemah imannya. Kasih itu mahkota karunia rohani dan merupakan landasan kedua gereja setelah batu penjuru Yesus Kristus.

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm 12:9-21 mengajar kita agar hidup dalam kasih. Pertama, ditekankan, kasih jangan berpura-pura. Alasan takut, menjaga citra diri, tapi membiarkan orang lain berdosa, itu kasih yang pura-pura. Mendapat manfaat tapi tidak berbagi berkat, itu kasih yang berpura-pura. Allah meminta kita mengasihi dengan tulus dan nyata, memberi perhatian serius, usaha, waktu, hati, bahkan materi, dan bagi orang lain berarti (1Tes 4:9; Ibr 13:1; 1Pet 1:22). Kasih adalah sebuah sikap. Terlibat. Kita tidak perlu bicara perkara yang tinggi, menikmati diskusi teori panjang lebar, pollung. Tapi arahkan diri pada perkara-perkara sederhana konkrit bagi mereka orang-orang kecil (Mat 25:40; Yoh 13:34-35).

Mewujudkan kasih bagi orang lain adalah pelayanan. Semua dilakukan dengan roh yang menyala-nyala, tidak malas, atau fokus pada diri sendiri. Bila semangat dan kerajinan kendor, itu karena tidak memahami arti dan tujuan yang dilakukannya. Perlu ritme yang konstan. Antusias, semangat, yang hanya ada ketika kita melakukannya bersama dengan Tuhan, yakni roh kita bersinergi dengan Roh Tuhan. Enthuastic, entheos= di dalam Tuhan. Itu poin keduanya.

Poin ketiga nas minggu ini mengingatkan kita agar berusaha membantu hamba-hamba Tuhan dan penginjil (disebut orang-orang kudus). Itu bisa diwujudkan dengan memberi tumpangan (band. 1Tim 3:2; 5:10; Ibr 13:2) atau kebutuhan hidup mereka. Jangan beralasan hanya memberi kepada gereja kita tempat beribadah, tetapi bagikan juga untuk misi dan diakonia. Pengertian Gal 6:6 sering ditafsir sempit, membatasi. Kita ada untuk orang lain, bersaksi, itu prinsip Kristiani. Sudah hukum rohani, kalau sukacita dibagikan maka sukacitanya akan bertambah; dan apabila kesusahan dibagikan, maka kesusahannya juga berkurang. Bila orang lain menangis karena penderitaan, kita ikut menangis sebagai jalan mengurangi beban yang kita kasihi (Ayb 30:25; Yes 5:21; Yer 45:5). Maka, teruslah berbagi, dan rasakan hidup yang penuh makna. Lihat sekeliling, di kampung (halaman), dan lainnya, pasti ada yang membutuhkan. Cari orang yang tepat untuk dikasihi secara pribadi, dan ajaklah teman-teman lainnya.

Tidak ada jaminan ketika kita berbuat baik semua akan datang yang baik. Kadang timbul persaingan irihati atau sakit hati karena salah faham. Tidak perlu kecil hati, atau marah berkepanjangan. Mereka yang terus mau sakit hati, biarkan dihukum oleh rasa sakitnya. Nas minggu ini menekankan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Pepatah di nas, “menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Ini terkait kebiasaan orang Mesir di zaman itu, yakni bila seseorang menunjukkan penyesalan dan pertobatan, maka ia akan membawa panci di kepalanya berisi arang yang menyala dan berjalan di hadapan umum. Melalui peribahasa ini, Rasul Paulus ingin mengatakan kita harus memperlakukan musuh dengan cara-cara yang baik. Untuk menghukum, biarlah Tuhan yang melakukannya, itu hak-Nya (Rm 12:19; band. Ams 20:22; Ibr 10:30). Cara terbaik untuk menyingkirkan musuh adalah dengan membuat mereka sebagai teman. Kita selalu memiliki prinsip: musuh satu orang terlalu banyak dan teman seribu orang terlalu sedikit. Hiduplah dalam kasih. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!