Mati atau Berbuah
Prinsip hidup: ketika Tuhan memberi kehidupan, maka kita harus mengisinya dengan memberi buah. Tidak ada alasan untuk berkelit, pesimis, berleha-leha, atau menunda seolah-olah belum waktunya melayaniNya. Setiap orang lahir ke dunia bukan untuk dirinya sendiri.
Firman Tuhan di Minggu XVI setelah pentakosta ini, Flp 1:21-30, berbicara tentang Hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan. Kadang ada joke, semua orang ingin ke sorga, tetapi yang mau duluan, pasti tidak ada. Tetapi Rasul Paulus melihatnya berbeda. Keyakinan imannya ia ingin bersama Kristus dan itu jelas lebih baik. Tetapi tinggal di dunia tentu ada maksud Tuhan, yakni menjadi berkat: membuat orang lain lebih baik dan bersukacita. Baginya, itu jalan membuktikan Kristus hidup!!
Rasul Paulus ketika menulis surat ini sedang di penjara Filipi. Ia tidak mengetahui situasi pasti masa depannya. Gambaran di dalam benaknya: ia dibebaskan; atau dihukum mati. Akan tetapi dalam menanti keputusan itu, ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Kristus bekerja dalam hidupnya untuk kebaikannya. Hidup baginya bukan lagi semata-mata kekosongan, tanpa arah dan makna. Ia selalu berjalan dengan iman, bukan dengan pikiran.
Ini teladan dari Rasul Paulus. Perlu ada dorongan dan pengharapan hidup agar kita berbuah bagi orang lain. Dengan itu, kita akan memiliki semangat dan roh yang kuat untuk menjalani hidup dengan optimisme. Semua ini akan lebih dahsyat ketika Roh Allah ikut bekerja di dalam hati kita. Kisah seorang ayah atau ibu yang berjuang keras bahkan hidup mati demi anak-anaknya, merupakan kisah yang sering kita dengar dalam kehidupan ini.
Kedewasaan dan cara melihat tantangan, perjuangan dan bahkan penderitaan, itu sangat terkait dengan iman, yakni iman yang bertumbuh semakin besar berupa ketergantungan dan penyerahan hidup dalam tangan pimpinan Tuhan.
Musuh bersama kita saat ini adalah masih banyaknya kemiskinan dan perlunya penginjilan ke berbagai wilayah. Injil menekankan pentingnya saling mendukung dalam persekutuan orang percaya. Rasul Paulus mendorong untuk bersatu, berdiri kokoh dalam satu Roh, dan berjuang sebagai satu kesatuan untuk membangun iman bersama (band. Ef 4:1-3). Prinsip bersatu teguh dan bercerai runtuh, serta bergabung seperti sapu lidi tetap berlaku dalam membangun kekuatan iman. Allah bekerja di dalam kesatuan hati dan bukan di dalam perpecahan. Sungguh sangat menyedihkan apabila melihat begitu besar energi dan potensi yang terbuang sia-sia apabila orang percaya hanya penonton atau tidak saling mendukung melawan musuh bersama yang nyata itu.
Kini, kita yang percaya kepada Allah dan sorga, kehidupan ini jangan lepas mengalir tanpa arah dan komando; hidup harus diisi menjadi berkat, berbuah bagi orang lain. Kini pertanyaannya: Apakah itu yang menjadi prinsip hidupmu? Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.
Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS.