KABAR DARI BUKIT (Edisi 26 Nopember 2017)

Kristus Raja

Itulah nama Minggu ini, minggu terakhir dalam kalender gerejawi, sebelum masuk ke minggu-minggu adven. Gambaran akhir dunia telah diberikan beberapa kali minggu lalu, sampai nanti pada minggu adven kedua, kemudian masuk ke tema pengharapan perayaan natal.

Firman Tuhan hari Minggu ini Ef 1:15-23 berbicara tentang kekuasaan dan kemuliaan Kristus. Rasul Paulus yang tinggal tiga tahun di Efesus, sangat bersukacita mendengar kabar tentang pertumbuhan iman jemaat disana. Meski Paulus berada di penjara, mendengar kabar itu, hatinya penuh sukacita. Jemaat Efesus memperlihatkan semangat memberi semakin besar, sebagai buah kasih nyata pertumbuhan iman (band. Kol 1:4). Ini bentuk dukungan bagi pelayanan orang percaya saat itu.

Bisa begitu kuncinya adalah pengenalan akan Kristus; bukan sekedar pengetahuan. Untuk mengenal, maka dibutuhkan waktu membaca firmanNya, mendalami kisahNya, karya-karyaNya, berinteraksi dan taat kepadaNya (band. Ef 3:16), dan terutama berjalan dalam kehidupan bersama PribadiNya. Itulah doa syafaat pertama Rasul Paulus bagi jemaat Efesus.

Doa keduanya, yakni agar mereka mengenal panggilan Allah. Untuk itu ia meminta agar Tuhan membuka mata hati mereka (yakni pusat pengolahan perasaan batin, pikiran, dan kemauan) melihat pengharapan dengan terang. Mata hati yang gelap tidak akan mampu melihat karya Allah bagi dunia ini, dan bagi setiap insan manusia melalui sejarah dan kehadiran Tuhan Yesus (2Kor 4:6; Ibr 6:4).

Doa ketiga Rasul Paulus, agar jemaat mengenal kekayaan Allah yakni hikmat dan janji yang indah akan kemuliaan dan kekekalan yang ditentukan-Nya pada akhir zaman bagi orang percaya (Flp 1:9; Kol 1:9-10). Dan doa terakhir untuk jemaat Efesus adalah: agar mereka mengenal kuasa Allah. Kuasa Allah yang tidak terbatas, meliputi pengendalian alam raya semesta dan kuasa ini juga yang membangkitkan Yesus dari kematian; kuasa kebangkitan-Nya itu juga akan diberikan kepada kita sebagai ahli waris-Nya.

Puncak segalanya dalam nas ini adalah berita Yesus telah duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ini metafora “Kepercayaan” atau “Wakil”, yang sekaligus ungkapan kemuliaan dan penghormatan. Dengan Kristus sebagai Raja segala raja, maka semua yang mengaku kuasa dan pemerintahan, kelak akan tunduk bertekuk lutut di bawah kuasaNya (Mat 22:44; 1Kor 15:25-27; Ibr 2:8). Yesus adalah Mesias. Yang Diurapi. Dia adalah Allah yang ditunggu umat percaya membangun kembali dunia ini sehingga penuh damai sejahtera. Itu hanya dapat terjadi, jika gereja, dan kita semua, menempatkan Kristus adalah Raja Segala Raja dalam hidup kita, dan buah imanNya dalam wujud memberi dan kerelaan berkorban. Maranata. Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum Perkumpulan Gaja Toba, Alumni ITB Batak Peduli Toba.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 19 Nopember 2017)

Berjaga-jaga

“We are not human beings having spiritual experience; we are spiritual beings having human experience.” (Teilhard de Chardin, filsuf Perancis). Orang Kristen adalah manusia rohani yang hidup dalam pengalaman duniawi.

Firman Tuhan hari Minggu ini 1Tes 5:1-11 berbicara tentang berjaga-jaga untuk hari Tuhan. Usaha menentukan tanggal pasti kembalinya Kristus adalah sesuatu yang bodoh dan sia-sia. Hari dan masanya milik dan rahasia Tuhan (Mat 24:36; Kis 1:7; 17:26). Metafora seperti pencuri pada malam hari jelas memperlihatkan kedatanganNya tidak terduga. AyatNya, “seperti seorang perempuan yang hamil sakit bersalin”, gambaran kejadiannya pasti, dan tidak terhindarkan oleh semua manusia (Yes 13:8; Yer 4:31).

Hari Tuhan adalah hari yang dramatis, saat Yesus Kristus datang dengan peran Hakim dan Raja. Inilah hari penghakiman, ketika semua orang dipisahkan untuk menerima hukuman atas dosa-dosa dan yang menerima kemuliaan atas iman dan perbuatannya (Yes 13:6-12; Yoel 1:15; 2:1; Zep 1:14-18). KedatanganNya kembali sekaligus mengakhiri perjalanan bumi sekarang ini untuk membangun langit baru dan bumi baru seturut dengan kerajaan-Nya yang baru yang penuh damai sejahtera.

Kita yang percaya Tuhan Yesus adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Jangan lengah. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan yang tidak menyadari posisi diri dan sekitar. Malam hari adalah metafora saat kita digoda untuk tidur atau mabuk sebagaimana kebiasaan orang lain yang tidak mengenal Allah, tidak tahu kemana arah tujuan hidupnya.

Dunia ini bagaimanapun adalah tempat peperangan rohani antara kuasa Allah dengan kuasa jahat. Tetapi kita tidak boleh melawannya sendirian, sebab roh kita tidak cukup mampu melawan godaan kuasa jahat. Diperlukan senjata-senjata rohani dari Allah untuk siap siaga berperang mengalahkan musuh. Sadar berjaga-jaga dengan berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan (band. Yes 59:17; 2Kor 6:7; 10:4; Ef. 6:13).

Berjaga-jaga, waspada, dan terus berkarya sampai tiba saatnya melihat kembalinya Sang Juruselamat. Nas minggu ini menekankan kita agar saling menasihati. Kita anak-anak siang berarti saatnya untuk bekerja, sebab pekerjaan dan tuaian masih banyak. Kemiskinan, serangan tetangga, intoleransi, dan lainnya mengajak kita menjadi penuai-penuai ladang pelayanan sosial dan penginjilan yang semakin meluas. Bangkit bagi Yesus, jadilah pahlawan salibNya. Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum Perkumpulan Gaja Toba, Alumni ITB Batak Peduli Toba.

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA Bulan Oktober – Nopember 2017

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA
Bulan Oktober – Nopember 2017

PROGRAM-PROGRAM BERJALAN

1. Seminar Motivasi untuk 2.000 siswa di Kabanjahe dan Panguruan dari 9 kabupaten serta Pemberian Bantuan 240 unit Komputer, peralatan Internet dan proyektor – Tahap 3 pada tanggal 27-28 Oktober 2017 untuk 60 SMA;

2. Bimbingan Belajar Gratis untuk 240 siswa kelas 3 SMA untuk masuk Universitas unggul di 4 kota Kabupaten (Lintong Nihuta, Salak, Sumbul dan Simanindo) Gaja Toba bekerjasama dengan Ganesha Operation;

3. Bantuan 33 bh komputer kepada sekolah2/komunitas terdampak debu Sinabung dan lembaga2 sosial di naungan Keuskupan Agung Medan di Samosir;

4. Sosialisasi kpd 200 tokoh masyarakat ttg Pemberdayaan Masyarakat Melalui Tanaman Kaliandra, kerjasama PGTS dgn Keuskupan Agung Medan;

5. Pemberian beasiswa bagi mahasiswa di empat universitas terbaik termasuk ITB dan UI bagi siswa yg berasal dari SMA di Kawasan Toba;

6. Pembibitan dan penanaman Tanaman Produktif Kaliandra, tahap II seluas 100 Ha di Kab. Samosir, bekerjasama dgn Keuskupan Agung Medan (KAM). Sudah ditanam seluas 15 Ha dan telah diberikan 40 ekor kambing, dan juga rencana pemberian kotak stup untuk peternakan lebah. Info lengkap www.kaliandra.gajatoba.org.

7. Pembibitan nilam di kabupaten Pakpak dan Dairi, bekerjasama dengan Sinode Gereja Pakpak dan Givaudan Switzerland;

8. FGD Pengembangan Desa Eko Wisata di KDT – Pilot Project Kawasan Pedesaan Parbaba Samosir.

9. Pembangunan Patung Yesus Memberkati KDT – Tahap sayembara selesai dan saat ini tahap persiapan pembangunan;

10. Pengelolaan website pariwisata www.amazingtoba.com;

11. Gaja Toba Runners mengikuti FTMD ITB Marathon Jakarta – Bandung 170 Km tgl 15-16 Oktober yg lalu.

PROGRAM DALAM PERSIAPAN:

1. Persiapan pelaksanaan try-out siswa seluruh SMA di KDT untuk menuntun siswa dalam memilih pendidikan tinggi berdasarkan nilai passing grade,

2. Persiapan pelatihan dan Sertifikasi Mandor Bangunan se Kawasan Danau Toba;

3. Rencana studi banding bekerja sama dengan media ke beberapa kabupaten unggul di Indonesia;

4. ‎Program listrik masuk dusun dan gubuk pintar;

5. Seminar Ketahanan Budaya di KDT;

6. Persiapan Toba Charity Marathon 2018 di Jakarta;

7. Studi optimalisasi angkutan danau untuk menunjang parawisata;

8. Studi hidrogeologi untuk menunjang penyediaan air tanah untuk pengairan Tahap II seluas 400 Km2 di Kabupaten Samosir;

Laporan Keuangan bulan Oktober 2017 dpt dilihat di website kita www.gajatoba.org.

Terima kasih untuk semua dukungannya. Semoga pelayanan kita berkenan kepadaNya. Amin.

Jakarta 14 Nopember 2017.

BPH PGTS
Ramles M Silalahi – Ketum
Hot Asi Simamora – Sekum

KABAR DARI BUKIT (Edisi 12 Nopember 2017)

Kristus Kembali

Eskatologi adalah ilmu yang sangat dalam dan luas dan tetap dibatasi oleh kemampuan manusia untuk memikirkan hal yang belum pernah dialami oleh siapapun. Memang ada kesaksian tentang “mati suri” dan kisah dibawa ke sorga, namun itu kita jadikan sebagai kekayaan rohani saja.

Firman Tuhan hari Minggu ini 1Tes 4:13-18 berbicara tentang akhir zaman, yakni Kedatangan Kristus Kedua Kali (K4). Kepercayaan jemaat saat itu, Kristus akan segera kembali. Lantas jemaat Tesalonika bertanya-tanya: bagaimana dengan yang mati duluan? Apakah mereka ikut dibawa ke sorga saat Kristus datang kembali?

Tubuh kita ketika mati kembali ke tanah: yang dari tanah kembali ke tanah, dan daging tidak ada artinya dalam Kerajaan Allah (Kej 2:7; 1Kor 15:50). Ini berbeda dengan roh manusia yang asalnya adalah hembusan nafas Allah, maka roh akan kembali kepada Allah (Pkh 12:7b). Dari tanah kembali ke tanah, dan dari Allah kembali kepada Allah. Logis, wajar. Nah, kalau kembali ke Allah, bagaimana status dan kondisi roh manusia itu nantinya? Pertanyaan lanjutannya: ketika kembali kepada Allah, apakah roh manusia tersebut dalam keadaan “sadar” dan tetap sebagai jiwa yang memahami sekelilingnya?

Alkitab tidak memberi jawaban yang hitam putih soal ini, hanya ada dua kemungkinan besar: tidur, sesuai dengan istilah yang juga dipakai Alkitab, atau sadar dan hidup dalam pengertian hidup bersama-sama dengan Allah. Kedua kemungkinan ini ada ayat pendukungnya, sehingga lebih baik itu tetap menjadi misteri bagi kita (bandingkan yang sadar pada Luk 16:19-31; Why 14:13 dan yang tertidur pada Mat 9:24; Ef 2:12; Yoh 11:11; Mzm 146:4; Pkh 9:5-6); Yes 38:18). Tentu, yang kembali ke Allah hanya bagi kita yang sudah diselamatkan.

Dalam nas minggu ini diberikan lima tanda akan kedatangan Kristus: (1). Akan tampak dengan kasat mata dan terdengar di telinga; (2). Akan ada seruan yang keras dari penghulu malaikat Mihkael (Yud 9), yakni malaikat tertinggi atau terkudus di antara semua malaikat. (3). Akan ada bunyi sangkakala sebagaimana penampakan Allah di PL (band. Kel 13:22; 19:16; Mat 24:30 dab; 2Tes 1:8 dab). Peristiwa ini jelas menggambarkan kemegahan dan keagungan Tuhan Yesus ketika Ia turun dari sorga. (4). Orang yang percaya kepada Kristus akan bangkit dari kubur. (5). Orang percaya yang masih hidup tubuh mereka akan diubah dan akan diangkat ke awan menyambut Kristus.

Gambaran terakhir ini menarik. Kitab Mrk 13:26 berkata, “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” Jadi semua manusia yang masih hidup dan percaya akan diangkat ke awan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus (band. Why 1:7; 11:12).
Kedatangan Tuhan Yesus di angkasa mungkin ada hubungannya dengan dunia yang telah menjadi tempat tinggal berkuasanya roh-roh jahat (Ef 2:2; 6:12), sehingga kuasa-kuasa tersebut perlu dikalahkan sebelum Tuhan Yesus kembali memerintah di bumi yang baru dengan penuh damai sejahtera. Peristiwa inilah sering disebut sebagai Keangkatan Gereja, yakni ketika semua orang percaya yang menjadi warga gereja ikut dalam peristiwa sukacita yang menjadi puncak pengharapan orang percaya. Peristiwa keangkatan gereja ini memang masih menjadi perbedaan pendapat, sebab sebagian mengatakan ini adalah metafora, dan sebagian lagi mengatakan hal itu merupakan hal nyata nantinya.

Iman adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dikuatkan sehingga ketika datang ujian yang menciutkan, iman itu tidak menjadi kecil dan lemah. Bagi kita orang percaya, dengan iman bahwa Kristus telah mati dan bangkit untuk menjadi Tuhan orang hidup dan yang mati (Rm 4:9), maka hal yang utama adalah bahwa ketika kematian datang dan juga Kristus datang kedua kali, kita hidup bersama-sama dengan Allah dan itu merupakan sukacita yang luar biasa (band.1Tes 5:10; 2Tes 2:1). Tidak ada hal di dunia ini yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Yang penting, kita selalu sadar dan waspada serta penuh pengharapan, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat 16:27). Maka tetaplah berkarya dalam iman teguh. Itulah yang diharapkan dari kita semua. Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum Perkumpulan Gaja Toba, Alumni ITB Batak Peduli Toba.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 5 Nopember 2017)

Bekerja dan Melayani

Alangkah sedihnya hidup ini jika kita hanya berpikir untuk diri sendiri. Perut yang sejengkal dan beberapa lembar baju jangan membuat kita melupakan Amanat AgungNya.

Firman Tuhan hari Minggu ini 1Tes 2:9-13 berbicara tentang hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Rasul Paulus menyatakan hidup ini harus diisi dengan bekerja keras (ayat 9b). Tidak ada alasan untuk menuntut hak eksklusif dilayani apalagi menjadi beban orang lain. Ia membuktikannya dengan membuat tenda (Kis 18:3), tidak seperti guru-guru filsafat saat itu yang berharap bayaran dari para pendengarnya (band. Gal 6:6; 1Kor 9:13-14; 2Kor 11:9).

Melayani secara teologis berarti memberitakan keselamatan dan kabar baik dari Yesus. Kita tidak perlu membatasi gambaran menginjili itu harus berkhotbah atau bersaksi dengan ayat-ayat. Perbuatan kasih dalam nama Tuhan Yesus hakekatnya adalah penyiaran Injil. Kita juga tidak terlalu perlu menuntut bahwa pekabaran harus disertai kuasa-kuasa mujizat hebat (Mat 10:1–4; Mrk 16:20; Luk 9:1–6). Sebuah karya nyata bisa menjadi mujizat (kecil) dalam kehidupan orang lain.

Rasul Paulus memberi gambaran pelayanan itu seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya dengan kelemahlembutan. Ia juga mengibaratkan peran gembala seperti bapak yang mengasihi dan peduli terhadap anak-anaknya dengan memberikan nasihat dan latihan serta kedisiplinan (1Kor 4:14, 20). Gambaran ini memang pengaruh dari budaya patrialkal Yahudi, yakni ayah bertugas menasihati dan ibu bertugas untuk merawat.

Bagian ketiga nas ini meminta kita yang dipanggil agar hidup sesuai dengan kehendak Allah (ayat 10, 12). Hal biasa bagi jemaat Tesalonika saat itu melihat pemujaan dewa Aphrodit (dewa lambang kesenangan dan hawa nafsu). Latar belakang masalah moralitas dan sex ini disampaikan, agar orang Tesalonika khususnya mereka yang bukan Yahudi yang masih ikut terlibat ritual dewa tersebut menjadi bertobat (band. 4:5). Menjaga hidup agar tetap tidak bercacat itu sangat penting. Toleransi terhadap dosa harus nol.

Firman Allah yang disampaikan (dengar, baca dan rasakan) bukanlah karya manusia berupa informasi atau teks pidato, melainkan wahyu sumber kebenaran Ilahi yang pasti dan teruji (1Kor 11:23; 15:1, 3). Firman ini telah mengubah hati dan kehidupan sebagian besar manusia di bumi ini dan terus bertambah setiap hari. Selama 2000 tahun sejak Yesus mengucapkannya, semua terbukti tak tergoyahkan. Firman bekerja dalam hati manusia dengan dua cara dua: Pertama, melalui kesadaran sendiri ketika firman itu didengar atau dibaca, kemudian direnungkan dan menghasilkan respon sambutan (Rm 10:10, 17; 1Te 1:6). Sambutan dapat atas kemauan manusia itu sendiri, tetapi juga ada kedaulatan Allah bekerja melalui firman yang membuat manusia tunduk dan patuh atas kehendak-Nya (band. Luk 11:28; Rm 1:16; 1Ptr 1:23).

Dengan firman itu, kuasa Allah bekerja seperti tertulis: “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Flp 4:9). Haleluya. Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum Perkumpulan Gaja Toba, Alumni ITB Batak Peduli Toba.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 29 Oktober 2017)

Hakikat Pelayanan

Tiada perjalanan jauh dan panjang yang tidak dimulai dengan langkah pertama. Semua memiliki tahapan, seperti bersekolah harus SD sebelum sampai ke puncak S3. Melangkah masuk ke dalam pelayanan juga demikian, dan itu akan mendorong kita untuk terus memberikan yang terbaik. Haleluya.

Firman Tuhan hari Minggu ini 1Tes 2:1-8 memberi kita pesan bahwa pemberitaan firman atau perbuatan kasih tidak akan pernah gagal atau sia-sia. Untuk itu diminta agar setiap pelayanan haruslah dengan keyakinan yang teguh, keberanian yang didasarkan pada semangat untuk belajar dan melayani lebih baik, serta terutama motivasi yang benar. Pelayanan bukan melihat kebesaran dan hebatnya hal yang dilakukan, melainkan didasari kesadaran bahwa Tuhan telah memberikan yang lebih banyak kepada kita sebelumnya; niscaya itu amat berharga di hadapan Tuhan.

Dalam iman, apabila Tuhan menginginkan kita untuk mengabarkan Injil dan berbagi kasih, meski kita tahu akan ada tantangan dan rintangan yang muncul, maka Ia akan memberi kita kekuatan dan keteguhan (band. Yer 1:6-9; Flp 1:30). Keteguhan tidak diartikan sebagai respon impulsif yang semberono, melainkan keberanian untuk menekan ketakutan dan melakukan yang terbaik dan benar.

Acara pelayanan Gaja Toba di Kabupaten Karo dan Samosir dua hari kemarin meneguhkan. Ada 1800 siswa SMA kelas 3 diberi motivasi untuk berani meraih cita-citanya, disertai pemberian 240 buah komputer untuk 60 SMA (ditambah 29 buah untuk lembaga sosial dan gereja). Kita pun punya keyakinan, setiap pelayanan organisasi atau kumpulan orang percaya yang tulus, maka Tuhan akan menolong membuatnya berhasil.

Kita semua tidak layak melayani, tetapi Tuhan memampukan, sepanjang ada tekad kuat dan keinginan untuk belajar. Seorang pegiat sosial bercerita tentang bagaimana mengajak seorang eksekutif perusahaan besar untuk terlibat, respon awalnya negatif. Eksekutif yang lain, awalnya enggan mendengar penjelasan. Ogahan. Namun berkat kesabaran, kelemahlembutan dan keteguhan, pintu dibukakan dan semua menjadi dahsyat penuh sukacita.

Nas minggu ini menekankan pelayanan jangan lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni berisi tipu daya. Kita bukan untuk menyukakan manusia, melainkan menyukakan Allah yang menguji hati kita. Tidak perlu bermulut manis apalagi ada maksud mengambil loba yang tersembunyi (ayat 3-5). Kelayakan kita membutuhkan ujian sebagaimana Rasul Paulus mengalaminya. Ujian bisa datang dari diri sendiri atau godaan iblis; namun Allah tidak pernah mencobai manusia (Yak 1:13). Maka ketika kita ingin melayani, arahkan semua kepada Tuhan Yesus, bukan pada diri sendiri untuk mendapatkan hormat dan pujian atau menyombongkan diri (Yoh 5:41, 44).

Pelayanan kasih (dan Injil) tidak cukup dengan kata-kata, melainkan harus berisi dengan aksi nyata. Rasul Paulus memperlihatkan teladan, perlunya setiap orang untuk berkorban dengan membagi hidup dengan orang lain, memberi perhatian dan berbagi waktu dan kepedulian, seperti seorang ibu merawat anaknya, sambil terus belajar. Ia juga tidak membanggakan diri atas hal yang dilakukannya, melainkan meletakkannya semua bagi kemuliaan Tuhan. Ayo kita semua, ayunkan langkah, tuaian banyak, dan teruslah melayani. Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 22 Oktober 2017)

Dipilih Allah

Ketika kita mengaku bahwa iman adalah anugerah dan bukan buah dari pikiran, maka sebenarnya otomatis kita mengaku sebagai yang dipilih Allah. Ketika kemudian firmanNya semakin kita dengarkan, renungkan dan wujudkan, maka iman kita semakin bertumbuh dan berbuah dalam pelayanan kasih.

Firman Tuhan hari Minggu ini, 1Tes 1:1-10 berbicara tentang buah pemberitaan Injil. Asas Iman, pengharapan dan kasih (1Kor 13:13) yang sering kita dengar dan identik dengan hikmat kebajikan Kristiani, dalam nas ini diperluas menjadi lebih hidup dengan kerja tanggungjawab. Kini ketiganya bukan semata-mata kata-kata, tetapi sebuah upaya nyata: pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan. Artinya, iman tidak benda mati, tetapi sebuah kerja yang harus diaplikasikan, meskipun dalam keadaan sulit, sebagaimana yang jemaat Tesalonika hadapi (2Tes 1:11; Yak 2:14)

Kasih juga sebuah usaha langkah konkrit, sebuah karya, dan bukan sekedar pemanis bibir. Kasih dalam arti memberi (materil dan non materil) tentu akan semakin menyenangkan hati Tuhan, ketika besar pengorbanan di dalamnya. Semakin kita banyak memberi dan berkorban untuk mengasihi, itu bukti kasih lebih besar.

Pengharapan jemaat adalah ketekunan berserah kepada Tuhan Yesus Kristus (band. Rm 5:2-5). Tidak perlu berdebat tentang wujud kedatangan Kristus kedua kali (K4). Yang utama, semua orang percaya wajib memberi respon terhadap Injil dan keselamatan yang diterimanya, sebagaimana jemaat Tesalonika perlihatkan: kembali kepada Allah dan melayaniNya. Sungguh jemaat yang layak diteladani.

Rasul Paulus mengatakan jemaat Tesalonika adalah pilihan Allah (ayat 4). Pilihan Allah berarti dikasihi Allah (Ef. 1:4). Pilihan Allah sekaligus memberi tantangan untuk menjalani kehidupan ini semakin berharga bagi diri kita sendiri dan bagi-Nya. Memang sulit memahami bagaimana kedua kebenaran ini berjalan bersamaan, yakni hubungan kedaulatan Allah dalam memilih, dengan tanggungjawab untuk mengikut Dia. Tetapi kita dapat melihat hubungan kausal: Menjadi umat terpilih datang dari hati Allah (dan bukan dari pikiran kita), anugerah yang disyukuri untuk menjalankan misi-Nya; di sisi lain,tanggungjawab rohani dan kemanusiaan kita, untuk terus aktif bersaksi Yesus sebagai Tuhan, fokus dalam kehidupan bertujuan menyenangkan hati-Nya.

Inilah yang diminta dari kita orang percaya, buah Injil yakni menjadi teladan bagi semua orang, sebagai bukti kita dipilih Allah, sehingga melalui kehidupan kita, nama Tuhan Yesus ditinggikan. Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS – Gaja Toba, Alumni Kristen Batak peduli Toba

KABAR DARI BUKIT (Edisi 15 Oktober 2017)

Bersukacitalah

Ketika mendengar ayat itu dibacakan sebagai ayat sidi saya, tahun 1971, rasanya sungguh senang: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Haleluya.

Firman Tuhan hari Minggu ini Flp 4:4:1-9 merupakan nasihat-nasihat bagi jemaat di Filipi. Ada empat nasihat penting: tetaplah berdiri teguh di dalam Tuhan, sehati sepikirlah, bersukacitalah, dan naikkan segala kekuatiran di dalam doa.

Kehidupan kita sehari-hari memang sering digoda oleh hal-hal yang menghilangkan sukacita. Padahal, perbedaan atau hasrat yang belum tiba, itu alamiah. Kadang, hasil atau jalan keluar tidak seketika. Maka tetaplah berdiri teguh di dalam Tuhan. Sehati sepikir itu sebuah proses, dan akan lebih mudah dengan mencari kesamaan tujuan. Buang egoisme; ingat kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus. Jangan perbedaan merenggut sukacita.

Sukacita bisa lahir bahkan ditengah penderitaan. Rasul Paulus menulis nas ini saat di penjara. Ini memberikan pelajaran penting: sikap di dalam hati, seharusnya bukanlah merupakan refleksi keadaan di luar tubuh. Teguh. Kebahagiaan bukan datang dari hal peristiwa tertentu, tetapi sikap dari dalam hati, yakni hati yang selalu dipenuhi Roh Yesus. Kunci sukacita yang diberikan nas ini gampang: lakukanlah hal yang baik. Nyatakan.

Kejengkelan hati, atau kehilangan semangat dari situasi yang tidak menyenangkan, tutup atau selesaikan dengan sabar dan kasih. Fokuslah menilai mana yang utama dalam hidup ini. Buanglah hal-hal yang tidak penting dan tidak serius untuk dipikirkan. Kekuatiran tidak menambah apapun juga. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya” (Mat 6:27; Luk 12:25). Ubah kekuatiran menjadi sebuah doa.

Pikiran kita pengikut Kristus sebaiknya terus diprogram dan diberi “makanan” hal-hal yang benar dan berguna, hal yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, dan semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Kumpulan “makanan pikiran” inilah yang membentuk pikiran positif kristiani.

Semua hal itu harus dipraktekkan. Tidak hanya ide di kepala, atau wacana semata. Perlu dilatih. Jangan mau terjebak dalam pertanyaan atau dikusi yang membuang enerji, apalagi tidak berdampak pada perubahan cara pandang dan sikap hidup. Carilah makna hidup melalui firman, dan berusahalah untuk dapat memahami dan membuatnya menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu hanya terjadi dengan disiplin dan ketaatan.

Jika saat ini masih ada kekuatiran, tidak bersukacita, maka pastinya ada yang salah dalam perspektif melihat kehidupan ini. Berubahlah. Pandanglah Yesus. Selamat beribadah hari Minggu, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi, Ketua Umum PGTS.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!