KABAR DARI BUKIT (Edisi 28 Januari 2018)

Membuat Takjub

Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya ” (Mrk 1:27).

Firman Tuhan sesuai leksionari hari Minggu ini, Mrk 1:21-28, berkisah tentang awal pelayanan Tuhan Yesus di Kapernaum, sesaat
setelah Ia menetapkan para murid. Yesus masuk ke rumah ibadat dan berkhotbah, suatu kesempatan yang bebas saat itu. Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Di tengah pengajaranNya, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” (ayat 22-25). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 21 Januari 2018)

Ikutlah Aku

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia” (Mrk 1:17-18).

Firman Tuhan di Minggu Epifani III hari ini, Mrk 1:14-20, masih tentang pemilihan murid-murid oleh Yesus. Nas minggu ini berkisah pemilihan Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes yang semuanya berlatar nelayan, penjala ikan. Para murid ini langsung taat ketika Yesus memintanya dan tidak memperlihatkan ada keengganan seperti Natanael minggu lalu (Yoh 1:43-51).

Menjadi murid sudah menjadi pilihan kita, sesuai dengan panggilanNya sejak dari kandungan dan pengakuan iman percaya. Sejak sekolah minggu kita mulai mengenal dan bertekun saat belajar katekisasi sidi. Kita terus bertumbuh dengan mendengar khotbah dan bacaan sekilas, dan mungkin hanya sedikit yang lanjut memperdalam Alkitab dengan -misalnya – sekolah teologi.

Tetapi untuk menjadi murid Yesus sejati, ada beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan sebagaimana dijalani empat murid dalam nas ini. Pertama, menyadari guru kita adalah Kristus sebagai pemegang kebenaran, dan tujuan kita adalah menjadi serupa dengan Dia. Jadi bukan untuk kehebatan diri. Kedua, kesadaran bahwa proses pemuridan berarti bersedia untuk terus diajar, ditempa, diubah dan diperbaharui untuk bertumbuh. Murid-murid Yesus mengalaminya. Proses ini tidak bisa hanya di dalam “kelas”, bacaan teori atau bermain logika pengertian. Ketiga, memahami proses pemuridan itu sangat panjang, tidak instan selesai, dan bisa seketika merasa ahli dan benar. Menjadi murid dan mengikut Dia perlu pembentukan diri melalui kehidupan nyata berupa pelayanan dengan segala ujian dan badai cobaan. Oleh karena itu dasarnya ditekankan: perlu ada pertobatan (ayat 15), yakni berupa penyangkalan diri.

Menjadi murid sejati Kristus dan mengikut Dia janganlah didasari pemuasan ego dan intelektual semata dengan menonjolkan logika dan kecerdasan analisis. Akibatnya, hasilnya hanya suka berdiskusi dan beropini serta penonjolan diri. Jangan juga hanya karena mengisi waktu (misalnya setelah pensiun), untuk mengenal lebih dekat dengan Dia, merasa perlu menelaah ayat-ayat dengan cara tafsir atau kajian bahasa saja. Ini jelas tidak berkenan bagiNya. Keinginan menjadi murid dan mengikut Dia haruslah bermotivasi melayani Dia dan inilah jalan yang sangat efektip sebagaimana empat murid dalam nas ini. Dengan melayaniNya, pengenalan dan pemahaman akan lebih sempurna. Menjadi murid hanya mengenal melalui ayat-ayat bagaikan sajian yang hambar tanpa garam; Bahkan, pengenalan cara ini malah sering membawa ke arah yang salah dan melenceng.

Oleh karena itu Yakobus mengatakan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak 1:22). Artinya, menjadi murid tanpa mengikut dan melayani Dia itu suatu tindakan menipu diri sendiri dan tidak sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.

Menjadi murid dan mengikut Dia yang sudah menyelamatkan kita, hanyalah dengan berbakti bagi Dia, dengan ikut memberitakan dan berkarya nyata melalui kasih sebagai bagian penjala manusia, sehingga semakin banyak orang yang diselamatkan. Pakailah waktumu, pikiran dan tenagamu, atau hartamu. Ikutlah Dia. Jadilah murid sejati, melayaniNya, bukan murid yang menipu diri sendiri. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi. Ketua Umum Gaja Toba dan Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GKSI.

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA Bulan Desember 2017

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA
Bulan Desember 2017

PROGRAM-PROGRAM BERJALAN

1. Melanjutkan penyusunan Information Memorandum Pemikiran Gaja Toba tentang Pengentasan Kemiskinan di KDT;

2. Bimbingan Belajar Gratis untuk 240 siswa kelas 3 SMA untuk masuk Universitas unggul di 4 kota Kabupaten (Lintong Nihuta, Salak, Sumbul dan Simanindo) Gaja Toba bekerjasama dengan Ganesha Operation;

3. Pemberian beasiswa bagi mahasiswa di empat universitas terbaik termasuk ITB dan UI bagi siswa yg berasal dari SMA di Kawasan Toba;

4. Persiapan pelaksanaan try-out siswa kelas XII di 100 SMA se-KDT di bln Jan/Feb 2018 mendapatkan nilai skor siswa untuk menuntun siswa dalam memilih jurusan dan perguruan tinggi, kerjasama dengan Ganesha Operation;

5. Persiapan pembibitan dan penanaman Tanaman Produktif Kaliandra, tahap II seluas 100 Ha di Kab. Samosir, bekerjasama dgn Keuskupan Agung Medan (KAM). Sudah ditanam seluas 15 Ha dan telah diberikan 40 ekor kambing, dan juga nanti kotak stup untuk peternakan lebah. Info lengkap www.kaliandra.gajatoba.org.

6. Budidaya nilam di kabupaten Pakpak dan Dairi, bekerjasama dengan Sinode Gereja Pakpak dan Givaudan Switzerland;

7. Pembangunan Patung Yesus Memberkati KDT – Tahap survey dan perencanaan kawasan;

8. ‎Persiapan Gaja Toba Run – Jakarta 2018 di Jakarta ‎bulan April 2018;

9. ‎Persiapan perayaan Natal dan Tahun Baru GAJA TOBA hari Sabtu 20 Januari 2018;

10. Pengelolaan website parawisata www.amazingtoba.com;

11. Pengembangan Desa Eko Wisata di KDT – Pilot Project Kawasan Pedesaan Parbaba Samosir.

12. Melanjutkan studi awal perencanan Embung/Waduk di Pulau Samosir untuk keperluan pertanian dan wisata;

PROGRAM DALAM PERSIAPAN:

1. Persiapan pelatihan dan Sertifikasi Mandor Bangunan se Kawasan Danau Toba;

2. Rencana studi banding bekerja sama dengan media ke beberapa kabupaten unggul di Indonesia;

3. ‎Program listrik masuk dusun dan gubuk pintar;

4. Seminar Ketahanan Budaya di KDT;

5. Studi optimalisasi angkutan danau untuk menunjang parawisata;

6. Studi hidrogeologi untuk menunjang penyediaan air tanah untuk pengairan Tahap II seluas 400 Km2 di Kabupaten Samosir;

Laporan Keuangan bulan Desember 2017 dapat dilihat  di website www.gajatoba.org.

Terima kasih untuk semua dukungannya. Semoga pelayanan kita berkenan kepadaNya. Amin.

Jakarta 15 Januari 2018.

BPH PGTS
Ramles M Silalahi – Ketum
Hot Asi Simamora – Sekum

KABAR DARI BUKIT (Edisi 14 Januari 2018)

Melihat Hal Besar

Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu” (ayat 50).

Firman Tuhan hari ini Minggu II setelah Epifani, Yoh 1:43-51, bercerita tentang pemilihan 12 murid-murid Yesus. Nas ini tentang pemilihan Filipus dan Natanael (= Bartolomeus). Yesus memilih murid-muridNya berdasar latar belakang yang beragam dan menjadi kesatuan mengemban misi Yesus ke dunia. Meski Yudas akhirnya jatuh, panggilan kepada Paulus menggenapi kembali 12 murid yang setia.

Sebagai orang percaya kita adalah yang dipanggil menjadi murid-muridNya. Terkadang ada keraguan dan bahkan perlawanan, sebagaimana Natanael yang berucap ketika dipanggil: “mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Nazaret adalah kampungnya Yesus?

Kita mayoritas mungkin menjadi Kristen karena keturunan, bukan “panggilan” langsung. Tetapi kita sudah dipilih dan ditenun sejak dari kandungan ibu menjadi seorang pengikut Kristus (Mzm 139:13; Gal 1:15). Ini membuat kita berharga karena Allah mengasihi kita. Allah mengasihi kita bukan karena kita berharga. Terbalik.

Sikap ragu, pasif, apalagi berprasangka, seperti Natanael, dapat membuat kita seperti penonton dalam gebyar kehidupan yang terus melesat. Pikiran negatif, apalagi merendahkan, membuat kita buta dan tidak dapat melihat hal-hal besar yang terjadi dalam karya roda kehidupan yang berjalan.

Dalam keseharian, kita adalah anggota sebuah komunitas, organisasi, gereja atau bentuk kumpulan lainnya. Yang jelas, misalnya, kita anggota grup WA ini. Pertanyaannya: adakah kita masih ragu dan hanya bertanya, apa yang baik dari group ini? Jika ada, sudahkah kita turut menjadi bagian dari karya kebaikan itu? Jika belum ikut, apa alasannya: ragu, merasa tidak mampu, atau ada prasangka? Maka, ini saatnya berubah. STOP. Tanyakan, mengapa aku ada disini dan apa rencana Tuhan bagiku? Kalau kita percaya, Tuhan akan memberikan hal-hal yang lebih besar, sehingga kita akan lebih percaya dan diberkati lagi.

Iman dan pengharapan kita yang teguh menekankan rencana Tuhan adalah indah bagi setiap orang. Maka ketika kita berada dalam sebuah situasi dan kondisi, dalam sebuah kumpulan, Tuhan pasti punya rencana. Jangan “lari” atau menjadi “kopeg”, bebal dengan berbagai alasan. Kita senantiasa harus siap untuk diubah dan dibentuk sesuai rencana dan kehendakNya. Mulailah dengan sesuatu yang kecil berbuat, sebab Tuhan melihat segalanya. Jika tetap tidak peduli, maka kita tidak akan melihat hal-hal yang lebih besar atas karya Allah, baik di sorga maupun di bumi. Bahkan juga, kita tidak akan melihat langit yang akan terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia (band. Yeh 1:1). Janganlah tidak peduli, yang bukan murid sejati, hanya jadi penonton. Malah akan terus dibutakan. Kita diciptakan dengan talenta dan karunia yang siap dikaryakan. Ikut dan lakukan sesuatu. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, amin.

( Pdt. Em. Ramles M. Silalahi. Ketua Umum Gaja Toba.)

KABAR DARI BUKIT (Edisi 7 Januari 2018)

Baptisan Roh dan Api

Epifani, atau epiphania, adalah hari raya Penampakan Tuhan yang diperingati pada tanggal 6 Januari, sekaligus memperingati kedatangan orang-orang Majus yang mengunjungi bayi Yesus yang baru lahir.

Firman Tuhan hari Minggu Epifani ini dari Mrk 1:4-11 berbicara tentang pembaptisan Tuhan Yesus. Gereja (Timur) memperingatinya sebagai manifestasi Yesus Kristus memulai karya pelayanan-Nya sebagai Anak Allah.

Kita tahu Yesus dibaptis oleh Yohanes bukan untuk bertobat oleh karena berbuat dosa. Yesus ingin memperlihatkan kerendahan hatiNya menjadi sama dengan kita, sekaligus peneguhanNya masuk ke dalam pelayanan umat Yahudi. Peneguhan ini penting untuk penggenapan PL akan kedatangan sang Mesias, yakni didahului oleh Yohanes sebagai “suara orang yang berseru-seru di padang gurun” (Yes 40:3). Yohanes awalnya menolak membaptis, tetapi Tuhan Yesus mengatakan, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 31 Desember 2017)

Tahun Baru Semangat Baru

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya (Pkh 3:1)

Firman Tuhan hari Minggu ini sekaligus menyongsong tahun kalender baru 2018, Pkh 3:1-13, berbicara tentang kekuasaan Allah atas hidup manusia dan alam semesta ini. Untuk segala sesuatu ada waktunya; manusia bisa berencana, berikhtiar, tetapi Tuhan penentu segalanya (band. Yak 4:13–17).

Pergantian tahun mendorong kita untuk merenung sejenak melihat ke belakang di tahun 2017. Seperti patung Janus (asal kata nama bulan Januari) yakni dewa Yunani dengan dua wajah, menatap ke belakang sebagai refleksi, dan ke depan sebagai aplikasi. Kontemplasi Mzm 90:12 sangat relevan: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Akhir tahun memang seperti tutup buku dalam perusahaan, pendataan persediaan, penghitungan arus kas, dan lainnya. Tentu, yg kita evaluasi tidak melulu pencapaian, untung rugi, tetapi juga tentang upaya memberi yang terbaik sebagai wujud bukti kita mengasihi Allah dan sesama.

Sebagai anak-anakNya, Tuhan ingin kita berhasil. Hidup berserah bukan berarti que sera-sera, whatever will be will be, kumaha engke wae. Jangan juga terlena pada yang berlalu. Kaca spion untuk melihat ke belakang selalu kecil. Fokus kita ke depan, melihat dan membuat yang baru di tahun 2018 dengan perencanaan dan pengharapan. Sebuah daftar petisi. Rencana disusun untuk meraih hidup yang lebih nyaman dan sejahtera, dengan optimisme yang membubung tanpa kepongahan. Yang penting, saat menyusunnya perlu pegangan: Pertama, kita hanya dapat berencana, namun tidak dapat memastikan hari esok. Kedua, hidup kita singkat dan harus diisi dengan yang bermakna. Waktu terbatas. Ketiga, kita bergantung kepada Tuhan sepenuhnya dalam perencanaan.

Kitab Yakobus di atas telah menasihatkan agar senantiasa memikirkan kehendak Tuhan dalam setiap rencana yang disusun. Tuhan berdaulat membuat rencana kita berhasil. Tetapi kita perlu melakukan bagian kita dengan baik, sambil menundukkan diri di hadapan-Nya. Tuhan akan meninggikannya. Dengan demikian, apa yang kita rencanakan dan lakukan, menjadi berarti. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka” (ayat 11).

Di atas semua itu, tentu kita wajib bersyukur memasuki tahun 2018 ini. Mzm 8:5 sebagai padanan leksionari nas minggu ini mengingatkan: “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Kita bersyukur melewati tahun 2017 dengan segala mosaiknya. Dan kita sudah diselamatkan. Maka, ayo bulatkan tekad, susun petisi pengharapan, lakukan yang terbaik di tahun 2018, lebih baik dari tahun yang lalu. Soli Deo Gloria. Kemuliaan hanya bagiNya. Selamat beribadah Minggu, Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi dan keluarga mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2018 untuk kita semua. Salam dari Pantai Miami, Amerika.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!