KABAR DARI BUKIT (Edisi 25 Februari 2018)

Harga Mengikut Yesus

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya (ayat 34-35)

Firman Tuhan Minggu II Pra-Paskah hari ini Mrk 8:31-38 bercerita tentang nubuatan penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia. Yesus telah mengetahui akhir pelayananNya, dengan berkata Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (ayat 31). Petrus yang responsif menegur Yesus, tetapi Yesus balik menghardiknya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 18 Februari 2018)

Ikut Allah atau Iblis

….kata Yesus: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (ayat 15).

Firman Tuhan hari Minggu Pra-Paskah I ini, Mrk 1:9-15, bercerita tentang pencobaan Yesus oleh iblis di padang gurun. Kisah yang menarik, sebab baru saja Yesus
diteguhkan sebagai Anak yang dikasihi BapaNya dan kini langsung masuk ke pencobaan yang cukup berat memikat.

Pencobaan pertama tentang kebutuhan perut, yakni setelah puasa 40 hari, kondisi lapar berat, diminta mengubah batu menjadi roti. Tetapi jawab Yesus dahsyat: “Manusia hidup bukan dari roti saja” (Luk 4:4); …. manusia hidup dari segala yang diucapkan Allah (Ul 8:3). Umur manusia di tangan Allah dan makanan rohani lebih penting dari makanan untuk tubuh. Ini ujian tentang pemeliharaan Allah, dan kita harus yakin seirama burung-burung di langit yang tidak menabur dan menuai, namun diberi makan oleh Bapa di sorga (Mat 6:26). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 11 Februari 2018)

Yesus Dimuliakan

Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (ayat 7).

Firman Tuhan di Minggu Epifani terakhir hari ini dan disebut Minggu Transfigurasi diambil dari Mrk 9:2-9, bertema: Yesus dimuliakan di atas gunung. Kisahnya, Yesus naik ke gunung bersama tiga muridNya, tiba-tiba tampak oleh mereka Yesus berubah rupa, pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat, dan sepertinya tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Lalu kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

Peeistiwa ini merupakan pengantar kemuliaan dan pemenuhan ke-Illahian Yesus. Hari Rabu ini diperingati sebagai Rabu Abu, halte kita untuk masuk ke masa Pra-Paskah. Skenario rencana penyelamatan Allah bagi manusia semakin nyata. Ada yang ragu. Para murid yang belum memahami suara dari sorga saat pembaptisannya (Mrk 1:11), kembali dikumandangkan dengan sangat jelas: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Otoritas Yesus diteguhkan dan melebihi Musa dan Elia (band. Ul. 18:15; Mzm. 2:7; Yes. 42:1). Ini juga sebagai penegasan jawaban Petrus kepada Yesus: “Engkau adalah Mesias!” (Mrk. 8:27-29). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 4 Februari 2018)

Terus Mengasihi

Jawab Yesus: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (ayat 38).

Firman Tuhan hari Minggu ini Mrk 1:29-39 bercerita tentang Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dan mengajar. Kuasa Allah dalam Yesus mulai dinyatakan melalui perbuatan dan membuat perubahan bagi orang lain. Ini penting sebagai pesan bagi kita orang Kristen. Kehadiran kita haruslah memberi manfaat bagi yang lain. Jangan justru kita menuntut, berhitung yang sudah didapatkan. Dasar dan ekspresi keberadaan kita adalah kasih kepada Tuhan dan sesama.

Pesan kedua dalam nas ini pembuktian bahwa hal buruk sulit melawan kebaikan. Orang jahat selalu ada di sekeliling kita. Mereka ada dengan berbagai tujuan dan motivasi. Kesukaannya melihat kekurangan dan kelemahan, dan cekatan membuatnya sebagai peluru untuk menyerang. Kadang mereka memberi pujian, tapi sering tidak tulus. Untuk itu tidak perlu risau atau takut. Seperti setan-setan dalam peristiwa peyembuhan di nas ini, tidak ada yang bisa berkutik membicarakan Dia. Mereka tahu dan mengenalNya. Memang kadang kebaikan mendapat balasan tidak baik. Tetapi itulah ujiannya. Bila kita kecewa dan apalagi marah, maka perlu diperiksa motivasi untuk berbuat baik. Mengasihi seyogianya bebas pamrih.

Hal ketiga, perbuatan baik melalui karya nyata sebagai wujud pekabaran Injil harus berkelanjutan. Jangan cepat puas atau mudah merasa lelah. Setelah selesai penyembuhan, Yesus terus berjalan ke kota-kota. Ia tidak tertarik pada sanjungan dan publisitas. Popularitas bukan yang utama. Tidak itu tujuannya. Ketika semua orang mencariNya, Yesus menjawab: Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena itu Aku telah datang” (ayat 38).

Bagian akhir pesan nas ini agar kita tetap mengandalkan doa. Hubungan khusus kepada Allah merupakan pijakan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Dengan doa dan refleksi, kita tidak akan kehilangan orientasi dan tetap terjaga ke arah yang benar. Teruslah mengasihi, maka melalui hidup kita Tuhan Yesus semakin ditinggikan. Haleluya. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M. Silalahi. Ketua Umum Gaja Toba dan Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GKSI.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!