Mukjizat Lagi
Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” (Yoh 6:19-20).
Firman Tuhan hari Minggu ini dari Yoh 6:16-21 menuliskan tentang Tuhan Yesus berjalan di atas air. Kisah yang populer dan nyata. Yesus memperlihatkan kuasa-Nya.
Jika minggu lalu ditekankan perlunya untuk melihat latar belakang terjadinya mukjizat, hari ini kita melihat tujuan mukjizat Yesus. “Mukjizat merupakan kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia” (kbbi.web.id). Ada kuasa adikodrati. Jika peristiwanya dapat dicerna oleh akal, atau berlaku kaidah ilmiah sebab akibat, jelas itu bukan mukjizat. Apalagi sulap atau trik, kita anggap itu hiburan saja.
Mukjizat ada sepanjang masa. Terus. Bagi yang tidak percaya, atau percaya mukjizat ada hanya dalam Alkitab dan sudah berhenti saat Yesus naik ke sorga, ya tidak apa-apa. Tetapi itu sama seperti tidak percaya Allah kita adalah Allah yang hidup dan penuh kasih. Itu dapat terjadi karena tidak memahami makna mukjizat dan tujuannya. Mukjizat ada untuk menyatakan kedaulatan Tuhan, melegitimasi kehadiran-Nya, mendukung para utusan-Nya, menguatkan dan melegakan umat-Nya, serta tentu saja semua bagi kemuliaan-Nya. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm 11:36).
Oleh karena itu, melalui nas minggu ini yakni kisah Yesus berjalan di atas air dan kisah mukjizat lainnya, kita melihat optimisme. Kita terima dengan iman; bukan pikiran. Kita memiliki harapan atas segala persoalan. Dalam tantangan kehidupan, berbagai ragam hal pribadi, organisasi bahkan berbangsa, mari tetap melihat Tuhan bekerja dan mukjizat tetap terjadi. Bagi kita orang percaya yang diselamatkan oleh Yesus di kayu salib, itu sudah merupakan mukjizat terbesar yang pertama kita terima.
Kita pun wajib memiliki cita-cita. Pengharapan. Bahkan perlunya tantangan hidup besar bagai membangun padang gurun yang kita ingin lewati. Itu bagus. Meski sekarang sepertinya tampak mustahil, tidak apa-apa. Berharap anak-anak kita menjadi berkat yang dipakai Tuhan, atau kita tetap sehat terus berkarya dan melayani hingga usia tua, atau misalnya melihat kampung halaman Kawasan Danau Toba bersih cantik dan masyarakatnya sejahtera tetap berbudaya Batak yang Kristiani, itu jelas bukan sesuatu yang sia-sia. Tuhan akan campur tangan. Mukjizat tetap kan terjadi. Tetaplah berdoa dan bekerja, mendayung perahu kehidupan dengan terus mengendalikan arah kemudi. Tetapi jangan hanya omdo berwacana. Bertekunlah hingga tujuan tercapai. Dan, kelak Ia kan muncul dan berkata kepada kita: “Aku ini, jangan takut!” Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.
Pdt. Em. Ramles Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba.