KABAR DARI BUKIT (Edisi 26 Agustus 2018)

Murid Sejati

“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh 6:63).

Firman Tuhan hari Minggu ini, Yoh 6:60-71, masih dalam rangkaian Yesus adalah Roti Hidup dan perlunya memakan daging dan meminum darah-Nya. Respon murid pun banyak yang bersungut-sungut, yang berharap terus dapat roti makanan gratis tapi malah harus berpikir berat dan susah. Pernyataan Yesus mereka anggap keras; sulit dipahami. Respon Yesus juga out of the box, tidak menjelaskan tetapi malah lebih “menggoda”: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? (ayat 61). “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (ayat 67). Akhirnya, banyak murid-murid mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (ayat 66).

Tidak sedikit di antara kita juga sering kendor iman dan ketaatan jika mendengar atau membaca firman yang “tidak masuk akal”. Misalnya, membandingkan ayat “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” dengan kemanusiaan Yesus termasuk membuat patung-Nya (Kel 20:3-4). Demikian juga dengan ayat-ayat sulit, seperti perkataan Yesus: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (Mat 8:22). Kok, orang mati menguburkan orang mati? Padahal maksud-Nya saat itu, biarlah mereka yang mati (rohaninya) mengurus orang yang mati (jasmaninya), sebab urgensi seorang murid mengikut Yesus sangat prinsip, mengabarkan kerajaan Allah daripada hal keduniawian lainnya (band. Luk 9:59–62).

Persoalan bisa ringan ketika ada kerinduan untuk lebih memahaminya dengan rendah hati, mencari nara sumber yang kompeten berdiskusi. Tetapi, tidak jarang juga yang merasa “hebat”, mengklaim Roh Kudus telah menuntunnya menafsir, meski sebenarnya yang terjadi ia berputar pada pikirannya sendiri, atau terjebak pada pandangan yang dangkal. Persoalan bisa menjadi lebih berat, karena merasa tidak masuk akal, atau berat untuk ditaati, kemudian frustasi, bahkan mundur dan berpaling. Perlu hati-hati.

Nas minggu ini menekankan tidak perlu kita memahami semua secara akal firman-Nya, atau melihat karya mukjizat Tuhan dahulu untuk menjadi percaya dan beroleh keselamatan. Itulah “godaan” Yesus dengan mengatakan: Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? (ayat 62).

Yesus menekankan “Rohlah yang memberi hidup…. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (ayat 63). Selanjutnya ditegaskan-Nya: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya” (ayat 65). Arti sederhananya, keselamatan itu karena iman, pemberian Allah, kasih karunia, bukan hasil usaha manusia (Ef 2:8). Jadi jangan terlalu banyak bertanya tapi sedikit berbuat dan bersaksi. Sikap kita semestinya sama seperti Simon Petrus, yang percaya dan berespon mengaku: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (ayat 68); “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Itu utamanya. Berserah, berespon iman: Allah itu baik. Seperti lirik lagu dengan berpegang: “‘Ku berserah kepada Allahku… Bapa sorgawi t’rus menjagaku… (NKB 128).

Mungkin ada yang penasaran pada ayat 64 dan 70-71 dan bertanya: Yesus kan sudah tahu ada satu iblis di antara 12 murid yang akan menyerahkan-Nya yakni Yudas Iskariot. Mengapa Yesus tidak menyelamatkannya? Lantas, apakah keselamatan itu bisa hilang? Nah, jawabannya mungkin sederhana: rasanya, lebih cocok dia masuk sekolah teologia. Agar, sedikit bertanya, banyak berbuat dan bersaksi. Itulah ciri murid sejati. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 19 Agustus 2018)

Hidup Oleh Dia

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:56-57).

Firman Tuhan hari Minggu ini Yoh 6:51-58 masih dalam rangkaian tema Yesus adalah Roti Hidup, tetapi dengan penekanan yang berbeda, termasuk perbedaan makanan jasmani manna yang diberikan Tuhan di padang gurun dengan “makanan” rohani melalui kemanusiaan Yesus. Dalam nas ini Yesus menjelaskan lebih nyata: roti hidup yang dimaksud-Nya adalah daging-Nya (dan juga darah-Nya). Ini lebih gamblang dari kata tubuh yang dipakai Rasul Paulus dan Injil Sinoptik (band. Yoh 1:14; Luk 22:19). Oleh karena itu, respon pemimpin Yahudi yang mendengar pun semakin benci dan menentang-Nya (ayat 52).

Pesan pertama nas minggu ini yakni jika tidak makan daging-Nya (dan juga minum darah-Nya, manusia tidak mempunyai hidup di dalam dirinya (ayat 53). Arti hidup di sini adalah pengakuan Yesus sebagai sumber kehidupan. Hidup bukan dalam pengertian robotik, asal-asalan dan terlalu “nrimo”, tetapi hidup yang penuh roh menyala-nyala. Allah memberi hidup sekaligus sumber kekuatan dalam menjelajah kehidupan padang gurun yang kita disain sebagai tantangan untuk dimenangkan. Bukan hidup yang bagaimana nanti saja, kumaha engke, que sera-sera, tetapi hidup dengan visi misi yang jelas dan penuh optimisme.

Kedua, melalui makan dan minum dalam sakramen, metafora bagi iman, janji kehidupan kekal menjadi pasti (ayat 54, 58). Sebagai pemberi hidup, Allah tentu akan meminta pertanggungjawaban tugas misi kita berada di dunia ini. Hidup di dunia ini tidak berhenti dan titik, tetapi tanda koma untuk berlanjut dalam masa pasca kematian tubuh fana. Bagi yang percaya, taat, dan rindu untuk disegarkan melalui sakramen perjamuan roti dan anggur, dibangkitkan dan kehidupan kekal menanti dengan penuh gambaran yang sangat indah menyenangkan.

Ketiga, melalui sakramen makan daging dan darah-Nya, sebuah pengakuan hidup kita bukan lagi milik kita (ayat 56-57). Firman-Nya meneguhkan: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Makan (dan minum) adalah ekspresi percaya akan penebusan dosa-dosa kita melalui kematian Yesus, dan sekaligus peneguhan kehadiran Yesus dalam hidup kita. Sebuah tindakan iman, ekspresi kerinduan, tubuh dan darah Yesus meresap dalam tubuh dan hidup kita dengan pengharapan roh kita dibarui dan dikuatkan oleh Roh-Nya.

Terakhir, hidup oleh Dia berarti mengisi hidup yang bermakna bagi Dia dan berkat bagi sesama. Makna kehidupan bukan lagi di pusat diri yang diukur oleh kepuasan jasmani, mewah dan enaknya makan minum serta benda duniawi, atau kemegahan dan rasa iba terhadap diri, tetapi pada kemampuan berbagi pada sesama sebagai bagian dari tugas memberitakan Dia (1Kor 11:26). Dengan demikian, kita pun sah sebagai alat dan utusan yang meneguhkan Dia memang diberikan untuk dunia (ayat 51). Tetaplah berkarya. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba.

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA Bulan Juli 2018

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA Bulan Juli 2018

PROGRAM-PROGRAM BERJALAN

  1. Pemberian Beasiswa bagi mahasiswa di empat universitas terbaik termasuk ITB dan UI bagi siswa yg berasal dari SMA Kawasan Toba;
  1. Melanjutkan pemeliharaan tanaman Kaliandra seluas 27 Ha termasuk bibit yg blm ditanam di Kab. Samosir, bekerjasama dgn Keuskupan Agung Medan (KAM). Info: www.kaliandra.gajatoba.org;
  1. Pelaksanaan SARASEHAN TOKOH MASYRAKAT PEDULI KDT bersama Pak Luhut Panjaitan dan Para Bupati se-KDT tanggal 3 Juli 2018. Hadir 120 orang dan menghasilkan komitmen dan tindak lanjut;
  1. Pelaksanaan Seminar Menuju Elektrifikasi 100% KDT kerjasama dengan Komite 2 DPD RI bertempat di Institut DEL Laguboti. Hadir 75 orang termasuk dari PLN Pusat, Wilayah, Kem. ESDM, Pemkab dan pengamat. Ada komitmen tahun 2020 harus terwujud;
  1. Pelaksanaan Workshop dan Seminar Pemanfaatan Tanah Ulayat untuk Kesejahteraan Penduduk KDT kerjasama Gaja Toba dengan Kem. ATR/BPN, dan KPPS HKBP, bertempat di Institut DEL Laguboti. Hadir 600 orang selama 2 hari, tindak lanjut dgn membuat forum web www.tanahulayattoba.net;
  1. Persiapan Seminar Ketahanan Budaya Batak yang Kristiani 8 Sept 2018 di Medan kerjasama dengan Universitas Katholik Parahiyangan, Univ HKBP Nomensen, dan KPPS HKBP;
  1. Persiapan pembangunan Patung Yesus Memberkati KDT di Huta Ginjang Taput – Tahap perencanaan kawasan dan izin pinjam pakai lahan 5 Ha;
  1. Diskusi dengan Ganesha Operation tentang Persiapan Bimbingan Belajar Gratis di 6 kota Kabupaten KDT dan Try-out Online utk semua siswa kelas 3 se-KDT;
  1. Monitoring pelaksanaan pilot project budi daya ternak ikan bioflok di Desa Sualan Parapat utk pengganti keramba;
  1. Pengembangan Desa Eko Wisata di KDT – Pilot Project;
  1. Pengembangan Website Pariwisata www.amazingtoba.com;
  1. Persiapan turnamen golf Toba Ganesha ke 3 tahun 2018 di PIK Golf Course 23 Sept 2018.

Laporan Keuangan bulan Juli 2018 dapat dilihat di website www.gajatoba.org/laporankeuangan. Untuk laporan bulan Juni 2018 mhn maaf ada koreksi sesuai dibawah.

Terima kasih untuk semua dukungannya. Semoga pelayanan kita berkenan kepadaNya. Amin.

 

Jakarta 15 Agustus 2018.

BPH PGTS

Ramles M Silalahi – Ketum

Hot Asi Simamora – Sekum

KABAR DARI BUKIT (Edisi 12 Agustus 2018)

Roti Sorgawi

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51).

Firman Tuhan hari Minggu ini Yoh 6:35, 41-51 merupakan pengulangan nas minggu lalu tentang Yesus adalah roti hidup. Minggu ini pesannya lebih diperluas lagi. Pertama, penolakan pemimpin Yahudi terhadap pernyataan Yesus bahwa Ia adalah roti dari sorga dan Allah adalah Bapa-Nya (ayat 46). Tentu pikiran manusia, mereka mengenal orang tua-Nya: Yusuf tukang kayu. Penolakan ini bahkan disertai sungut-sungut, yang mengingatkan sungut-sungut nenek moyang Israel atas kekurangan makanan saat di padang gurun dan akhirnya Tuhan menurunkan manna (Kel 17:3).

Maka pelajaran pertama dari nas minggu ini, mengajak kita untuk selalu lebih berpikir rohani dibanding jasmani, berpikir ke arah sorgawi dibanding duniawi. Respon sungut-sungut akibat prasangka, tidak ada gunanya. Tarik nafas. Pikiran terbuka. Itu lebih memberi hikmat dalam menangkap kebenaran dan kebaikan.

Kedua, Yesus mengubur pikiran para pemimpin Yahudi dengan mengatakan iman percaya kepada Yesus itu inisiatif Allah. Bapa di sorga yang menarik, bukan inisiatif manusia. Ya, perlu respon dan kita yang percaya bersyukur atas respon positip. Itulah iman. Tidak mungkin kita datang dengan pikiran sendiri untuk percaya kepada Yesus. Jelas dan tegas.

Ketiga, adanya jawaban keraguan umat Yahudi pasca kematian. Yesus mengatakan: “Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.” Hidup yang kekal berarti dibangkitkan pada akhir zaman (ayat 44, 47). Pemahaman ini terjadi dan melekat, hanya oleh pengajaran dari Bapa (ayat 45). Kebenaran Yesus datang dari sorga sudah terbukti, Ia kembali ke sorga terangkat di hadapan murid yang melihat dan bersaksi (Luk 24:51).

Terakhir, kita bersyukur diberi kesempatan melalui iman, menikmati roti sorgawi dalam sakramen perjamuan kudus sebagai simbol kesatuan kita dengan Yesus. Ini meneguhkan kematian-Nya, tubuh-Nya, dan kita “makan daging-Nya”. Semua itu diberikan untuk berdampak bagi dunia. Tentu dampak itu terjadi ketika kita menyadari, pasca makan roti kehidupan itu, ada tanggung jawab untuk terus memberitakan Dia. Perintah-Nya: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Maka kita yang sudah diberi roti kehidupan, teruslah bersaksi memberitakan-Nya. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 5 Agustus 2018)

Roti Hidup

Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi (Yoh 6:35).

Firman Tuhan hari Minggu ini dari Yoh 6:24-35 mengumumkan Yesus adalah Roti Hidup. Kisahnya, setelah mengenyangkan 5.000 orang dengan mukjizat roti dan ikan, bila sekejap saja tidak tampak, para murid terus mencari Dia. Yesus mempertanyakan, mereka belum memahami pesan Illahi pada-Nya; meski tanda-tanda mukjizat dahsyat telah dilakukan. Murid lebih fokus pada makanan jasmani yang bersifat sementara; setelah kenyang, ya lapar lagi. Inilah yang ingin diluruskan-Nya.

Yesus menekankan yang utama adalah hal rohani. “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat 4:4). Oleh karenanya sabda Yesus pada mereka: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya” (ayat 27). Jadi, mencari dan bersama Yesus, tujuan dan motivasi kita haruslah benar. Fokus kita bukan pada terjaminnya makanan yang fana, melainkan semakin eratnya hubungan pribadi dan kehidupan kekal.

Hal kedua, Yesus mengatakan Dia adalah roti hidup. Dan Yesus, ialah roti dari Allah yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia. Respon murid tetap soal perut: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi (ayat 33-35). Roti hidup yang diberikan tidak mengenyangkan sesaat, tetapi selamanya, yakni hidup yang kekal (Yoh. 6:39-40).

Hal ketiga, Yesus menegaskan agar kita melakukan pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah (ay. 27-29). Ini respon-Nya kepada para murid yang menuntut Yesus agar terus melakukan tanda-tanda mukjizat, khususnya makanan, seperti Musa yang memberikan manna bagi umat Yahudi saat di padang gurun. Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Maka pesan ketiga nas minggu ini, iman kita hendaknya terus bertumbuh teguh, bekerja dan berbuah. Perintah-Nya jelas: “Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh 6:40).

Nas minggu ini menyegarkan kita tentang makna dan tujuan hidup. Orientasi hidup kita sebaiknya bukan kepada makan minum dan kepuasan badani semata, tetapi kepada hubungan yang semakin erat dan iman percaya kita bertumbuh untuk melakukan kehendak-Nya. Kita pun semakin dipakai sebagai berkat bagi orang lain. Nah, apakah ini yang menjadi doa kita setiap hari? Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!