KABAR DARI BUKIT (Edisi 23 September 2018)

Yang Terbesar

“Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku” (Mrk 9:37).

Firman Tuhan hari Minggu ini, Mrk 9:27-37, menuliskan dua bagian yang berkaitan. Pertama, Tuhan Yesus memberitahukan kedua kalinya tentang penderitaan yang akan dialami-Nya: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (ayat 31, band. minggu lalu Mrk 8:31). Nubuatannya terbukti, Ia mati disalibkan di Golgota untuk penebusan dosa-dosa kita. Bagian kedua, para murid mempertengkarkan siapakah yang terbesar di antara mereka dengan karunia berbeda dan pelayanan yang diberikan? (ayat 34).

Pesan pertama dari nas ini yakni menegaskan arti berserah kepada Allah Bapa dan pentingnya pengorbanan dalam pelayanan. Memberi dan melayani yang terbaik bagi Tuhan itu berarti siap untuk sampai merasakan “derita” sebuah pelayanan. Dalam konteks pememberian, misalnya, kisah janda di Sarfat yang memberi roti dan minyak kepada Elia (1Raj 17:7-24) serta persembahan seorang janda miskin dua peser yang diberikannya, sangat tepat sebagai teladan. Kedua janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk 12:44). Jelas yang terbaik sampai terasa berat dan itulah yang membuat seseorang besar di hadapan-Nya.

Pesan kedua, agar dalam pelayanan dan kehidupan kita, tidak mencari apalagi mempertahankan posisi, kedudukan dan penghargaan balik yang diterima. Yesus berkata kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (ayat 35). Kitab Matius menuliskan lebih rinci dan jelas: … Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:26-28).

Pesan ketiga nas minggu ini yakni agar kita selalu peduli akan sesama dan mewujudkannya dengan rendah hati. Sambil memeluk seorang anak, Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku” (ayat 37).

Mari kita sering memberi yang terbaik bahkan hingga terasa berat. Mari kita hindarkan mengutamakan mencari kedudukan, posisi atau penghargaan atas semua pelayanan dan pemberian yang kita lakukan. Mari kita selalu peduli terhadap sesama yang membutuhkan, dengan mewujudkan kasih nyata kepada mereka. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA Bulan Agustus 2018

LAPORAN BULANAN KEGIATAN PERKUMPULAN GAJA TOBA SEMESTA
Bulan Agustus 2018

PROGRAM-PROGRAM BERJALAN

1. Pemberian beasiswa bagi mahasiswa di empat universitas terbaik termasuk ITB dan UI bagi siswa yg berasal dari SMA Kawasan Toba;

2. Monitoring pemeliharaan tanaman Kaliandra seluas 36 Ha yg ditanam di Kab. Samosir, bekerjasama dgn Keuskupan Agung Medan (KAM). Info: www.kaliandra.gajatoba.org;

3. Persiapan Seminar Budaya Batak yang Kristiani, di Medan, kerjasama dengan Universitas Katholik Parahiyangan, Universitas HKBP Nomensen, dan KPPS HKBP;

4. Persiapan pelaksanaan Bimbingan Belajar Gratis di 6 kota Kabupaten KDT dan try-out online utk semua siswa kelas 3 se-KDT, kerjasama Gaja Toba dengan Ganesha Operation;

5. Tindak lanjut Workshop dan Seminar Pemanfaatan Tanah Ulayat KDT dgn membuat forum web www.tanahulayattoba.net kerjasama Gaja Toba dgn Kem. ATR/BPN, dan KPPS HKBP.

6. Pelaksanaan FGD Pengembangan Destinasi Wisata untuk meningkatkan jumlah wisatawan, kerjasama dgn BODT;

7. Persiapan pembangunan Patung Yesus Memberkati KDT di Huta Ginjang Taput – Tahap perencanaan kawasan dan izin pinjam pakai lahan 5 Ha;

8. Persiapan turnamen Golf Toba Ganesha ke 3 tahun 2018 di PIK Golf Course 23 Sept 2018.

9. Pengembangan Website Pariwisata www.amazingtoba.com;

Laporan Keuangan bulan Agustus 2018 dapat dilihat di website www.gajatoba.org/laporan

Terima kasih untuk semua dukungannya. Semoga pelayanan kita berkenan kepadaNya. Amin.

Jakarta 20 September 2018.

BPH PGTS
Ramles M Silalahi – Ketum
Hot Asi Simamora – Sekum

KABAR DARI BUKIT (Edisi 16 September 2018)

Diurapi untuk Menderita

Lalu Yesus …. berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mrk 8:34).

Firman Tuhan hari Minggu ini, Mrk 8:27-38, menuliskan dua bagian. Pertama, Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, tentang siapa diri-Nya. Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.” Yesus bertanya kembali kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!” Mesias (Ibrani) berarti “Yang Diurapi”, kata yang sama dengan Christos (Yunani), biasanya diberikan kepada raja, nabi dan imam. Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia (ayat 29; band Yoh 1:41 dan Why 11:3).

Yesus melarang tentu dengan alasan, agar tidak timbul salah pengertian. Umat Yahudi sedang menanti-nantikan Mesias, nubuatan akan kebebasan Israel dari tangan penjajah Romawi. Otomatis, mereka berharap Yesus adalah Mesias yang ditunggu, tokoh politik, apalagi setelah Yesus memperlihatkan kuasa-Nya yang dahsyat: menyembuhkan penyakit-penyakit, mengusir roh jahat, memberi makan 5.000 orang, dan pengajaran yang hebat. Yesus juga ingin agar setiap orang berjumpa secara pribadi, tidak punya motivasi salah saat mengikuti-Nya.

Tetapi ketika Yesus mengatakan bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (ayat 31), para murid merasa bingung dan bahkan Petrus menegur-Nya. Yesus pun marah dan berkata (ayat 33-34): “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”…. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”.

Nas kedua ini ada dua poin: Kita diingatkan jangan berpikir dan memahami Yesus menurut sudut pandang kita yang terbatas. Kita membuatnya sama seperti yang kita inginkan, dan itu kadang salah. Ketika harapan itu tidak terwujud, kita kecewa. Kita bahkan ingin Yesus dapat memenuhi semua harapan dan menyelesaikan kesulitan kita.

Kedua, Yesus mengatakan agar setiap orang harus siap memikul salibnya untuk dapat mengikut Dia. Tidak ada gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya, dalam arti kehidupan kekal (ayat 36-37).

Memukul salib berarti mematikan keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, berserah sepenuhnya, dan rela berkorban dan mati demi Kristus. Tidak boleh lagi mengutamakan dan memegahkan diri sendiri (ayat 37). Setiap yang mengikut Dia akan menghadapi ujian dan percobaan (Yoh 16:33). Tetapi janji Tuhan, mereka yang menang dan bersedia melakukannya bagi Dia, maka Yesus pun akan mengakui-Nya apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Haleluya. Kini siapakah Yesus menurut kita? Siapkah mengikut Dia dengan menyangkal diri, dan ikut dalam penderitaan dan pengorbanan demi untuk-Nya? Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba

KABAR DARI BUKIT (Edisi 9 September 2018)

Efata, Terbukalah

Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37).

Firman Tuhan bagi kita hari Minggu ini masih kelanjutan minggu-minggu lalu, Mrk 7:24-37, menceritakan Tuhan Yesus menyembuhkan dua orang sakit: mengusir roh jahat pada anak perempuan Yunani bangsa Siro-Fenisia, dan seorang lagi yang tuli dan gagap. Keduanya berhasil disembuhkan Yesus, hanya dengan ucapan, yang membuktikan Yesus adalah pemegang kuasa kehidupan dan sekaligus Tabib Agung kita, sumber segala kesembuhan dan pemulihan. Inilah pesan pertama nas minggu ini.

Pesan kedua, Tuhan Yesus datang untuk umat segala bangsa. Perempuan ibu anak itu adalah orang kedua non Yahudi yang berinteraksi dengan Yesus. Yesus melayaninya dengan perhatian dan kasih. Betul, Yesus saat pertama mengatakan, bahwa Ia mengutamakan bangsa Yahudi dahulu dengan berkata: “Biarlah anak-anak (baca: umat Yahudi) kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (ayat 7). Tetapi dengan kegigihan seorang ibu, meski diuji disebut tidak berhak karena ia bukan Yahudi, ibu itu terus memelas dengan rendah hati, berkiasan remeh-remeh (roti) pun diterima. Yesus pun mengabulkan permohonannya: anaknya yang kerasukan roh jahat, sembuh!! Jelas, hanya respon positif yang dapat mengubah sesuatu lebih baik.

Maka pesan ketiga nas ini, bila ada pergumulan hidup, teruslah berdoa agar Tuhan turun bertindak. Terkadang kita diuji, bisa melalui orang lain. Dan, selalulah bersikap positip. Iman yang kuat dan kerendahan hati meminta, membuat hati Yesus luluh, kasih-Nya tidak terbatas. Kegigihan membuat sesuatu terjadi. Ini pula yang terjadi pada orang bisu dan yang gagap, penyakitnya disembuhkan. Yesus melakukannya dengan menengadah ke langit, meminta kepada Bapa: Efata, eppathah, terbukalah (ayat 34). Haleluya, orang itu pun bisa berkata-kata dengan lancar. Semua terjadi karena iman.

Pesan terakhir nas ini, kadang perbuatan kasih mukjizat dari Tuhan Yesus tidak perlu kita obral dikoarkan. Setelah penyembuhan yang tuli, Yesus meminta agar mereka jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Hal yang sama ketika Ia datang ke Tirus dan menyembuhkan yang kemasukan setan; Ia tidak mau orang lain mengetahuinya. Kadang, kita perlu bekerja dan berkarya dengan senyap. Diam itu emas. Tong kosong nyaring bunyinya. Itu juga yang sering saya amati di organisasi atau grup WA, biasanya justru yang banyak diam itu yang memberi banyak hatinya dan waktunya. Konkrit dalam berkarya bagi sesama. Itulah yang Yesus minta dari kita. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Umum Gaja Toba

KABAR DARI BUKIT (Edisi 2 September 2018)

Munafik dan Najis

“Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya…. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk 7:15, 23).

Firman Tuhan hari Minggu ini Mrk 7:1-8, 14-15, 21-23 merupakan tiga bagian yang satu kesatuan, berbicara tentang sikap munafik yang tampak taat dalam adat istiadat tetapi mengabaikan hukum Allah, dan dua hal tentang yang najis. Kisahnya kaum Farisi dan ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus, setelah melihat beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang tidak dibasuh. Mereka menuduh itu najis, berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka. Respon Tuhan Yesus sangat keras, menyebut mereka orang-orang munafik, dan berkata: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (band. Yes 29:13).

Kaum Farisi dan ahli Taurat merujuk pada Talmud dan Misna, yakni kumpulan penjelasan dan penjabaran rinci aturan dan hukum-hukum Taurat. Hal-hal sepele pun dibuat menjadi aturan ketat, legalisme, makna kasih hilang sebagai hukum utama (Im 19:18; Ul 6:5). Apalagi, kadang aturan dibuat untuk kepentingan tertentu, seperti syarat persembahan hewan tidak bercacat dibuat rinci tetapi tujuannya agar kaum Farisi dapat menjual hewan di gerbang bait Allah. Persepuluhan bahkan ditarik dari tumbuhan obat (Mat 23:23). Ini yang membuat Yesus menyebut mereka munafik! Munafik, berarti berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; bermuka dua (www.kbbi.web.id). Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!