Damai Sejahtera
Firman Tuhan di Minggu Advent III hari ini, Flp 4:4-7, merupakan nasihat Rasul Paulus dari penjara kepada dua wanita pengerja pelayanan yang sedang berselisih paham. Ia sangat gundah melihat kedua wanita rekannya di Filipi itu tidak sehati sepikir. Dan ia menekankan kunci jawabannya, yakni di ayat 4: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Lho, aneh, kok bersukacita? Tapi ada dasarnya, motivasinya, sebagaimana disampaikan Rasul Paulus di pasal sebelumnya, yakni kita orang percaya mesti berdiri teguh, karena kita telah menjadi warga kerajaan sorgawi, yang menantikan kedatangan Yesus Kristus dan mengubah tubuh kita menjadi serupa dengan tubuhNya yang mulia (Flp 3:20-21, band. 1:6,10). Itulah sukacita dari Tuhan. Rasul Paulus sendiri yang sedang di penjara, memberi teladan atas hal itu.
Sikap bersukacita tidak berhenti. Itu harus diikuti dengan berinisiatif untuk menyelesaikan perselisihan dan masalah yang ada, baik untuk diri sendiri atau orang lain yang berselisih (ayat 3). Inisiatif itu yang ia sebut dalam ayat 5 sebagai kebaikan hati yang perlu dilihat pihak lain dan semua orang, sehingga pembatas dan penghalang menjadi cair. Menunggu pihak lain lebih dahulu berinisiatif, itu tidak baik, tidak sikap Kristiani. Dan tidak perlu juga kuatir (ayat 6), inisiatif itu tidak akan merugikan, seperti kehilangan harga diri, malu, direndahkan, dan hal lainnya. Justru sifat congkak, merasa benar sendiri, merasa hebat, itu harus dihilangkan; dan terutama “…tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Flp 2:3-4). Merendahkan diri awal dari sukacita dan damai sejahtera. Read more