KABAR DARI BUKIT (Edisi 28 Juli 2019)

Berakar dan Bertumbuh

Firman Tuhan hari Minggu ini – Minggu VII setelah Pentakosta, Kol. 2:6-15, memberi kita petunjuk tentang pentingnya berakar yang kokoh dalam Kristus dan terus bertumbuh di dalam Dia. Untuk kita yang sudah lama lulus sidi atau baptis dewasa, pertanyaan ini tetap relevan bagi kita. Penerimaan dan pengakuan akan Kristus semestinya akar pemahaman dan iman kita semakin tumbuh kuat ke bawah dan batangnya tumbuh ke atas bertambah kokoh dan tahan badai goncangan. Dan, semua itu tampak dalam buah kehidupan kita.

Memang ada godaan isi Alkitab dikatakan tidak masuk akal sehingga tidak layak dipercaya merupakan bisikan setan yang membohongi manusia. Pengutamaan hikmat manusia dengan ilmu pengetahuan dan filsafat kata-kata indah bersama tesis dan antitesis, yang seolah-olah lebih mampu menjelaskan dunia ini dan permasalahan manusia, jelas tidak berdasar (ayat 8). Semua ada tempat dan konteksnya dan saling mengisi. Apalagi mengatakan ada ajaran lain lebih baik, jelas itu isapan jempol. Tidak ada ajaran lain lebih baik yang meminta mengasihi musuh dan Tuhan mau tetap campur tangan dalam segala urusan manusia. Itulah ajaran Alkitab, ajaran Kristiani. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 21 Juli 2019)

Keutamaan Kristus

Firman Tuhan hari Minggu ini, Minggu VI setelah Pentakosta, Kol. 1:15-28, berbicara tentang Keutamaan Kristus (ayat 15-23) dan dikaitkan dengan pelayanan dan penderitaan Paulus (ayat 24-28). Melalui Kristus, Allah yang sebelumnya tidak kelihatan menjadi tampak nyata bagi manusia; menjadi manusia dan berbicara langsung dengan manusia (ayat 15). Hampir 400 tahun Allah tidak berbicara kepada manusia melalui nabi-nabi dan yang terakhir nabi Maleakhi, maka keputusan Allah menjadi manusia menjadi sangat tepat.

Yesus Kristus, Gambar Allah, yang satu dengan Bapa (Yoh.10:30) meneguhkan bahwa dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia (ayat 16-17). Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (ayat 19), dan itu sangat diperlukan oleh kita umat percaya. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 14 Juli 2019)

Layak dan Berkenan

Firman Tuhan hari Minggu ini, Minggu V setelah Pentakosta, Kol. 1:1-12, berbicara tentang bagaimana kehidupan orang Kristen yang sebenarnya. Rasul Paulus menjadi teladan bagi kita, dengan memberi salam pembukaan dengan ungkapan rasa syukur disertai doa pengharapan merupakan ciri khasnya, termasuk untuk jemaat di Kolose yang tidak dikenalnya. Kita pun, dalam berkomunikasi, termasuk mengirim SMS/WA, ciri itu mestinya tampak pada setiap umat Kristiani.

Jemaat Kolose dibimbing oleh Epafras, murid Rasul Paulus di Efesus (Kis. 19:10; Kol. 4:12-13). Semula wilayah ini penuh dengan ajaran palsu, kekuatan mistik dan penyembahan berhala. Rasul Paulus menekankan kembali Injil yang diajarkannya, yakni: berpusat pada Kristus (ayat 4), firman kebenaran (ayat 5), berkembang di seluruh dunia, dan mengenalkan kasih karunia Allah (ayat 6). Ini yang menjadi sukacita bagi Rasul Paulus dan kita semua, ketika Injil itu berbuah, dan buahnya adalah beriman kepada Kristus Yesus, berwujud kasih terhadap semua orang orang percaya (dan sesama), serta kuatnya pengharapan yang disediakan bagi kita di sorga (ayat 4-5, band. 1Kor. 13:13).

Tujuan semua itu agar hidup kita semakin layak di hadapan Tuhan, serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik. Tujuan kedua, agar pengenalan dan pengetahuan yang benar tentang Allah terus bertumbuh (ayat 10). Ini akan terjadi jika setiap orang percaya, menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna (ayat 9).

Kita hidup di dunia ini dengan segala hasrat keinginan daging, ingin dihormati dan pujian, serta tawaran dunia, bahkan ujian tantangan rasa sakit, dan semuanya tidak mudah diabaikan. Oleh karenanya, kita perlu berdoa agar terus dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya, untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (ayat 11).

Rasa syukur wajib dinaikkan kepada Bapa, yang telah melayakkan kita dengan melepaskan kita dari kuasa kegelapan, dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih, Yesus Kristus; di dalam Dia kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa (ayat 13-14). Maka teruslah berbuah, menjadi berkat di setiap saat, bertambah hikmat memahami kehendak Bapa, dan semakin berkenan kepadaNya.  Selamat hari Minggu dan selamat beribadah bagi kita semua. Tuhan memberkati, amin.

(Untuk melihat khotbah lainnya hari Minggu ini dan sesuai leksionari, PERBUATLAH KASIH, MAKA ENGKAU AKAN HIDUP (Luk 10:25-37) silahkan klik web www.kabardaribukit.org).

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GKSI dan Wakil Ketua Dewan Penasihat Alumni ITB Gaja Toba

KABAR DARI BUKIT (Edisi 7 Juli 2019)

Tabur Tuai

Firman Tuhan hari Minggu ini Gal 6:[1-6] 7-16 berbicara tentang hukum tabur tuai dan kewajiban membantu mereka yang berkekurangan. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.
Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (ayat 1b-2). Saling menanggung dalam nas ini tidak terbatas pada kebutuhan hidup, tetapi juga dalam berbagai kesulitan lainnya. Ada yang miskin dan ada yang lemah secara rohani, belum kuat dan teguh dalam kepribadian. Maka kita yang lebih mampu dan lebih kuat, baik secara ekonomi atau keteguhan roh, perlu menolong dan mendukungnya. Mereka yang terjatuh dalam dosa, perlu dituntun keluar dari kubangan itu (Yoh. 13:34).

Ini pentingnya ada para pengajar, penunjuk jalan atau hamba-hamba Tuhan. Berangkat dari hukum dan tradisi Israel, adanya suku Lewi dan para imam, mereka menjadi tanggungan jemaat (ayat 6). Tentu tujuannya agar mereka dapat lebih fokus dalam pelayanan. Memang Rasul Paulus juga memberi arahan dan contoh, agar para pengajar ini tidak terlalu tergantung pada pemberian orang, berupaya hidup mandiri. Paulus memberi teladan dengan ia membuat dan menjual tenda, bahkan dengan itu bisa mendukung teman sepelayanannya (Kis 20:34-35). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 30 Juni 2019)

Kemerdekaan Kristen

Firman Tuhan hari Minggu ini Gal 5:1, 13-25 berbicara tentang kemerdekaan Kristen. Nas minggu lalu menekankan, dengan Taurat manusia mengenal dosa dan dimana ada Taurat disitu ada dosa. Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Hukum Taurat mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa dan menjadi belenggu yang mengikat, sebab manusia tidak mungkin bisa menjalankan hukum Taurat yang dibuat menjadi rumit oleh para pemimpin Yahudi.

Tetapi kini orang Kristen adalah orang merdeka. Kita telah dipanggil untuk merdeka tetapi janganlah mempergunakan kemerdekaan itu untuk kesenangan diri sendiri. Kebebasan dari ritual-ritual keagamaan Yahudi tidak dipakai untuk kesenangan pribadi. Justru kebebasan itu justru dipakai untuk membangun iman sesama, melayani seorang akan yang lain oleh kasih… “seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (ayat 13-14, Rm. 13:8). Artinya, kita dimerdekakan dari perbudakan dosa dan dari kutuk hukum Taurat supaya hidup dalam kasih dan mempraktikkan kasih dengan melayani kepada sesama. Inilah kebenaran itu dan kebenaran yang memerdekakan orang percaya (Yoh. 8:32, 36).

Mungkin itu tidak mudah. Tetapi nas minggu ini memberikan arahan jelas, untuk itu “hiduplah oleh Roh.” Dengan hidup yang dipimpin Roh Kudus, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan (ayat 16-17). Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (ayat 25).

Mereka yang hidup dalam daging berarti masih mengikuti hawa nafsu, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, penyembahan berhala (dunia), perseteruan, perselisihan, kedengkian, kemabukan dan sejenisnya (ayat 19-21a). Maka mereka yang masih melakukannya tidak layak mengklaim telah mendapat anugerah keselamatan dan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (ayat 21b).

Hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh tentu akan berbuah baik. Ayat 22 dan 23 menuliskan buah-buah Roh, yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri. Buah Roh tersebut tampak, ada yang bersifat ke dalam diri kita, bersifat ke luar berupa pelayanan, dan ada kontrol. Jadi untuk mengukur diri kita apakah sudah merdeka dalam kebenaran Kristus dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus, mari kita periksa kesembilan buah itu dalam diri kita, dan teruslah berusaha diperbarui. Tidak ada yang sempurna tetapi kita menuju kesempurnaan. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

(Untuk melihat khotbah lainnya hari Minggu ini dan sesuai leksionari, Harga Mengikut Yesus (Luk 9:51-62) silahkan klik link www.kabardaribukit.org).

Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GKSI dan Wakil Ketua Dewan Penasihat Alumni ITB Gaja Toba

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!