KABAR DARI BUKIT (Edisi 25 Agustus 2019)

Kemenangan atau Hukuman

Suatu kali saya ikut ibadah di gereja besar dan populer di mal daerah Kuningan, Jakarta. Saat khotbah, pendetanya membaca ayat terakhir nas minggu ini: “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Kemudian pendeta membuka khotbahnya dengan pertanyaan: apakah Allah kita itu penuh kasih atau pemarah? Jemaat menjawab: “Penuh kasih.” Lantas pengkhotbah meresponnya: “betul, tetapi Allah kita itu pemarah, berupa api yang menghanguskan.” Semua kaget; dan saya dengar ia tidak pernah lagi dipanggil berkhotbah di tempat itu. Jelas, ia kurang bisa memahami Allah kita itu Maha Kasih tetapi juga Maha Adil, sehingga harus menghukum; bukan karena pemarah apalagi pendendam.

Firman Tuhan hari Minggu ini – Minggu XI setelah Pentakosta, diambil dari Ibr 12:18-29 yang berbicara tentang tanggung jawab yang berat bagi umat Yahudi (dan tentunya kita semua) yang telah mengikut Kristus. Pasal sebelumnya (ayat 3-17) meminta mereka untuk kuat teguh dalam penderitaan yang mereka alami dari orang Yahudi, tetap berusaha hidup damai dengan sesama, dan terus menjaga kekudusan hidup. Penjelasannya: “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (ayat 11). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 18 Agustus 2019)

Iman dan Kemenangan

Firman Tuhan hari Minggu ini – Minggu X setelah Pentakosta, diambil dari dua bab yakni Ibr 11:29-40 dan Ibr 12:1-2. Kita tahu naskah Alkitab saat ditulis tidak memakai pasal dan ayat. Tetapi kadang pengelompokan bab yang dilakukan bapa-bapa gereja terdahulu tidak semuanya tepat, beberapa ayat lebih baik ditarik ke bab sebelumnya atau sesudahnya yang lebih cocok konteksnya. Nas minggu ini menceritakan kekuatan iman dari tokoh-tokoh dalam Alkitab, dan kesimpulannya ada di empat ayat terakhir.

Nas diawali dengan kisah Nabi Musa dan bangsa Israel yang berhasil lolos melewati Laut Merah, kemudian tembok Yerikho runtuh setelah dikelilingi tujuh hari dipimpin Yoshua, Rahab perempuan sundal selamat berkat dukungan dan imannya terhadap kemenangan Israel; Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel menjadi pemenang, semua itu oleh karena pertolongan Allah. Iman mereka membuat Allah senang dan berkenan (Ibr 11:6).

Dengan adanya iman, maka ada motivasi yang kuat, dorongan dan energi tambahan untuk membuat sesuatu menjadi berhasil. Berjalan dengan iman memang tidak menjanjikan bahwa perjalanan menjadi mudah. Tetapi iman yang kuat menghasilkan ketekunan dan lolos dari ujian (Yak 1:3). Keraguan dan setengah hati membuat upaya tidak maksimal. Jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin (Ibr 11:6). Target dan tujuan tidak akan tercapai.

Pesan lainnya nas minggu ini yakni dalam berjalan dengan iman, kita perlu menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (12:1). Artinya, beban dosa tidak berkenan kepada Allah dan menjadi penghalang dalam mencapai tujuan dan rencana Allah. Upaya sendiri manusia jelas tidak maksimal. Perlu fokus dan memohon pertolongan Allah. Ajakan di akhir nas sangat penting: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (12:2).

Satu hal lain yang juga perlu kita renungkan, saat kemarin bangsa kita merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-74. Para pendiri bangsa ini juga memiliki keyakinan akan tujuan bangsa kita sebagaimana mereka merumuskannya dalam Pancasila. Kita umat Kritiani sebagai bagian bangsa ini sejak awal, perlu terus menjaga dan meneruskannya, agar tujuan-tujuan tersebut terwujud dan terutama tidak dalam waktu yang berkepanjangan, yang menghabiskan energi sia-sia. Pertentangan dan radikalisme yang tampak menonjol akhir-akhir ini, agar disikapi dengan kasih Tuhan Yesus. Arogansi dan eksklusifisme tidak akan efektip. Justru daya dari semua anak bangsa, dihimpun dan diarahkan untuk saling mendukung, mengisi, sehingga perjuangan bapak bangsa benar-benar terwujud nyata. Iman kita mengaku seperti ayat 11:40, “Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita….” Jadilah pemenang dengan iman yang kuat teguh. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Khotbah lainnya untuk hari Minggu ini dan sesuai leksionari: MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN (Luk 12:49-56), dapat mengklik web www.kabardaribukit.org.

(Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GKSI dan Wakil Ketua Dewan Penasihat Alumni ITB Gaja Toba)

KABAR DARI BUKIT (Edisi 11 Agustus 2019)

Iman dan Percaya

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1).

Firman Tuhan hari Minggu ini – Minggu IX setelah Pentakosta, ada dua bagian dari Ibr 11. Ayat 1-3 berbicara tentang iman, dan ayat 8-16 menjelaskan tentang iman Abraham. Sebagai informasi, ayat 4-7 bercerita tentang iman beberapa hambaNya dalam PL: Habel yang diterima persembahannya, Henokh terangkat ke sorga, dan Nuh yang taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya.

Kekristenan berprinsip tentang tiga hal pokok; percaya bahwa Allah ada, dan Allah bekerja dalam hidupnya melalui Roh Kudus. Di antara kedua hal itu, percaya Yesus adalah Allah yang menjadi manusia dan mengakui sebagai Juruselamat pribadinya melalui penebusan dosa yang terjadi di kayu salib Golgota.

Hubungan Allah dan manusia menurut Derek Prince (Faith To Live By, Derek Prince Ministries, India, 1977), dilihat dalam dua hal yang seolah-olah kontradiksi. Dari sudut Allah: bagi Allah segala sesuatu mungkin (Mat 19:26b); dan dari sudut manusia: Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya! (Mrk 9:23b). Tetapi dari segi praktiknya, ini menjadi sejalan dan dapat diterima, yakni melalui iman, segala sesuatu yang mungkin bagi Allah sejajar dan menjadi mungkin bagi orang percaya. Artinya, iman-lah yang menjadi penghubung (channel) antara yang mungkin bagi Allah menjadi tersedia bagi manusia. Melalui iman, segala yang mungkin bagi Allah, sama menjadi mungkin bagi manusia yang percaya. Dahsyat, kan?

Derek Prince juga menjelaskan, dari segi bahasa Yunani, percaya adalah pelaksanaan (exercising) iman, dan penghikmatan (exercising) iman adalah percaya. Dengan memahami hubungan tersebut, ayat 1 menjadi lebih mudah dimengerti: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Segi prakteknya selain Habel, Henokh dan Nuh, ayat 8-16 nas minggu ini menjelaskan tentang iman Abraham: ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui, dan menjadi kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah, dan tinggal berdiam disana bersama keluarganya. Kemudian ia juga teguh dalam iman, melalui Sara istrinya, orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya (ayat 11-12). Dan, semua terbukti!!

Kita pun dalam perjalanan kehidupan di dunia saat ini, tidak terlepas dari adanya pengharapan dan pergumulan. Semua itu mari kita kembalikan kepada dua relasi tadi: percaya dan teguh dalam iman. Bagian kita memberi dan berusaha dengan yang terbaik, dan selebihnya Allah yang mengambil bagian kuasaNya untuk memberi yang terbaik bagi kita. Dengan demikian, seperti ayat 13, sesuatu yang mustahil, seolah mati terkubur, atau yang dari jauh melambai-lambai, termasuk yang merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi,
tetaplah percaya dan teguh. “Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (ayat 6b). Terpujilah Dia. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah bagi kita semua. Tuhan memberkati, amin.

Untuk melihat khotbah lainnya untuk hari Minggu ini dan sesuai leksionari: HENDAKLAH KAMU SIAP SEDIA (Luk 12:32-40), silahkan klik web www.kabardaribukit.org.

(Pdt. Em. Ramles M Silalahi, Ketua Majelis Pertimbangan Sinode GKSI dan Wakil Ketua Dewan Penasihat Alumni ITB Gaja Toba)

KABAR DARI BUKIT (Edisi 4 Agustus 2019)

Perkara di Atas

Firman Tuhan hari Minggu ini – Minggu VIII setelah Pentakosta, Kol. 3:1-4, meminta kita untuk berpikir dan fokus tentang perkara-perkara di atas, bukan soal-soal yang di bumi. Kita telah dibangkitkan bersama Kristus, berarti hidup kerohanian kita memasuki hidup baru bersama dengan Kristus. Meski fisik kita belum berubah, yakni masih memiliki tubuh yang sama, tetapi Allah telah memperbarui roh dan jiwa kita dengan Roh Kudus yang tinggal dan berkuasa di dalam hati kita. Betul, hidup dan tinggal di dunia ini kita tidak bisa lepas dari kebutuhan pangan, sandang, biologis, rasa aman, dan lainnya; demikian juga kita tidak bisa menghindar dari penyakit dan kematian tubuh duniawi yang ada. Bangkit bersama Kristus berarti memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk membaharui hidup kita secara terus menerus (lihat pasal 2 sebelumnya), mengakui bahwa hidup kita sudah menjadi milik-Nya, sehingga kita memiliki sifat dan perilaku serupa seperti Kristus (band. Rm. 6:5).

Memikirkan hal-hal di atas berarti berjuang untuk menempatkan prioritas sorgawi dalam kehidupan praktis sehari-hari. Meski cara berpikir dunia akan mempengaruhi tindakan kita, tetapi kita tetap berkonsentrasi pada hal-hal yang abadi dibandingkan dengan hal yang sementara di dunia ini, dan itu memperlihatkan kedewasaan dalam berpikir. Memikirkan tentang hal-hal di atas berarti melihat kehidupan ini dari sudut pandang Allah dan mencari rencana-Nya dalam hidup kita (lihat Kol 3:15 hingga pasal 4 tentang gambaran bagaimana Kristus menguasai hati dan pikiran orang-orang Kristen – band. Flp 4:9). Hal ini juga akan menghasilkan penangkal bagi kecendrungan materialisme, dan kita juga mendapatkan pemahaman yang benar akan materi dan kekayaan ketika kita melihatnya dari sudut pandang sorgawi. Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!