KABAR DARI BUKIT (Edisi 23 Februari 2020)

Transfigurasi Umat

Hari ini adalah Minggu Transfigurasi, minggu terakhir sebelum Pra-Paskah. Transfigurasi berarti perubahan rupa atau metamorfosis; saat wajah Tuhan Yesus berubah, bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, penuh dengan kemuliaan. Peristiwa itu dikisahkan dalam Mat 17:1-9 yang menjadi bacaan kita Minggu ini, tatkala Tuhan Yesus bersama tiga muridNya (Yohanes, Petrus dan Yakobus) bertemu dengan Musa dan Elia di atas gunung yang tinggi, kemungkinan Gunung Hermon atau Tabor, tempat berada Gereja Transfigurasi saat ini.

Hari Rabu minggu ini adalah Rabu Abu, sebuah peringatan dan penghayatan bahwa kita berasal dari debu dan kembali menjadi debu (Kej.3:19). Umat Katholik diolesi keningnya sebagai simbol. Selama enam minggu ke depan, kita akan melewati masa pra-paskah (lent) dan akan tiba di Jumat Agung 10 April 2020, peringatan akan penderitaan Tuhan Yesus di sepanjang hari, via dolorosa dan berakhir mati tergantung di kayu salib, sebagai pengganti tebusan kita orang berdosa.

Peristiwa transfigurasi di atas gunung meneguhkan beberapa hal, yakni: pertama, kebenaran Tuhan Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah … mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7). Hal ini ditegasan Yohanes yang ikut naik ke gunung, dengan menuliskan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa….” (Yoh. 1:14). Rasul Petrus juga menuliskan kesaksiannya, “Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus” (2Pet. 1:18, band. ayat 5 nas).

Pesan kedua nas ini untuk menyegarkan ingatan kita, bahwa bersama di dalam hadirat Tuhan sungguh menyenangkan. Tuhan Yesus naik ke gunung tinggi itu untuk berdoa (ayat 1; Luk. 9:28). Respon Petrus melihat situasi itu berkata: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (ayat 4). Ada sukacita penuh. Ada semangat melayani. Maka, jika hidup kita saat ini lebih fokus pada diri sendiri, kurang berbahagia, berusahalah lebih banyak waktu bersama Tuhan. Doa, pujian, dan bacaan tentangNya. Kebahagiaan pun akan berlimpah.

Hal terakhir pesan nas minggu ini adalah penegasan Tuhan Yesus adalah Allah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sekaligus Allah orang mati dan yang hidup. Nabi Musa dan Elia mewakili figur utama dalam PL bertemu dengan Tuhan Yesus. Melalui nas ini juga ada pemberitahuan awal Ia akan bangkit dari kematian (ayat 9), dan nubuatan itu digenapi. Ini sekaligus pengajaran kepada kita, di balik kejadian yang membuat kita sedih atau menderita, bersama Tuhan Yesus semua akan berakhir dengan kemenangan. Mari terus memuliakan Tuhan dan ikut mentrasfigurasikan wajah umat sebagai kesaksian bagi sesama. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Khotbah lainnya bagian leksionari hari Minggu ini: NUBUAT DIGENAPI (2Pet 1:16-21) silahkan mengklik website www.kabardaribukit.org.

Pdt.(Em.) Ramles M. Silalahi

KABAR DARI BUKIT (Edisi 16 Februari 2020)

Kasih yang Unggul

Firman Tuhan hari Minggu ini masih bagian dari Khotbah di Bukit, Mat 5:21-37, menekankan penggenapan Hukum Taurat dengan antitesis pemahaman baru. Ada kedalaman dan ketegasan. Sepeeti diingatkan pada ayat 20 yang merupakan parameter bagi orang percaya: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Ada tiga hukum yang diuraikan dalam nas minggu ini, yakni hukum Taurat keenam (jangan membunuh Kel.20:13), hukum Taurat ketujuh (jangan berzinah Kel. 20:14) dan hukum Taurat kesembilan (jangan mengucapkan saksi dusta Kel.20:16). Tuhan Yesus membahasnya tidak sekedar arti sempit harfiahnya, tetapi melihat akar penyebabnya sehingga kesalahan dalam gradasi kecilnya pun, harus dihukum. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 9 Februari 2020)

Garam dan Terang

Firman Tuhan hari Minggu ini bagi kita, Mat 5:13-20 (masih bagian dari Khotbah di Bukit), terdiri dari dua topik: pertama, identifikasi atau pengenalan diri para pengikut Kristus sebagai garam dan terang dunia (ayat 13-16). Kenal diri ini penting dan harus menjadi syarat dan ciri utama orang percaya. Kedua, tentang status Hukum Taurat dalam Perjanjian Baru (ayat 17-20) yang tidak hilang lenyap dengan datangnya Hukum Kristus.

Menjadi garam bagi orang percaya berarti bermanfaat, menjadi berkat. Garam memiliki fungsi sebagai pemberi rasa. Tanpa garam, semua makanan akan hambar. Seorang penulis berkata jika tidak ada garam, kehidupan tidak bisa bertahan lama. Garam juga memiliki fungsi sebagai pengawet, membuat bahan makanan bisa bertahan lama tidak cepat busuk. Garam juga merupakan pengikat, yang bagi jenis-jenis makanan tertentu keberadaan garam menyatukan adonan. Dan yang paling penting, garam yang berbentuk putih bersih, kecil, tidak tampak ketika fungsinya dipakai. Lumer menyatu. Artinya, kehidupan orang Kristen menjadi berkat harus tersembunyi, bukan penonjolan diri. Pengikut Kristus yang tidak berfungsi sebagai berkat, tidak berguna dan layak dibuang dan diinjak orang saja (ayat 13). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 2 Februari 2020)

Ucapan Bahagia

Firman Tuhan bagi kita hari Minggu ini, Mat 5:1-12, tentang Ucapan Bahagia Tuhan Yesus yang merupakan bagian pertama dari lima bagian Khotbah di Bukit. Kita bisa membayangkan Tuhan Yesus yang naik ke bukit, diikuti oleh para muridnya. Kemudian Ia duduk, dan kebiasaannya para murid akan tetap berdiri mendengarkan. Situasi ini juga seakan menggambarkan saat Nabi Musa menerima Hukum Taurat dari Allah di bukit Sinai (Kel. 19-26).

Khotbah di Bukit merupakan penegasan gagasan pola hidup baru bagi mereka yang mengikut Dia. Gagasan utama diawali dengan tawaran kebahagiaan yang berbeda dengan kebahagiaan pemahaman dunia. Beberapa versi Alkitab menggunakan kata “Berbahagialah” tetapi ada yang memakai kata “Diberkatilah” (misal NIV), meski maknanya sama. Gagasan kebahagiaan dalam nas ini diikuti dengan pengenalan diri sendiri, yakni sebagai terang dan garam dunia (ayat 13-16). Kemudian Tuhan Yesus menegaskan keberadaan hukum Taurat (ayat 17-19), dan memperlihatkan cara pandang baru dalam melakukannya, sekaligus memberi koreksi atas pemahaman para ahli Taurat dan orang Farisi yang berlaku saat itu (ayat 20-dab).

Kebahagiaan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus didasari dengan memiliki Kerajaan Sorga (ayat 3, band. ayat 10 dan 12). Kemudian cara pandang dan karakter pribadi yang dihendaki Tuhan Yesus sehingga dapat merasakan kebahagiaan tersebut, yakni:

– yang miskin di hadapan Allah (ayat 3), bermakna rendah hati, tidak sombong, dan takut akan Allah;
– yang berdukacita (ayat 4), bermakna peduli dan prihatin terhadap situasi sekelilingnya, masyarakat dan bangsanya; jadi bukan (hanya) yang berdukacita secara umum;
– yang lemah lembut (ayat 5), bermakna bersikap kasih, sopan santun, tidak kasar dan mementingkan diri sendiri;
– lapar dan haus akan kebenaran (ayat 6), yakni kiasan terhadap mereka yang mencari hakekat segala sesuatu, tidak hanya terpesona pada kulit atau bungkus, penampilan, tetapi dalam dan makna sesungguhnya kehendak Tuhan;
– yang murah hati (ayat 7) karena akan memperoleh kemurahan. Ini sama dengan “berilah dan kamu akan diberi” (Luk 6:38), menjadi berkat dan akan diberkati;
– yang suci hatinya (ayat 8), tidak dipengaruhi iblis dan ego sehingga mereka akan mudah melihat Allah, dalam pengertian ikut bekerja dalam dirinya;
– yang membawa damai (ayat 9), yang dipimpin Roh Allah (Rm 8:14) mereka akan disebut anak-anak Allah.

Bagian kedua (ayat 10-12) nas ucapan bahagia terkait dengan penderitaan penganiayaan yang diterima oleh mereka yang membela kebenaran, atau difitnah oleh mereka yang jahat. Para nabi-nabi dan rasul juga mengalami hal yang sama tetapi semua itu upahnya besar di sorga. Sebagai pengikut Kristus, mari kita ubah cara pandang sehingga kita benar-benar memiliki kerajaan sorga di dunia ini dan merasakan kebahagiaan sejati yang inti sebenarnya adalah anugerah dan kasih Allah. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan memberkati, amin.

Khotbah lainnya bagian leksionari hari Minggu ini: Hikmat Allah dan Hikmat Manusia (1Kor 1: 19-31) silahkan membacanya dengan mengklik website www.kabardaribukit.org.

Pdt.(Em.) Ramles M. Silalahi

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!