KABAR DARI BUKIT (Edisi 26 Juli 2020)

YANG PALING BERHARGA

”Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat. 13:46).

Kalau ada yang bertanya bagaimana prioritas saya dalam menjadi kehidupan, maka jawabannya adalah: Pertama, Tuhan. Kedua, keluarga. Ketiga, pelayanan. Keempat, pekerjaan. Kelima, lihat situasi faktual lainnya. Saya memilih Tuhan yang terutama, karena tujuan hidup saya adalah ingin masuk sorga. Saya tidak mau masuk neraka, ngeri, dan akan terus berusaha menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk dan kehendak Tuhan. Amin.

Bagaimana menjabarkan hal tersebut, maka pengalaman adalah guru yang terbaik. Learning by doing. Pahami, pegang prinsipnya, doakan, dan praktekkan dalam keseharian. Jatuh bangun, turun naik, itu biasa. Misalnya, coba setiap bangun pagi mulailah dengan berdoa, ekspresikan rasa sayang sama istri dan anak, membagikan firman Tuhan (bagi hamba Tuhan), lantas urusan pekerjaan (bila ada), dan seterusnya. Sebelum tidur menutup hari, lakukan yang sama. Sederhana, dan tidak susah. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 19 Juli 2020)

LALANG DAN GANDUM

”Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat. 13:30)

Firman Tuhan hari Minggu ini bagi kita dari Mat. 13 ayat 24-30 dan ayat 36-40. Bagian pertama menceritakan perumpamaan dari Tuhan Yesus tentang lalang yang tumbuh di antara gandum, dan bagian kedua berisi penjelasannya. Ternyata di antara benih gandum yang ditabur, sering tumbuh lalang. Dan itu adalah kerja Iblis si jahat, musuh yang menaburkan benih lalang yang sengaja mengganggu benih yang ditaburkan Tuhan. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 12 Juli 2020)

DITABUR DAN BERBUAH

”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat. 13:9)

Firman Tuhan di hari Minggu ini, Mat. 13:1-9, 18-23, berkisah tentang perumpamaan dari Tuhan Yesus tentang seorang penabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (ayat 4-8).

Orang Yahudi yang berkerumun di pantai mendengar Yesus yang berbicara di perahu, mungkin tidak semua tahu artinya, apalagi maksud perumpamaan itu. Maklum, sebagian mereka adalah nelayan, bukan petani. Lalu Tuhan Yesus pun menjelaskan maksud-Nya, bahwa penabur adalah Dia sendiri atau hamba Tuhan pemberita firman, dan yang ditabur adalah firman Tuhan. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (ayat 19-23). Jadi kita lihat empat respons terhadap benih firman di tempat empat tanah yang berbeda. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 5 Juli 2020)

KUK DAN KELEGAAN

“Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat. 11:27).

Firman Tuhan Minggu V setelah Pentakosta hari ini, Mat. 11:16-19, 25-30, berbicara tentang dua hal: Pertama, tentang kekecewaan Tuhan Yesus kepada orang Yahudi yang banyak berkumpul di hadapan-Nya. Sikap mereka seperti anak-anak di pasar, mendua. Mereka menolak pesan penghakiman Yohanes yang diungkapkan dengan tidak makan dan minum, dan pesan Yesus tentang sukacita dan harapan yang diungkapkan dengan makan dan minum. Mereka mempertanyakan, harapan mereka terhadap Yesus dan Yohanes tidak sesuai dengan gambaran Elia dan Mesias (lihat ayat 14). Jelas ini salah, kita tidak bisa mengukur kebenaran dengan pengharapan kita. Cara pandang yang rendah hati, justru membuat kita dapat melihat karya dan kebesaran Tuhan. Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!