Month: November 2020
KABAR DARI BUKIT (Edisi 29 November 2020)
PULIHKANLAH KAMI
“Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat” (Mzm. 80:8)
Setelah enam tahun berturut-turut menulis renungan khotbah sesuai leksionari, dan empat diantaranya telah dibukukan, saya tahun ini berencana menulis dari kitab Mazmur sesuai kalender gerejawi setiap minggumya. Untuk itu terpujilah Tuhan, dan doa saya kepada-Nya agar diberi kesempatan untuk menulis lengkap seluruh nas khotbah yang menurut sistem leksionari ada 12 tahun, yakni tiap minggu terdiri dari empat nas (dari PL, Mazmur, Surat-surat, dan kitab Injil) dan ada tahun A, B dan C.
Kitab Mazmur berisi 150 pasal berupa kumpulan mazmur, nyanyian dan doa, serta ditulis oleh Raja Daud (73 mazmur), dan enam orang lainnya. Kitab ini kerap dipakai dalam ibadah PL, sebagai ekspresi pergumulan dan pengharapan umat Israel. Oleh karena itu sangatlah tepat jika kita membaca kitab Mazmur, mengingat pandemi Covid-19 masih terus menghantui seluruh dunia, meski hampir setahun telah berlalu sejak timbul kasus di Wuhan, China. Read more
KABAR DARI BUKIT (Edisi 22 November 2020)
HIDUP ADALAH IBADAH
“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai” (Mzm. 100:1-2)
Hari ini kita kembali masuk ke Minggu Kristus Raja, minggu terakhir dalam kalender gerejawi sebelum masuk ke masa adven minggu depan. Setelah perjalanan setahun ibadah kita, berdoa dan bekerja untuk berkarya, menaikkan pujian, membaca dan mendengarkan firman Tuhan, semoga semua itu membuat iman kita semakin diteguhkan bahwa Kristus adalah Raja segala raja, Tuhan yang terus memberkati hidup kita.
Firman Tuhan hari ini adalah Mzm. 100; sebuah himne singkat, lima ayat, dan sering dipakai sebagai pengantar masuk dalam ibadah. Sangat jelas ketika menghampiri Allah, kita bersukacita, bersyukur dan berpengharapan, sehingga layak dengan sorak-sorai (ayat 1-2). Tetapi sorak-sorai jangan membuat pudarnya rasa “hormat dan takut” akan Dia, misalnya berekspresi berjingkrak-jingkrak mirip kesurupan, atau doa yang panjang-panjang bagai memberi daftar belanjaan, apalagi dengan bahasa yang agak memaksa. Ibadah seperti ini kehilangan dasar dan makna kebenaran Kristiani, yakni fokus penyembahan kepada Dia sebagai Raja, Allah Mahakuasa. Read more
KABAR DARI BUKIT (Edisi 15 November 2020)
PERTANGGUNGJAWABAN HIDUP
“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya” (Mat. 25:29)
Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 25:14-30 masih berbicara perihal Kerajaan Sorga, dengan perumpamaan tentang talenta. Talenta bukanlah uang logam, tetapi ukuran berat, dan nilainya tergantung kepada bahannya, misalnya dari emas, perak, atau tembaga (lihat juga Luk 19:12-27 tentang uang mina).
Talenta sering disamakan dengan karunia rohani, yakni karunia yang Tuhan berikan kepada setiap orang. Ada yang mencoba membedakannya, misalnya pendapat talenta lebih kepada bakat, bisa dilatih, tetapi itu tidak penting sepanjang kita percaya Tuhan yang menganugerahkan talenta atau karunia-karunia tersebut sesuai tujuan dan rencana-Nya pada setiap orang.
Nas ini menceritakan seorang tuan memberi kepada masing-masing orang sejumlah talenta yang berbeda. Tentu yang dimaksudkan tuan dalam hal ini adalah Tuhan Yesus sendiri, yang akan datang kembali. Dalam nas ini ada yang diberi lima, dua, dan ada yang satu. Mereka yang mendapatkan lima dan dua talenta, ternyata dapat menggunakannya dan menghasilkan laba. Tuhan pun senang sekali dan berkata: “…. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (ayat 21 dan 23). Kerajaan Sorga telah menanti. Read more
KABAR DARI BUKIT (Edisi 8 November 2020)
BIJAKSANA ATAU BODOH
“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat. 23:12)
Tidak terasa dalam tiga minggu ke depan menurut kalender gereja kita akan memasuki masa Adven. Firman Tuhan hari Minggu ini Mat. 25:1-13 berbicara tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, pengiring yang menyongsong mempelai laki-laki dengan membawa pelita. Tradisi menanti pengantin pria rupanya umum di Palestina. Dalam perumpamaan ini disebutkan dari sepuluh, ada lima gadis bodoh dan lima yang bijaksana. Gadis bodoh membawa pelita tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana membawa pelita dan juga minyak dalam buli-buli mereka (ayat 2-4).
Yang jelas semua gadis kemudian mengantuk dalam penantian, lalu tertidur. Tetapi di tengah malam, terdengar suara berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Dan kita tahu, gadis bodoh tidak dapat menyalakan pelitanya, dan tidak ada seorangpun gadis bijaksana yang mau memberi minyak. Mencari kesempatan di saat genting sering upaya sia-sia. Read more