KABAR DARI BUKIT (Edisi 27 Juni 2021)

DARI LORONG KEMATIAN

Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri (Mzm. 30:12-13a)

Firman Tuhan di hari Minggu ini dari Mzm. 30, berisi 13 ayat. Judul perikopnya: Nyanyian syukur karena selamat dari bahaya. Sesuai leksionari, di awal minggu-minggu setelah Pentakosta, temanya masih tuntunan kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan cobaan, ujian, badai, kesusahan dan bahaya. Mazmur 13 ini sangat cocok dilantunkan oleh mereka yang hampir melewati pintu kematian, seperti sembuh dari terpapar Covid-19, atau lepas dari penyakit dan bahaya lain yang mengerikan.

Semua orang pasti takut pada kematian. Berbohong jika ada yang menyangkalnya. Sebab bermacam-macam bentuk ketakutan orang terhadap pintu maut itu. Ada yang takut karena merasa lorong yang akan dilewatinya tidak jelas: gelap atau terang benderang; masuk sorga atau neraka kekekalan. Ada ketakutan terhadap jalan kematiannya itu sendiri, berharap tidak melalui (rasa) sakit yang berkepanjangan, tetapi jalan singkat seperti lewat tol. Ada ketakutan lain, yakni terhadap orang-orang yang akan ditinggalkan, apakah mereka kelak dapat mandiri kokoh atau akan pecah pudar tak bermakna. Bahkan ada yang takut justru terhadap kematian orang-orang yang dikasihinya, termasuk yang meninggalkan harta bendanya.

Pemazmur Daud mengalami hal itu dan lolos dari lobang maut. Ia pun mengatakan, “TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur” (ayat 4). Daud pulih, setelah berseru-seru memohon pertolongan Tuhan, bahkan dengan memelas menggugah seperti di ayat 10: “Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu?” Bahwa ia pernah melupakan Tuhan dan mengandalkan kehebatan dirinya, yang membuat Tuhan marah, semua itu sudah disadari dan disesalinya (ayat 6-8).

Setiap orang di saat memasuki babak penyakit kritis, misalnya, Covid-19 yang sedang mengganas, tentu mengalami dan merasakan ketakutan itu. Dan bukan hanya yang sakit, tetapi juga keluarga dekat. Hal jelas kemudian terlihat, baik yang sakit dan keluarga serta sahabat, seperti pemazmur, memohon doa belas kasihan dan pertolongan TUHAN (ayat 3, 11). Kita berharap tidak ada yang pergi ke roh dunia, dengan ritual yang tidak berhikmat, seperti yang kita lihat masih ada dalam video-video di medsos oleh beberapa suku di tanah air. Ya, menyedihkan….

Orang percaya mengandalkan Tuhan. Maka ketika diloloskan dari liang kubur, seperti pemazmur pun menyatakan syukurnya. Ia berjanji, “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu (ayat 12-13).

Kita pun yang disembuhkan dari sakit kritis atau lolos dari kengerian di lorong kematian, mari bersikap sama. Kebangunan rohani atas kemenangan iman, jangan hanya tampak pasca kesembuhan, sekejap, lantas lenyap di selang waktu. Mari terus menaikkan syukur kita atas kebaikan Tuhan, lebih menyerahkan hidup yang berarti, dengan tidak berdiam diri, tetapi semangat sukacita melayani DIA untuk selama-lamanya. Itulah syukur terbaik kita bagi-Nya. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus menyertai kita sekalian, amin. 🙏

Khotbah lain bagian leksionari hari ini, Talita Kum (Mrk. 5:21-43), silahkan klik link www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 20 Juni 2021)

MELEWATI BADAI

Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib…. (Mzm. 107:24)

Firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita dari Mzm. 107:1-3, 23-32. Judul perikopnya: Nyanyian syukur dari orang-orang yang ditebus TUHAN. Kata “ditebus”, menggambarkan kondisi paling ekstrem saat adanya perbudakan, tetapi setelah ditebus menjadi bebas berharga. Situasi serupa ketika kita orang yang penuh dosa dan layak dihukum, tetapi atas anugerah Tuhan Yesus ditebus dengan darah-Nya, kita merdeka dan berharga di mata Tuhan.

Hidup adalah perjalanan; berangkat dari satu titik dan berakhir di titik yang lain. Dalam perjalanan itu banyak hal terjadi. Kadang melewati hal indah pernuh warna-warni, dan kadang gelap kelam dengan rasa sakit. Terjadinya pun sering tidak terduga, bahkan tidak kita pahami. Pertanyaan, mengapa? Itu cukup melepas sesak, tapi sering tidak memuaskan hati.

Mazmur 107 berkisah tentang perjalanan hidup. Ada yang menjalani dengan rasa lapar dan haus (ayat 4-9). Ada yang menjalani dalam kungkungan penjara, tergelincir, penuh cemas (ayat 10-16). Ada yang jatuh sakit karena berbuat dosa atau kesalahan lain (ayat 17-22). Tetapi, pemazmur mengatakan, ketika semua berseru-seru kepada Tuhan, semua dilepaskan dari pergumulan mereka: yang lapar dikenyangkan dan yang haus dipuaskan; Yang terbelenggu persoalan hidup dilepaskan, keluar dari kegelapan. Mereka yang sakit bahkan hampir mati, disembuhkan dan dipulihkan. Perbuatan Tuhan sungguh ajaib, semua menang. “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (ayat 1-3).

Nas minggu ini ayat 23-32 gambaran situasi yang berbeda, yakni hidup manusia ibarat mengarungi laut dengan kapal; dari satu pulau yang fana, menuju pulau lain di seberang yang tidak fana. Tetapi badai dan gelombang laut kadang datang menerjang. Beberapa lagu rohani dengan gambaran laut ini, seperti “Di Tengah Ombak dan Arus” dan lagu Batak ”Nang Gumalunsang” sangatlah poluler.

Virus Corona kini di sekitar kita. Menakutkan. Tidak terduga, meluluhlantakkan semua rencana dan pengharapan. Ada yang menjadi lebih lapar dan haus akibat kondisi ekonomi yang memburuk. Ada yang terjerat hutang atau terbelenggu merasa terbuang dan tidak bisa bebas bergerak. Tentu, banyak yang sakit, terpapar, dan tidak sedikit yang terkasih dihantarkan ke liang kubur. Semuanya itu membuat jiwa kita hancur, pusing terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal (ayat 26-27).

Melalui pemazmur hari ini, kita bersyukur diajarkan beberapa hal. Pertama, semua yang terjadi saat ini adalah atas sepengetahuan dan kendali-Nya (ayat 25). Ia adalah Tuhan alam semesta. Kedua, dalam badai pergumulan ini, marilah kita berseru-seru kepada Tuhan, memohon dibebaskan dari rasa sakit yang ada (ayat 6, 13, 19). Dengan meratap, kita memohon dikeluarkan dari kecemasan dan sengsara rasa takut (ayat 28). Ketiga, marilah kita lebih mendekatkan diri dengan mencintai firman-Nya, dan jauh dari ingin memberontak terhadap Dia (ayat 20).

Dan terakhir, untuk kita dapat dituntun-Nya ke pelabuhan sorga kesukaan kita, menang melewati badai ini, menang atas pergumulan dan rasa sakit, berjanjilah dengan tangisan untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas kasih setia-Nya, oleh karena perbuatan-perbuatan-Nya ajaib. Berjanjilah untuk lebih setia (ayat 11) dan menjadi saksi bagi kemuliaan-Nya, melalui umat dan majelis gereja-Nya (ayat 32). Semoga kita semua sehat-sehat dan juga orang-orang yang kita kasihi. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus menyertai kita sekalian, amin. 🙏

Khotbah lain bagian leksionari hari ini, Badai Pasti Berlalu (Mrk. 4:35-41), silahkan klik link www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 13 Juni 2021)

MENANG DAN BERSYUKUR

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon (Mzm. 92:13)

Sebuah pameo mengatakan, ketika hidup memberi alasan untuk menangis, ada puluhan alasan lainnya untuk kita tersenyum dan bersyukur. Betul, kadang jalan kehidupan membuat kita merasa tidak diperlakukan adil, disengsarakan dan dihancurkan; kita marah terhadap situasi yang ada, bahkan marah kepada Tuhan.

Firman Tuhan di hari Minggu ini diambil dari Mzm. 92:2-5, 13-16. Judul perikopnya: Tuhan, Hakim yang adil. Dalam situasi seperti di atas, tetaplah waras dan terkendali, berusaha sebaik mungkin tidak jatuh ke dalam dosa. Rendah hatilah mengakui, ada hal yang tidak kita mengerti, ada hal tersembunyi yang masih jauh dari jangkauan pikiran kita. Tariklah nafas dengan teratur. Berdiam. Kesunyian dan ketenangan akan membantu kita lebih fokus.

Mazmur 92 ini biasanya dinyanyikan pada hari Sabat, hari perhentian, hari untuk bersyukur. Saya dan teman-teman minggu lalu mendaki ke puncak Gunung Gede (2.958Mdpl), dan merasakan setiap perhentian sungguh tempat yang menyenangkan. Setiap shelter tempat kita berhenti, menjadi tempat bersyukur setelah tantangan yang dilewati. Ya, kadang timbul perasaan, mengapa harus begini? Tetapi bayangan melihat keindahan alam ciptaan Tuhan yang luar biasa, membuat semangat tetap menyala. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 6 Juni 2021)

SERUAN KESUSAHAN

Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan (Mzm. 130:7)

Firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita diambil dari Mzm 130, terdiri dari delapan ayat. Judul perikopnya: Seruan dari dalam kesusahan. Dalam renungan minggu lalu dari Mzm. 29, disebutkan bahwa manusia akan lebih mencari Tuhan saat dalam kesusahan. Seruan memanggil Tuhan lebih keras. Nah, pertanyaannya, bagaimana bentuk kesusahan manusia itu sampai ia berseru-seru meminta pertolongan Tuhan?

Bentuk kesusahan digambarkan sangat bagus dalam Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB) No. 10, berjudul “Dari kungkungan malam gelap”. Lagunya mungkin kita tahu dan saya posting untuk bisa kita dengarkan, sekaligus merasakan bahwa orang yang susah dan menderita itu seolah dalam kungkungan malam gelap, terpenjara dan menakutkan. Read more

Internet of Things (IoT) Initiative for Kaldera Danau Toba

IoT

Internet of Things (IoT) Initiative for Kaldera Danau Toba (KDT)

Kawasan Danau Toba (KDT) merupakan biota yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitar kawasan. Air dan tanah di Kawasan Danau Toba menjadi komponen penting dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi dalam kegiatan produksi pertanian, perkebunan dan perikanan. Kondisi alam KDT yang indah dan iklimnya yang sejuk merupakan potensi wisata yang dulu pernah berjaya di kancah Internasional.

Saat ini kondisi lingkungan KDT talah rusak dan telah berlangsung cukup lama. Lingkungan air tercemar oleh keramba jarring apung, polusi yang berasal dari sampah dan residu transportasi air di danau menjadi racun bagi kehidupan makhluk hidup di dalam perairan danau. Lingkungan tanah tercemar oleh polusi yang berasal dari pestisida merusak kualitas tanah. Padahal, Kabupaten Toba yang berada di sekitar KDT menjadi prioritas Food Estate di Indonesia yang sedang dikembangkan oleh pemerintah pusat.
Perkumpulan Gaja Toba Semesta (Gaja Toba) sebagai sebuah organisasi nirlaba, yang beranggotakan Alumni Institut Teknologi Bandung peduli Kawasan Danau Toba, berinisiatif membantu masyarakat untuk menciptakan kualitas lingkungan KDT yang bersih dan berkesinambungan melalui pemanfaatan Teknologi IoT.

Melalui sebuah Pilot Project dengan Tema IoT Initiative for KDT, Gaja Toba menggabungkan Teknologi Informatika dan Lingkungan Hidup. Teknologi ini akan mengumpulkan data dari 2 sumber, yaitu data kualitas air dan kualitas tanah. Data akan dikumpulkan melalui sensor-sensor yang ditempatkan pada moda Transportasi Air, sedangkan pengambilang sample tanah akan dilakukan di berbagai titik di Kawasan Danau Toba. Kedua data tersebut akan diolah dan dianalisis menggunakan teknologi sistem Cloud sehingga diperoleh kondisi lingkungan KDT yang diperbaharui secara kontinu.

Gaja Toba berharap agar data real time kualitas air dan data kualitas tanah tersebut dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan inisiatif dalam menjaga lingkungan KDT serta mampu bekerja bersama-sama dalam pembuatan kebijakan yang mampu menjaga kelestarian biota KDT.

IoT Initiative for KDT akan dilaksanakan pada 05 Juni 2021 oleh Gaja Toba menggunakan Platform iotera.io. Pada saat peluncuran, proyek ini masih bersifat percontohan (Pilot Project). Akan tetapi, Gaja Toba memiliki mimpi agar proyek IoT Initiative for KDT dapat dilanjutkan operasionalnya dalam skala yang lebih besar. Untuk itu, Gaja Toba membuka kesempatan kepada pihak yang ingin mendukung proyek ini dengan melakukan kerja sama sponsorship, penerapan Corporate Social Responsibility (CSR), studi ilmiah/penelitian maupun pemberian dana agar proyek ini dapat memberikan dampak yang lebih besar kepada masyarakat sekitar. Gaja Toba akan sangat senang jika pemerintah dan masyarakat sekitar terlibat langsung dan nyata agar pengembangan teknologi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan terkini. Pihak yang tergerak untuk bergabung bersama Gaja Toba dapat menghubungi Roy Hutagalung di Nomor HP 0813-1050-0586.

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!