KABAR DARI BUKIT (Edisi 29 Agustus 2021)

RINDU RUMAH TUHAN

Siapa yang boleh datang kepada TUHAN?

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini dari Mzm. 15. Hanya lima ayat, judul perikopnya seperti di atas. Ayat 1 dilanjut pertanyaan: “Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?”

Setiap orang percaya, pasti memiliki pertanyaan dan kerinduan yang sama. Menurut Daud pemazmur ini, diperlukan syarat seperti dituliskannya pada ayat 2-5a:

– yang berlaku tidak bercela
– melakukan apa yang adil
– yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya
– tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya
– tidak berbuat jahat terhadap temannya
– tidak menimpakan cela kepada tetangganya
– yang memandang hina orang yang tersingkir
– memuliakan orang yang takut akan TUHAN
– berpegang pada sumpah, walaupun rugi
– tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba
– tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Tentu ini sebagian saja dari isi Alkitab. Tetapi sudah cukup mewakili sifat dan karakter utama Allah: Allah kudus dan Allah penuh kasih serta kebaikan. Kekudusan Allah telah ditunjukkan ketika Musa ingin menghampiri Allah, harus melepas kasut kakinya (Kel. 3:3-6). Kebaikan dan kasih Allah juga telah dinyatakan sejak alam semesta dan manusia diciptakan.

Dalam Perjanjian Baru, kekudusan Allah diperlihatkan melalui Tuhan Yesus tidak berdosa (Luk. 4:34; Ibr. 4:15, 7:26). Dosalah yang membuat manusia tidak kudus, dan terpisah dari Allah yang membenci dosa. Kebaikan dan kasih Tuhan Yesus juga diperlihatkan sejak awal pelayanan-Nya, penuh kebaikan dan belas kasih, baik dalam kata, perbuatan, dan mukjizat.

Persoalannya bagi kita, apakah kita bisa dan mampu memenuhi persyaratan yang disebutkan pemazmur? Jawabannya jelas, manusia tidak bisa; tetapi dengan anugerah pertolongan Allah, kita bisa. Kita tidak mungkin selamanya benar, tetapi Allah dapat membenarkan melalui pertobatan, datang dan disucikan oleh darah Tuhan Yesus (Ibr. 9:22b).

Kasih Allah membuka jalan, dengan percaya kepada Yesus dan menjadikan Dia sebagai Juruselamat pribadi, yang mati tersalib untuk penebusan dosa kita. Ini harus dinyatakan tegas dan diupayakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita hidup di dunia, godaan selalu ada dan melekatnya natur kecendrungan manusia berdosa (Mzm. 51:7), tidak mustahil kita sesekali jatuh.

Tetapi jika kita terus menerus berkubang dalam perbuatan dosa yang tidak disukai Allah, bahkan menyukainya, maka sebetulnya kita tidak percaya kepada Yesus yang adalah Hakim, tidak mengasihi dan menjadikan-Nya sebagai Juruselamat. Spekulasi berpikir masih ada kelak waktu, seperti kesempatan penjahat di sisi Tuhan Yesus saat di salib, itu adalah cara bodoh berpikir manusia, bukan cara berpikir Allah sesuai Alkitab. Kita menjadi munafik, seperti kaum Farisi dan ahli Taurat dalam bacaan kedua minggu ini (Mrk. 7:1-8, 14-15, 21-23).

Kerinduan menjadi serupa dengan Yesus, berupaya terus semakin hari lebih baik, melakukan pembaharuan budi (Rm. 12:2), rela berkorban, suka membaca firman dan renungan, itulah bukti bahwa kita mengasihi Dia dan rindu bersekutu dengan-Nya. Allah melihat hati. Allah perlu janji dan komitmen. Dan Allah tidak mungkin dibohongi. Hanya dengan jalan itulah ada jaminan, seperti kata pemazmur dalam akhir nas ini, bahwa “siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya” (ay. 5b). Teruslah berjuang agar kelak dapat menikmati tinggal diam bersama Allah.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus menyertai kita, amin. 🙏

Silahkan membaca renungan kedua bagian leksionari hari ini, Munafik dan Najis (Mrk. 7:1-8, 14-15, 21-23) dengan mengklik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 22 Agustus 2021)

PENDERITAAN ORANG BENAR

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mzm. 34:19)

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini dari Mzm. 34:16-23. Ini lanjutan firman dua minggu lalu, berurutan, dengan judul perikop Dalam perlindungan Tuhan. Pada bagian pertama (ay. 2-9) dijelaskan tentang tersedianya perlindungan total dari Tuhan bagi kita; bagian kedua (ayat 10-15) menjelaskan tentang cara menikmati hidup di dalam Tuhan sekaligus memperoleh umur yang panjang.

Pada nas bagian terakhir ini, kita diajarkan bahwa hidup orang benar tidak selalu mulus bahagia. Kadang harus melalui jalan berat yang menyesakkan. Tetapi janji Tuhan adalah, “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya” (ayat 18). Pada ayat 16 dikatakan, “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong.”

Tentu kita bertanya di ayat 20, mengapa justru banyak kemalangan menimpa orang benar dan menyesakkan? Faktor pertama, itu bisa terjadi karena perbuatannya sendiri (Yak. 1:14-15). Akibat kurangnya pengetahuan, hikmat atau pengalaman, serta manusia punya natur kecendrungan berdosa (Mzm. 51:7). Ada godaan daging, dunia dan iblis, maka terjatuh, dan buahnya adalah penderitaan. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 15 Agustus 2021)

MENIKMATI HIDUP

Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong (Mzm. 34:16)

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Mzm. 34:10-16. Ini lanjutan firman minggu lalu, ayat 2-9, dengan judul perikop “Dalam perlindungan Tuhan.” Perlindungan diberikan secara total dalam segala situasi, bukan hanya saat kita sehat dan sukacita, tetapi juga dalam keseharian saat adanya pergumulan dan pengharapan, bahkan ketika kita mati dipanggil pulang ke pangkuan Bapa di sorga. Syaratnya, kita meletakkan iman kepada-Nya.

Ayat 10 – 16 minggu ini memberikan tambahan, yakni pegangan untuk menikmati hidup yang kita jalani. “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?” (ay. 13).

Petunjuk pertama dalam nas dikatakan, takutlah akan Tuhan dan carilah Dia (ayat 10, 12). Pada pasal dan kitab lain dijelaskan lebih lanjut, “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua yang melakukannya berakal budi yang baik” (Mzm. 111.10) dan “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” (Ams. 1:7). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 8 Agustus 2021)

PERLINDUNGAN TOTAL

Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku (Mzm. 34:5)

Pasti banyak orang ingin seperti Raja Daud. Tentu bukan kemegahan jubah kebesaran dan kekuasaannya; itu tidak mungkin. Tetapi yang mudah kita teladani adalah imannya. Dan mazmurnyalah sebagai firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini, Mzm. 34:2-9. Judul perikopnya: Dalam perlindungan Tuhan.

Kunci iman Raja Daud ialah melekatkan dalam hati dan pikirannya, Tuhan itu baik. Meski Daud seorang raja, ia mematrikan Yesus adalah Raja dari segala raja. Perkasa. Oleh karena itu, Raja Daud mengungkapkan sukacitanya yang besar:

• Puji-pujian di dalam mulutku pada segala waktu (ayat 2)
• Karena TUHAN jiwaku bermegah (ayat 3a)
• Muliakanlah TUHAN, marilah memasyhurkan nama-Nya (ayat 4)
• Aku mencari TUHAN, Ia melepaskan aku dari segala kegentaranku (ayat 5)
• Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu berseri-seri (ayat 6)
• Orang tertindas berseru, TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dari kesesakannya (ayat 7)
• Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia (ayat 8). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 1 Agustus 2021)

IMAN JAS MERAH

 Mereka makan dan menjadi sangat kenyang; Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan (Mzm. 78:29)

 Firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita Mzm. 78:23-29. Seutuhnya Mazmur 72 ayat ini penuh hikmat, pembelajaran dari sejarah bangsa Israel. Semua orang diminta memasang dan menyendengkan telinga, menjaga mulut agar mengucapkan kata-kata hikmat, memberitakan kebaikan dan keajaiban-Nya, tetapi tidak menyembunyikan masa lalu termasuk bagian kelamnya. Tujuan pemazmur, supaya generasi baru tetap percaya kepada Allah, memegang teguh perjanjian yang pernah diberikan kepada mereka (ay. 1-10). JAS MERAH. “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, mengutip judul pidato kepresidenan terakhir Bung Karno.

 Iman ada pasang surutnya. Bila diumpakan biji, kadang membesar, kadang menciut. Itulah yang dialami oleh bangsa Israel ketika dalam perjalanan di padang gurun. Mereka bersorak setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Tetapi ketika tantangan kesulitan diberikan, mereka melupakan kebaikan tadi. “…mereka terus berbuat dosa terhadap Dia,… mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka. Mereka berkata terhadap Allah: “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?” (ay. 17-19). Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!