Month: May 2022
KABAR DARI BUKIT (Edisi 29 Mei 2022)
BERNAZAR
Pdt. Em. Ramles M. Silalahi
Syalom…. Saudaraku dalam kasih Yesus Kristus.
Saat mengalami sakit vertigo akut di akhir tahun 1990-an, saya sering mengikuti ibadah doa kesembuhan. Dalam altar-call, saya membuat janji iman atau “nazar”, akan melayani Tuhan jika diberi kesembuhan. Meski kesembuhan tidak melalui mukjizat seketika dalam ibadah, melainkan dengan pengobatan dokter di Singapore, saya tetap belajar teologi. Setelah lulus, kemudian melayani penuh waktu melalui gereja-Nya dan ditahbiskan menjadi pendeta.
Kisah janji iman atau nazar ada pada
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini, dari 1Sam. 2:1-10. Hana yang belum mendapat anak, bertahun-tahun mengalami pelecehan dari Penina, madunya, yang telah diberi anak. Hana terus berdoa, menangis, sujud, memberi korban persembahan, dan bernazar akan menyerahkan anaknya melayani Tuhan. Setelah diberkati imam Eli, Hana diberi Tuhan anak laki-laki Samuel (1Sam. 1:2-28).
Nas minggu ini merupakan puji-pujian dan doa Hana. Ia bersukacita, Tuhan telah mengabulkan doanya. Terlebih, ia juga menggenapi nazarnya kepada Tuhan (tentang Nazar lihat Im. 22 dan Bil. 30). “Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu. Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita” (ay. 1-2). Hana semakin dekat dan mengenal Allah, yang sejatinya mengatur semua roda kehidupan.
Ada empat hal yang dapat kita pelajari dari nas minggu ini. Pertama, dalam setiap pergumulan, seperti Hana, tetaplah mengandalkan Tuhan. Iman Hana tetap teguh, katanya: “TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga” (ay. 6-7).
Kedua, jangan membalas kejahatan yang orang lain lakukan dengan kejahatan. Tetapi serahkanlah semua kepada Tuhan pergumulan yang terjadi. Hana tetap berharap kepada Tuhan, tidak membalas perbuatan Penina. Kandungan Hana yang tertutup, Tuhan buka kembali, setelah melihat hati Hana, dan nazarnya, serta imam Eli yang memberkatinya. Tuhan tahu, kita anak-anak-Nya yang setia, tidak akan dibiarkannya jatuh dan dihina. “Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa” (ay. 9).
Ketiga, peringatan bagi kita semua, yaitu, “Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji” (ay. 3). Apa yang dilakukan oleh Penina istri kedua Elkana terhadap Hana, tidak layak ditiru. Tidak ada gunanya menyakiti hati orang lain, apalagi keluarga. Kepuasan sesaat akan berdampak terus hingga kekekalan, kecuali ada pertobatan. “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat. 16:19).
Terakhir, jangan lupa bersyukur, bersaksi atas kebaikan Allah. Hal yang kita peroleh bukanlah karena kehebatan kita, melainkan atas kasih Allah semata untuk tujuan dan rencana-Nya.
Nah, seberapa besar masalah Anda saat ini? Apa pergumulan atau pengharapan yang dialami? Teladani Hana. Jangan meniru Penina yang senang menyakiti hati orang lain. Menangislah kepada Tuhan, sujud, memberi dari hati, berpuasa, dan bila perlu buatlah janji iman, sebab mungkin Tuhan mempunyai rencana atas pergumulan yang terjadi. Tiada yang mustahil bagi Tuhan dan juga bagi kita orang percaya. Itulah iman sejati Kristiani.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏
Silahkan membaca renungan lainnya menurut Leksionari hari ini, Supaya Semua Menjadi Satu (Yoh. 17:20-26), dengan mengklik
www.kabardaribukit.org
KABAR DARI BUKIT (Edisi 22 Mei 2022)
BERSYUKUR DAN DIBERKATI
Oleh Pdt. Em. Ramles M. Silalahi
Syalom…. Saudaraku dalam Kristus.
Firman Tuhan di Minggu hari yang indah ini bagi kita dari Mzm. 67:1-8. Judul perikopnya: Nyanyian syukur karena segala berkat Allah; sebuah ungkapan syukur umat Israel mengingat kebaikan Allah atas panen dan juga berkat lainnya. “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita” (ay. 7). Nas ini juga pilihan pada Minggu VI Paskah hari ini, mengingat para murid pada masa itu, sangat bersyukur karena hampir 40 hari mereka bersama Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya. Hari Kamis, kita memperingati kenaikan-Nya ke sorga.
Bagaimana dengan hidup kita? Apakah selalu mengucap syukur dan merasa diberkati? Selain kita telah diselamatkan oleh penebusan Tuhan Yesus, kita layak mengucap syukur atas segala kebaikan-Nya. Jika kita belum dapat membuat daftar yang panjang semua kebaikan itu, rasanya ada yang salah dengan mata rohani kita. Mungkin mata jasmani kita berfungsi baik, tetapi mata rohani sangat diperlukan untuk melihat dan mensyukuri semua kebaikan yang diterima dalam hidup ini.
Melihat dengan hati dan mata rohani perlu dilakukan, agar hari-hari kita tidak diisi dengan mengeluh, kecewa, marah, benci, iri, dan pikiran buruk lainnya. Hal mendasar yang dilakukan adalah: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18). Setiap beban pergumulan hanya dilihat sebagai jalan Tuhan untuk memurnikan dan meneguhkan iman kita. Kedua, selalu merasa cukup. Hilangkan kecendrungan tidak pernah puas dan ingin lebih. Alkitab mengajarkan, “… cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibr. 13:5b).
Contoh mudah, janganlah membuat hutang, apalagi demi memuaskan nafsu. Membeli barang bukan primer dengan kartu kredit atau cicilan, sebenarnya itu jeratan keinginan dan obsesi. Mencukupkan dan menyesuaikan penghasilan dan pengeluaran akan membuat orang merdeka, bukan budak keinginan. Ingatlah kata Amsal Salomo, “…, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi” (Ams. 22:7b). Maka bila saat ini masih ada hutang, bekerja keraslah segera melunasinya.
Ketiga, tetaplah murah hati, terutama bagi yang lebih memerlukan. Yesus berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Tetapi murah hati harus bijak memilih dan tepat sasaran. Jangan murah hati hanya kepada orang tertentu, mengikuti perasaaan, tetapi pelit terhadap orang yang membutuhkan. “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin” (Ams. 22:9). Dapatkan prinsip: “adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis. 20:35). Sebagaimana Abraham, kita dipanggil diberkati untuk menjadi berkat (Kej. 12:2; 28:14).
Hal terakhir, persiapkan masa depan yang lebih baik terutama untuk anak. Ingatlah, tidak ada yang mudah dan sekejap, lakukan dengan iman dan pengharapan. Ini membuat kita tidak takut gagal. “Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu” (Gal. 3:9). Demikian juga dengan pengharapan, dijadikan sauh yang kuat dan aman dalam melaksanakan semua rencana (Ibr. 6:19).
Mazmur 67 hari ini mengajarkan semua berkat yang kita terima, tujuannya adalah untuk dipakai bagi kemuliaan Tuhan; bukanlah diri sendiri, kelompok atau bangsanya (ay. 3-6), apalagi menyombongkannya. Untuk itu mari menjalani hidup dengan mengubah mindset, yakni mengerjakan hal yang Tuhan inginkan, dengan rasa syukur, merasa cukup, murah hati, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik dengan keyakinan Tuhan akan bekerja untuk kebaikan kita (Rm. 8:28). Dan itulah kuncinya, yang diberkati Tuhan adalah mereka yang selalu bersyukur.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏
Silahkan membaca renungan lainnya menurut Leksionari hari ini, Ketaatan pada Firman dan Damai Sukacita (Yoh. 14:23-29), dengan mengklik
www.kabardaribukit.org
KABAR DARI BUKIT (Edisi 15 Mei 2022)
YESUS BERDIRI MENYAMBUT
Oleh Pdt. Em. Ramles M. Silalahi
Syalom….Saudaraku dalam Kristus.
Pernahkah kita membayangkan saat-saat ajal kelak datang menyambut hidup kita? Terlepas dari situasi saat mengakhiri hidup ini dengan kesadaran penuh, tanpa rasa sakit atau mungkin mengerang menahan rasa sakit yang hebat, atau keadaan komma tidak sadar secara medis, tetapi roh kita selalu pasti terhubung dengan Allah pemberi kehidupan. Bagaimana kira-kira gambarannya? Takut, atau tidak mau dipikirkan?
Gambarannya dijelaskan melalui Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini, dari Kis. 7:55-60. Sebenarnya nas ini dari leksionasi Tahun A untuk renungan Minggu kelima Paskah. Kita saat ini masih di tahun C dan nas pilihannya adalah Kis. 11:1-18; Mzm. 148; Why. 21:1-6 atau Yoh. 13:31-35. Namun, keempat nas tersebut telah saya tulis di tahun-tahun lalu, dan semua dapat diakses melalui website www.kabardaribukit.org atau pada buku-buku yang telah diterbitkan.
Nas minggu ini menceritakan tentang Stefanus, martir perdana, yang dibunuh para anggota Mahkamah Agama, saat mereka mendengar kesaksian Stefanus tentang Tuhan Yesus. Para pendengarnya menghasut dan menuduhnya telah mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah (Kis. 6:8-7:54). Ia kemudian dibawa dan tetap dengan penjelasannya, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan Bait Allah mereka dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa (Kis. 6:14). Read more
KABAR DARI BUKIT (Edisi 8 Mei 2022)
MATI YANG BERKILAU
Oleh Pdt. Em. Ramles M. Silalahi
Syalom….
Kita mungkin pernah melihat orang sakit yang menangis meraung-raung saat merasakan sakit yang hebat; atau diberitahu dokter bahwa umurnya tidak panjang lagi. Jika ia masih muda, itu hal wajar. Kita juga melihat ada orang yang ketakutannya berlebihan, seperti di tempat sepi dan gelap; takut ada bahaya yang dapat membuatnya mati. Padahal semua manusia tentu akan mati. Ada berumur panjang, ada yang pendek; Tuhan memberi yang terbaik sesuai kehendak-Nya. Nah, kita bertanya: mengapa orang takut mati?
Firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita dari Why. 7:9-17. Ini masih kisah lanjutan tentang pesta drama sorgawi minggu lalu, yakni Yesus menjadi Hakim dan disembah semua orang di sorga.
Menurut Neilt Anderson dalam bukunya Freedom from Fear, empat alasan mengapa orang takut mati, yakni:
1. Takut meninggalkan orang yang dikasihi (suami, anak, orangtua, dll.)
2. Takut yang dikasihi mati (terhadap anak terlalu proteksionis)
3. Takut akan proses menuju kematian (lewat sakit berat, berkepanjangan, dll);
4. Takut masuk neraka, dan merasa belum siap; Read more
KABAR DARI BUKIT (Edisi 1 Mei 2022)
PENTAS DRAMA SORGAWI
Oleh Pdt. Em. Ramles M. Silalahi
Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” Dan keempat makhluk itu berkata: “Amin” (Why. 5:13b-14a)
Dalam kitab Wahyu ada dua kata yang terkait “kitab” yang sangat penting, yakni kitab kehidupan dan gulungan kitab. Kitab kehidupan sudah sering kita dengar, yakni daftar orang percaya yang akan diselamatkan dan masuk dalam kekekalan (Flp. 4:3; Why. 3:5). Gulungan kitab dalam pasal 5 lebih diartikan sebagai rencana Tuhan atas penyelesaian dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia sebagai dasar penghakiman.
Firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita sesuai leksionari adalah Why. 5:11-14. Nas ini merupakan gambaran tentang Kristus dimuliakan saat penghakiman kelak dilaksanakan. Yesus digambarkan sebagai Anak Domba yang telah disembelih. “Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta” (ay. 7). Ayat ini jelas menggambarkan bahwa Yesus Anak Domba yang telah tercurah darah-Nya, akan menjadi hakim bagi semua orang. Read more