KABAR DARI BUKIT (Edisi 26 Februari 2023)

JATUH DAN BANGKIT

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat (Kej.3:7)

Salam dalam kasih Kristus.

“Aku percaya tidak semua hal jahat dilakukan oleh orang jahat; dan ada juga orang baik melakukan hal yang sangat buruk.” Itulah disampaikan Richard Gere yang bermain sebagai pengacara dalam film Primal Fear yang cukup bagus. Dan itu ada benarnya.

Firman Tuhan di hari Minggu ini adalah Kej. 2:15-17; 3:1-7. Bagian pertama nas bercerita tentang Allah menempatkan manusia dalam Taman Eden, dengan aturan tidak boleh memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; dan nas kedua pasal 3 tentang jatuhnya manusia ke dalam dosa, atas ulah ular yang paling cerdik dari segala binatang di darat (3:1).

Kisah ini tentunya sudah sering kita dengar, yakni ular kemudian menipu Hawa dan Hawa mengajak Adam. Sesuai 1Yoh. 2:16, ada tiga hal yang mendorong manusia jatuh ke dalam dosa, yakni keinginan daging, keinginan mata/dunia, dan godaan iblis. Setan penguasa iblis atau berbagai sebutan lainnya adalah malaikat yang jatuh (Yeh. 28; Yes. 14; Why. 12:4), memiliki kuasa meski terbatas yang membuatnya mampu menggoda dan menipu manusia.

Akibat perbuatan dosa tersebut, manusia diusir dari Taman Eden. Perseteruan dengan iblis pun berlangsung terus menerus. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” Kej. 3:15). Jelas ini merupakan adu kuat antara roh manusia dengan kelemahannya melawan roh iblis dengan kecerdikannya. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 19 Februari 2023)

LEGACY DALAM KEHIDUPAN

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

Tinggallah di sini menunggu kami, sampai kami kembali lagi kepadamu; bukankah Harun dan Hur ada bersama-sama dengan kamu, siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka (Kel. 24:14b)

Salam dalam kasih Kristus.

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Itu peribahasa yang terkenal. Ya, manusia pasti mati. Apabila mati dan berperilaku baik dan berjasa, akan meninggalkan nama baik; apabila berperilaku buruk akan meninggalkan nama yang buruk. Itulah legacy kehidupan.

Firman Tuhan di Minggu Transfigurasi hari ini adalah Kel 24:12-18. Nas ini bercerita tentang Musa saat perjalanan pulang menuju Kanaan, dipanggil Tuhan untuk naik ke gunung menerima loh batu, yakni hukum dan perintah (ay. 12). Dan selama ia pergi, Musa mendelegasikan kepada Harun dan Hur sebagai pemimpin umat (ay. 14).

Hidup ini juga dimaknai sebuah pendelegasian. Kita orang percaya adalah utusan. Ada amanat. Ada misi Tuhan kita hadir di dunia ini sesuai talenta dan karunia rohani yang diberikan. Ketika mati, selain kelak mempertanggungjawabkannya, kita pun meninggalkan legacy dalam hidup, baik dan buruk serta paduannya. Thomas Jefferson Presiden Amerika ketiga, bahkan mengatakan kita perlu mempersiapkan tulisan siapa diri kita selain nama di batu nisan. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 12 Februari 2023)

PILIHAN KEHIDUPAN

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu (Ul. 30:19b)

Salam dalam kasih Kristus.

Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, cara dan waktunya dilahirkan. Sampai remaja pun, biasanya anak belum diminta memilih jalan kehidupan. Menurut pakar psikologi, sampai usia 17, keputusan yang diambil anak masih didominasi oleh keinginan dan perasaan; setelah usia 20 baru biasanya pilihan dan keputusan sudah lebih rasional dan dewasa. Otak bertumbuh maksimal. Tentu, beberapa anak memiliki pengecualian.

Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ul. 30:15-10. Nas ini dibuka dengan kalimat, “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (ay. 15a). Perintah-Nya jelas, umat Israel dan kita orang percaya diminta, apakah memilih kehidupan dan keberuntungan, atau kematian dan kecelakaan?

Semua lebih senang memilih kehidupan dan keberuntungan. Pilihan lainnya adalah jalan kematian dan kecelakaan. Buahnya kebinasaan dan kutuk (ayat 18-19). Pilihan lain ini diperlihatkan dengan lebih percaya kepada allah lain selain Tuhan Yesus. Bentuknya bermacam-macam, dari yang tradisional berhala sampai bentuk modern, yang mengandalkan kepintaran, betuhankan jabatan dan koneksi, uang dan harta, bahkan tidak percaya adanya Allah.

Untuk memilih kehidupan dan keberuntungan, umat Israel diperintahkan “mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya” (ay. 16). Ini sama dengan hukum yang terutama dan pertama bagi orang percaya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37; Mrk. 12:30). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 5 Februari 2023)

IBADAH PALSU DAN SEJATI

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu (Yes. 58:8)

Salam dalam kasih Kristus.

Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yes. 58:1-9. Judul perikopnya: Kesalehan yang palsu dan yang sejati. Nas ini bercerita tentang umat Israel yang rindu mencari Tuhan dan ingin mengenal segala jalan-Nya (ay. 2). Mereka menjalankan ibadah dan ritualnya, salah satunya adalah berpuasa; namun ternyata kesalehannya palsu (ay. 3-4).

Umat Yahudi yang berpuasa di samping tidak makan dan tidak minum (24 jam mulai senja), akan memakai pakaian yang robek-robek, kain kabung murah, menangis, menyendiri, atau duduk/berbaring di tanah/debu, berjalan lambat, dan menaruh debu di atas kepala (Im. 16: 29-34; 23: 26-29; Bil. 29: 7; band. ay. 5). Tujuan semua ini adalah memperlihatkan keprihatinan, berkabung, dan menaikan doa permintaan serta keinginan, pergumulan atau pengampunan.

Umat Israel diceritakan bingung, mereka telah berpuasa, tetapi merasa Tuhan tidak memperhatikan. “Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” (ay. 3a).

Allah menjawab melalui Nabi Yesaya: “Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (ay. 3b-4). Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!