KABAR DARI BUKIT (Edisi 30 Juli 2023)

KARMA DAN TABUR TUAI

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?” (Kej. 29:25b)

Alam semesta memperlihatkan hukum kausilitas sebab akibat, aksi reaksi, dampak interaksi dan tindakan; bukan hanya kebendaan tetapi juga interaksi sosial psikis manusia. Dan, ada mekanisme yang menjaga keseimbangan, keadilan dan keharmonisan.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kej. 29:15-28. Ini kisah Yakub yang melarikan diri ke rumah pamannya Laban, terkait tipuannya terhadap abang dan ayahnya untuk mendapatkan hak kesulungan. Sebagai paman, Laban memberi kesempatan Yakub tinggal bersamanya.

Laban memiliki dua anak perempuan: Lea dan Rahel. Yakub ternyata tertarik kepada Rahel yang cantik parasnya (ay. 17), dan ingin menikahinya. Sebagai mahar, Yakub sepakat bekerja selama tujuh tahun bagi Laban. Ternyata di malam pernikahan, Laban menipu Yakub dengan menyerahkan Lea (ay. 23). Yakub pun protes. Setelah perundingan, akhirnya Yakub setuju bekerja tujuh tahun lagi. Sebuah usaha panjang mendapatkan Rahel pujaannya (ay. 27). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 23 Juli 2023)

MITOS, MIMPI DAN TANTANGAN

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya” (Kej. 28:16b)

Setiap bangsa atau suku bangsa biasanya mempunyai mitos. Ini sering dipakai untuk memberi motivasi kepada anak cucu tentang kehebatan leluhur mereka. Tentu itu baik dan sah-sah saja serta tidak ada yang salah. Yang kemudian menjadi masalah, jika mitos dijadikan tameng kebanggaan dan mendapatkan keistimewaan, padahal nihil usaha dan prestasi kosong.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 28:10-19a. Judul perikopnya: Mimpi Yakub di Betel. Latar belakangnya, Yakub setelah menipu Esau abangnya tentang hak kesulungan, akhirnya melarikan diri ketakutan. Dalam pelarian itulah ia bermimpi, melihat sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: …. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, …, olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (ay. 12-14). Ini janji Tuhan yang merupakan pengulangan janji berkat kepada kakeknya, Abraham (Kej. 12:1-3; 15:5; 17:1-8). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 16 Juli 2023)

AKAL BUDI, MORAL DAN ETIKA

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.” Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (Kej. 25:31-32)

Di masa kecil di Sumatera Utara, sering dalam perbincangan muncul perkataan, “Ah, Yahudinya kau!”. Ini biasanya dilontarkan kepada seseorang yang pelit, pintar “ngeles”, dan banyak tipu muslihat. Mungkin ini bersumber dari kisah Yakub yang melakukan tipu muslihat terhadap abangnya Esau.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Kej. 25:19-34. Ini kisah keturunan Ishak yakni Esau dan Yakub yang lahir kembar. Esau disayang oleh bapaknya dan Yakub disayang ibunya (ay. 28). Yakub sangat cerdik dan memanfaatkan kelemahan Esau. Ia meminta hak kesulungan dengan hanya menukarkannya dengan sup kacang merah. Yakub sampai meminta Esau bersumpah (ay. 33). Namun untuk lebih yakin, Yakub dibantu oleh ibunya kemudian mengelabui Ishak. Dengan memakai kulit berbulu, Yakub mendekat mengaku sebagai Esau yang badannya berbulu. Ishak yang sudah tua dan rabun, meski ragu, akhirnya memberkati Yakub sebagai anak sulung (Kej. 27.18-29)

Apa yang kita lihat dari perilaku Yakub tadi? Saya jadi ingat buku yang ditulis Ibu Pdt. Dr. Dorothy I. Marx, dosen agama ITB dan mentor saya yang berjudul Itu kan, boleh?. Buku ini mengulas perilaku manusia yang melonggarkan standar etika dan kebenaran Alkitab demi memenuhi keinginan daging dan nafsu, berkompromi terhadap aborsi, peceraian, korupsi, perzinahan dan lainnya. Maka kita dapat melihat Yakub melalui nas ini yang melakukan tipu muslihat agar dirinya diuntungkan, mendapatkan hak kesulungan yang bagi umat Israel sangat penting, meski hal itu telah dinubuatkan sebelumnya (Kej. 25:23). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 9 Juli 2023)

JODOH DAN TUHAN

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Dan mereka memberkati Ribka, kata mereka kepadanya: “Saudara kami, moga-moga engkau menjadi beribu-ribu laksa” (Kej. 24:60a)

Kisah perjalanan Abraham, Ishak, Yakub hingga Yusuf dijual ke Mesir, rasanya masih melekat di kepala dari guru sekolah minggu saya. Kisah yang menarik, penuh petualangan, terlebih ada berbagai kisah cinta dan dinamika kehidupan. Bagaikan sinetron berseri, tiap minggu kita penasaran lanjutannya, membuat sekolah minggu menjadi kegiatan yang sering dinantikan.

Firman Tuhan hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 24:34-67. Ini kisah Abraham mencari istri untuk Ishak, anaknya. Sara baru meninggal. Seperti orang Batak zaman dahulu, orang Israel saat itu mencari istri diutamakan dari kerabatnya. Abraham pun mengutus hambanya Eliezer untuk mencari pasangan Ishak, dengan disumpah agar tidak melenceng.

Setelah menempuh perjalanan jauh, Eliezer kehausan, dan menemukan sumur. Ia kemudian meminta tanda dari Tuhan, berdoa: “Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari buyungmu itu, dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta-untamu juga akan kutimba air, – dialah kiranya isteri, yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu” (ay. 43-44).

Ternyata seorang gadis, Ribka, melakukan sesuai tanda tadi. Ribka pun menjadi pilihan Eliezer, setelah ia diajak bermalam di rumah ayahnya, Betuel. Keluarga Ribka tidak menolak dan percaya petunjuk Tuhan tersebut. Maka Eliezer memberi perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran sebagai mahar dan membawa Ribka pulang (ay. 53-59). Ishak dan Ribka menikah, kemudian memperoleh anak yang salah satunya adalah Yakub. Keturunan Yakub ada 12 orang yang menjadi induk suku bangsa Israel. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 2 Juli 2023)

PEMIMPIN PENYESAT

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN” (Yer. 28:9)

Bagaimana membedakan gereja atau hamba Tuhan yang benar? Kadang kita dikejutkan dengan berita satu-dua gereja yang dianggap sesat, seperti gereja Pdt. Jones di Amerika Selatan, Pdt. Sibuea di Bandung, Pdt. Jung Myung Seok di Korea, dan lainnya. Bagaimana pula membedakan seorang pemimpin yang baik dan benar, agar umat atau anggota tidak ikut tersesat?

Tentu saja itu tidak mudah. Apalagi sering kali kita manusia memakai ukuran dunia, seperti populer dan pandai berkhotbah, banyak pengikut atau penggemarnya, kaya dan berlimpah materi, dan lainnya. Maka hal itu membuat susah diujinya.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yer. 28:5-17. Ini kisah pertentangan nabi Yeremia dengan nabi Hananya, yang bernubuat bahwa umat Israel hanya dua tahun saja dibuang ke Babel. Oleh karena itu ia berkata, perkakas-perkakas rumah TUHAN akan mampu dikembalikannya (ay. 11-12). Yeremia sebaliknya mengatakan, bahwa pembuangan ke Babel akan berlangsung lama. Dan, terbukti berlangsung 70 tahun.

Melalu nas ini kita dapat belajar tentang menguji gereja atau hamba Tuhan dengan beberapa cara. Pertama, nabi yang baik dan benar mestilah membawa damai, seperti dituliskannya, “Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN” (ay. 9). Oleh karena itu hamba Tuhan atau pemimpin yang membawa permusuhan dan perpecahan, pembenci, sikap dan tindakannya tidak berdasar kasih, jelas bukanlah hamba Tuhan atau pemimpin yang baik dan benar. Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!