KABAR DARI BUKIT (Edisi 24 September 2023)

RESIKO BERSUNGUT-SUNGUT

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya” (Kel. 16:7a)

Setiap orang pasti pernah bersungut-sungut, meski dalam hati dan tidak disadari; timbul saat ada kemacetan, antrian panjang, pelayanan yang tidak baik, kecewa, kenyataan dan harapan berbeda, merasa tidak diperlakukan adil (bdk. Mat. 20:10-12), atau munculnya masalah yang tidak terduga. Buruknya, sungut-sungut dapat membawa ke arah perasaan kesal, geram, dan amarah tidak terkendali.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu kemenangan ini adalah Kel. 16:2-15. Ini kisah bangsa Israel yang bersungut-sungut saat perjalanan keluar dari Mesir, setelah bekal makanan yang mereka bawa mulai habis. Tentu mencari makanan di tengah padang gurun tidaklah mudah. Itulah sumber sungut-sungut mereka kepada Musa dan Harun yang memimpin perjalanan. “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan” (ay. 3).

Ya, salah satu ironi manusia adalah ingin enak tapi tidak mau susahnya; berharap perubahan lebih baik, tapi ketika ada masalah dan tantangan, yang muncul adalah bersungut-sungut. Untuk sungutan bangsa Israel, Tuhan memakluminya, mungkin karena ini yang pertama. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu…. Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.” (ay. 4, 12). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 17 September 2023)

PERTOLONGAN TUHAN

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku?” (Kel. 14:15)

Pertolongan Tuhan salah satu sisi penting dalam kehidupan orang percaya. Manusia sebagai umat-Nya, pasti tidak lepas dari masalah, yang kadang di luar kemampuannya. Ketidakpastian akan datangnya pertolongan, tentunya menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan. Dan Tuhan memahaminya. Untuk itu kedekatan hubungan dan doa adalah akar dan pondasi dari semua pengharapan yang ada.

Nabi Musa telah dipanggil untuk membawa keluar menyelamatkan umat Israel yang teraniaya di Mesir. Ia dibekali berbagai kuasa mukjizat untuk meyakinkan Firaun, bahwa hal itu adalah atas perintah Tuhan. Firaun setelah melihat kebesaran kuasa yang diimani Musa, akhirnya menyetujuinya. Namun tak lama kemudian menyesalinya, dan memerintahkan untuk menangkap kembali umat yang sedang lari keluar (ay. 6).

Kisah pengejaran dan pelepasan itulah yang menjadi nas bagi kita di hari minggu ini, dari firman Tuhan Kel. 14:15-31. Kita tahu Tuhan pasti memenuhi janji-Nya yang diberikan melalui Musa (3:8). Untuk itu dalam upaya lari keluar, mereka dilindungi dengan tiang api dan tiang awan (ay. 20). Tuhan kemudian menolong dengan membuat roda kereta para serdadu berjalan miring dan maju dengan berat (ay. 25). Read more

Pertiwi Negeriku Toba Exhibition (22 September – 25 Oktober 2023)

Toba Exhibition

 

Merajut negeri lewat karya seni

Pertiwi, berawal dari sebuah pameran tahun 2020 yang menghadirkan tiga Ibu perupa asal Bali yang memiliki eksplorasi karya yang berbeda satu dengan lainnya.

Mereka adalah:Ni Nyoman Sani yang berlatar pendidikan Seni Lukis S1 di STSI/ISI Denpasar, Gusti Ketut Oka Armini mengenyam pendidikan S1 khusus Seni Grafis di FSRD ISI Yogyakarta; dan Ni Ketut Ayu Sri Wardani menjalani pendidikan Seni Lukis di FSRD ITB Bandung.

Pertiwi = Tiga wanita perupa

Ayu dan Oka menempuh pendidikan tingkat menengah di sekolah yang sama yaitu di Sekolah Menengah di Denpasar (SMSR/SMK sekarang), sementara Sani bersekolah di SMA 1 Saraswati.

Pendidikan awal ini menjadi dasar untuk mengembangkan bakat dan minatmereka serta memilih institusi selanjutnya.

Ternyata kebersamaan mereka dipertemukan dalam kebersamaan menjala elan vital kreatif, disela kesibukannya masing-masing sebagai Ibu mereka tetap merawat kegelisahan kreatifnya pada media ekspresi yang mereka tekuni.

 

Visi dan Misi

Proyek lawatan seni ke Toba merupakan respon atas konsep “Merajut Nusantara” yang diinisiasi oleh almarhum abang Erland Sibuea, suami Ayu Sri Wardani, yang telah menorehkan berbagai goresan dalam karya- karya sketsa selama mereka mengunjungi Toba.

Perjalanan itu merupakan penanda proyek awal mereka dalam merajut Nusantara, konsep inilah yang kemudian direspon oleh Pertiwi yang diterjemahkan menjadi tema Merajut Warna Kenusantaraan (Weaving the Colours of the Archipelago).

Pemilihan Toba sebagai lokus awal menjadi semacam napak tilas atas perjalanan rupa yang telah dimulai abang Erland Sibuea (TI 86) dan Ayu Sri Wardani, kini bersama Oka Armini dan Nyoman Sani.

Untuk melengkapi karya seni yang dihasilkan, proyek Merajut Warna Nusantara ini juga menyertakan perancang busana Nick Djatnika, fotografer Toba Charis Martin Purba serta ditemani kurator Wayan Seriyoga Parta.

Nick akan menyertakan karya rancangan busana nya yang mengandalkan kain tenun dari berbagai daerha di Indonesia, menyajikan busana yang cantik unik dan menarik.

Charis akan menyertakan karya fotonya yang menangkap alam, struktur dan manusia di kawasan Danau Toba lewat rekaman kamera untuk menangkap keindahan dan keunikan Danau Toba.

Kurator Wayan Seriyoga Parta yang merajut keseluruhan karya untuk tetap terjalin dalam satu cerita dan paket karya seni yang utuh.

Mereka bersama dengan Pertiwi berkolaborasi untuk menangkap kosmos dan spirit Toba. Semoga juga dapat terjalin peluang-peluang kerjasama dan kolaborasi dengan seniman lokal untuk menjalin untaian daya-daya kreatif yang akan memperkaya wawasan dan imaji untuk berkarya.

 

Tujuan

Menyerap  alam,  budaya  dan  berinteraksi  dengan  masyarakat  terutama ibu-ibu dan aktivitas budaya, meliputi:

  • Mencermati alam dan budaya Batak
  • Kunjungan ke ruang seni budaya dan museum
  • Mengunjungi produksi kain tenun Batak Mengamati  rumah  adat  dan  motif  ornamen,  warna  dan  nilai simboliknya
  • Berinteraksi  dengan  masyarakat  khusus  perempuan  Toba  dan mencermati peran perempuan dalam kebudayaan Toba
  • Bertemu dan berkolaborasi dengan seniman setempat

 

Target yang ingin dicapai

  • Menghubungkan perjalanan, pengamatan, interaksi sosial serta berproses langsung dalam menciptakan karya 2 dimensi dan video dokumenter tentang perjalanan bersama Pertiwi ke Toba.
  • Hasil riset berupa karya dari masing-masing kemudian akan dipamerkan, bisa di Toba, atau di kelilingkan di Jakarta, Bandung, Bali dan Perth.
  • Disiapkan 1 karya untuk badan amal berbasis di Kawasan Danau Toba.
  • Melakukan sosialisasi melalui karya seni untuk mengajak masyarakat bersama-sama menjaga keindahan Danau Toba, merawat dan menjaga kelestarian lingkungan yang sudah semestinya menjadi tanggung jawab kita semua.

 

Progam ini dipersembahkan dengan rasa bangga dan dedikasi sepenuh hati untuk membantu mempromosikan pariwisata Indonesia, khususnya Danau Toba.

Kegiatan ini didukung oleh Gaja Toba sebagai bentuk nyata kepedulian dan partisipasi aktif Gaja Toba membangun Bonapasogit.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 10 September 2023)

JALAN PULANG PERTOBATAN

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” (Yeh. 33:11)

Ada banyak versi tentang tahapan dan jalan menuju keselamatan hidup kekal. Namun hampir sepakat, pertobatan adalah kunci pembuka gerbang memasuki manusia baru, agar kelak dapat hidup bersama para malaikat dan Tuhan Yesus di sorga. Pertobatan memerlukan kuasa Roh Kudus bersama langkah tindakan sukarela manusia yang melibatkan iman, disertai dengan pikiran, hati dan kemauan.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yeh. 33:7-15. Ini pesan Tuhan yang sangat jelas dan tegas tentang dampak perbuatan dosa manusia sekaligus pentingnya pertobatan, yang dalam bahasa Yunani disebut dengan metanoia dan arti harfiahnya berbalik. Seperti saat berbaris, “Balik Gerak!”, kira-kira begitulah maknanya.

Manusia dapat berdalih sebagaimana umat Israel dalam nas ini. Namun Allah mengingatkan atas sikap mereka yang berkata, “Pelanggaran kami dan dosa kami sudah tertanggung atas kami dan karena itu kami hancur; bagaimanakah kami dapat tetap hidup? (ay. 10b). Allah tidak menyukai umat atau seseorang yang merasa dirinya benar dan “mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya” (ay. 13). Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk selalu rendah hati di hadapan Tuhan, sebagaimana isi Doa Bapa Kami, “dan ampunilah kami akan kesalahan kami….dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 3 September 2023)

KESEMPATAN DIPANGGIL MELAYANI

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

”Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” (Kel. 3:3)

Jika ditanya apakah kita ingin bertemu dengan Tuhan? Maka yang terbayang pertama adalah kematian. Padahal, bertemu Tuhan saat Ia ingin menampakkan diri-Nya untuk tujuan tertentu, ada banyak bentuknya, seperti melalui mimpi, malaikat, urim dan tumim, undi, teofani kasat mata, nubuat, mukjizat, yang semua itu adalah wahyu umum. Namun Allah juga menampakkan diri-Nya melalui Pribadi Yesus Kristus dan Alkitab, sebagai wahyu khusus bagi kita orang percaya. (Selengkapnya bisa membaca buku saya Mengenal Alkitab Kita yang tersedia di Tokopedia.)

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kel. 3:1-15. Ini kisah Musa yang dipanggil untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir. Saat itu Musa dalam pelarian karena membunuh orang Mesir. Lalu ia bertemu jodohnya dan menjadi seorang gembala kambing domba mertuanya (ay. 1).

Musa pernah hidup di istana menjadi anak angkat putri Firaun, kini merasakan hidup sebagai orang biasa saja. Namun, rencana Tuhan baginya tetaplah berjalan. Ia tetap memiliki rasa kepedulian yang tinggi – tampak saat membela orang Israel yang dianiaya dan para wanita yang diganggu saat memberi minum kambing domba gembalaan mereka (Kel. 2:11-14, 17). Ia memiliki rasa ingin tahu, rendah hati, setia dan pekerja keras yang bertahan 40 tahun sebagai gembala. Semua ini menjadi teladan bagi kita. Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!