PENGETAHUAN, HIKMAT DAN KASIH
Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi
“Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah” (1Kor. 8:9)
Saya ingat masa kecil tahun 1960-an, di kota kecamatan. Ada sebuah kelenteng. Setiap acara hari raya Tionghoa, banyak sekali makanan disajikan dan selalu ada deretan daging babi utuh yang sudah dipanggang dan berwarna merah; itu bagian persembahan. Tapi otak kita berpikir itu enak disantap. Maka, seringlah kita berondok masuk mengambilnya, dan menikmati daging yang gurih.
Pengalaman lain. Bila ada hajatan, ibu saya dahulu selalu menaruh dua piring makanan penuh lauk pauk, biasanya ditempatkan di atas lemari. Katanya untuk kakek nenek saya yang sudah mendahului. Tak lama kemudian, makanan diambil dan ternyata sudah menjadi dingin. Ibu saya senang dan berkata: “mereka datang”. Tentunya, setelah itu, makanan tadi tetap kita santap. Kadang, hal itu masih dilakukan beberapa orang saat ini.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah 1Kor. 8:1-13, tentang persembahan berhala. Pengertian berhala adalah sesuatu yang disembah selain Allah Bapa yang kita kenal dalam Tuhan Yesus. Di Israel pada masa itu masih banyak dewa yang disembah. Mereka menyajikan makanan, termasuk daging mentah. Dan kita tahu, tidak mungkin makanan itu lenyap menguap, karena daging tetaplah daging. Maka setelah ritual persembahan, ada yang menjualnya di pasar. Rasul Paulus menjelaskan, tidak masalah memakan daging eks persembahan tersebut (ay. 10; 1Kor. 10:25). Read more