KABAR DARI BUKIT (Edisi 31 Maret 2024)

KEBANGKITAN DAN NUBUATAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu” (Mrk. 16:7)

Kisah kebangkitan Tuhan Yesus ditulis dalam empat kitab Injil memperlihatkan pentingnya hal tersebut. Alkitab juga menuliskan, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka… kamu masih hidup dalam dosamu (1Kor. 15:14, 16-17).

Firman Tuhan bagi kita di Minggu peringatan kebangkitan Tuhan Yesus hari ini adalah Mrk.16:1-8. Nas paralelnya berdasar leksionari adalah Mzm. 118:1-2, 14-24; 1Kor. 15:1-11; Kis. 10:34-43 dan Yoh. 20:1-18. Keempat nas ini telah saya tulis sebagai renungan dan dapat dibaca di website www.kabardaribukit.org. Perikop minggu ini menceritakan Maria Magdalena bersama dua ibu lainnya ingin meminyaki tubuh Yesus, namun khawatir tidak ada yang bisa menggulingkan batu penutup kubur-Nya (ay. 1-3).

Ternyata ketika mereka tiba, batu itu telah terguling, mereka menemukan kubur kosong (ay. 4-5). Seorang muda yang memakai jubah putih – tentunya malaikat, berkata: “Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini” (ay. 6b). Lalu malaikat itu mengingatkan nubuatan Tuhan Yesus sebelumnya, “Sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea” (Mrk. 14:28; Mat. 26:32). Kitab Perjanjian Lama juga telah menubuatkan kebangkitan Yesus (Mzm. 16:10-11; 71:20). Maka sesungguhnya, nubuatan Alkitab tidak pernah salah. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi Jumat Agung 29 Maret 2024)

DARI PENGADILAN HINGGA GOLGOTA – VIA DOLOROSA (Yoh 18:1-19:42)

Pdt. (Em.) Ramles M. Silalahi

Pendahuluan
Perjalanan penderitaan Tuhan Yesus menuju bukit Golgota merupakan rangkaian beberapa peristiwa yang sangat mengharukan, dimulai sejak perjamuan pada hari Kamis malam hingga kematian-Nya di Jumat senja hari. Jumat Agung memang mengingatkan kita tentang sejarah penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan kematian-Nya merupakan bagian penting dalam sejarah orang percaya.

Pengadilan Yesus tidak sah dan adil
Dari catatan para murid dan rasul yang dituliskan di Alkitab, banyak pihak berkesimpulan bahwa pengadilan terhadap Yesus berlangsung secara tidak sah dan tidak memenuhi ketentuan “demi keadilan dan kebenaran” sebagaimana layaknya sebuah pengadilan. Hal itu dapat dibuktikan dengan beberapa hal di bawah ini:

1. Yesus sudah dinyatakan harus mati sebelum diadili (Mrk. 14:1; Yoh. 11:50). Dengan demikiam tidak ada asas praduga tak bersalah, yakni tidak bersalah sebelum dibuktikan di depan hukum.

2. Banyaknya kesaksian palsu yang diberikan kepada Yesus (Mat. 26:59). Para pemimpin Yahudi memprovokasi dan menyaring saksi-saksi yang tampil dalam pengadilan itu. Oleh karena itu Pilatus melihatnya tidak bersalah.

3. Pemimpin Yahudi menjebak Yesus atas ucapan-ucapan-Nya, kemudian mengkriminalisasi apa yang dikatakan-Nya itu (Mat. 26:63-66).

4. Tidak ada pembelaan bagi Yesus selama proses pengadilan (Luk. 22:67-71).

5. Pengadilan berlangsung malam hari (Mrk. 14:53-65; 15:1) yang sebenarnya tidak diperbolehkan menurut hukum Yahudi.

6. Pengadilan berlangsung di tempat pertemuan Sanhedrin, bukan di tempat kaum Farisi sebagaimana biasanya (Mrk. 14:53-65).

Tetapi itu adalah proses yang harus dilalui dan dialami oleh Tuhan Yesus. Cawan penderitaan itu harus diminum-Nya untuk dapat menyelesaikan misi-Nya yang agung dari Bapa, demi untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita yang penuh dosa ini.

Tujuh ucapan Yesus dari kayu salib
Rasul Yohanes menyatakan bahwa pengadilan Yesus berakhir “kira-kira jam dua belas” (bdk. Kitab Markus yang menyebutkan Yesus disalibkan pada “jam sembilan” – Mrk. 15:25). Perbedaan ini terjadi karena Yohanes menggunakan jam perhitungan Romawi sementara Markus menggunakan jam Palestina. Keputusan hukuman mati di siang hari itu membawa konsekuensi Yesus harus langsung dieksekusi, dan sebagaimana kebiasaan mereka dihukum mati dengan cara disalibkan. Ini adalah cara mati yang bagi pandangan umat Yahudi adalah sebuah kutukan.

Alkitab mencatat ada tujuh kalimat yang Tuhan Yesus ucapkan saat disalibkan. Urutannya adalah sebagai berikut.

1. Ketika menghadapi para pembenci dan penghukum-Nya, ucapan Yesus yang pertama: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

2. Yesus berkata kepada penjahat disebelah-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).

3. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” (Yoh. 19:26-27).

4. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat. 27:46; Mrk. 15:34).

5. Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia: “Aku haus!” (Yoh. 19:28).

6. Sesudah Yesus meminum anggur asam yang diberikan, berkatalah Ia: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30).

7. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Luk. 23:46).

Bukankah semua itu pernyataan yang dahsyat? Betapa hebatnya Yesus, yakni pada saat Dia disalib setelah disiksa dan dianiaya, Ia bahkan berdoa agar Bapa-Nya di sorga mengampuni mereka! Dalam situasi yang lemah, Ia malah memberkati penjahat disebelah-Nya, memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya, dan puncaknya adalah, Ia menyerahkan semua kepada Bapa-Nya. Sungguh mulia Tuhan kita, yang harus menjadi teladan dalam hidup kita.

Arti dan makna kematian Yesus bagi kita
Kematian Kristus di kayu salib bagaikan korban anak domba sembelihan. Yesus tidak bersalah tetapi harus menanggung hukuman demikian berat. Kini, apa arti dan makna kematian Yesus Kristus itu bagi kita? Berikut diberikan gambaran artinya bagi kita:

1. Kematian Kristus merupakan penggenapan janji Tuhan (Kej. 3:15; Yes. 53:3, 7b; Zak. 9:9; Mzm. 41:10; 22:7-dab).

2. Kematian Kristus membuka pintu perdamaian bagi kita dengan Allah (2Kor. 5:18-21). Kita seharusnya mendapat murka Allah karena dosa-dosa kita, tetapi Allah memperdamaikan (Rm. 1:18; band. Rm. 11:28).

3. Kematian Kristus membuat kita dibenarkan (Rm. 3:24; 4:2-3; 5:9-10).

4. Kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita orang-orang berdosa. Allah membuka jalan penebusan melalui Kristus yang seharusnya Dia tidak alami dan tidak lalui, tetapi demi untuk dosa-dosa kita, Ia rela berkorban (Rm. 5:5-8; 5:24; Kol. 1:14).

5. Kematian Kristus memberi kita keselamatan dan hidup yang kekal (Rm. 5:12-18). Upah dosa adalah maut (Rm. 6:23) dan kita pasti akan mengalaminya. Tetapi maut yang dimaksudkan disini adalah kematian sementara, sebab kebangkitan dan kehidupan kekal telah menanti sebagaimana Kristus telah bangkit, mengalahkan maut, maka kita pun orang percaya akan dibangkitkan dan menang atas maut kematian itu. Kita menerima rahmat itu di dalam kematian Kristus, untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia dan memiliki kehidupan yang baru bersama-Nya (Rm. 6:1-4).

6. Kematian Kristus membuka kesadaran kita, betapa besarnya kasih Allah untuk kita yang rindu selalu dekat dengan Dia. Allah ingin membangun hubungan yang baru (2Kor. 5:17), dan melalui kematian-Nya itu sekaligus menggerakkan dan menghidupkan kita (2Kor. 5:14; Gal. 2:20).

7. Kematian Kristus membuat kita lebih kuat dalam menanggung penderitaan, mendewasakan dan menjadikan kita lebih utuh dan sempurna (2Kor. 12:10).

Kini, bagaimana kita meresponi pengorbanan Kristus itu? Semua itu tidak lain tidak bukan, Allah menginginkan kita menyesali segala dosa dan kesalahan kita, bertobat, tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang pernah kita perbuat, serta mempersembahkan yang terbaik dari hidup kita bagi kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Penutup
Penderitaan dan kematian Yesus menunjukan kesetian-Nya pada Allah dan kasih-Nya pada manusia. Kesetiaan dengan meminum cawan penderitaan yang sungguh amat berat itu, dan menyerahkan sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Kasih-Nya kepada kita dengan menanggung jalan panjang via dolorosa yang seharusnya Dia tidak tanggung, tetapi rela berkorban bagi penebusan dosa-dosa kita. Tuhan Yesus menginginkan kita untuk memahami hal itu, bersedia mengingat pengorbanan tubuh-Nya dan tumpahnya darah-Nya melalui perjamuan kudus yang kita ikuti pada Jumat Agung itu.

Semoga kita memahami arti dan makna kematian Tuhan kita itu bagi kita, dan siap untuk berubah dan memberikan yang terbaik sehingga kita justru tidak menyalibkan Dia lagi melalui dosa-dosa perbuatan kita.

Selamat memperingati Jumat Agung dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati kita, amin.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 24 Maret 2024)

BERKHIANAT DAN BUAHNYA

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Maka sedihlah hati mereka dan seorang demi seorang berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”” (Mrk. 14:19)

Menurut KBBI kata khianat berarti perbuatan tidak setia; tipu daya; perbuatan yang bertentangan dengan janji; pengkhianat adalah orang yang tidak setia kepada negara atau teman sendiri. Namun pada kehidupan politik, biasanya susah penerapannya sebab kepentinganlah yang selalu abadi.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu Palma masa sengsara hari ini bagi kita adalah Mrk. 14:10-11, 17-21. Perikop ini menceritakan Yudas Iskariot, salah seorang murid, berkhianat menemui imam-imam kepala bermaksud menyerahkan Yesus. Tentu mereka sangat gembira karena memang ingin membunuhnya (ay. 1-2), dan mereka pun memberikan uang tiga puluh perak kepada Yudas.

Tuhan Yesus sudah tahu akan hal itu dan pada perjamuan malam, Ia berkata kepada para murid yang bersama-Nya, “Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku …. dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku (ay. 18,20).

Pertanyaannya, mengapa Tuhan Yesus tidak menghentikan langkah Yudas? Kita dapat melihat bahwa Tuhan tidak selalu menggunakan otoritas-Nya untuk memotivasi atau menghentikan rencana dan langkah setiap orang. Seringnya Tuhan memakai cara tidak langsung, yakni mengingatkan dan menegor, ketika Yesus berkata, “akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (ay. 21b). Sayangnya Yudas tidak sadar akan tegoran, ia tetap berkhianat. Read more

GT News | Budidaya Padi Metoda SRI (1)

GajaToba telah berhasil melakukan uji coba budidaya padi dengan metode SRI (System Of Rice Intensification) di wilayah kawasan Danau Toba. Langkah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang potensi SRI dalam meningkatkan produktivitas panen petani.

 

GT News Video Penjelasan Padi SRI

KABAR DARI BUKIT (Edisi 17 Maret 2024)

PENGANTARA YANG SEMPURNA (Ibr. 5:5-10)

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”… dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr. 5:9)

Para imam dan kaum Lewi adalah petugas Bait Suci umat Israel di era PL. Imam Besar merupakan pimpinan, posisi tertinggi. Setahun sekali pada hari raya penebusan (Yom Kippur), hanya Imam Besar yang boleh masuk ke ruang maha suci, mempersembahkan korban tahunan sebagai pengantara umat Israel dengan Allah.

Alkitab menuliskan, Abraham memberi persembahan kepada Melkisedek, Imam Allah yang Mahatinggi (Kej. 14:18-20). Namun Melkisedek bukanlah dari garis suku Israel. Jabatan Imam Besar baru ada saat umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Harun – saudaranya Musa – yang dipanggil Allah, adalah imam besar pertama (ay. 4). Di masa PB kita tahu, masih ada imam besar Kayafas yang mengadili Tuhan Yesus. Jabatan ini kemudian hilang, seiring diruntuhkannya bait suci oleh kekaisaran Romawi.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Ibr. 5:5-10. Nas ini bagian dari perikop Yesus sebagai Imam Besar (Ibr. 4:14), penegasan dasar kepercayaan kita. Jabatan Yesus menggantikan para imam besar yang sebelumnya dipilih manusia dari keturunan Lewi; tapi kini ditegaskan, Yesus Kristus ditunjuk langsung oleh Allah Bapa menurut peraturan Melkisedek (ay. 6).

Penetapan dan pengakuan Yesus sebagai Imam Besar melewati proses yang panjang saat diri-Nya sebagai manusia. Ada ujian, Yesus dicobai Iblis (Mat. 4:1-11), diuji tatkala diri-Nya akan disalibkan; Ia berdoa dengan ratap tangis dan keluhan kepada Allah Bapa (ay. 7), agar cawan itu berlalu (Mat. 26:39a, 27:46).

Terbukti, Yesus lulus, tetap mengikuti kehendak Bapa (Mat. 26:39b). Allah pun meneguhkannya, “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini, …. Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya” (ay. 5-6; Mzm. 2:7, 110:4). Itu semua membuktikan Yesus adalah manusia sejati, dan setelah kematian-Nya, kebangkitan dan terangkat ke sorga, Yesus terbukti sebagai Anak Allah sejati.

Melalui nas hari ini kita diajar bahwa ketaatan itu adalah kunci. “Sekalipun Yesus adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (ay. 8).  Melalui ujian godaan dan penderitaan yang dialami-Nya, keimaman Yesus menjadi sempurna: “dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah” (Ibr. 5:9-10). Yesus kini menjadi Pengantara baru yang sempurna agar kita dapat dan berani mendekat menghadap takhta Allah Bapa (Ibr. 4:16).

Kesempurnaan Yesus sebagai Imam Besar menjadi bukti, model dan sekaligus teladan agar setiap orang percaya, diminta menjadi serupa dengan Dia, dan terus memperlihatkan kesalehan (ay. 7b). Kita akan dimampukan, sepanjang ada keinginan taat. Tentu, dalam upaya tersebut kita tidak bisa sempurna, sama seperti Harun tidak sempurna pernah menduakan Allah (Kel. 32:1-30). Namun Allah melihat hati (1Sam. 16:7; Yer. 17:10), dan memberi jalan kita menjadi sempurna melalui pengakuan dosa dan pembasuhan oleh darah-Nya.

Pesan lain dalam nas ini, yakni agar kita tidak memanfaatkan situasi. Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, menjadi sombong atas berkat dan jabatan yang diterima. Kuncinya justru sebesar apa pengorbanan kita, sebab tidak ada yang lebih mulia dari pengorbanan yang diberikan. Terakhir, pesan firman-Nya, agar kita tetap dalam iman dan pengharapan, meski tantangan yang ada besar dan berat, sebab kita percaya Yesus di sorga tetap berdoa dan Pembela bagi kita (Ibr. 9:24; Rm. 8:34; 1Yoh. 2:1). Haleluya.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 10 Maret 2024)

MELAKUKAN PEKERJAAN BAIK

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya” (Ef. 2:10a)

Pertanyaan teologis paling mendasar tentang keberadaan manusia adalah: Apa tujuan Allah menciptakan manusia? Kemudian pertanyaan lanjutannya kepada diri sendiri: mengapa saya hadir di dunia ini? Apakah ada rencana Allah?

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Ef. 2:1-10. Perikop ini berjudul: Semuanya adalah kasih karunia. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dari nafas Allah, oleh karena itu kita dapat mengenal Allah; ini bedanya dengan hewan dan ciptaan lainnya. Kemudian Allah memberi perintah, mandat, agar manusia beranakcucu, memenuhi bumi, menaklukkan dan berkuasa atas ciptaan lainnya (Kej. 1:26-28). Jadi jelas, Allah menciptakan manusia bertujuan agar melakukan pekerjaan baik.

Kejatuhan Hawa dan Adam oleh godaan Iblis pembunuh manusia (Yoh. 8:44), mengajaknya berdosa melawan kehendak Allah (1Yoh. 3:8; Kej. 3:4b). Mereka gagal menaati Allah dan akibatnya diusir dari Taman Eden. Lalu Allah memanggil Abraham, menjadi bapak bangsa Israel yang dipilih dan diberkati untuk menjadi teladan dan berkat bagi umat manusia. Namun dalam perjalanannya, bangsa Israel juga gagal dalam tugas melakukan pekerjaan baik, lantas Allah menceraiberaikan mereka. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 3 Maret 2024)

SEPULUH PERINTAH DAN KASIH

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Lalu Allah mengucapkan segala firman ini “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel. 20:1-2)

Dalam buku Jhon S. Feinberg Masih Relevankah PL di Era PB, dituliskan ada kesamaan PL dan PB yakni tentang pengampunan, iman, ketaatan, dan kehidupan kekal. Tetapi ada perbedaannya, dalam PL umat Israel lebih terikat pada hukum, ibadahnya lebih bersifat upacara dan dianggap kurang rohani, pencurahan Roh Kudus dalam PB bersifat kekal tidak sementara, dan tentunya PL awalnya terbatas bagi umat Israel, sementara PB bersifat universal, terbuka bagi semua bangsa.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Kel. 20:1-17. Perikop ini adalah kesepuluh firman sesuai judulnya. Ini hukum yang diturunkan kepada bangsa Israel di saat perjalanan pulang ke Tanah Kanaan (Ul. 5:6-21), diberikan melalui Nabi Musa di Gunung Sinai pada dua loh batu yang ditulis dengan jari Allah (Kel. 31:18). Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!