KABAR DARI BUKIT (Edisi 30 Juni 2024)

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan” (2Kor. 8:1)

Pertumbuhan iman orang percaya dapat dilihat beberapa tahap. Yang pertama tentunya mengaku percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadinya dan bertobat. Kedua, ia bertumbuh dalam kasih, baik terhadap Tuhan Yesus dengan senang membaca firman-Nya dan rajin berdoa, serta kasih terhadap sesama dalam bentuk kepedulian sosial yang tinggi. Tahap ketiga, ia selesai dengan (ambisi) dirinya dan berupaya sebagaimana pujian
NKB 138, “Makin serupa Yesus, Tuhanku, inilah sungguh kerinduanku….”

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah 2Kor. 8:8-15. Judul perikopnya: Pelayanan kasih. Ini pesan tentang perlunya keseimbangan antara yang berlebih dan berkekurangan. Selain itu Rasul Paulus membuat katagori orang kaya, yakni kaya dalam iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk membantu, dan kasih terhadap hamba Tuhan dan sesama (ay. 2). Jadi kaya tidak hanya dipahami memiliki harta duniawi semata. Read more

GT News | BIMBEL GT-GO

Generasi Muda Hebat, Kawasan Danau Toba Maju

Bimbingan Belajar Gaja Toba Ganesha Operation (Bimbel GT-GO) Tahap ke-8 TA.2023-2024 diikuti oleh 445 siswa di 9 Kabupaten (Simalungun, Toba, Karo, Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, Dairi dan Pakpak Bharat). Masing-masing kabupaten dibuka 1 kelas yang berjumlah 45 siswa. Khusus untuk Kab. Tapanuli Utara ditambah 1 kelas (40 siswa) di Siborong-borong yang disponsori oleh Bapak Elisa Lumbantoruan (Ketua Dewan Penasehat PGTS).

Tujuan utama program ini adalah meningkatkan tingkat kelulusan siswa-siswi asal KDT ke Perguruan Tinggi Negeri.

Total siswa Bimbel GT-GO TA.2023/24 yang lulus ke PTN sebanyak 269 siswa (60,45%), diantaranya:

  • 95 siswa lulus SNBP
  • 137 siswa lulus SNBT
  • 1 siswa lulus Poltekkes

4 siswa yang lolos ke ITB adalah:

  1. Cinyasprih Gultom, Asal SMAN 1 Balige, ITB – FTTM-C (Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan – Kampus Cirebon)
  2. Chelsea Gokhi Romaarta Sitio, Asal SMAN 1 Girsip, ITB – FTI-SP (Fakultas Teknologi Industri – Sistem dan Proses)
  3. Chintya Florensia Marbun, Asal SMAN 1 Girsip, ITB – SITH-C (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – Kampus Cirebon)
  4. Anggun Vanessa Tampubolon, Asal SMAN 2 Balige, ITB – SITH-S (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – Sains)

 

Kami mengajak Anda untuk berpartisipasi dan mendukung program ini dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan khususnya peningkatan kualitas pendidikan generasi muda di Kawasan Danau Toba.

BNI 0855561860 | Perkumpulan Gaja Toba Semesta

 

Salam Gaja Toba

KABAR DARI BUKIT (Edisi 23 Juni 2024)

KESEMPATAN ATAU BATU SANDUNGAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima” (2Kor. 6:1)

Ada dikotomi atau pembelahan dua bagian orang percaya, yakni hamba dan murid. Hamba lebih dimaksudkan bagi pelayan dengan jabatan gerejawi atau lembaga Kristiani, sementara murid merupakan sebutan umum bagi siapa saja yang percaya dan mengikut Tuhan Yesus. Namun satu hal yang sama, hamba atau murid adalah duta atau utusan Kristus di dunia ini (2Kor. 5:20). Sebagai duta, seperti duta besar, ada yang kebagian tugas untuk negara kecil dan ada untuk negara besar. Namun tugas utamanya sama, menjaga dan meninggikan harkat negara/pengutusnya.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah 2Kor. 6:1-13. Nas ini ada dua bagian: pertama tentang Paulus dalam pelayanannya (ay. 1-10); kedua tentang permintaan agar tidak ada noda kekafiran pada orang percaya (ay. 11-13).

Sebagai duta-duta Kristus, setiap momen perlu dikreasikan menjadi kesempatan untuk berkarya dan membuat kita lebih didengar-Nya. Allah telah memberi talenta dan kasih karunia kepada kita semua. Ia tidak pernah menjadikan manusia bersisi buruk semua, pasti ada sisi baiknya. Itulah pola talenta. Maka sebuah ironi, jika itu tidak digunakan dan sia-sia. Oleh karena itu, poin pertama pesan nas ini, tantangan dan penderitaan apapun merupakan kesempatan yang bagus untuk memperlihatkan jati diri kita sebagai duta agar berkenan bagi-Nya dan diselamatkan (ay. 1-2). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 16 Juni 2024)

TAKHTA PENGADILAN KRISTUS

”Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2Kor. 5:9-10; bdk. Rm. 14:12)

Salah satu alasan orang percaya adanya Tuhan adalah mutlaknya manusia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidup. Rasanya tidak logis dan adil setelah manusia mati, semua perbuatannya di dunia tentang hal baik dan terutama yang jahat, selesai begitu saja. Semua agama pun meyakini demikian, hanya berbeda bentuk penghakimannya dan hasil hukuman serta upah/pahala yang dijanjikan.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah 2Kor. 5:6-10. Nas ini lanjutan minggu lalu tentang perlunya kesiapan orang percaya menghadapi penderitaan dan kematian. Kita diminta senantiasa tabah, menjalani hidup karena percaya, bukan karena melihat. Ada kerinduan iman, hidup bersama Tuhan sungguh indah (ay. 6-8). Untuk itulah terus berusaha agar berkenan kepada-Nya (ay. 9).

Hal pertama dari nas kita, pengadilan akhirat perlu sebab hidup di dunia bisa saja menderita dan tidak adil. Kebenaran dan keadilan hanya terjadi di pengadilan akhirat, sebagai pertanggungjawaban manusia atas seluruh perbuatannya baik ataupun jahat (ay. 10; 1Pet. 4:5). Tujuan penghakiman ini untuk menyatakan kedaulatan dan keadilan Allah, sesuai Pribadinya yang Maha Kuasa dan Mahaadil. Dan tidak ada hal tersembunyi bagi Tuhan (Ibr. 4:13), yang di dunia dapat ditutupi dan dimanipulasi. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 9 Juni 2024)

TEGAR MENGHADAPI KEMATIAN

”Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2Kor. 4:18)

Sesuai leksionari pada kalender gereja, di minggu-minggu Pentakosta ini tema renungan kita merupakan penuntun menjalani hidup di kala penuh cobaan, ujian, kesusahan, dan badai. Dua minggu lalu renungan kita adalah “Menang atas Penderitaan” dari 2Kor. 4:1-15. Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah lanjutannya, yakni 2Kor. 4:16-5:1. Judul perikopnya: Jangan tawar hati, juga waktu menghadapi maut.

Ya, tubuh kita terus menua, akan semakin merosot jika beban berat dan kesusahan banyak menerpa. Sebagaimana disampaikan Rasul Paulus, tubuh manusia ibarat bejana tanah liat yang rapuh. Tetapi nyata bagi kita orang percaya, isi bejananya adalah “kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (ay. 7b). Itu adalah harta rohani berupa iman yang teguh mengandalkan penyertaan Tuhan, pengharapan kekekalan sebagai tujuan hidup, dan kasih terhadap sesama; semuanya menjadi pendorong kita agar tidak mudah menyerah.

Resiko terbesar ancaman dan kesusahan adalah kematian, yang semua orang takut menghadapinya; bahkan mereka yang hendak bunuh diri juga umumnya perlu melawannya. Rasa takut itu dapat berupa masuk neraka dan belum siap; takut akan proses menuju kematian mungkin lewat sakit berat, berkepanjangan; meninggalkan orang yang dikasihi, seperti suami/istri, anak, orangtua; atau takut justru yang dikasihi mati terlebih dahulu. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 2 Juni 2024)

PANGGILAN DAN PELAYANAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1Sam. 3:9b)

Salah satu perbedaan pekerjaan dengan pelayanan adalah perihal upah. Upah pekerja sudah ditetapkan sebelumnya, langsung dapat dinikmati; sementara pelayanan khususnya untuk Tuhan, upah sifatnya janji iman, belum nyata. Namun hal yang lebih prinsip lagi, dalam pelayanan faktor panggilan sangat utama; bukan melamar seperti pekerja. Oleh karena itu, menghayati panggilan sangat penting dalam pelayanan.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah 1Sam. 3:1-20. Kisah ini tentang Samuel yang masih remaja, belum mengenal Tuhan, sedang tidur dan merasa namanya dipanggil (ay. 2-7). Ia yang tinggal bersama Nabi Eli di Bait Allah, kemudian berlari menghadap Eli, tapi merasa tidak memanggilnya. Tiga kali berulang, dan Nabi Eli tahu yang memanggilnya adalah Allah sendiri. Eli pun menasihati, bila ada panggilan lagi, agar Samuel menjawab: “Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar” (ay. 9-10). Allah pun berbicara langsung kepada Samuel (ay. 11-18).

Samuel yang memang sudah dinazarkan ibunya Hana untuk menjadi hamba Tuhan (pasal 1), perlu mendapat pelatihan dan persiapan. Eli bersedia membimbingnya sebab anak-anaknya telah gagal dibimbingnya, karena suka mencuri persembahan yang dibawa oleh umat (pasal 2). Samuel yang lugu, mendengar suara Tuhan menyampaikan kekecewaan-Nya terhadap anak-anak Eli. Samuel pun semakin teguh hingga ia menjadi nabi besar umat Israel (ay. 19-20). Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!