KABAR DARI BUKIT (Edisi 24 November 2024)

ADA, SUDAH ADA DAN AKAN DATANG

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya,” (Why. 1:3a)

Hari Minggu ini adalah minggu terakhir dalam kalender gereja dan dinamai Minggu Kristus Raja; minggu depan kita masuk ke awal baru yakni masa Minggu Adven. Disebut Kristus Raja tentunya karena selama perjalanan iman setahun, kita telah diberi tantangan dan kekuatan, sekaligus penyertaan Tuhan yang membuktikan bahwa Kristus adalah Raja, Mesias dan Tuhan kita.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Why. 1:4-8. Judul perikopnya: Salam kepada ketujuh jemaat, dengan doa pengharapan: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai mereka dari Allah Tritunggal: Bapa, Roh Kudus dan Yesus Kristus (ay. 4b-5a). Sebuah kata pembuka yang perlu diteladani, jika kita mengirim pesan tertulis, seperti WA, SMS atau email, bukalah dengan salam; jangan langsung ke masalah apalagi dengan nada amarah.

Kasih karunia merupakan pengharapan semua orang percaya, yakni Allah terus mengasihi kita dan diberi karunia dalam pengertian bukan atas prestasi kita, hanya belas kasihan Allah – sebab kita orang berdosa tidak layak. Demikian juga dengan damai, rindu situasi tiadanya ketakutan dan kebencian, hidup yang berserah meskipun ada kekhawatiran tertentu. Sementara, keadaan sejahtera adalah cukup dalam kebutuhan dasar yang disertai rasa syukur; bila pun ada “keinginan”, tetaplah diupayakan dan dibawa dalam doa kiranya Tuhan menolong.

Hal kedua disebutkan ada tujuh Roh pada ketujuh jemaat (ay. 4b). Ini memberi pengertian bahwa Allah Roh Kudus Mahahadir di semua tempat bagi mereka yang percaya, tidak dibatasi ruang dan waktu. Yesus Kristus sebagai Allah Anak, disebut sebagai Saksi yang setia (ay. 5a), setelah Ia menjadi manusia dan melakoni hidup dan pelayanan-Nya seturut kehendak Bapa; sebuah bukti kesetiaan sampai ke kubur. Allah Bapa pun membangkitkan-Nya untuk kembali naik ke sorga. Yesus menjadi teladan dan kita diminta agar setia dan serupa dengan Dia (Rm. 8:29; Flp. 1:6).

Hal ketiga, Yesus berhasil membangun sebuah Kerajaan di dunia (ay. 6), bukan politik atau batas fisik wilayah, melainkan sebuah Kerajaan Rohani dengan “umat/warga” terbesar di dunia. Oleh karena itulah Yesus disebut Raja, kita orang percaya telah ditunjuk menjadi imam-imam, tidak terbatas dari suku Lewi saja. Oleh karenanya, “bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin (ay. 6b).

Nas minggu ini ditutup dengan nubuat yakni Yesus akan datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia (ay. 7). Kedatangan Kristus Kedua Kali (K4), selain diterima dengan iman perlu memahami makna nubuatan, yakni mendengarkan, membaca dan menurutinya (ay. 3). Ini bukan saja kita yang percaya, tetapi juga mereka yang telah menghukum Dia, agar kelak tidak menyesal dan meratapinya.

Tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini tanpa awal dan tanpa akhir, terkecuali Allah sendiri. Oleh karenanya Allah mencanangkan, “Aku adalah Alfa dan Omega…, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Nah, seperti kata CS Lewis, “Sekali kita bersama Allah, bagaimana mungkin kita tidak hidup selamanya.” Kiranya kasih-Nya menyertai kita hingga ke kekekalan (Yoh. 6:40; Tit. 3:7).

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Yesus adalah Raja (Yoh. 18:28-37) dan Raja yang Kekal (Mzm. 93:1-5), silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 17 November 2024)

HUKUM DI DALAM HATI

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka” (Ibr. 10:16)

Animisme sebagai kepercayaan suku tradisionil menganut pengakuan adanya roh di benda yang dianggap mistis, seperti gunung, sungai, pohon beringin besar, termasuk jasad orang mati. Sementara Dinamisme merupakan kepercayaan terhadap benda yang diyakini mempunyai kekuatan gaib, misalnya: keris, jimat, abu orang mati, dan lainnya. Tidak jarang kepercayaan ini diiringi hal-hal tabu dan pantang (bdk. Rm. 1:21-25).

Salah satu ciri kepercayaan ini adalah mempertahankan persembahan baik berupa makhluk hidup atau hasil tanaman dan lainnya, yang kadang dibakar atau dibuang ke lembah, ke sungai, atau tempat lainnya. Ada yang menyebutnya sebagai sesajen. Tujuan pemberian persembahan ini adalah memohon pertolongan agar yang memberinya mendapat berkah dan jauh dari murka terutama dari roh-roh orang mati. Sayangnya, dalam banyak hal ini sulit diterima akal sehat.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 10:11-25; ada tiga bagian. Pertama (ayat 11-14), merupakan penjelasan terakhir tentang keimaman Yesus yang penuh kuasa di bumi dan di sorga; bagian kedua (ayat 15-18), tentang cara Tuhan mengikat perjanjian dengan manusia; dan bagian ketiga (19-25), yakni perintah-Nya terhadap kita.

Nas minggu ini mengajarkan bahwa korban Yesus yang tersalib dan darah-Nya yang tercurah merupakan korban yang sempurna (ay. 11-14), dilakukan satu kali saja, tidak membutuhkan korban lainnya dan tidak ada yang dapat menggantikannya. Korban Yesus merupakan simbol sekaligus bukti kasih Allah bagi orang berdosa; Yesus adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa manusia (Yoh. 1:29; Why. 7:11-14). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 10 November 2024)

MATI SATU KALI HIDUP DUA KALI

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibr. 9:27)

Mungkin terpikir pertanyaan tentang apa ya kira-kira yang dilakukan oleh Tuhan Yesus setelah kembali ke sorga, saat ini dan kelak bagi kita? Tentunya yang sering kita dengar adalah Yesus menyiapkan tempat (Yoh. 14:2), dan Dia juga berdoa bagi kita (Yoh. 17:20).

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 9:24-28. Nas pendek ini menjelaskan tentang Imam Besar Yesus yang masuk ke sorga satu kali, berbeda dengan imam besar Yahudi harus masuk berkali-kali ke ruang maha kudus buatan manusia. Kristus saat ini telah bersama-sama Allah Bapa. Oleh karena itu, selain dua hal penting di atas yang Yesus lakukan bagi kita, hal lainnya ialah Dia menjadi Pembela kita, “menghadap hadirat Allah di sorga guna kepentingan kita” (ay. 24).

Mengapa Yesus menjadi Pembela selain Pengantara? Kita tahu kelak pasti ada penghakiman. Umur manusia terbatas, dunia akan berakhir; tidak wajar jika hidup ini berhenti begitu saja, sama bagi orang jahat dan orang baik, tanpa ada konsekuensi. Tuhan Mahaadil maka keadilan akan ditegakkan-Nya. Ada setan, musuh yang terus menggoda dan pendakwa manusia (Zak. 3:1; Why. 12:10). Agar ditampakkan beda orang yang bertahan setia dengan yang murtad; demikian juga bagi yang teguh di dalam Tuhan atau orang yang lebih mengikuti keinginan daging dan dunia. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 3 November 2024)

MENGAPA HARUS ADA DARAH?

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri” (Ibr. 9:12a)

Saat menonton film IRIS di Netflix yang ceritanya tentang organisasi kelompok penentang penyatuan Korea Utara dan Selatan, ada sebuah dialog yang menarik. Seorang ahli nuklir dari Korea Utara yang percaya Tuhan dan ingin mendapatkan suaka, menasihati agen dari Korea Selatan yang tidak percaya adanya Tuhan: “Anggap saja Tuhan itu ada. Sebab bila dia ada, maka engkau memperoleh kesempatan berkat yang melimpah, dan walaupun dia tidak ada, maka kamu tidak rugi apa-apa.”

Percaya Tuhan berarti percaya kuasa-Nya. Bagi kita orang percaya, Allah itu hidup di dalam Roh Kudus, diam di hati, dan terus berinteraksi sepanjang hidup. Tetapi bagi yang tidak percaya atau perbuatannya jauh dari kehendak-Nya, maka Ia sebetulnya terus memanggil untuk kembali, ingin ada pertobatan, penebusan, pengampunan, dan menjadikan mereka sebagai anak-anak-Nya yang siap dipakai dan diberkati.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 9:11-14. Nas ini berbicara tentang penebusan dosa. Dalam PL, penebusan dosa dilakukan oleh umat Israel dengan membawa hewan hidup sebagai pengganti, disembelih di Bait Allah, kemudian darahnya dipercik-percikkan ke empat penjuru oleh imam.

Konsep pengganti dengan hewan ini memiliki dua dasar: pertama, adanya hukum pembalasan yakni mata ganti mata, nyawa ganti nyawa (Im. 24:19-21; Ul. 19:21). Seseorang yang dijatuhi hukuman mati hanya dapat ditebus dengan penggantian nyawa, yang mestinya nyawanya sendiri tapi kemudian digantikan hewan hidup. Kedua, dalam Imamat 17:11 dituliskan, “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!