NATAL YANG BERSUKA CITA

NATAL YANG BERSUKACITA
Bersekutu bersama Tuhan

HADIAH UNTUK RAJA (Mzm. 97:1-12)

“Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati” (Mzm. 97:11)

Hari yang dinanti-nantikan itu telah tiba. Sukacita besar umat Kristiani merayakan Natal. Firman Tuhan bagi kita adalah Mzm. 97. Ada 12 ayat, judul perikopnya: Tuhan adalah Raja. Ya, kedatangan Raja kita Tuhan Yesus telah ratusan tahun ditunggu-tunggu. Alkitab PL menuliskan, ada 300 lebih nubuat tentang kedatangan Sang Mesias. Kini, Ia datang. Kita merayakannya.

Sambutan hangat dan terbaik adalah memberi hadiah kepada Raja kita. Tentu, Tuhan kita tidak membutuhkan hadiah berupa barang atau benda. Namun ada yang dapat kita berikan sebagai hadiah yang terbaik kepada Tuhan, yakni: pertama, sikap bersukacita dan bersyukur. Mazmur 97 ini menuliskan: “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya…. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus” (ayat 1-2, 11-12).

Hadiah kedua, kita berikan sikap taat dan setia sebagai murid-Nya. “Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan!” (ayat 10). Sebagai murid yang taat dan setia, kita juga harus memperlihatkan kemenangan iman selama ini. Kita adalah pemenang, meski kita akui kadang-kadang kita jatuh, tetapi kita tahu Tuhan Yesus telah memberi pengampunan bagi anak-anak-Nya. Lawan-lawan kita, yakni iblis, ego, sifat jahat dan suka akan dosa, telah dikalahkan, sebagaimana ungkapan pemazmur. “Api menjalar di hadapan-Nya, dan menghanguskan para lawan-Nya sekeliling. Kilat-kilat-Nya menerangi dunia, bumi melihatnya dan gemetar. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi” (ayat 3-5).

Hadiah ketiga bagi Tuhan Yesus, memperlihatkan bahwa tugas utusan yang diberikan kepada kita yaitu menjalankan Amanat Agung, tetap kita laksanakan dengan baik. Pemazmur nas ini mengekpresikan, “Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepada-Nya” (ayat 6-7). Bila kita merasa belum ikut berpartisipasi, atau belum maksimal, saatnya memberi janji kepada Tuhan di momen Natal ini, bahwa kita ingin lebih aktif di hari-hari mendatang. Banyak cara dan jalan untuk ikut misi agung ini, baik melalui perbuatan baik atau mengabarkan. Bila merasa tidak mempunyai talenta langsung, atau masih sibuk urusan pekerjaan, maka dukung dengan cara lain. Hidup kita orang Kristen bukanlah hanya beribadah, tetapi berbuat nyata bagi sesama.

Hadiah keempat, memperlihatkan kerinduan akan kedatangan Tuhan Yesus Kembali Kedua Kalinya (K4). Nubuat PL telah digenapi ketika bayi Yesus lahir di Betlehem. Tetapi, Alkitab juga menuliskan nubuat baru sebanyak 200 kali, bahwa Yesus akan datang kembali lagi untuk mengangkat semua orang percaya. Sikap kita dalam menanti-nantikan Tuhan, mesti bagaikan burung rajawali (Yes 40:31). “Sion mendengarnya dan bersukacita, puteri-puteri Yehuda bersorak-sorak, oleh karena penghukuman-Mu, ya TUHAN. Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah” (ayat 8-9).

Kita sebagai anak-anak-Nya di dunia ini, akan terus melewati segala zaman dengan kemenangan. Tuhan kita Penebus dan Juruselamat telah lahir untuk kita. Maka kita percaya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 10b, “Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.” Untuk itulah kita sangat bersyukur, dan layak merayakan Natal ini dengan penuh sukacita.

SELAMAT HARI NATAL 2024.

Tuhan Yesus memberkati kita semua, amin. 🙏

Pujian dan berdoa pribadi

Era Jalan Tol di Kaldera Toba Bikin Cemas

Saya masygul mendengar kabar bahwa sejumlah daerah yang dilintasi jalan tol Medan-Tebingtinggi kini diamuk cemas. Mereka khawatir kalau-kalau kota dan daerah mereka terasing dari arus kendaraan di jalan tol, sehingga memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sebutlah, Deliserdang, Serdang Bedagai (Sergai) dan Tebingtinggi.

Memang, tadinya adalah hamparan sawah, atau hutan semak. Kini berubah menjadi jalan yang mulus. Jika tadinya Medan-Tebingtinggi ditempuh 2,5 jam menjadi hanya 1 jam. Apalagi kelak rampung hingga ke Parapat, maka wisatawan asing pun ramai berkunjung ke Danau Toba.

Namun rentangan jalan tol itu telah mengubah ekosistem. Lahan sawah atau hutan yang tadinya merupakan resapan air hujan, menjadi hilang. Luas sawah pun berkurang yang berakibat kepada produksi pertanian dan penghasilan penduduk. Alangkah elok jika di kedua sisi jalan tol ditanam dengan berbagai pepohonan.

Sebaliknya, biaya logistik semakin murah. Distribusi barang dari Medan ke Tebingtinggi, Pematangsiantar dan Parapat kian lancar, dan harganya kian murah.
Beberapa daerah itu juga hawatir kalau-kalau jalan konvensional, yang non-jalan tol, akan semakin sepi. Sebab, orang lebih suka melalui jalan tol yang nyaman. Sebutlah, Lubukpakam, Perbaungan, Tebingtinggi dan Pematangsiantar.

Tapi saya yakin bus penumpang di jalan nontol akan bertahan untuk melayani penumpang yang naik turun, apalagi tak membayar biaya tol. Pengendara mobil pribadi tentu saja lebih memilih jalan tol karena cepat sampai ke tujuan.

Kota-kota sepanjang Medan hingga Parapat, dan kelak hingga ke Labuhanbatu Selatan dan Sibolga – jika jalan tol rampung — haruslah mandiri. Toh, perkembangan sebuah kota atau daerah lebih ditopang jika dia maksimal melayani daerah belakangnya (hintherland) – yakni, desa dan kecamatan di sekitarnya.

Kota harus memfasilitasi pemasaran bagi komoditas hintherland-nya dengan sarana pasar, infrastruktur dan transportasi yang baik. Tak ayal, pertumbuhan ekonomi pun membaik, sehingga memperkuat daya saing yang menggairahkan pelaku ekonomi menanam modal dan mendistribusikan barangnya.

palagi jika setiap daerah mempunyai keunggulan produk tertentu akan selalu merangsang pelaku ekonomi untuk datang berbisnis. Tak perlu gundah ketika era jalan tol datang.

 

/medanbisnisdaily

 

“Universitas Negeri Danau Toba” untuk Membangun SDM di Kawasan Danau Toba

JAKARTA – Masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT) masih tergolong rendah SDMnya. Tidak mengherankan jika tingkat kemiskinan di KDT tinggi, padahal kekayaan alam di KDT melimpah. Salah satu strategi untuk meningkatkan SDM di KDT adalah dengan membangun “Universitas Negeri” di KDT sebagaimana disampaikan dalam paparan makalah yang ditulis Andaru Satnyoto dan Jhohannes Marbun.
Kamisan 2016-05-12 b
Keterdesakan membangun “Universitas Negeri” di KDT menjadi topik diskusi dalam Diskusi Kamisan yang rutin dilaksanakan oleh Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) pada Kamis (12/5/2016) di Sekretariat YPDT. Salah satu problem pokok kawasan ini adalah masih minimnya kajian–kajian kawasan, dan lemahnya SDM pariwisata dan berbagai bidang yang terkait dengan teknik, gunung api, geologi dan pertanian-perkebunan, kehutanan, dan limnologi. Namun hingga saat ini belum ada perguruan tinggi negeri yang secara berkelanjutan ada dan dikembangkan di kawasan Danau Toba.

Read more

Membangun Budaya Hospitality Masyarakat Sekitar Danau Toba

SPORTOURISM — Ada satu kata yang diucap dua kali oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pidatonya saat berkunjung ke Danau Toba, Juli 2016 lalu, yaitu; Senyum.
Hiramsyah S. Thaib, ketua Tim Percepatan Pembangunan Destinasi Prioritas Kementerian Pariwisata (Kemenpar), menegaskan; “Membangun budaya hospitality masyarakat sekitar Danau Toba juga penting agar tercipta keramah-tamahan dan servis yang berkelas.”

Dalam salah satu artikel tentang Danau Toba, Jurnal Asia menulis; “Bila perlu, mulai saat ini dilakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pelaku jasa pariwisata, agar mereka memiliki kompetensi untuk mendukung pengembangan wisata Danau Toba di masa mendatang.”

Tiga pernyataan di atas mungkin lebih dari cukup untuk menyimpukan betapa mengubah Danau Toba menjadi destinasi internasional tidak sekadar membangun infrastruktur, amenitas, dan membersihkan danau vulkanik terbesar di dunia itu dari keramba jaring apung (KJA), tapi juga mengubah mental masyarakatnya agar siap menjadi pelaku industri pariwisata.

Banyak diskusi tentang hal ini. Tidak sedikit artikel dan opini di media cetak dan online yang secara khusus membahas betapa pentingnya pembangunan mental masyarakat Danau Toba sebelum kawasan itu disulap menjadi Monaco of Asia. Gagasan membangun Danau Toba telah ada sejak lama, tapi hanya menjadi wacana diskusi. Danau Toba dibiarkan berkembang secara alami, dengan tujuh kabupaten sebagai pengelola. Pariwisata Danau Toba sempat tumbuh, dan mendapat kunjungan banyak wisman awal 1990-an, tapi merosot setelah krisis moneter dan kerusuhan 1998. Pada saat bersamaan masyarakat beramai-ramai membuka budi daya ikan dengan media keramba jaring apung (KJA).

Sejumlah perusahaan, terutama produsen bubur kertas, membuang limbah ke Danau Toba. Pencemaran Danau Toba berada pada titik kritis, dan menibulkan keprihatian semua pihak.

Di era SBY, muncul gagasan membangun Danau Toba dengan membentuk Badan Otorita. Namun, banyak pihak menanggapi gagasan itu dengan hati-hati.

Di era Presiden Joko Widodo, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan Danau Toba sebagai satu dari 10 Top Destinasi Prioritas, untuk mendukung target 20 juta wisman pada tahun 2019. Lima kementerian ditugaskan membangun Danau Toba. Terakir, Presiden Joko Widodo membentuk Badan Otorita Danau Toba, yang didukung tujuh bupati.

Pembangunan infrastruktur telah dimulai. KJA di Danau Toba dibersihkan. Bandara Silangit dibenahi agar siap didarati pesawat berbedan besar dari Jakarta dan kota-kota lain di Asia Tenggara. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menargetkan satu juta wisatawan ke Danau Toba pada tahun 2019, atau empat kali lipat dibanding saat ini. Terlebih, tahun ini UESCO akan menjadikan Danau Toba sebagai Global Geopark Network (GGN). Pembangunan Danau Toba, lanjut Menpar Arief Yahya, juga akan menyertakan masyarakat sekitar. Saat ini, Kemenpar dan Kemen PUPR telah bekerjasama dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk, yang akan memberikan kredit pembangunan homestay kepada masyarakat. Namun, masyarakat di setiap destinasi prioritas memiliki karakteristik masing-masing. Ada yang siap menghadapi industri pariwisata, dan ada masyarakat yang harus dipersiapkan menjadi pelaku industri pariwisata.

Masyarakat Danau Toba masuk kategori yang kedua. Pertanyaanya, sejak kapan program mempersiapkann masyarakat itu dilakukan?

S Thaib mengatakan; “Setelah pembenahan mental warga, barulah perbaikan infrastruktur pendukung di sepanjang bantaran Danau Toba bisa efektif.” Lainnya berpendapat pembenahan mental warga dilakukan sejalan dengan pembangunan infrastruktur.

Yang pasti, diperlukan gerakan masif untuk mempersiapkan masyarakat Danau Toba menyongsong industri pariwisata. Penggerak bisa siapa saja; pemerintah tujuh kabupaten di Danau Toba, LSM, pemuka adat, tokoh-tokoh agama, serta sekolah-sekolah pariwsata di Medan. Gerakan didasari asumsi bawa masyarakat Danau Toba, dengan segala adat-istiadat dan budayanya, adalah menjadi kekuatan penggerak kemajuan pariwisata. Masyarakat diberi pemahaman bahwa membangun Danau Toba dimulai dengan mengubah karakter setiap individu di dalam masyarakat, bahwa keramahan individu adalah kunci sukses industri pariwisata di masa depan. Pemahaman harus diberikan secara berkelanjutan dan untuk jangka panjang.
Danau Toba adalah anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk Sumatera Utara. Danau Toba harus terbangun agar berpotensi menyejahterakan, dan masyarakatnya harus berubah.

Potensi Pertanian Kawasan Danau Toba

Jpeg

GajaToba – Selain di sektor pariwisata, Kawasan Danau Toba khususnya Kabupaten Samosir, memiliki potensi pertanian yang amat besar. Betapa tidak, di sana tumbuh berbagai komoditi pertanian yaitu padi, bawang, kopi, mangga, cabai, jagung, kemiri, durian, dsb. Sayangnya, potensi pertanian di Samosir belum digarap secara serius. Sudah saatnya potensi besar ini dioptimalkan oleh semua para pemangku kepentingan demi kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya, Kab. Samosir mampu menerapkan pertanian modern dan menjadi lumbung pangan Sumatera Utara.

Jpeg
Lahan tanaman jagung

Berikut ini kondisi di lapangan:

  • Pada umumnya petani di KDT belum menerapkan teknologi modern. Hal itu ditandai dengan kegiatan pengeringaan kakao, jagung, bawang, dll masih menggunakan panas matahari.
  • Harga jagung di Samosir di tingkat petani Rp 3.100-Rp 3.500/kg.
  • Pedagang pengumpul datang ke petani sekali dalam seminggu.
  • Pedagang menjual jagung ke konsumen akhir sebesar Rp 4.500 – Rp 5.000 per kg
  • Cara beternak ayam kampung juga masih konvensional dengan ciri-ciri:
  1. Kandang terbuat dari bambu dan jaring
  2. Bibit inbreeding (kawin sedarah).
  3. Produktivitas rendah.
  4. Pembuatan pakan tidak sehat (banyak lalat).
  5. Tidak menerapkan prinsip good farming practice yang ideal.
  • Harga ayam kampung relatif mahal yaitu Rp 60.000- Rp 90.000 per kg.
  • Peluang bisnis peternakan ayam kampung terbuka karena ada dua perusahaan besar di Tapanuli Utara.
  • Sebaian besar hotel di KDT yang tidak menyediakan ayam sebagai menu utama. Hal ini dapat dipastikan karena ayam kampung atau ayam negeri di sana relatif mahal.
  • Hampir semua komoditi ternak (babi, ayam kampung, kuda) di impor dari luar daerah. Kondisi demikian juga terjadi di sejumlah daerah seperti Samosir, Balige, Tarutung, Dairi, dll. Hal ini merupakan peluang besar PGT untuk membangun peternakan yang modern mulai dari pembibitan, pembesaran, pemotongan, pengolahan, serta pabrik pakan. (FP)

Gastronomi Sebagai Identitas dalam Mengembangkan Wisata : Potensi Naniura dan Kidu di KDT

Gastronomi – Dengan semakin meningkatnya persaingan pariwisata antar negara, maka semakin penting bagi pengelola destinasi wisata untuk menampilkan produk budaya lokal baru sebagai sumber kegiatan dalam menarik lebih banyak kunjungan wisatawan. Selama ini andalan utama pariwisata negara-negara berkembang adalah ketersediaan akan keindahan alam, peninggalan budaya arsitektur kuno, seni kerajinan tangan, seni pakaian tradisional, maupun acara-acara adat lengkap dengan seni tarian tradisionalnya.

Ada produk lokal lainnya yang jarang disentuh, salah satunya adalah budaya gastronomi. Produk ini mempunyai peran sangat signifikan dan strategis, tidak hanya karena makanan memberi pengalaman sensorik bagi wisatawan, tetapi juga karena seni keahlian memasak telah menjadi sumber penting dari pembentukan identitas masyarakat postmodern.

Semakin banyak pengalaman ‘we are what we eat’, semakin mendalam ketajaman mengetahui seni masakan, bukan hanya dalam arti fisik, tetapi juga karena mampu mengidentifikasi jenis tertentu dari makanan yang dinikmati. Di negara barat gastronomi telah berkembang menjadi pilihan utama wisatawan yang memotivasi perjalanan ke suatu negara.

Di bawah ini akan disampaikan hubungan antara  seni budaya lokal gastronomi dengan perilaku pariwisata hasil pembicaraan dalam konferensi ATLAS Tourism and Gastronomy Group di Lisbon, Portugal bulan September 2015.

Bagi wisatawan dari negara-negara Skandinavia, Belanda, Jerman dan Inggris, menikmati seni masakan lokal ala gastronomi adalah acara liburan yang paling penting kedua setelah menikmati keindahan alam. Di negara seperti Portugal seni masakan ala gastronomi jauh lebih bermakna dibanding obyek wisata lainnya, dimana lebih dari 40% wisatawan asing mengatakan sensorik gastronomi merupakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan sama sekali. Angka ini lebih rendah dibanding pariwisata di Perancis, Spanyol dan Italia yang masih di atas 45% untuk semua jenis wisatawan.

Minat wisatawan barat terhadap masakan lokal ala gastronomi tampaknya semakin tinggi dan umumnya hasrat itu terpulang dari kelompok usia wisatawan yang datang. Wisatawan yang berusia 50 atau lebih tua memiliki tingkat tertinggi terhadap masakan lokal ala gastronomi. Angka itu berkisar di 52%, apalagi bagi mereka khususnya yang datang tanpa membawa sanak keluarga. Sedangkan bagi wisatawan yang berusia 30 – 48 tahun berkisar di angka 32%. Bagi anak-anak, masakan lokal masih belum menjadi pilihan utama dan angka itu masih berkisar 16%.

Data ini didapat dari hasil random acak dengan tidak melihat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan atau status. Namun yang pasti semakin tinggi keekonomian kelompok wisatawan semakin besar minat mereka mendapatkan pelayanan yang baik terhadap kenikmatan masakan lokal ala gastronomi. Disini terlihat adanya hubungan erat antara budaya dan masakan lokal.

Selain mendapatkan kenikmatan sensorik masakan lokal ala gastronomi, ada potensi lainnya yang turut memberi sumbangan kedatangan wisatawan ke suatu negara, yakni ketersediaan produk souvenir khas gastronomi. Penelitian yang dilakukan EUROTEX dalam proyek kerajinan pariwisata di Yunani, Finlandia dan Portugal (Richards, 1999) menunjukkan bahwa 84% wisatawan asing membeli souvenir makanan atau minuman untuk dibawa pulang.

Produk souvenir ini sangat penting sebagai cendera buah tangan karena relatif murah dan mudah untuk dibawa. EUROTEX  menyatakan souvenir khas gastronomi memiliki nilai yang sangat tinggi dimana 45% wisatawan menyatakan souvenir yang mereka beli sangat berguna.

Dengan demikian, masakan lokal ala gastronomi merupakan pilihan utama bagi masyarakat barat dalam melakukan wisata. Gastronomi menjadi pilihan dari liburan mereka dalam mencari kemewahan dan kenyamanan ke suatu destinasi. Tidak heran, “gastronomic tourism” selalu didengungkan negara-negara di Eropa dan Amerika dalam paket promosi kepariwisataan mereka.

Bagi masyarakat barat, daya tarik gastronomi memberi nuansa kenikmatan terhadap seni masakan lokal dari perjalanan yang dilakukan. Disini terlihat ada korelasi yang kuat antara keahlian memasak dengan mereka yang mencari kemewahan dalam kenyamanan berlibur. Untuk itu, negara-negara barat sudah mampu mempromosikan keahlian memasak ala gastronomi sebagai identitas wisata dari negara mereka.

INDONESIA
Sekarang bagaimana dengan Indonesia ? Apakah sudah ada pemasaran wisata gastronomi ?
Apakah negeri ini sudah mampu mengetengahkan masakan lokal ala gastronomi ?

Tapi yang terpenting adalah pertanyaan :

Apakah sudah ada penelitian sejauh mana daya tarik makanan lokal memberi sumbangan terhadap pariwisata seperti yang dilakukan ATLAS & EUROTEX?

Khusus di Kawasan Danau Toba, ada beberapa makanan yang berpotensi memperkayah khazanah kekayaan pengetahuan di bidang gastronomi, dua diaantaranya adalah : Naniura dari Batak Toba, yaitu sajian ikan yang tidak dimasak dan hanya diberikan asam. Kendati disajikan mentah, menu bernama Naniura ini tidak memiliki aroma amis khas ikan. Bahkan sensasinya mirip salad ikan yang segar. Ketua Akademi Gastronomi Indonesia, Vita Datau Messakh menyebut naniura adalah masakan khas Batak yang bisa disandingkan dengan ceviche dari Peru.
“Kalau Peru punya ceviche, Tapanuli punya naniura,” kata Vita, dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (23/8).
Dia menjelaskan, naniura disajikan dengan cara disiram bumbu halus berwarna kuning. Adapun daging ikan dimatangkan dengan merendamnya dalam cairan asam jungga, dari perasan jeruk limau.
“Menu ini adalah salah satu makanan khas Tapanuli Utara, yang bisa ditemui di Danau Toba, Medan dan Pematang Siantar,” papar Vita.
Image result for naniura adalah
Selain Naniura dari Tapanuli, Kidu dari Kabupaten Karo juga menjadi alternatif pilihan gastronomi bernuansa ekstrem. Kidu kidu adalah masakan yang berupa pengolahan ulat dari pohon enau. Kidu atau ulat sagu sangat langka maka dibuat makanan yang bentuknya serupa kidu dari daging.
Image result for kidu karoKidu-Kidu, Sumber : http://soraouji.com/Detail/TanahKaroProject/BCNtQcBQ2Qy

Kembali ke pertanyaan awal yang menjadi pembuka artikel ini, Apakah wisatawan asing atau lokal datang ke suatu destinasi kota wisata karena obyek makanan atau non-makanan ? Alangkah eloknya jika keduanya bisa ada di dalam suatu kota.

Tabik.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 30 Oktober 2016)

MENCARI & MENYELAMATKAN

Wisatawan itu menulis tentang Parapat: “…amat sangat perlu perubahan mindset. Pedagang masih berpikir laba jangka pendek, dan pelayanan hotel masih jauh dari orientasi kepuasan pelanggan.” Teman kita menambahkan: “Aku juga pernah makan di Parapat. Satu porsi saksang 40 ribu, ikan jair bakar kecil 40 ribu; yang paling lucu adalah pernyataan pemilik kedai—“binege do par kode manghatai, lok ma songoni, ai par sahalian do halakhon ro tuson.”—yang artinya kira-kira seperti ini : “Apapun yang mereka bicarakan biarkan saja, toh orang-orang ini hanya datang sekali saja ke sini.” Alamak! Sedih…jika itu gambaran wajah pariwisata Toba menyongsong destinasi unggulan.

Firman Tuhan hari minggu ini dari Luk 19:1-10 bercerita tentang Zakheus – pemungut pajak yang pendek – sampai memanjat untuk bisa melihat Yesus yang melewati kotanya, Yerikho. Semangatnya menggebu. Yesus melihatnya dan berhenti, memanggilnya turun, dan mengatakan akan singgah makan dirumahnya. Heboh…kok Yesus makan di rumah pendosa? Kasih Yesus mengalahkan segalanya.

Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 21 Agustus 2016)

KABAR DARI BUKIT

Sukacita Karena Pekerjaan Mulia

Semburan air sumur di sawahnya yang tadinya kering kerontang adalah mujizat. Kedahsyatan internet bagi murid SMA yang belum pernah melihat komputer apalagi internet di sekolahnya adalah mujizat. Anak “parhuta-huta” yg ikut bimbel dan masuk ITB serta mendapat beasiswa jelas mujizat. Peta dan informasi lokasi wisata di KDT adalah mujizat. Semua yang merasakan ini akan bersaksi tentang mujizat dalam hidup mereka dan mengucap syukur kepada Tuhan serta memanjatkan doa.

Seorang perempuan bungkuk yang mengalami mujizat, itulah kisah dalam firman Tuhan minggu ini sesuai leksionari yakni Luk 13:10-17. Perempuan yang menderita bungkuk selama 18 tahun itu bersukacita karena pekerjaan mulia Yesus. Ia hadir dalam pengajaran-Nya di Synagoga. Ia mungkin duduk di belakang namun Tuhan Yesus dengan kasihNya, melihatnya menderita dan memanggilnya. Dengan ucapan dan tumpang tangan di atas punggungnya yang bungkuk, perempuan itu lantas berdiri tegak sehat. Read more

Keindahan Di Balik Legenda Objek Wisata Danau Toba Dan Pulau Samosir

DANAU TOBADanau Toba dan Pulau Samosir | Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki segudang destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari gunung es yang ada di Papua dan wisatanya yang terkenal Raja Ampat, pesona dasar laut yang ada di Wakatobi, hingga puluhan candi bersejarah. Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!