KABAR DARI BUKIT (Edisi 16 Februari 2025)

KEBANGKITAN KITA DAN JAMINAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Kalau pengharapan kita kepada Kristus terbatas pada hidup kita di dalam dunia ini saja, maka dari seluruh umat manusia di dalam dunia ini, kitalah yang paling malang!” (1Kor. 15:19 BIS)

Minggu lalu renungan kita tentang kebangkitan Yesus (1Kor. 15:1-11). Tentu ada perbedaan antara kebangkitan Yesus dengan kisah kebangkitan manusia di dalam Alkitab. Kitab PL mencertakan Nabi Elia menghidupkan anak janda di Sarfat (1Raj. 17:21-22), Nabi Elisa menghidupkan anak perempuan Sunem (2Raj. 4:32-36, serta orang yang hidup kembali setelah tersentuh tulang-tulang Elisa (2Raj. 13:21). Demikian juga dengan kebangkitan di PB yakni putri Yairus (Mat. 9:24-25), pemuda dari Nain (Luk. 7:14-16), Lazarus (Yoh. 11:43-44), Dorkas dan Eutikhus (Kis. 9:40-41; 20:9-12). Perbedaan ini jelas yakni mereka yang bangkit memiliki tubuh seperti semula, sementara Yesus bangkit dengan tubuh kemuliaan. Perbedaan lainnya, manusia yang bangkit mati kembali, sementara Yesus tetap hidup dan terangkat ke sorga. Kebangkitan Yesus juga atas kuasa-Nya sendiri tidak melalui nabi-nabi.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah lanjutannya, yakni 1Kor. 15:12-20. Judul perikopnya: Kebangkitan kita. Rasul Paulus menjelaskan tentang kebangkitan pada jemaat Korintus, sebab ada yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati sebagaimana golongan Saduki (ay. 12; Mat. 22:23-24).

Melalui nas minggu ini kita belajar tentang kebangkitan kita manusia. Pertama, dasar kebangkitan adalah adanya hukum sebab-akibat, aksi dan reaksi, yakni setiap tindakan manusia pasti memiliki konsekuensi. Apa yang ditabur itu yang akan dituai (Gal, 6:7) dan orang yang menabur angin akan menuai badai (Hos. 8:7; 2Kor. 5:10). Dasar lainnya adalah Allah Mahaadil. Manusia dapat menyembunyikan perbuatan jahatnya di dunia, namun keadilan Allah harus ditegakkan dan semua akan dibukakan kelak dan diperhitungkan (Mrk. 4:22; Mzm. 37:28-29). Kematian fisik di dunia bukanlah akhir segalanya, sebab tubuh dari tanah kembali ke tanah namun roh/nafas manusia yang dihembuskan Allah tetap hidup dan kembali kepada Allah (Kej. 2:7; Rm. 14:7-9).

Tujuan kebangkitan yakni agar manusia memahami dan mengerti semua perbuatan mempunyai konsekuensi. Perbuatan baik wajar mendapatkan upah dan perbuatan jahat mendapatkan hukuman. Ini secara otomatis akan membentuk dan mendidik manusia dengan karakter yang seturut dengan kehendak Allah. Kadang hukuman itu dilakukan di dunia sebagaimana Daud dan Batyseba dihukum akibat perbuatan jahatnya dengan kematian anak mereka (2 Sam. 12). Semua itu perlu dilakukan agar manusia siap dalam menghadapi kehidupan pasca kematian fisik dalam bentuk kehidupan bersama Allah Bapa. Tanpa kebangkitan orang mati, iman kita akan menjadi sia-sia (ay. 13-19)

Melalui kebangkitan Yesus, Allah memiliki rencana dalam kehidupan manusia yakni memulihkan hubungan dengan-Nya yang telah dirusak oleh dosa. Melalui iman dan kebangkitan Yesus, maka kematian telah dikalahkan dan kebangkitan-Nya merupakan kemenangan atas dosa. Dengan percaya kepada Yesus akan kebangkitan-Nya maka orang percaya akan memiliki kehidupan baru. Oleh karena itu dalam ayat 19 dituliskan, pengharapan kita akan Kristus tidak hanya untuk hidup di dunia ini, tetapi juga saat kebangkitan nanti (versi BIS).

Bagian terakhir nas minggu ini memberi kita kekuatan bahwa kebangkitan Yesus merupakan jaminan bahwa kita orang percaya juga akan dibangkitkan (ay. 20). Dengan memelihara iman dan pengharapan yang kuat, menjalani kehidupan seturut kehendak-Nya, maka melalui kebangkitan kita akan hidup bersama Allah selamanya. Terpujilah Tuhan Yesus.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu VI Setelah Epifani dengan tema: Tubuh dan Jiwa (Luk. 6:17-26) dan Kutuk dan Berkat (Yer. 17:5-10), silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 9 Februari 2025)

KESIA-SIAN DALAM HIDUP

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia” (1Kor. 15:10a)

Raja Salomo berkuasa, kaya, mempunyai 1.000 istri dan selir, namun merasa hidupnya sia-sia, tidak memberi kebahagiaan sejati. Dalam kitab Pengkhotbah yang ditulisnya: “Kesia-siaan belaka…, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia…. Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pkh. 1:2, 14). Apakah kita juga menjalani hidup yang sia-sia?

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah 1Kor. 15:1-11; nas tentang kebangkitan Kristus dan konsekuensinya bagi kita orang percaya. Kita tahu bahwa Yesus hidup-Nya singkat, mati kemudian bangkit, dan naik ke sorga (ay. 3-8). Lantas Roh Kudus dicurahkan sebagai Penolong, Penghibur, Pembaru, Pemimpin kita ke dalam kebenaran (Yoh. 16:13), dan sebagai meterai/jaminan (Ef. 1:13-14).

Roh Kudus memberi kita talenta, karunia rohani. Alkitab menjelaskan ada 18 karunia rohani berbagai ragam dengan tiga katagori kemampuan: melalui mulut/berbicara, membuat tanda-tanda kuasa Allah, dan melayani melalui tangan dan hati. Setiap orang tentunya tidak mendapatkan semua, namun pasti memiliki beberapa karunia tersebut; sebab Tuhan mengenal kita, memberi sesuai keunikan, kapasitas dan rencana-Nya. Rasul Paulus yang hidupnya penuh dosa, penganiaya Jemaat Allah, ternyata diselamatkan, diberi kasih karunia Allah dan ia membuatnya tidak sia-sia (ay. 9-10).

Jika kita melihat nas ini lebih dalam, maka kunci agar tidak menjalani hidup sia-sia adalah dengan pengenalan diri, seperti ditulikannya: “sebagaimana aku ada sekarang” (ay. 10). Ia mengenali dan menyadari dirinya, alasan keberadaannya (raison d’etre, reason for being). Kita juga perlu menyadari bahwa Allah memberi kita hidup, memberi talenta dan karunia rohani, tentunya Allah memiliki rencana dalam hidup kita.

Setelah pengenalan diri, kita juga perlu mengenal Injil dengan baik. “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu –kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya” (ay. 2). Ini senada dengan yang dituliskan, “Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (ay. 14).

Dalam menggunakan karunia rohani, tidak semua berjalan mulus, langsung berhasil dan berbuah bagus; kadang melalui jalan terjal dan kegagalan sebelum keberhasilan. Semua itu mestinya tetap diterima dengan rasa syukur, bukan kekecewaan, sebab kesempatan masih ada dan Allah akan menyempurnakan-Nya (Flp. 1:6). Namun iblis menggunakan cara jahat yang berasal dari Dewa Dis, menambahkan kata-kata dis di depan kata, seperti dissatisfaction (tidak puas dari satisfy = puas), disqualification (tidak mampu), disadvantage (tidak beruntung), disbelief, discourage dan sebagainya.

Rasul Paulus mewujudkan rasa syukurnya dengan bekerja lebih keras (ay. 10-11), agar kita percaya dan meneladani dirinya. Dengan pengenalan diri, sadar akan pemberian karunia rohani, dan pemahaman Injil Kristus, ini mendorong kita menjaga motivasi dan semangat ke tujuan hidup sesuai rencana-Nya. Mari kita periksa karunia yang diberikan Tuhan, pergunakan dengan baik dan bijaksana, agar hidup tidak sia-sia, sebab kita harus mempertanggungjawabkan pemakaiannya sesuai perumpamaan talenta yang diberikan Tuhan (Mat. 25:14-30). Bila mengabaikannya, pesan-Nya sangat jelas: “Tentang hamba yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan di luar. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi” (Mat. 25:30). Ampun…!

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari Minggu V Setelah Epifani hari ini dengan tema: Penjala Manusia (Luk. 5:1-11) dan Manusia Bebal (Yes. 6:1-13), dengan mengklik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 2 Februari 2025)

MASA TUA YANG DAMAI SEJAHTERA

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku” (Mzm. 71:3a)

Ungkapan ini pasti benar: menjadi tua adalah kepastian, menjadi bijaksana dan dewasa adalah pilihan. Mzm. 90:10a berkata, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan.” Dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin maju serta ekonomi yang lebih sejahtera, harapan hidup orang Indonesia saat ini sudah mencapai 72 tahun. Ini tentunya akan meningkat terus, sebagaimana banyak negara maju yang harapan hidup penduduknya sejak lahir ada yang mencapai 83-84 tahun, seperti Jepang, Korea, Swiss, Italia, Norwegia dan lainnya.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 71:1-6; sebuah perikop ungkapan rasa khawatir sekaligus permohonan Raja Daud untuk perlindungan di masa tuanya. Ia tampaknya sedang mengalami masa surut kekuasaannya, entah persoalan internal dengan anaknya Absalom yang ingin mengambil alih, atau adanya serangan musuh dari luar. Oleh karena itu doa Daud pada perikop ini fokus pada dua hal: ia tidak dipermalukan (ay. 1), sebaliknya para musuhnyalah yang dipermalukan (ay. 13).

Iman memang bisa pasang surut, seperti sebuah biji dapat bertumbuh dan mengkerut. Raja Daud sejak muda imannya sangatlah kokoh (ay. 5); juga dituliskannya pada berbagai mazmur, seperti Mzm. 27:1: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Usia lanjut jelas sebuah berkat. Namun jika di masa itu justru timbul tantangan dan pergumulan yang berat, tentulah tidak menyenangkan; seperti Daud, tampak goyah juga. Wajar, manusiawi. Tidak seorangpun kita dapat memprediksi dan menghindarinya. Malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih, jika sudah dalam rencana dan perkenaan Tuhan.

Oleh karena itu, iman yang menyusut jangan dibiarkan lama, mesti dilawan. Manusia hanya mampu jika bersama Tuhan melampaui dan mengalahkannya. Oleh karena itu, pesan pertama nas minggu ini khususnya di masa tua, berusahalah menghindari masalah. Ada banyak nasihat di media sosial agar kita semakin dewasa, berhikmat dan bijaksana. Paling tidak kita harus lebih sabar, ikhlas, menjauhkan ambisi, membuat hidup lebih lambat. Sebaliknya, masa tua diisi lebih banyak dengan bersyukur, berbuat kebaikan, bersosialisasi dan menjaga makanan dan kesehatan.

Namun jika ujian atau pencobaan datang tanpa diundang, pesan kedua nas ini, hendaklah kita seperti Daud, perlu menegaskan bahwa Allah adalah tempat kita berteduh dan berlindung, serta memohon pertolongan. “Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!” (ay. 2).

Pesan ketiga, kita harus mengakui ketergantungan pada Allah di dalam menghadapi berbagai ujian dan pencobaan. Tidak perlu rasa takut berlebihan, sebab pertolongan-Nya pasti datang dan kita yakin Ia Maha Kuasa, benteng yang lebih besar dan mampu meluputkan dari masalah kita (ay. 3-4). Tentu, kita juga tidak lantas diam menunggu, tapi melakukan yang terbaik dengan berhikmat dan bijaksana atas tuntunan-Nya.

Hal terakhir, tetaplah berpengharapan dan percaya, Dia Maha Kasih (ay. 5-6). “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor. 10:13). Allah pasti menolong untuk membebaskan kita dari segala kesulitan. Indahnya berjalan bersama Tuhan. “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mzm. 23:6).

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Yang Paling Besar adalah Kasih (1Kor 13:1-13) dan Percaya dan Berserah (Luk. 4:21-30), dengan mengklik www.kabardaribukit.org  

KABAR DARI BUKIT (Edisi 26 Januari 2025)

BANGKIT DARI KEGAGALAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu” (Yun. 3:2)

Mengubah sifat dasar seseorang tidaklah semudah diucapkan; apalagi karakter yang sudah berkarat. Misalnya pribadi berpandangan pesimis atau cenderung berpikiran negatif, mengubahnya menjadi selalu optimis dan berpikiran positif – melihat dibalik yang buruk pasti ada hal baiknya, itu tidak mudah. Namun sebagai orang percaya, Allah kita hidup dan berkuasa, maka segala sesuatu bukanlah mustahil (Mrk. 9:23; Luk. 1:37).

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yun. 3:1-5, 10. Kisah ini sejak di sekolah minggu sangatlah populer. Yunus tidak taat mengikuti perintah Allah untuk pergi ke Niniwe, kota yang jahat, menyampaikan amanat agar bertobat. Bila tidak bertobat, maka kota itu akan ditunggangbalikkan dalam 40 hari. Yunus takut, lari menjauh menuju Tarsis, Spanyol. Namun ada badai, Yunus ketahuan dan kemudian dilempar awak kapal ke laut. Allah menyiapkan ikan besar memakannya. Yunus pun hidup selama tiga hari di perut ikan. Atas doanya dan berjanji taat, ikan kemudian memuntahkannya kembali ke darat (Pasal 1-2).

Nabi Yunus merasa gagal. Alkitab juga menceritakan banyak tokoh yang pernah gagal, seperti Musa, Daud, Elia, Paulus dan bahkan Petrus menyangkal Yesus. Pemicu kegagalan bisa banyak faktor termasuk ketakutan, namun sebaliknya kegagalan juga menimbulkan ketakutan baru.

Dari semua tokoh tersebut, terlihat Allah memberi kesempatan kedua. Panggilan-Nya tidak pernah berhenti untuk kita kembali ke jalan-Nya. Dasar semua adalah kasih-Nya yang besar. Sukacita besar di sorga apabila seseorang bertobat, seperti kisah seekor domba yang hilang dicari dari 100 domba (Luk. 15:1-7).

Pertobatan memang bukan sesuatu yang sederhana. Para ahli teologia sepakat, ada banyak tahapan yang diperlukan agar seseorang benar-benar bertobat. Titik awalnya bisa dari panggilan Tuhan atau pemahaman sendiri tentang penebusan dosa dan keselamatan. Lantas tahapan berikutnya yakni perlunya berpaling, lahir baru, dan berdamai dengan Allah. Dari titik ini kita akan dibenarkan, diangkat menjadi anak-anak-Nya, menyatu dengan Kristus dan mulainya proses pengudusan.

Yunus dengan jelas melihat sumber penyebabnya, ia gagal, tidak taat bahkan bersembunyi di dek kapal. Lantas ketika tertangkap, Yunus tahu resikonya dan meminta ia dibuang ke laut. Ia merasa layak menerimanya dan siap mati. Namun, Allah penuh kasih, memberi kesempatan kedua kepada Yunus.

Maka ketika kita gagal, merasa takut, tidak perlu meratapinya. Sadari sudah bersalah, berdosa dan gagal. Kenali dan akui meski rasa kecewa timbul. Tidak perlu mencari kambing hitam, justru kita harus memaafkan diri sendiri. Berdoa dan berserah. Evaluasi, cari titik lemahnya. Segera bangun rencana untuk bangkit, singkirkan hal yang dianggap menghambat untuk mencapai titik balik. Ikuti langkah dengan percaya diri, berpikir positif, semuanya akan baik-baik saja sepanjang setia dan melakukan yang terbaik. Tuhan menolong kita bangkit.

Pengampunan terjadi jika kita siap menerima ganjarannya, berserah, meninggalkan kesalahan serupa dan perbuatan lain yang tidak disukai-Nya. Berjanji setia dan memberi yang terbaik, seperti doa Yunus: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku” (2:1). Tuhan memakai Yunus, menyampaikan pesan-Nya. Orang Niniwe percaya termasuk rajanya, mereka puasa mengenakan kain kabung, bertobat. Allah pun tidak jadi menghukum mereka (ay. 10). Haleluya.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu III Setelah Epifani dengan tema: Dia Datang untuk Mereka yang Menderita (Luk 4:14-21), dan Re-View Ibadah (Neh. 8:1-3, 4-6, 8-10), silahkan klik_ www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 19 Januari 2025)

DOSA DAN KEBAIKAN ALLAH

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang” (Mzm. 36:10)

Berbuat jahat pasti tidak baik, apalagi jika direncanakan berlapis taktik dan tipu. Tidak setitik pun ada manfaatnya, kecuali kepuasan hati sesaat, yang cepat atau lambat pasti disesali. Memang, kadang perbuatan jahat dapat terjadi karena ketidaksengajaan atau kelemahan. Tentang ini firman-Nya berkata, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm. 7:15). Sayangnya, dosa tetaplah upahnya maut (Rm. 6:23a).

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 36:5-10; judul perikopnya: Kefasikan orang berdosa dan kasih setia Allah. Ini mazmur Daud, ditulis saat dia diburu untuk dibunuh; mungkin oleh Raja Saul atau Absalom, anaknya. Jelas ini dosa disengaja. “Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik” (ay. 5). Namun Daud kemudian mengungkapkan kebaikan Tuhan. “Ya Tuhan, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah,
hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat (ay. 6-7a).

Di sini muncul paradoks, kombinasi dua pemikiran yang berkontradiksi satu sama lain. Allah yang membenci perbuatan dosa dan mesti menghukum, di lain sisi memiliki kasih besar dan Pengampun. Pikiran sederhana mempertanyakan, kok bisa terjadi? Tetapi benar, tidak ada kontradiksi. Sebab Allah memiliki kedaulatan mutlak atas diri manusia; di lain pihak juga mereka bertanggungjawab atas perbuatannya. Ini dapat dilihat pada penyaliban Yesus. Sejak semula Allah telah menetapkan Yesus akan mati – dan bangkit kembali, namun mereka yang mengkhianati dan membunuh-Nya, harus bertanggungjawab atas perbuatannya.

Anthony A. Hoekema dalam bukunya “Save By Grace” mengatakan bahwa orang percaya perlu memahami adanya kedaulatan Allah sekaligus tanggungjawab tersebut; anugerah Allah berdaulat, tapi partisipasi aktif kita ikut bekerja dalam keselamatan (Flp. 2:12). Karya keselamatan Kristus tidak akan memberi manfaat apapun bagi kita sampai diterapkan ke dalam hati dan kehidupan keseharian yang dipimpin Roh Kudus.

Maka bagi kita yang masih senang berbuat dosa, suka mendukakan hati Allah dan sesama, saatnya berhenti dan berbalik. Alkitab menegaskan, ada banyak hukuman bagi yang tidak taat setia, dapat di dunia ini berupa hukuman fisik (sakit, miskin, mati prematur), hukuman rohani (tidak damai sejahtera, rasa bersalah, jauh dari Allah), hukuman sosial (rasa malu, harga diri, terkucil), maupun hukuman pasca kematian yakni kehilangan warisan kerajaan Allah dan menderita di neraka.

Betapa berharganya kasih setia Allah, membuka kita jalan menghapuskannya, memberi harta sorgawi di bumi dan di sorga (ay. 8-9). Semua berkat (kebalikan hukuman) menjadi bagian kita. Namun perlu dilakukan beberapa hal agar dosa dihapuskan dan kasih Allah nyata, yakni dengan datang mengakui dosa kita (1Yoh. 1:9), bertobat (Luk. 24:47) dan percaya kepada Yesus Kristus (Yoh. 3:16). Allah akan melihat keseriusan pertobatan kita, iman dan buahnya, keadilan, dan kasih sayang-Nya secara keseluruhan. Datanglah ke sumber hayat, ke dalam terang-Nya (ay. 10).

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Mukjizat itu Masih Ada dan Nyata (Yoh 2:1-11) dan Ada Rupa-Rupa Karunia, Tetapi Satu Roh (1Kor. 12:1-13), dengan mengklik www.kabardaribukit.org  

KABAR DARI BUKIT (Edisi 12 Januari 2025)

TERANG GELAP DI BUMI

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi” (Kej. 1:3)

Salah satu keistimewaan dan keunggulan kitab suci Alkitab – selain terbaik dalam menjelaskan keberadaan, Pribadi dan kekuasaan Allah, isinya sangat sistematis. Alkitab di bagian pembukanya mendeklarasikan penciptaan langit, bumi dan alam semesta dengan singkat padat oleh Allah, hingga diciptakan-Nya manusia sebagai makhluk sempurna.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 1:1-5, penciptaan hari pertama saja. Kita tahu Allah mencipta dalam enam hari, berhenti pada hari ketujuh, memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya (Kej. 2:2-3). Tentu ada alasan para pemimpin gereja menyusun leksionari nas Minggu ini dengan penggalan lima ayat, yang ditutup kalimat, “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama” (ay. 5). Rahasia itulah yang ingin kita pelajari mengapa Allah pertama sekali menciptakan bumi dan terang, serta memaknai pentingnya terang dalam kehidupan.

Tuhan menciptakan bumi yang pertama karena dimaksudkan sebagai tempat berdiam manusia dan segala makhluk; bukan untuk tempat ujian apalagi tempat pengasingan. Oleh karena itu bumi diperlengkapi dengan ekosistem yang mendukung agar manusia dan segala makhluk hidup nyaman: berupa darat dan air, tumbuhan dan binatang, serta langit cakrawala dengan segala isi dan bentuknya. Bumi atau dunia ini juga dimaksudkan tempat kita berkarya sebagai garam dan terang (Mat. 5:13-14). Memang tantangan diberikan kepada manusia ketika diberi perintah, “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu (Kej. 1:28), dengan mengembangkan semua potensi kecerdasan sekaligus menghadapi iblis, godaan kenikmatan dunia dan daging, serta ego – itulah ujian iman, hikmat dan moralitasnya.

Menurut Yohanes Calvin, sorga bukanlah “tempat”, melainkan sebuah “keadaan pikiran” (states of mind), dan ini seturut pemikiran bahwa kerajaan sorga itu sudah ada di bumi. Allah jelas menempatkan Adam dan Hawa di Taman Eden dan masih bisa ditelusuri lokasinya di bumi, diperkirakan di wilayah Irak. Yesus juga berkata pertama kali, bahwa “Kerajaan sorga sudah dekat” (Mat. 4:17). Kemudian dilanjutkan-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat. 21:31). Alkitab juga menegaskan, “Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17).

Terang diciptakan karena terang itu penting untuk melihat segala sesuatu lebih baik dan jelas. Allah hadir melalui Terang, melambangkan kebaikan dan keindahan kehidupan, sekaligus memisahkannya dengan kegelapan. Dengan terang, kita tahu akan kehadiran dan kekuasaan-Nya, melihat pengharapan dan kehendak Allah.

Adanya kegelapan berupa malam, sebagaimana di tengah kebaikan selalu saja ada kejahatan. Bagai orang menanam padi, selalu ada ilalang, namun mereka yang menanam ilalang tidak akan pernah mendapatkan padi; mereka yang menanam kejahatan tidak akan pernah mendapatkan kebaikan.

Dalam menjalani kehidupan di bumi, manusia diperlengkapi dengan Terang yakni Yesus, yang dalam hidup-Nya terang itu bersinar, memberi kita teladan, hikmat dan kuasa-Nya.

Hanya dengan Terang Tuhan Yesus kita dapat menjauhkan diri dari segala kejahatan dan kegelapan. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan” (1Tes. 5:21-22). Berjalan dengan Terang Yesus, sungguh akan menyenangkan hati-Nya. Sudahkan Terang itu berkuasa dalam hati kita?

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu I Setelah Epifani & Peringatan Pembaptisan Tuhan Yesus – dengan tema: Teguh Dalam Baptisan (Luk. 3:15-17, 21-22) dan Tumpang Tangan (Kis. 8:14-17) silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 5 Januari 2025)

KEKAYAAN DI DALAM YESUS

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef. 1:14)

Semua orang ingin hidup dalam kekayaan, termasuk materi. Memang ada ungkapan: uang bukanlah segala-galanya, tapi tanpa uang, akan susah segala-galanya. Namun uang/harta tidak dapat membeli keselamatan, kedamaian dan kebahagiaan sejati; bahkan akan menyirami “cinta uang akar segala kejahatan” dan berujung maut (1Tim. 6:10; Rm. 6:23a).

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ef. 1:3-14; sebuah pujian syukur yang dalam bahasa aslinya (Yunani) berupa puisi kalimat panjang, tanpa koma. Judul perikopnya: Kekayaan orang-orang yang terpilih. Ada enam kekayaan besar yang diterima dari Allah Bapa, bila kita “Di dalam Dia”, Yesus Kristus.

Kekayaan pertama, “Di dalam Dia” kita telah dipilih sebagai milik-Nya; mengenal diri sendiri. Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16). Juga tertulis, iman adalah pemberian, karunia rohani, bukan atas dasar pikiran dan kehebatan manusia (1Kor. 12:9; Rm. 12:3). Tentang kita dipilih sebelum dunia dijadikan (predestinasi), memang masih misteri, sebab konsep ini bisa bersifat pribadi, kelompok atau bangsa, misalnya, bangsa Israel; dan semua kelak akan dibukakan. Dipilih tentunya untuk dikhususkan, kudus, dan tak bercacat di hadapan-Nya (ay. 4-5).

Kedua, “Di dalam Dia” kita ditentukan dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya (ay. 6). Firman-Nya menyatakan, “semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). Menjadi anak-anak Allah dilakukan dengan prinsip adopsi, diambil dan diangkat sebagai manusia baru di dalam Yesus Kristus.

Kekayaan ketiga, “Di dalam Dia” dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa (ay. 7; 1Pet. 1:18-19). Penegasan lain, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus,.. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1Kor. 1:30). “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (Ibr. 10:10).

Keempat, “Di dalam Dia” kita masuk persiapan dalam kegenapan yaitu dipersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi (ay. 10). Di bumi kita dipersatukan dalam gereja-Nya dan di sorga kita dipersatukan dalam persekutuan yang Am/universal dengan Kristus sebagai Kepala (Luk. 13:29; Why. 19:6-9).

Kelima, “Di dalam Dia” kita “mendapat bagian yang dijanjikan – yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah…, menurut keputusan kehendak-Nya” (ay. 11-12). Artinya, kita tidak dapat menuntut upah atau pahala, sebab semua adalah anugerah, bukan hasil usaha kita (Ef. 2:8-9).

Terakhir, “Di dalam Dia” kita diperlengkapi dan dikuatkan dengan Alkitab firman kebenaran – yaitu Injil keselamatan, yang menuntun kita menjalani kehidupan (ay. 13; 2Tim. 3:16). Selanjutnya kita dimeteraikan dengan Roh Kudus, Roh Allah yang hidup menyertai kita. Dengan setia membaca firman-Nya dan teguh percaya, maka Roh Kudus menjadi jaminannya (ay. 14).

Oleh karena itu Alkitab berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi, ngengat dan karat merusakkannya” dan “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:19, 33). Semoga di tahun yang baru ini kita lebih kaya di dalam Dia.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari ini – Minggu II Setelah Natal dengan tema: Terang yang Bercahaya (Yoh. 1:1-9) dan Spesial di Hadapan Allah (Mzm. 147:12-20) dan Sukacita Menanti (Yer. 31:7-14), silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 29 Desember 2024)

PENGAKUAN DAN PERMOHONAN 2024

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka” (Yes. 63:9a)

Tantangan kekristenan selain masif dan gencarnya gerakan penyebaran agama lain di Indonesia khususnya daerah tertinggal dan miskin, tantangan lainnya adalah semakin menguatnya pandangan agnostik bahkan atheis di wilayah perkotaan, dan ini berlaku juga di negara-negara maju. Tentunya kita bertanya, mengapa hal itu terjadi? Apakah mereka tidak merasakan manfaat kehidupan beragama? Atau orang Kristen gagal memberikan keteladanan yang mendorong orang lain tertarik mengikuti Tuhan Yesus? Atau mereka memandang agama lain lebih baik karena melihat bukti nyata dalam pemberian kasih kepada sesama dan ketaatan? Dalam mengakhiri tahun 2024 ini, tentu kita baik berpikir dan berefleksi, apa yang Tuhan telah berikan kepada kita, dan bagaimana meresponnya?

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu I Setelah Natal hari ini adalah Yes. 63:7-9. Judul perikopnya: Doa pengakuan dan permohonan Israel. Kita tahu dari Alkitab dan sejarah, hubungan bangsa Israel dengan Allah Abraham sering turun naik, kadang taat dan murtad, sering rajin tapi terus dingin melesu.

Allah telah berulang kali mengampuni dan menyelamatkan bangsa Israel, sejak dari perbudakan hingga masa pembuangan sampai kerajaan hancur dan adanya diaspora. “Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala.” Ia tetap menjadi Juruselamat dalam segala kesesakan mereka (ay. 8b-9). Nas minggu ini menegaskan, Allah menyelamatkan bukan karena perbuatan tetapi oleh janji dan kasih setia-Nya.

Allah tidak lagi mengutus nabi atau duta, melainkan Ia sendiri dalam Pribadi Yesus ingin menyelamatkan. Meski mereka tidak percaya, kasih Allah untuk menebus anak-anak-Nya yang murtad dan berdosa, memperlihatkan kasih sayang dan kasih setia-Nya yang besar (ay. 7). Janji Allah kepada umat-Nya Israel tetap. Kasih Allah telah mempersatukan bangsa itu sebagai negara merdeka di tahun 1948. Allah berharap, mereka umat-Nya sebagai “anak-anak yang tidak akan berlaku curang”, tetap taat setia kepada-Nya (ay. 8a).

Iman (sebagai kata benda atau kata kerja) memang dapat pasang surut, bertumbuh besar atau menciut. Ketika ada banyak permasalahan hidup, dan tidak dapat melihat secara positif hal yang terjadi, maka mereka mulai mempertanyakan, di mana Allah yang selama ini menolong? Di mana para hamba-Nya dan umat Tuhan yang perlu menguatkan?

Manusia bisa tidak percaya Tuhan; merasa Tuhan tidak hidup dan tidak ikut dalam kehidupan seseorang. Tapi Tuhan memiliki kuasa dan hak prerogatif campur tangan. Mereka dapat berdalih: itu nasib, kesialan atau kebetulan. Tapi itulah misteri kebesaran-Nya.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah kita sudah merasa Tuhan (Yesus) telah baik pada kita di tahun 2024 ini? Dia memberi kehidupan, berkat, sukacita, damai sejahtera. Bila kita gagal melihatnya karena mata kita diselubungi rasa sakit dan penderitaan, atau terlalu sombong menganggap diri dan manusia cukup hebat, maka saatnya untuk bertobat. Selalu terbuka jalan, Ia akan memulihkan dan menyelamatkan. Maukah kita kembali mengaku dan memohon kepada-Nya? Maukah kita ikut memuliakan Dia dengan rajin berdoa dan memuji-Nya, membaca dan merenungkan Firman-Nya, menjaga kesucian hati dan pikiran, mengikuti perintah-Nya, dan berbagi kasih dan kebaikan kepada sesama?

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia (Mzm. 103:13). Mari, datanglah, kembalilah….

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Mengapa Kamu Mencari Aku? (Luk 2:41-49) dan/atau Natal dan Perubahan (Kol. 3:12-17) dan/atau Semakin Disukai (1Sam. 2:18-20, 26), silahkan klik www.kabardaribukit.org

NATAL YANG BERSUKA CITA

NATAL YANG BERSUKACITA
Bersekutu bersama Tuhan

HADIAH UNTUK RAJA (Mzm. 97:1-12)

“Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati” (Mzm. 97:11)

Hari yang dinanti-nantikan itu telah tiba. Sukacita besar umat Kristiani merayakan Natal. Firman Tuhan bagi kita adalah Mzm. 97. Ada 12 ayat, judul perikopnya: Tuhan adalah Raja. Ya, kedatangan Raja kita Tuhan Yesus telah ratusan tahun ditunggu-tunggu. Alkitab PL menuliskan, ada 300 lebih nubuat tentang kedatangan Sang Mesias. Kini, Ia datang. Kita merayakannya.

Sambutan hangat dan terbaik adalah memberi hadiah kepada Raja kita. Tentu, Tuhan kita tidak membutuhkan hadiah berupa barang atau benda. Namun ada yang dapat kita berikan sebagai hadiah yang terbaik kepada Tuhan, yakni: pertama, sikap bersukacita dan bersyukur. Mazmur 97 ini menuliskan: “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya…. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus” (ayat 1-2, 11-12).

Hadiah kedua, kita berikan sikap taat dan setia sebagai murid-Nya. “Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan!” (ayat 10). Sebagai murid yang taat dan setia, kita juga harus memperlihatkan kemenangan iman selama ini. Kita adalah pemenang, meski kita akui kadang-kadang kita jatuh, tetapi kita tahu Tuhan Yesus telah memberi pengampunan bagi anak-anak-Nya. Lawan-lawan kita, yakni iblis, ego, sifat jahat dan suka akan dosa, telah dikalahkan, sebagaimana ungkapan pemazmur. “Api menjalar di hadapan-Nya, dan menghanguskan para lawan-Nya sekeliling. Kilat-kilat-Nya menerangi dunia, bumi melihatnya dan gemetar. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi” (ayat 3-5).

Hadiah ketiga bagi Tuhan Yesus, memperlihatkan bahwa tugas utusan yang diberikan kepada kita yaitu menjalankan Amanat Agung, tetap kita laksanakan dengan baik. Pemazmur nas ini mengekpresikan, “Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepada-Nya” (ayat 6-7). Bila kita merasa belum ikut berpartisipasi, atau belum maksimal, saatnya memberi janji kepada Tuhan di momen Natal ini, bahwa kita ingin lebih aktif di hari-hari mendatang. Banyak cara dan jalan untuk ikut misi agung ini, baik melalui perbuatan baik atau mengabarkan. Bila merasa tidak mempunyai talenta langsung, atau masih sibuk urusan pekerjaan, maka dukung dengan cara lain. Hidup kita orang Kristen bukanlah hanya beribadah, tetapi berbuat nyata bagi sesama.

Hadiah keempat, memperlihatkan kerinduan akan kedatangan Tuhan Yesus Kembali Kedua Kalinya (K4). Nubuat PL telah digenapi ketika bayi Yesus lahir di Betlehem. Tetapi, Alkitab juga menuliskan nubuat baru sebanyak 200 kali, bahwa Yesus akan datang kembali lagi untuk mengangkat semua orang percaya. Sikap kita dalam menanti-nantikan Tuhan, mesti bagaikan burung rajawali (Yes 40:31). “Sion mendengarnya dan bersukacita, puteri-puteri Yehuda bersorak-sorak, oleh karena penghukuman-Mu, ya TUHAN. Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah” (ayat 8-9).

Kita sebagai anak-anak-Nya di dunia ini, akan terus melewati segala zaman dengan kemenangan. Tuhan kita Penebus dan Juruselamat telah lahir untuk kita. Maka kita percaya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 10b, “Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.” Untuk itulah kita sangat bersyukur, dan layak merayakan Natal ini dengan penuh sukacita.

SELAMAT HARI NATAL 2024.

Tuhan Yesus memberkati kita semua, amin. 🙏

Pujian dan berdoa pribadi

KABAR DARI BUKIT (Edisi 22 Desember 2024)

MENDAPAT JANJI YANG TERBAIK

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya” (2Sam. 7:16)

Umumnya kita tahu cara menyenangkan hati Tuhan. Tapi, pernahkah terpikir untuk melakukan kebaikan besar yang pasti disukai-Nya? Mungkin pikiran itu datang saat merenung, mendengar khotbah, berdoa, membaca Alkitab atau renungan, atau percakapan tertentu. Jika pernah, sudah merasakan hasilnya?

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu Adven IV ini adalah 2Sam. 7:1-11, 16. Nas ini berbicara tentang gagasan Daud – sebagai raja dan tinggal di istana, untuk membangun Bait Allah yang megah. Kita tahu pada masa itu, tabut Perjanjian berupa “kotak kayu yang bisa ditandu”, berisikan lempengan hukum Taurat (Kel. 25:22; 2Sam. 6:9-10) dan disimpan di bawah tenda. Lantas Daud berkata kepada Nabi Natan penasihatnya, “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda” (ay. 2). Lalu Natan menjawab, “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab Tuhan menyertai engkau” (ay. 3).

Tentu tidak semua mempunyai rumah tinggal yang lebih indah dari gedung gereja kita. Jika demikian, tentu bersyukur, Tuhan memberi berkat besar. Namun, pikiran seperti Daud, memberi yang terbaik bagi kemuliaan dan kebesaran Tuhan, sangat baik terbersit dan terbeban bagi orang percaya. Tidak perlu berdalih bahwa bait Allah tidak hanya gedung tapi juga tubuh kita (1Kor. 3:16), lantas tidak peduli.

Perlu kita sadari bahwa Tuhan sebenarnya tidak memerlukan apapun dari kita (ay. 5-7). Namun sabgat bagus jika kita menjadi berkat bagi pelayanan Tuhan dan sesama. Perjalanan hidup Daud dan kita semua merupakan rencana Allah, sepanjang mengikuti jalan-Nya. Daud terus berusaha taat, seperti ia berkesempatan membunuh raja Saul namun tidak mau
sebab diurapi Allah (1Sam. 24:6; 26:10-11). Meski Daud pernah jatuh tergoda dosa, tetapi rencana-Nya pasti terlaksana.

Melalui nas minggu ini kita belajar dari Daud. Kehadiran Allah disimbolkan pada Tabut Perjanjian. Daud ingin agar Allah menetap. Kini, bagaimana agar Allah hadir dan berdiam tetap di dalam hidup kita? Allah selalu berjalan bersama umat-Nya, sebagaimana Ia berjalan bersama bangsa Israel dan kehidupan Daud (ay. 7-11). Masalahnya, apakah kita menyadari Tuhan punya rencana bagi kita bila mengikuti rancangan-Nya, yakni rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan (Yer. 29:11).

Kita juga belajar tentang kerendahan hati Daud. Meski ia raja, tetapi terlebih dahulu menanyakan pikirannya kepada hamba-Nya Natan. Ini perlu ditiru. Kelemahan kita, seringnya pikiran kita tidak didiskusikan dengan hamba-Nya. Daud juga tidak mempermasalahkan, apakah ia sanggup menyelesaikan, tapi motivasinya baik. Kita tahu, Bait Allah diselesaikan oleh Raja Salomo, anaknya.

Namun melalui nas ini jelas kita lihat, janji Tuhan kepada Daud terbukti, bukan saja keturunannya menjadi raja-raja Israel tetapi juga Raja segala Raja yaitu Kristus Yesus yang akan kita sambut dan rayakan kelahirannya. Alkitab mengajarkan, memberi yang terbaik tidak harus harta (1Kor. 16:1-2), tapi juga menjaga kekudusan tubuh (Rm. 12:1), melalui hati dan mulut, misalnya sebagai pendoa syafaat (Ibr. 13:15), tenaga dan waktu dengan mendukung pelayanan sosial (Mat. 25:31-46; Yak. 1:27), bahkan nyawa kita dengan setia sampai Tuhan memanggil pulang (Yoh. 15:13; 1Yoh. 3:16). Mari memberi yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik, menerima janji kekal bagi keluarga dan keturunan kita (ay. 16). Terpujilah Yesus.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Berbahagialah yang Telah Percaya (Luk 1:39-55) dan/atau Perdamaian Kekal (Ibr. 10:5-10) dan/atau Rindu Perubahan (Mi. 5:1-5), silahkan klik www.kabardaribukit.org

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!