KABAR DARI BUKIT (Edisi 15 Desember 2024)

MENEMUKAN DAN MENJAWAB JANJI TUHAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk. 1:50)

Menjelang Natal ini, layanan Netflix menayangkan film “Mary” atau Maria, ibunya Yesus. Ada banyak tafsir dan penggambaran kehidupan Maria yang tidak rinci diceritakan di Alkitab, seperti Maria adalah anak yang lama dinantikan, buah doa orangtuanya. Oleh karenanya ia diserahkan dan tumbuh besar di Bait Allah, rencananya menjadi hamba Allah yang tidak menikah. Namun jalan Tuhan berbeda, Yusuf melihatnya dan melamar kepada orang tuanya; akhirnya mereka bertunangan. Setelah diketahui hamil oleh Roh Kudus, Maria pun diusir dari Bait Allah, bahkan kemudian diasingkan ke rumah Elisabet, kerabatnya, menghindari rajam hukum Yahudi karena hamil di luar nikah. Begitu berat penderitaan yang dilewati oleh Maria termasuk dikejar-kejar penguasa Herodes untuk membunuh bayinya.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu Adven III ini adalah Luk. 1:46-55. Ini nyanyian pujian Maria terhadap respon Elisabet atas kunjungannya yang mendadak, mengagetkan Elisabet hingga melonjak anak yang di dalam rahimnya, dan berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (ay. 42-43).

Maria pun semakin diteguhkan akan rencana dan amanat Tuhan dalam hidupnya, dan langsung bersenandung: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku…, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (ay. 46-49).

Melalui nas ini kita diberi keteladanan dan pengajaran, tentang janji dan rencana Tuhan dalam diri Elisabet dan Maria. Dalam memenuhi janji tersebut, keduanya melalui jalan yang sulit dan penuh tangisan: Elisabet dihina sebagai wanita mandul dan akan diasingkan, serta Maria hidup dalam pelarian dan pengasingan. Namun seperti kata Elisabet kepada Maria: “Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (ay. 45).

Selain meneladani Elisabet dan Maria dalam keteguhan iman atas rencana Tuhan dalam hidup mereka, mari kita juga belajar dan bertanya: adakah janji Tuhan kepadaku? Apakah Tuhan beramanat kepadaku, sebagaimana Maria, Yusuf dan Zakaria suami Elisabet yang didatangi oleh malaikat Gabriel?

Menantikan malaikat berbicara kepada kita tentunya tidak salah, tapi kurang efektip. Sebab janji amanat Tuhan telah tersedia di Alkitab, karena itu disebut Kitab Perjanjian. Tidak kurang dari 3.000 ayat janji Tuhan tertulis di Alkitab, untuk berbagai pribadi dan situasi. Kuncinya, seberapa rindu kita membaca dan mencari janji tersebut bagi diri kita? “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat” (Mat. 7:7a). Tidak ada amanat atau janji yang terlambat dan usang, sebab semua adalah hal baru bagi kita.

Temukanlah saat hening mencari ayat emas yang diberikan oleh Roh Kudus. Peganglah dan buatlah sesuatu tanda/simbol pengingat, dapat berupa foto, patung atau salib Yesus di dinding rumah, ornamen hias di tubuh, dan lainnya. Saya sendiri membuat tanda, yakni berupa tato salib di pundak mengingatkan harus memikul salib, dan ketikan ayat emas berlapis plastik di dompet, mengimani janji Tuhan selalu bersama saya.

Yesus adalah Allah kita yang hidup dan akan terus menyertai dan janji-Nya tidak pernah gagal (2Pet. 3:9); bukan saja untuk kita, sebab, “rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia” (ay. 50). Mari temukan, dan jalani.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Kapak dan Penampi itu Siap Beraksi (Luk 3:7-18) dan Pemurnian Diri (Mal. 3:1-4), silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 8 Desember 2024)

DOA UNTUK ANAK DAN PEMIMPIN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!” (Mzm. 72:1)

Setiap orangtua pastilah ingin memberikan warisan atau legasi yang sangat indah kepada anak-anaknya, tidak hanya dalam bentuk harta benda atau kekuasaan – yang kadang kala malah lebih sering menjerumuskan. Para manusia terkaya di jagad seperti Waren Buffet, Bill Gates dan beberapa lainnya, hanya memberikan secukupnya bagi anak-anak mereka, sebaliknya memberikan sebagian besar kekayaannya bagi kegiatan amal (filantropi). Namun selain nilai-nilai hidup yang diwariskan, sangatlah bijaksana juga membawa mereka di dalam doa.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu Adven II ini adalah Mzm. 72:1-7, 18-19. Ini di satu sisi merupakan doa Raja Daud di masa tuanya, bagi putranya Salomo yang menggantikannya; sebelumnya di Mzm. 71, Daud berdoa bagi dirinya sendiri. Terbukti, Salomo menjadi raja yang berhasil dan bijaksana khususnya di awal periode. Namun di sisi lain, nas minggu ini juga merupakan nubuatan dan pengharapan akan kelahiran seorang Mesias Putra Daud. Terbukti, Allah mendudukkan seorang keturunan Daud bertakhta yaitu Kristus Yesus (Mat. 1:1; Kis. 2:30).

Raja Daud sangat paham bahwa kekuasaan dan harta tidak akan langgeng; ada banyak godaan dan tantangan, serta hidup manusia tidak juga berakhir di dunia ini. Manusia akan sirna ditelan waktu, namun semasa hidup mereka, biarlah anak-anak juga menjalaninya dengan baik dan menjadi berkat. Daud sangat percaya, hidup seseorang tidak hanya dikendalikan olehnya. Campur tangan Tuhan teruslah bekerja, khususnya bagi mereka yang beriman dan mengandalkan-Nya dalam setiap langkah hidupnya. Oleh karena itulah, Daud menaikkan doa agar Salomo dan Putra Raja kelak, mampu memberikan yang terbaik bagi semua bangsa.

Ada tiga pokok doa Daud. Pertama, kiranya Salomo dan Putra Raja diberi hikmat dan kebijaksanaan untuk menjalankan hukum Tuhan. Daud ingin keturunannya bertindak adil khususnya bagi mereka yang lemah dan tertindas (ay. 1-2). Oleh karena itu, Tuhan Yesus pada pesan pertama-Nya, selain menyerukan agar orang-orang “bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 4:7), Ia juga mengatakan telah menggenapkan nas Nabi Yesaya dengan diutus menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang tertindas, dan memberitakan tahun Rahmat Tuhan telah datang (Luk. 4:18-21; Yes. 61:1-2).

Bagian kedua doa Raja Daud, agar keturunannya dapat membawa kedamaian dan kemakmuran bagi negeri. “Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera…, bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas…, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!… Mereka seperti hujan yang turun ke atas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi!” (ay. 3-4, 6).

Sebagai ayah bagi putra dan keturunannya,
bagian ketiga doa Daud memohon, “Kiranya lanjut umurnya selama ada matahari, dan selama ada bulan, turun-temurun! Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!” (ay. 5, 7). Terbukti, Yesus Kristus anak Daud, Kerajaan-Nya di bumi tetap kekal, meski masih ada misi yang belum tuntas terwujud, dan dipercayakan kepada kita.

Penutup nas minggu ini merupakan pujian kepada Allah yang melakukan perbuatan ajaib (ay. 18). Maka kita pun, dalam menantikan Yesus kembali, dan menyongsong peringatan kelahiran Sang Putra, serta kita juga baru memperoleh Presiden baru dan para pemimpin seperti Gubernur, Bupati dan Walikota, mari bersyukur dan berdoa bagi anak-anak kita dan para pemimpin, agar Tuhan Yesus memakai hidup mereka dan nama-Nya mulia selama-lamanya (ay. 19).

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Kebenaran yang Berbuah (Flp. 1:3-11) dan Pemurnian Diri (Mal. 3:1-4), silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 1 Desember 2024)

MENYEGARKAN DAN MEMPERBARUI PERJANJIAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku” (Mzm. 25:4-5a)

Ada beberapa gereja belum boleh merayakan Natal sampai berlalunya Minggu Adven II, berangkat dari tradisi bahwa untuk Minggu Adven I dan II, pesan khotbah masih bertema refleksi diri, penantian untuk menyambut kedatangan Yesus Kedua Kali. Ini senada pesan Yohanes Pembaptis, “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Mat. 3:3; Mrk. 1:3; Yes. 40:3). Setelah Adven III, barulah tema mulai hal sukacita, dan perayaan Natal juga semakin meriah. Tentunya ada jalan keluar bila harus merayakannya di awal, pesan khotbah baiknya menyisipkan pentingnya pertobatan untuk menyambut Natal.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu Adven I ini adalah Mzm. 25:1-10. Ini doa Raja Daud berisi permohonan ampun dan perlindungan. Sama seperti kita, Daud menyadari perbuatan dosa-dosanya, meski tentu ada banyak hal perbuatannya yang menyenangkan hati Tuhan. Tapi dosa adalah dosa. Dampak dosa dapat diterima hukumannya saat hidup di dunia, tetapi dapat juga kelak dalam penghakiman pasca kematian. Semua adalah hak kedaulatan Tuhan.

Daud dan tentunya kita juga, berharap agar hukuman Tuhan tidak terjadi dan dilakukan di dunia, apalagi jika harus menanggung derita dan malu di hadapan mata teman-teman. Tetapi jika itu yang terjadi – meski tidak selalu dampak dosa seperti dialami Ayub, Daud menanggung dosanya yakni anaknya mati dari hasil perselingkuhannya dengan Batsyeba (2Sam. 12:18). Oleh karenanya jangan mudah jatuh dan kecewa, tapi tetaplah berserah menerimanya, dan percaya, Tuhan akan menolong keluar dari masalah dan derita yang menimpa (ay. 1).

Melepaskan diri dari dosa dan jeratnya, Mazmur ini memberi dua arahan. Pertama, ada kemauan dan memohon agar Tuhan memberitahu dan menunjukkan jalan-jalan-Nya; dan kedua agar Tuhan membawa kita berjalan dalam kebenaran-Nya serta mengajar kita, meski kadang harus melalui jalan sulit (ay. 4-5a). “TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing ….., dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati” (ay. 8-9).

Hidup sebagai pengikut Tuhan Yesus, mesti menyadari bahwa kita terikat janji. Alkitab adalah Kitab Perjanjian – Lama dan Baru. Orang tua saat anaknya dibaptis percik, berjanji anaknya kelak dibawa belajar isi Perjanjian, agar imannya bulat (sidi). Mereka yang diserahkan dan baptis selam/dewasa, pada hakekatnya adalah mengikat janji mengikuti Yesus, sebab melalui baptisan telah dipersatukan dan dibangkitkan sebagai manusia baru. Dan kita diingatkan juga, di dalam perjanjian dengan Allah tersedia rahmat dan kasih setia-Nya yang besar. Tuhan juga berjanji akan menghapus dan tidak mengingat pelanggaran-pelanggaran yang kita lakukan (ay. 6-7).

Memasuki minggu adven pertama ini, marilah kita menyegarkan, menguatkan dan memperbarui perjanjian kita kepada Tuhan. Dia adalah Allah yang menyelamatkan dan kita rindu menanti-nantikannya sepanjang hari (ay. 5b). Ini dilakukan dengan doa dan mohon pengampunan, serta tekad dalam perbuatan. Tidak perlu ritual baptis ulang dan lainnya. Utamanya, kita teguh dalam iman: “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (ay. 10). Terpujilah Dia yang kita nantikan dan akan peringati kelahiran-Nya.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Kerajaan Allah Sudah Dekat (Luk 21:25-38) dan Bertambah Kelimpahan (1Tes. 3:9-13), silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 24 November 2024)

ADA, SUDAH ADA DAN AKAN DATANG

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya,” (Why. 1:3a)

Hari Minggu ini adalah minggu terakhir dalam kalender gereja dan dinamai Minggu Kristus Raja; minggu depan kita masuk ke awal baru yakni masa Minggu Adven. Disebut Kristus Raja tentunya karena selama perjalanan iman setahun, kita telah diberi tantangan dan kekuatan, sekaligus penyertaan Tuhan yang membuktikan bahwa Kristus adalah Raja, Mesias dan Tuhan kita.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Why. 1:4-8. Judul perikopnya: Salam kepada ketujuh jemaat, dengan doa pengharapan: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai mereka dari Allah Tritunggal: Bapa, Roh Kudus dan Yesus Kristus (ay. 4b-5a). Sebuah kata pembuka yang perlu diteladani, jika kita mengirim pesan tertulis, seperti WA, SMS atau email, bukalah dengan salam; jangan langsung ke masalah apalagi dengan nada amarah.

Kasih karunia merupakan pengharapan semua orang percaya, yakni Allah terus mengasihi kita dan diberi karunia dalam pengertian bukan atas prestasi kita, hanya belas kasihan Allah – sebab kita orang berdosa tidak layak. Demikian juga dengan damai, rindu situasi tiadanya ketakutan dan kebencian, hidup yang berserah meskipun ada kekhawatiran tertentu. Sementara, keadaan sejahtera adalah cukup dalam kebutuhan dasar yang disertai rasa syukur; bila pun ada “keinginan”, tetaplah diupayakan dan dibawa dalam doa kiranya Tuhan menolong.

Hal kedua disebutkan ada tujuh Roh pada ketujuh jemaat (ay. 4b). Ini memberi pengertian bahwa Allah Roh Kudus Mahahadir di semua tempat bagi mereka yang percaya, tidak dibatasi ruang dan waktu. Yesus Kristus sebagai Allah Anak, disebut sebagai Saksi yang setia (ay. 5a), setelah Ia menjadi manusia dan melakoni hidup dan pelayanan-Nya seturut kehendak Bapa; sebuah bukti kesetiaan sampai ke kubur. Allah Bapa pun membangkitkan-Nya untuk kembali naik ke sorga. Yesus menjadi teladan dan kita diminta agar setia dan serupa dengan Dia (Rm. 8:29; Flp. 1:6).

Hal ketiga, Yesus berhasil membangun sebuah Kerajaan di dunia (ay. 6), bukan politik atau batas fisik wilayah, melainkan sebuah Kerajaan Rohani dengan “umat/warga” terbesar di dunia. Oleh karena itulah Yesus disebut Raja, kita orang percaya telah ditunjuk menjadi imam-imam, tidak terbatas dari suku Lewi saja. Oleh karenanya, “bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin (ay. 6b).

Nas minggu ini ditutup dengan nubuat yakni Yesus akan datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia (ay. 7). Kedatangan Kristus Kedua Kali (K4), selain diterima dengan iman perlu memahami makna nubuatan, yakni mendengarkan, membaca dan menurutinya (ay. 3). Ini bukan saja kita yang percaya, tetapi juga mereka yang telah menghukum Dia, agar kelak tidak menyesal dan meratapinya.

Tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini tanpa awal dan tanpa akhir, terkecuali Allah sendiri. Oleh karenanya Allah mencanangkan, “Aku adalah Alfa dan Omega…, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Nah, seperti kata CS Lewis, “Sekali kita bersama Allah, bagaimana mungkin kita tidak hidup selamanya.” Kiranya kasih-Nya menyertai kita hingga ke kekekalan (Yoh. 6:40; Tit. 3:7).

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin. 🙏

Bacalah renungan paralel menurut leksionari hari Minggu ini: Yesus adalah Raja (Yoh. 18:28-37) dan Raja yang Kekal (Mzm. 93:1-5), silahkan klik www.kabardaribukit.org

KABAR DARI BUKIT (Edisi 17 November 2024)

HUKUM DI DALAM HATI

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka” (Ibr. 10:16)

Animisme sebagai kepercayaan suku tradisionil menganut pengakuan adanya roh di benda yang dianggap mistis, seperti gunung, sungai, pohon beringin besar, termasuk jasad orang mati. Sementara Dinamisme merupakan kepercayaan terhadap benda yang diyakini mempunyai kekuatan gaib, misalnya: keris, jimat, abu orang mati, dan lainnya. Tidak jarang kepercayaan ini diiringi hal-hal tabu dan pantang (bdk. Rm. 1:21-25).

Salah satu ciri kepercayaan ini adalah mempertahankan persembahan baik berupa makhluk hidup atau hasil tanaman dan lainnya, yang kadang dibakar atau dibuang ke lembah, ke sungai, atau tempat lainnya. Ada yang menyebutnya sebagai sesajen. Tujuan pemberian persembahan ini adalah memohon pertolongan agar yang memberinya mendapat berkah dan jauh dari murka terutama dari roh-roh orang mati. Sayangnya, dalam banyak hal ini sulit diterima akal sehat.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 10:11-25; ada tiga bagian. Pertama (ayat 11-14), merupakan penjelasan terakhir tentang keimaman Yesus yang penuh kuasa di bumi dan di sorga; bagian kedua (ayat 15-18), tentang cara Tuhan mengikat perjanjian dengan manusia; dan bagian ketiga (19-25), yakni perintah-Nya terhadap kita.

Nas minggu ini mengajarkan bahwa korban Yesus yang tersalib dan darah-Nya yang tercurah merupakan korban yang sempurna (ay. 11-14), dilakukan satu kali saja, tidak membutuhkan korban lainnya dan tidak ada yang dapat menggantikannya. Korban Yesus merupakan simbol sekaligus bukti kasih Allah bagi orang berdosa; Yesus adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa manusia (Yoh. 1:29; Why. 7:11-14). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 10 November 2024)

MATI SATU KALI HIDUP DUA KALI

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibr. 9:27)

Mungkin terpikir pertanyaan tentang apa ya kira-kira yang dilakukan oleh Tuhan Yesus setelah kembali ke sorga, saat ini dan kelak bagi kita? Tentunya yang sering kita dengar adalah Yesus menyiapkan tempat (Yoh. 14:2), dan Dia juga berdoa bagi kita (Yoh. 17:20).

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 9:24-28. Nas pendek ini menjelaskan tentang Imam Besar Yesus yang masuk ke sorga satu kali, berbeda dengan imam besar Yahudi harus masuk berkali-kali ke ruang maha kudus buatan manusia. Kristus saat ini telah bersama-sama Allah Bapa. Oleh karena itu, selain dua hal penting di atas yang Yesus lakukan bagi kita, hal lainnya ialah Dia menjadi Pembela kita, “menghadap hadirat Allah di sorga guna kepentingan kita” (ay. 24).

Mengapa Yesus menjadi Pembela selain Pengantara? Kita tahu kelak pasti ada penghakiman. Umur manusia terbatas, dunia akan berakhir; tidak wajar jika hidup ini berhenti begitu saja, sama bagi orang jahat dan orang baik, tanpa ada konsekuensi. Tuhan Mahaadil maka keadilan akan ditegakkan-Nya. Ada setan, musuh yang terus menggoda dan pendakwa manusia (Zak. 3:1; Why. 12:10). Agar ditampakkan beda orang yang bertahan setia dengan yang murtad; demikian juga bagi yang teguh di dalam Tuhan atau orang yang lebih mengikuti keinginan daging dan dunia. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 3 November 2024)

MENGAPA HARUS ADA DARAH?

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri” (Ibr. 9:12a)

Saat menonton film IRIS di Netflix yang ceritanya tentang organisasi kelompok penentang penyatuan Korea Utara dan Selatan, ada sebuah dialog yang menarik. Seorang ahli nuklir dari Korea Utara yang percaya Tuhan dan ingin mendapatkan suaka, menasihati agen dari Korea Selatan yang tidak percaya adanya Tuhan: “Anggap saja Tuhan itu ada. Sebab bila dia ada, maka engkau memperoleh kesempatan berkat yang melimpah, dan walaupun dia tidak ada, maka kamu tidak rugi apa-apa.”

Percaya Tuhan berarti percaya kuasa-Nya. Bagi kita orang percaya, Allah itu hidup di dalam Roh Kudus, diam di hati, dan terus berinteraksi sepanjang hidup. Tetapi bagi yang tidak percaya atau perbuatannya jauh dari kehendak-Nya, maka Ia sebetulnya terus memanggil untuk kembali, ingin ada pertobatan, penebusan, pengampunan, dan menjadikan mereka sebagai anak-anak-Nya yang siap dipakai dan diberkati.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 9:11-14. Nas ini berbicara tentang penebusan dosa. Dalam PL, penebusan dosa dilakukan oleh umat Israel dengan membawa hewan hidup sebagai pengganti, disembelih di Bait Allah, kemudian darahnya dipercik-percikkan ke empat penjuru oleh imam.

Konsep pengganti dengan hewan ini memiliki dua dasar: pertama, adanya hukum pembalasan yakni mata ganti mata, nyawa ganti nyawa (Im. 24:19-21; Ul. 19:21). Seseorang yang dijatuhi hukuman mati hanya dapat ditebus dengan penggantian nyawa, yang mestinya nyawanya sendiri tapi kemudian digantikan hewan hidup. Kedua, dalam Imamat 17:11 dituliskan, “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 27 Oktober 2024)

MEMPERBANDINGKAN YESUS

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban” (Ibr. 7:27b)

Ada perkiraan 3,5 miliar orang percaya dan mengikut Tuhan Yesus. Tapi ada juga yang membenci bahkan membunuh-Nya di kayu salib; bahkan sampai sekarang ingin membunuh para hamba-hamba-Nya. Mereka ini tentunya percaya kepada tuhan dan nabi, guru, atau pemimpin lain. Tapi bagi kita dengan pertimbangan yang menyeluruh – akal pikiran, hati dan iman, kita tetap percaya dan setia mengikuti-Nya.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 7:23-28. Perikop ini memperbandingkan Melkisedek sebagai imam besar dengan Yesus, setelah sebelumnya dengan imam Harun (ay. 1-22). Nas minggu ini berkesimpulan bahwa Yesus adalah Imam Besar yang sempurna, agung dan selama-lamanya (ay. 24-25, 28). Posisi Imam Besar memang sangat penting dan sentral dalam agama Yahudi.

Memperbandingkan pemimpin (agama) tidak ada salahnya. Oleh karena itu kita coba memperbandingkan Yesus Kristus sebagai “pendiri/pembawa” agama Kristen dengan para pendiri/pembawa agama-agama lain. Ini langkah praktis dan ada manfaatnya. Dari sana kita akan dapat melihat hal yang membuat kita semakin teguh percaya dan mengikuti Yesus. Jadi kita fokus pada Dia, tidak perlu dituliskan di sini tentang agama, tuhan dan nabi/guru lain, silahkan dicari dari buku/media yang mudah didapatkan.

Yesus diperkirakan lahir tahun 4M. Ada puluhan nubuat dalam kitab PL tentang kelahiran-Nya, dan banyak percakapan dengan malaikat. Ada ratusan juga nubuatan tentang peran dan kemesiasan-Nya. Ia lahir dari benih Roh Kudus, sebagaimana juga diakui oleh agama lain.

Ia hidup sebagai keluarga miskin, yatim diasuh oleh ibu; tidak menikah, mengajarkan satu istri, hanya boleh cerai mati. Pekerjaan sebelum melayani adalah tukang kayu. Pendidikan-Nya dibekali oleh keluarga, dan juga ajaran/tradisi Yahudi oleh para guru di Sinagoga. Memulai pelayanan di usia sekitar 30 tahun, hanya berlangsung singkat 3,5 tahun. Ia memilih 12 murid utama dan memberi pengajaran baru kepada umat yang berbondong ingin mendengarnya, dari satu tempat ke tempat lain; kadang di kelas (Sinagoga), dan lebih sering di tempat terbuka kepada para murid/pengikut.

Khotbah-Nya di bukit pada kitab Matius pasal 5-7, dianggap pengajaran dan pandangan hidup yang luar biasa. Ia selalu mengajarkan kasih dan damai, menentang kekerasan; bahkan mengajarkan agar mengasihi musuh bahkan mendoakan mereka dan yang menganiaya kita (Mat. 5:44). Tidak boleh balas dendam, sebab itu hak Allah (Rm. 12:19).

Semasa pelayanan-Nya Yesus telah melakukan sedikitnya 35 mukjizat termasuk membangkitkan orang mati. Ia sendiri juga bangkit dari kubur, hidup kembali dalam tubuh daging dan tubuh kemuliaan selama 40 hari, naik ke sorga dari tempat Ia datang. Ia tidak suka popularitas, sering menghindari pujian. Yesus tetap mengajarkan Monoteisme yang kemudian diterjemahkan sebagai Allah dalam tiga wujud satu hakekat.

Ia mati disalib pada usia 33 tahun. Cara mati-Nya mengenaskan dengan disiksa, dihina dan disalibkan, meski tidak bersalah (ay. 26). Tidak ada nabi, guru, pemimpin agama lain seperti itu. Yesus mati berkorban demi orang lain (ay. 27). Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 20 Oktober 2024)

PENGORBANAN YANG MULIA

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah” (Ibr. 5:4a)

Sejak era kuno, manusia memiliki rasa ingin tahu. Kemudian muncul permasalahan yang tidak dapat dicerna akal pikiran mereka, timbullah rasa takut. Mengatasinya, manusia mencari kekuatan yang lebih tinggi untuk menolongnya, mulai dari benda atau peristiwa alam, benda sekitar, roh orang mati, dan lainnya. Untuk menyenangkan hati kekuatan yang tinggi tersebut, diberilah persembahan. Biasanya ada pemimpin atau imam sebagai pengantara.

Manusia juga sadar, setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya; ada harga dan imbalannya. Apa yang ditabur, itu juga akan dituainya (Gal. 6:7). Imbalan atau harga yang dibayar untuk menebus atau ganti rugi, umumnya bersifat pengorbanan: bisa berupa materi, atau permohonan maaf. Namun pengalaman menunjukkan, mohon maaf sebatas kata-kata, sering tidak menyembuhkan luka atau rasa sakit yang diderita oleh yang menerimanya.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Ibr. 5:1-10. Ini kelanjutan pasal 4 tentang Yesus Kristus sebagai Pengantara dan Imam Besar kekal. Petunjuk Tuhan dan tradisi PL menetapkan, kaum Lewi dan imam sebagai pengurus Bait Suci. Imam besar dipilih umat sebagai pimpinan tertinggi. Harun saudaranya Musa adalah imam besar pertama, kemudian ada Kayafas di era PB. Setahun sekali pada hari raya penebusan (Yom Kippur), Imam Besar yang boleh masuk ke ruang maha suci, mempersembahkan korban tebusan tahunan umat Israel dengan Allah. Read more

KABAR DARI BUKIT (Edisi 13 Oktober 2024)

RAHASIA PERHENTIAN KEHIDUPAN

Pdt. (Em.) Ramles Manampang Silalahi

”Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibr. 4:15)

Salah satu keistimewaan ajaran Kristiani yakni Allah adalah Roh; Allah juga adalah Pribadi yang digambarkan dan diinkarnasikan dalam diri Yesus Kristus. Melalui riwayat dan perjalanan hidup Yesus, terutama perihal Dia bukan keturunan dari benih laki-laki dan kuasa mukjizat-Nya, maka manusia khususnya kita orang percaya lebih mudah mengenal dan memahami Allah melalui Yesus Kristus.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ibr. 4:12-16. Ini lanjutan pasal 3:11 -4:11 tentang perhentian akhir, yakni ketika kita mati dan/atau dunia berakhir. Ada dua hal diberikan agar kita berhasil masuk ke kehidupan sorga perhentian akhir tersebut, yakni adanya kekuatan firman Allah dan Yesus adalah Imam Besar pengantara kita (bdk. 1Yoh. 2:1).

Di dalam buku saya “Mengenal Alkitab Kita” (2019), dituliskan bahwa Alkitab dapat dipercaya dan merupakan pegangan iman yang kuat, dengan dasar:

1. Penulisan, pengujian, dan pengkanonan telah dilakukan selama berabad-abad dipimpin Roh Kudus (1Tim. 3:16; 2Pet. 3:15-16);
2. PB merupakan penggenapan ratusan nubuat-nubuat di dalam PL (Ibr. 1:2; Gal. 1:8-9; Why. 22:18);
3. Alkitab adalah penuntun yang sempurna dalam menjawab segala persoalan hidup dan menyegarkan jiwa kita (Mzm. 19:8);
4. Alkitab secara keseluruhan belum bisa dibuktikan kesalahannya;
5. Adanya hubungan yang erat antara Alkitab dengan Kristus yakni Firman Allah yang hidup. Mereka yang menolak Alkitab berarti menolak Kristus (Yoh. 1:1, 14; 12:47-48; 1Tes. 2:13. Ibr. 4: 12. Rm. 2:16). Read more

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!