Ibadah Sejati
Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.
Ibadah sejati: kasihilah sesamamu! Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan…. Itulah Reffrein lagu PKJ 264 – Apalah Arti Ibadahmu yang mungkin sering kita pujikan.
Firman Tuhan Minggu XI setelah Pentakosta hari ini dari Rm 12:1-8 berbicara tentang “Persembahan yang Benar”, dikaitkan dengan karunia rohani. Beberapa bulan lalu dalam Kabar Dari Bukit dijelaskan ada 18 rupa-rupa karunia rohani, tetapi dalam satu Roh (1Kor 12:3b-13). Karunia ini dapat dibagi dalam tiga katagori: Pertama, karunia rohani melalui perkataan atau berbicara (7 karunia). Kedua, karunia rohani melayani dan memberi (6 karunia). Ketiga, karunia rohani membuat mukjizat (5 karunia). Semua karunia ini diperlengkapi oleh Roh Kudus untuk membangun keluarga Allah dan menyatakan kasih Allah kepada sesama (1Kor 12:4-7; 1Kor 14:12; 1Pet 4:10).
Karunia rohani mesti menjadi persembahan yang benar kepada Allah. Persembahan tidaklah semata berbentuk uang yang kita masukkan ke kantong persembahan di ibadah minggu. Berdasarkan Alkitab, ada 5 jenis persembahan yang dapat kita berikan. Pertama, persembahan berwujud materi (Im 1-7; Ul 12; 14; Mi 6:7; 1Kor 16:1-2). Kedua, persembahan hati dan mulut (Ibr 13:15; Mzm 28:7; 30:4; 51:19). Ketiga, persembahan waktu dan tenaga (Mat 25:31-46; Yak 1:27) termasuk pelayanan lainnya. Keempat, persembahan nyawa bagi kemuliaan Kristus (Mat 10:39; Yoh 15:13; 1Yoh 3:16; Luk 14:26).
Dalam nas minggu ini disebutkan persembahan kelima yakni pentingnya persembahan tubuh yang kudus (Rm 12:1; band. 14:4 dan 1Kor 5:16) dalam menjalani kehidupan, dan itu ibadah yang sejati. Tentu, tidak ada gunanya kita memberi banyak atau besar tetapi kita tidak hidup kudus. Hal lainnya dalam nas ini kita diminta terus berubah sesuai akal budi dan tidak mudah menjadi serupa dengan dunia ini. Kata “serupa” diambil dari schema yang berarti tidak konsisten, mengikuti arus, lingkungan; seperti bunglon, tidak teguh. Berubah (yang berasal dari kata morfe) dalam bentuk, hakekat, dan kedalaman, sebagai pribadi yang penuh Roh dengan pikiran yang baru, penuh hikmat dan mematuhi perintah-Nya.
Hal terakhir yang ditekankan adalah jangan berpikir atau bersikap muluk-muluk, hal-hal yang terlalu tinggi, melainkan tetaplah menguasai diri menurut ukuran iman sesuai dengan karunia yang diberikan pada kita masing-masing.
Karunia rohani jangan dibuat menjadi kuasa rohani, yang menimbulkan persaingan, berpikir merasa “lebih rohani” atau bahkan memiliki hak otoritas tertentu yang lebih tinggi. Sikap kita hendaknya tetap sebagai orang yang tidak layak memperoleh karunia itu, namun Allah membuat kita demikian berharga. Prinsip dalam mempersembahkan (hidup) melalui karunia rohani adalah selalu dalam kebersamaan melayani Tuhan. Semuanya dilakukan dengan sepenuh hati dalam semangat KASIH, pelayanan tulus pengabdian bagi kemuliaanNya. Terpujilah Tuhan dan, lakukanlah. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.
Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.