KABAR DARI BUKIT (Edisi 27 Agustus 2017)

Ibadah Sejati

Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.
Ibadah sejati: kasihilah sesamamu! Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan…. Itulah Reffrein lagu PKJ 264 – Apalah Arti Ibadahmu yang mungkin sering kita pujikan.

Firman Tuhan Minggu XI setelah Pentakosta hari ini dari Rm 12:1-8 berbicara tentang “Persembahan yang Benar”, dikaitkan dengan karunia rohani. Beberapa bulan lalu dalam Kabar Dari Bukit dijelaskan ada 18 rupa-rupa karunia rohani, tetapi dalam satu Roh (1Kor 12:3b-13). Karunia ini dapat dibagi dalam tiga katagori: Pertama, karunia rohani melalui perkataan atau berbicara (7 karunia). Kedua, karunia rohani melayani dan memberi (6 karunia). Ketiga, karunia rohani membuat mukjizat (5 karunia). Semua karunia ini diperlengkapi oleh Roh Kudus untuk membangun keluarga Allah dan menyatakan kasih Allah kepada sesama (1Kor 12:4-7; 1Kor 14:12; 1Pet 4:10).

Karunia rohani mesti menjadi persembahan yang benar kepada Allah. Persembahan tidaklah semata berbentuk uang yang kita masukkan ke kantong persembahan di ibadah minggu. Berdasarkan Alkitab, ada 5 jenis persembahan yang dapat kita berikan. Pertama, persembahan berwujud materi (Im 1-7; Ul 12; 14; Mi 6:7; 1Kor 16:1-2). Kedua, persembahan hati dan mulut (Ibr 13:15; Mzm 28:7; 30:4; 51:19). Ketiga, persembahan waktu dan tenaga (Mat 25:31-46; Yak 1:27) termasuk pelayanan lainnya. Keempat, persembahan nyawa bagi kemuliaan Kristus (Mat 10:39; Yoh 15:13; 1Yoh 3:16; Luk 14:26).

Dalam nas minggu ini disebutkan persembahan kelima yakni pentingnya persembahan tubuh yang kudus (Rm 12:1; band. 14:4 dan 1Kor 5:16) dalam menjalani kehidupan, dan itu ibadah yang sejati. Tentu, tidak ada gunanya kita memberi banyak atau besar tetapi kita tidak hidup kudus. Hal lainnya dalam nas ini kita diminta terus berubah sesuai akal budi dan tidak mudah menjadi serupa dengan dunia ini. Kata “serupa” diambil dari schema yang berarti tidak konsisten, mengikuti arus, lingkungan; seperti bunglon, tidak teguh. Berubah (yang berasal dari kata morfe) dalam bentuk, hakekat, dan kedalaman, sebagai pribadi yang penuh Roh dengan pikiran yang baru, penuh hikmat dan mematuhi perintah-Nya.

Hal terakhir yang ditekankan adalah jangan berpikir atau bersikap muluk-muluk, hal-hal yang terlalu tinggi, melainkan tetaplah menguasai diri menurut ukuran iman sesuai dengan karunia yang diberikan pada kita masing-masing.

Karunia rohani jangan dibuat menjadi kuasa rohani, yang menimbulkan persaingan, berpikir merasa “lebih rohani” atau bahkan memiliki hak otoritas tertentu yang lebih tinggi. Sikap kita hendaknya tetap sebagai orang yang tidak layak memperoleh karunia itu, namun Allah membuat kita demikian berharga. Prinsip dalam mempersembahkan (hidup) melalui karunia rohani adalah selalu dalam kebersamaan melayani Tuhan. Semuanya dilakukan dengan sepenuh hati dalam semangat KASIH, pelayanan tulus pengabdian bagi kemuliaanNya. Terpujilah Tuhan dan, lakukanlah. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 20 Agustus 2017)

Penyelamatan Sisa

“Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (Rm 11:25).

Firman Tuhan hari Minggu ini dari Rm 11:1-2a, 29-32 berbicara tentang penyelamatan Israel dan Allah yang tak terselami jalanNya. Kisah Harun dengan lembu emasnya dan Raja Ahab dengan istri pagan kejamnya memberikan gambaran ketidaksetiaan bangsa Israel. Namun dalam kisah itu juga Allah menyatakan kasihNya melalui Musa dan Elia. Oleh karenanya, Rasul Paulus berani mengatakan, tidak semua orang Israel akan diselamatkan. “Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia” (Rm 11:5; band. Yes 4:3). Rasul Paulus mengidentifikasi bahwa ada yang menerima Yesus yang dia definisikan sebagai sisa, termasuk dirinya dan para Rasul serta pemberita Injil pada masa gereja mula-mula. Mereka inilah Israel pilihan sejati (band. Kej 12:1-3; 17:19).

Berita-berita semakin banyaknya anak-anak Tuhan berpaling di wilayah-wilayah yang kita mayoritas, bukanlah sesuatu yang sederhana. Kita dapat bertanya: apakah Allah telah meninggalkan kita? Allah telah mengirimkan Ompu i Nomensen dan para misionaris lainnya ke berbagai wilayah Indonesia – bahkan sejak awal di Indonesia Timur, jelas itu memperlihatkan kasihNya. Kasih itu tidak akan ditarik sebagaimana kasih Allah terhadap bangsa Israel dalam nas minggu ini. Allah bisa saja “mengurung” sebuah bangsa dalam ketidaktaatan dan “belum diberkatiNya”, tetapi itu semua dalam kerangka memperlihatkan kesempatan Ia menunjukkan kemurahan-Nya (ayat 29-31).

Namun kemurahan keselamatan bagi “Israel baru” bukan lagi karena Israel sebagai “bangsa”, tetapi karena iman orang-orang Israel sejati yang ia sebutkan di atas yakni. Hal yang sama, kita diselamatkan bukan karena bagian dari sebuah bangsa (Batak) yang dikasihi melalui misionaris, melainkan melalui iman dan ketaatan pribadi. Kini pertanyaannya: kepada siapa dan pada apa kita menggantungkan solusi masalah berpalingnya tadi, yakni pengharapan kerajaanNya justru diperluas dan ditinggikan?

Banyak orang hanya berwacana menghadapi situasi yang nyata tersebut. Mengkritik itu sesuatu yang baik, tetapi berwacana tanpa pernah melakukan sesuatu dalam hidupnya sebuah solusi, ini yang menjadi masalah besar dan sebuah ironi. Kita perlu merenungkan ayat di depan: stop merasa pandai. Penyakit “pandai ngomong”, sebaiknya dikurangi dengan “pandai berbuat”. Dengan sikap itu, kita memperlihatkan kerendahan hati dan Allah akan mengasihi dan menyelamatkan anak-anakNya.

Memang, “Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya” (Ayb 5:9; 11:7; Mzm 139:6; Pkh 8:17). Apa yang dapat kita pikirkan sebenarnya hanyalah dugaan yang dangkal tentang maksud Tuhan. Kedaulatan Allah mutlak dan menunjukkan betapa Allah tidak bergantung pada manusia (Yes. 40:13; Ayb. 41:11). Oleh karena itu, tidak ada satupun yang pernah menjadi penasehat-Nya (band. Yes 40:13: Yer 23:18; 1Kor 2:16). Tetapi di lain pihak, kita juga melihat ada bagian yang menjadi tanggungjawab kita bersama, sehingga kita nantinya tidaklah sebuah sisa. Lakukan sesuatu sebagai murid sejati, tetaplah berhikmat dan berkarya nyata. Allah menyenangi yang melakukannya dengan diam dan rendah hati. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 13 Agustus 2017)

Tuhan Semua Orang

Apabila ada yang bertanya: bagaimana kita menjadi seorang Kristen? Jawaban yang indah: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (Ul 30:14; Rm 10:8).

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm 10:5-15 berbicara tentang pentingnya iman dan upaya pewartaan Yesus bagi semua orang. Kesalahan tafsir akan pesan terjadi pada umat Israel seiring perubahan zaman. Pesan Allah melalui Nabi Musa menjadi aturan legalistik, hakekat kasih hilang. Pembaruan dari Tuhan tidak berhenti, seiring kasihNya, namun seringkali manusia sendiri yang “bandel” atau jugul menutup diri. Yesus sebagai pembaruan janji, tetapi umat Israel menolaknya.

Memang pertanyaannya: mengapa Allah memberikan hukum Taurat jika manusia (umat Israel) tidak dapat mengikutinya? Apakah Allah salah atau tidak adil? Rasul Paulus mengatakan alasannya, yakni Allah ingin memperlihatkan betapa berdosanya manusia (Gal 3:19) dan betapa degilnya bangsa itu (Kel 32:9; 33:5; Yes 48:4; Yer 7:26). Maka dalam hal ini wajar bila perlu dilakukan penyelamatan umum dan universal, pendamaian manusia dengan Allah. Ia bertindak sesuai dengan rencana awal, mengutus Anak-Nya.

Melalui pertanyaan logis filosofis, Rasul Paulus membuktikan bahwa kedatangan Yesus dari sorga sebagai manusia dan kembali terangkat ke sorga adalah atas kehendak Allah Bapa. Tidak ada usaha manusia. Tetapi umat Yahudi menolaknya, meski mestinya mereka dapat memahami pekerjaan Allah itu (Ibr 10:1-4).

Rasul Paulus mengatakan perlu ada kesaksian umum untuk semua orang – tidak umat Yahudi saja, agar banyak yang diselamatkan. Manusia juga tidak hanya mengandalkan tanda lahiriah, seperti sunat sebagai janji atau seremoni baptis atau sidi. Ini diminta, agar kekristenan kita tidak sebatas dalam hati, tetapi sebuah kesaksian kasih nyata kepada orang lain.

Kehidupan Yesus menjadi teladan, melepas keinginan dunia, melepas kepentingan diri dengan melayani, berserah dan taat pada Bapa. Ia datang menjadi Kasih yang nyata dan dekat dengan manusia, Firman yang hidup, firman iman.

Memang, sering manusia berpikir bahwa keselamatan itu sebuah proses yang sulit dan rumit, padahal semestinya tidak demikian. Tidak usah bergumul tentang siapakah yang menjadikan inkarnasi dan sebagainya. Itu tidak penting! Kebenaran bagi kita sudah diperoleh! Siapapun yang berseru kepada-Nya, akan diselamatkan. Ia adalah Tuhan yang satu bagi semua orang, Allah yang satu dengan Allah (Yoh 10:30; Kis 2:36-40; Flp 2:10-11). Kita tidak memerlukan sebuah debat yang berkepanjangan: penginjilan mana yang lebih efektip, apakah penginjilan melalui keteladanan dan perbuatan dalam hidup atau penginjilan melalui pemberitaan kabar baik. Kedua cara itu harus dilakukan agar pesan Injil menjadi efektip sampainya. Jangan terjebak dalam teori dan perdebatan, sebab semua itu sering membingungkan dan menjauhkan kita dari tindakan.

Penutup nas ini (ayat 14-15) mengutip kembali Yes 52:7: “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!” (band. Nah 1:15). Mari kita membukakan mata mereka dan nyatakan kasihNya. Haleluya. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 6 Agustus 2017)

Suara Hati

“Pake hati nurani kek, biar bener gitu loh”…. Demikianlah sering kita dengar ungkapan seseorang yang menafsirkan seolah-olah dengan memakai hati nurani, maka akan benar.

Firman Tuhan hari Minggu ini dari Rm 9:1-5 berbicara tentang suara hati dan Allah yang harus dipuji selama-lamanya. Hati nurani (Yun: suneidesis dan Ing: conscience) di dalam Alkitab bahasa Indonesia dipakai berbagai istilah termasuk “suara hati” (band. Kej 20:6). Kata nurani berakar dari bahasa Arab (nur= cahaya) sehingga hati nurani seolah-olah selalu diterangi cahaya.

Hati nurani dapat diartikan sebagai alat untuk membedakan antara: yang secara moral baik dan buruk; yang mendorong untuk melakukan hal baik dan menghindari yang buruk; memuji yang satu dan mencela yang lain. Dalam pengertian sederhana: kesadaran akan sesuatu dan diyakini benar. Jadi hati nurani merupakan buah proses justifikasi atau penghakiman oleh diri sendiri terhadap kebenaran atau kebaikan sesuatu, berupa standar atau sensitifitas moral atau resistensi (keberatan) terhadap sesuatu.

Hati nurani sendiri tidak secara otomatis sama dengan kehendak Allah, sebab manusia dengan standar moral yang dimilikinya, cenderung memutuskan hal yang baik atau jahat sesuai dengan kepentingan dirinya dan pemahaman serta kedekatannya dengan Allah. Kalau standar moralnya salah, maka keputusan yang diambil pasti juga salah, meski bisa pengaruh sesaat. Situasi ini sama dengan yang dikatakan oleh Amsal Salomo, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Ams 14:12; 16:25).

Hati nurani dalam nas minggu ini dikaitkan dengan kepedulian terhadap orang lain. Pertanyaannya: sejauh mana kita peduli dengan keselamatan orang lain? Sejauh mana kita terbeban bagi yang belum mengenal dan merasakan kasih Kristus? Sejauh mana kita peduli terhadap kesejahteraan saudara-saudara kita dalam satu lingkungan, satu daerah, satu bangsa, agar mereka diselamatkan dan sejahtera? Sejauh mana kita juga bersedia berkorban waktu, tenaga, pikiran, kesenangan, pundi-pundi, bahkan keamanan diri, demi untuk keselamatan saudara-saudara kita tersebut? Rasul Paulus bergumul peduli terhadap bangsanya (Israel) sehingga ia terpanggil. Allah telah memilih bangsa Israel sebagai imam, pemimpin dan teladan, sebagai anak yang istimewa, dan mestinya melayani bangsa-bangsa lain. Dan mereka gagal. Tetapi sebagai pribadi lepas pribadi, Allah tetap mengasihi, sehingga dalam ayat 6b dikatakan: “Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.”

Kita dipilih dengan maksud tertentu untuk menjadi imam, pemimpin, teladan dan melayani bagi sekeliling kita. Sebagaimana Rasul Paulus, baiklah ini menjadi pergumulan kita terhadap sesama saudara, dan secara khusus bagi saudara se-kampung halaman. Kegagalan Israel sebagai alat untuk membuat Allah dipuji sampai selama-lamanya, janganlah kita ulangi. Dengan memakai suara hati yang benar, yang dipimpin Roh Kudus, kita harus bisa menjadi imam, pemimpin, teladan, dan melayani khususnya bagi saudara-saudara kita. Maka, melalui kehidupan kita, semua orang akan melihat: Yesus Mesias adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Haleluya. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS (Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.)

Tahun 2017

NAMA KEGIATAN TANGGAL LOKASI DOKUMENTASI PDF
Diskusi Pengembangan Pariwisata dengan Kepala BPODT 17 Januari 2017 Jakarta IGT 2

IGT 2

KLIK FILE
Perayaan Natal dan Tahun Baru PGTS 24 Januari 2017 Balai Kartini Jakarta BIMBEL GTGO KLIK FILE
Pelaksanaan Survey Hidrogeologi khususnya potensi pengairan sawah tadah hujan 16 Januari – 15 Februari 2017 6 Kabupaten di KDT IGT 2 KLIK FILE
Pilot Project Penanaman Kaliandra Merah (5 Ha), kerjasama dengan Keuskupan Agung Medan (YCPSE-KAM) 21 Maret 2017 Desa Salaon Toba, Kecamatan Ronggurnihuta, Samosir BIMBEL GTGO KLIK FILE
Sarasehan Sehari Gaja Toba “Let’s Make It Happen Together” 1 April 2017 Ruang Kementerian ATR Jakarta IGT 2 KLIK FILE
Seminar Sehari (Tahap II) “Membangun Generasi Muda BATAK Sukses dan Berkarakter UNGGUL” dengan peserta 1050 siswa kelas 3 SMA 15 Mei 2017 Gedung Bale Karina Sidikalang, Dairi BIMBEL GTGO KLIK FILE
Bantuan 50 Laptop dan 24 Proyektor serta fasilitas internet untuk 23 SMA dan 1 SMP di Kawasan Toba (Tahap II) 15 Mei 2017 Gedung Bale Karina Sidikalang, Dairi IGT 2 KLIK FILE
Pelatihan Komputer/Internet untuk 96 orang guru dan siswa dari 23 SMA dan 1 SMP yang menerima paket bantuan 16 Mei 2017 Sidikalang, Dairi BIMBEL GTGO KLIK FILE
Penandatanganan MOU dengan Bupati Kab. Samosir tentang Survey Hidrogeologi 18 Mei 2017 Jakarta BIMBEL GTGO KLIK FILE
Pilot Project Investasi Kebun Nilam di Pakpak Bharat, kerjasama dengan Gereja GKPPD Sidikalang dan Givaudan Switzerland 9 Juni 2017 Sidikalang, Dairi BIMBEL GTGO KLIK FILE
Sayembara Desain Patung Yesus Kristus Memberkati di Kawasan Danau Toba 31 Mei 2017 – 14 Juli 2017 Jakarta BIMBEL GTGO KLIK FILE
Pemberian Beasiswa Gaja Toba tahun ajaran 2017-2018 – 10 orang mahasiswa dari ITB, IPB, UI dan Unpad Agustus 2017 – Juli 2018 Jakarta BIMBEL GTGO KLIK FILE
Pembukaan Bimbingan Belajar Gratis kerjasama PGTS dengan Ganesha Operation (Tahap II) di 4 kabupaten (240 siswa/i) Oktober 2017 – April 2018 Lintong Nihuta – Humbahas, Salak – Pakpak Bharat, Simanindo – Samosir, Sumbul – Dairi BIMBEL GTGO KLIK FILE
Turnamen Golf Toba Ganesha ke-2 1 Oktober 2017 Rainbow Hills Golf Club Sentul BIMBEL GTGO KLIK FILE
Partisipasi tim Gaja Toba Runner pada event BNI IBT Ultra Marathon 170K 13 – 15 Oktober 2017 Jakarta – Bandung BIMBEL GTGO KLIK FILE
Seminar Sehari (Tahap III) “Membangun Generasi Muda BATAK Sukses dan Berkarakter UNGGUL” dengan peserta 1000 siswa kelas 3 SMA 27 Oktober 2017 Milala Jambur Kabanjahe, Karo BIMBEL GTGO KLIK FILE
Bantuan 56 Laptop, 56 Komputer PC dan 28 Proyektor serta fasilitas internet untuk 28 SMA di KDT (Tahap III), dan bantuan sosial 18 Laptop di Kawasan Lingkar Sinabung 27 Oktober 2017 Milala Jambur Kabanjahe, Karo BIMBEL GTGO KLIK FILE
Seminar Sehari (Tahap IV) “Membangun Generasi Muda BATAK Sukses dan Berkarakter UNGGUL” dengan peserta 700 siswa kelas 3 SMA 28 Oktober 2017 Gedung AE Manihuruk Lumban Suhi-suhi, Samosir BIMBEL GTGO KLIK FILE
Bantuan 64 Laptop, 64 Komputer PC dan 32 Proyektor serta fasilitas internet untuk 32 SMA di KDT (Tahap IV), dan bantuan sosial 3 Laptop dan 8 Komputer PC kepada Yayasan Caritas PSE Keuskupan Agung Medan 28 Oktober 2017 Gedung AE Manihuruk Lumban Suhi-suhi, Samosir BIMBEL GTGO KLIK FILE
Acara Sarasehan Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Dengan Tanaman Kaliandra 29 Oktober 2017 Aula Paroki Pangururan, Samosir BIMBEL GTGO KLIK FILE
Penyerahan kambing sebanyak 40 ekor untuk peternakan masyarakat 29 Oktober 2017 Desa Salaon Toba, Kecamatan Ronggurnihuta, Samosir BIMBEL GTGO KLIK FILE
Diskusi Pengembangan Kawasan Perdesaan Parbaba sebagai Kawasan Ekowisata dengan Bappeda Samosir 30 Oktober 2017 Pangururan, Samosir BIMBEL GTGO KLIK FILE
Diskusi dengan Bupati Tapanuli Utara Tentang Pengembangan Pariwisata dan Pendidikan di Tapanuli Utara 31 Oktober 2017 Tarutung, Tapanuli Utara BIMBEL GTGO KLIK FILE

KABAR DARI BUKIT (Edisi 30 Juli 2017)

Lebih Dari Pemenang

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Firman Tuhan untuk kita minggu ini yakni Rm 8:26-39 berbicara tentang kasih Allah yang tidak terpisahkan dari kita. Ada kalanya kita tidak memahami persoalan hidup yang menerpa, kabur, misteri, tidak terjangkau. Kita ingin berdoa, tapi tidak tahu apa yang terbaik kita lakukan. Bingung, apakah mau meminta kekuatan dalam menghadapinya, atau meminta Tuhan melepaskan kita dari masalah itu. Sering yang timbul hanyalah elahan nafas panjang, atau sesunggukan. Namun, meski tidak tahu yang terbaik untuk kita doakan, Roh akan berdoa bagi kita (ayat 34; band. 1Yoh 2:1; Ibr 7:2). Alasannya, karena kita berharga di hadapan Allah.

Dalam iman tetaplah bertekun berdoa dan beribadah, agar keadaan yang menekan bisa dapat kita lewati dengan kemenangan. Prinsip kita sebagai anak-anakNya tiga hal:
(1) keadaan yang menekan itu tidak lebih besar dari kemampuan kita (1Kor 10: 13);
(2) segala perkara (apapun) dapat kita tanggung di dalam Dia (Fil 4: 13);
(3) doa dan Ibadah memiliki kuasa (2 Tim 3; Yak 5: 15-16).

Sikap iman yang menyerahkan sepenuhnya meski tidak dengan kata-kata, berdiam diri dalam ketenangan dan memusatkan pikiran pada Allah adalah sikap berdoa; yang penting bukan menyerah, mengeluh atau malah menggerutu. Pandanglah Yesus. Salah satu alasan gereja memberikan persetujuan gambar Tuhan Yesus dan lambang salib dalam kehidupan kekristenan adalah dengan maksud tujuan itu, agar hati kita lebih mudah fokus terhadap jalan yang diberikan melalui Yesus.

Bagi kita yang mengasihi Allah dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, maka Allah bekerja dalam segala sesuatu. Allah hadir dalam setiap aktifitas kehidupan kita; Dia tidak hadir hanya sesaat. Sebagai anak-anakNya, proses yang kita lalui sudah sedemikian sempurna, yakni Pemilihan (Rm 9:10-13); Pembenaran/Justifikasi (Rm 4:25; 5:18); Pendamaian (Rm 3:25);
Penebusan (Rm 3:24; 8:23);
Pengudusan (Rm 5:2; 15:16); dan kelak Pemuliaan (Rm 8:18-19, 30), yakni keadaan akhir orang percaya setelah kematian tubuh dan dibangkitkan menjadi serupa dengan Yesus (1Yoh 3:2).

Bagian ketiga dan keempat nas ini mencoba menguak kebenaran posisi kita dengan lima pertanyaan dari Rasul Paulus, yakni:
● Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
● Bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri bagi kita semua?
● Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?
● Siapakah yang akan menghukum mereka?
● Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?

Apabila kita telah ada di dalam Kristus dan seluruh hidup telah kita serahkan kepada-Nya, dan dalam setiap pergumulan hidup kita ditolong oleh Roh Kudus untuk menyampaikan pengharapan dan langkah yang kita perlukan, maka jawaban pastinya terletak di tiga ayat terakhir di atas: Kita adalah orang-orang yang lebih dari pemenang. Haleluya. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

Pdt (Em) Ramles Silalahi, Ketua Umum PGTS. Kabar dari Bukit adalah refleksi Pengurus PGTS kepada anggota yang dipadu renungan firman Tuhan.

KABAR DARI BUKIT (Edisi 23 Juli 2017)

Pengharapan Penuh

Ya Abba, Bapa, ini aku anakMu Layakkanlah seluruh hidupku; Ya Abba, Bapa, ini aku anakMu, Pakailah sesuai dengan rencanaMu. Itulah refrain lagu Tetap Cinta Yesus yang enak dan sering kita dengar.

Firman Tuhan hari Minggu ini Rm 8:12-25 berbicara tentang Pengharapan anak-anak Allah. Rasul Paulus dalam bab-bab sebelumnya menyodorkan gagasan versi Romawi, yakni keselamatan ada di masa lampau, di masa kini, dan di masa mendatang. Di masa lalu, kita diselamatkan pada saat pertama kali mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat (Rm 3:24-25; 5:8-11;8:1). Pada masa kini, kita terus diselamatkan melalui proses berkelanjutan dan pengudusan. Kekalahan kita sesaat terhadap iblis, tidak menghapuskan janji dan jaminan keselamatan itu, sepanjang kita membuktikan sikap penyesalan dan pertobatan. Di saat yang sama, kita pasti menerima penggenapan seluruh upah dan berkat keselamatan yang menjadi milik kita, ketika Kerajaan Kristus sepenuhnya utuh sempurna dinyatakan nanti. Itulah pengharapan dan menjadi sauh yang kuat, yang menjaga agar kita tidak terombang-ambing menghadapi pergumulan hidup sehari-hari (Ibr 6:19). Segala persoalan, takluk pada pengharapan.

Semua itu terjadi karena kita adalah anak-anak Allah (Yoh 1:12; 3:4-5). Rasul Paulus menggunakan kata adopsi (Yunani: hiuos yang berarti “anak yang sudah diangkat secara sah”), sebagai model hubungan baru orang percaya dengan Tuhan. Di dalam budaya Romawi, seseorang yang diadopsi oleh keluarga lain, maka hak-haknya pada keluarga lama akan hilang, namun ia mendapatkan hak-hak dari keluarga yang baru. Maka, kita pun memiliki hak penuh istimewa menerima janji-janji Allah sebagai anak dan ahli waris (band.: Gal 3:26; 4:5; Ef 1:5). Valid dan sah!!

Salah satu keistimewaan menjadi anak-anak Allah adalah hubungan kita menjadi begitu dekat. Kita dapat memanggil dengan akrab, yakni: Abba, yang berarti Bapa. Kata Abba berasal dari bahasa Aram yang sering digunakan pada saat kehidupan sehari-hari Tuhan Yesus. Penulisan “ya Abba, ya Bapa” juga merupakan ungkapan Tuhan Yesus tatkala Ia berdoa di bukit Getsemani (Mar 14:36; Gal 4:3-9).

Sebagai anak-anak Allah, maka Yesus adalah teladan kita di dunia ini, yakni terus bersaksi dan berbuah dengan menyembuhkan penyakit masyarakat, baik fisik, ekonomi, sosial maupun jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian dan sukacita. Nas minggu ini jelas menekankan pentingnya kita ikut menderita (berkorban) sama seperti Yesus alami. Melalui itu, kita memiliki dan mewujudkan tujuan hidup yang sekaligus menjalankan misi Allah, sambil mengucap syukur dan terus mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kedagingan sebagai bagian ketaatan kita kepada-Nya (Rm 1:5). Nilai sebuah kemenangan akan sangat tinggi dan sepadan dengan perjuangan yang kita korbankan.

Mari menatap ke depan, terus berharap akan bumi baru dan langit baru sebagaimana yang Allah janjikan, yang bebas dari perbuatan dan konsekuensi dosa. Gambaran indah itu tidak bisa kita uraikan dengan kata-kata, sebagaimana dikatakan firman-Nya: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9). Itulah bagian kita yang terus berkarya. Haleluya. Selamat hari Minggu dan beribadah, Tuhan memberkati, Amin.

(Pdt (Em) Ramles M. Silalahi, Ketua Majelis Pertimbangan Sinode Pusat Gereja Kristen Setia Indonesia).

Hubungi Kami

Tanyakan pada kami apa yang ingin anda ketahui!